Samudra sudah kembali seperti semula. Dia bisa diajak bicara dan mau menceritakan isi buku itu pada kami. Saat ini kami masih berada di warung makan di dekat mobil Pijar terparkir. Waktu menunjukkan tepat pukul 9 pagi. Warung ini sudah mulai banyak pengunjung. Kami berdiam di warung ini sambil berunding menentukan arah kemana selanjutnya kami harus mencari petunjuk. Sambil beristirahat menyiapkan diri untuk perjalanan kami selanjutnya. Tak ada lagi yang bisa kami lakukan di sini, tapi pulang ke kontrakan pun tak ada gunanya.
“Kalian makan dulu. Badan kalian tetap harus dijaga agar kita bisa mencari jalan keluar dari masalah ini.” Layung menyuruhku dan Samudra makan. Aku baru ingat belum makan atau minum apapun sejak semalam, pun Samudra. Aku berdiri memesan makanan lalu kembali duduk membawa kerupuk kesukaan Samudra. Dia memakan nasi yang tadi tak dianggapnya bersama dengan kerupuk yang kuberikan.
“Jar, kamu pernah cerita kakek buyutmu sering mengajakmu bertapa saat purnama. Kepercayaan yang dimiliki kakekmu apa pernah menyebutkan sesuatu seperti yang Pak Risman katakan, Jar? Coba ingat-ingat, sepertinya kamu juga pernah bilang buku yang dibaca Samudra sama seperti omongan kakekmu.” aku bertanya tanpa basa basi. Alis Pijar berkedut satu kali sebelum dia menjawabku.
“Kepercayaan kakekku lebih mirip dengan buku yang dibaca Sam, Ta. Kakekku menganggap Purnama adalah dewa. Dalam kepercayaannya energi dari sinar purnama bisa untuk melindungi kami dari orang-orang yang berniat jahat pada keluarga kami. Ritual yang dilakukan turun temurun dalam keluarga kami cuma satu. Setiap pria dalam keluarga harus bertapa pada malam purnama untuk menyerap energi dari sinar purnama itu secara langsung. Tidak ada tumbal, tak ada perjanjian dengan iblis, atau mantra-mantra yang harus dirapalkan. Dari yang pernah kulakukan, kami hanya duduk diam di bawah purnama membiarkan tubuh kami menyerap sinarnya secara langsung tanpa terhalang sehelai benang pun. Aku tak pernah mendengar tentang sihir gelap, purnama kedua dan ketiga, apalagi kekuatan suci dari bulan.” Pijar menjelaskannya perlahan sambil menatap mata kami satu per satu.
“Gimana caranya energi yang dipancarkan oleh bulan bisa melindungi keluargamu dari orang jahat, Jar?” tanyaku lagi. Aku menanyakannya sambil mengaduk-aduk nasi goreng pesananku yang baru tiba. Aku tak ingin Pijar merasa terintimidasi.
“Aku gak tau, Ta. Aku juga gak percaya yang seperti itu. Selama ini aku ikut karena paksaan dari ayahku. Sejak aku kuliah di luar kota aku gak pernah lagi melakukan itu.” jawab Pijar.
“Apa kita tanya aja ke simbahmu, Jar?” saran Layung.
“Simbahku di desa lho. Kalau telepon suka gak kedengeran. Kita ke sana aja?” tanya Pijar. Layung dan Pijar menatapku, menunggu keputusan. Aku mengangguk. Memang itu yang aku inginkan. Menurutku lebih baik bertanya langsung pada kakek Pijar demi meminimalkan timbulnya percikan dalam perkumpulan kami.
Sebelum itu aku harus memberitahu satu lagi kenyataan pahit yang belum mereka dengar.
“Ada satu lagi yang mau aku kasih tau. Ini sudah kupastikan benar sebelum aku memberitahukan pada kalian.” kataku setelah melihat Samudra selesai makan. Mereka bertiga diam menungguku melanjutkan bicara.
“Semalam bulan tidak hanya hilang di pulau itu saja. Bulan benar-benar menghilang seutuhnya dari muka bumi.” aku mengatakannya dengan santai, sambil menyuap nasi goreng ke mulutku.
“Hah?!” Pijar dan Samudra menanggapi dengan wajah kaget bersamaan. Layung membuang muka, menepuk jidat.
“Kenapa baru bilang sekarang, Ta?! Ini masalah besar!” Samudra menambahi. Sekarang si pecinta purnama itu mulai kebakaran jenggot.
“Aku dengar pertama kali dari peziarah yang duduk di belakangku tadi. Aku tak mau gegabah memberitahu kalian sebelum kupastikan kebenaran berita itu. Lalu saat kuperiksa di internet, ternyata benar seluruh portal berita memberitakan hal yang sama. Dari yang k****a, mereka semua belum mengetahui penyebab dari hilangnya rembulan. Hanya mengaitkannya dengan gerhana langka yang terjadi semalam. Tak ada berita tentang badai yang tiba-tiba muncul atau cuaca buruk aneh yang mendadak terjadi lalu menghilang seenaknya, berbeda dengan yang kita alami. Apalagi fakta tentang hilangnya gadis di tengah gerhana, tak ada berita serupa itu sama sekali. Aku yakin mantra yang kamu baca, Sam, yang menjadi penyebabnya.” sekarang makanku sudah habis, kutenggak teh manis untuk menutup santapan.
“Orang-orang mengira gerhana langka itu bisa menutupi purnama satu malam full? Memangnya itu masuk akal?” Samudra sudah kembali seratus persen jadi dirinya sendiri. Sanggahan darinya membuatku senang.
“Lebih baik mereka berpikir begitu. Kegaduhan seperti apa yang akan terjadi kalau mereka sampai tahu ternyata bulan tengah disembunyikan oleh sebuah mantra?” jawabku sambil menahan senyum.
“Mereka bahkan takkan mempercayai hal itu meski kamu menjelaskannya di depan media, Ta. Yang ada malah dikatai orang gila atau aliran sesat.” Layung menjawab dengan ketus.
“Masalahnya kita tak tahu apa rembulan akan terus menghilang atau tidak, Yung. Aku masih berharap malam ini bulan akan muncul dan Wulan saat ini sedang tidur di kosannya dengan aman. Aku harap semalam hanya mimpi, halusinasi, ilusi, delusi, apa saja selain reality.” kataku sambil tersenyum. Aku tak suka suasana kaku diantara kami. Seperti semua orang sedang berusaha menahan bara di sumbu yang sudah pendek.
“Kita harus menunggu malam untuk bisa membuktikan itu mimpi atau bukan.” kataku lagi.
“Kita gak bisa cuma duduk diam menunggu malam tiba, Ta!” Samudra akhirnya meledak.
“Benar. Kita tak boleh menyiakan waktu. Banyak hal yang perlu kita cari. Kita harus mengurutkannya dari awal agar semuanya jelas. Dan sekarang itu tugasmu menjelaskan Sam!” Aku balik menekan Samudra.
“Apalagi yang harus kujelaskan, Ta? Kamu mau aku jelasin apa lagi? Aku juga sama bingungnya denganmu!” Samudra semakin meninggikan suara. Orang-orang di warung ini mulai melirik ke arah kami.
“Hey, udahlah udah! Jangan pakai emosi. Kita harus berpikir dengan kepala dingin.” Layung menengahi sambil menahan pundak Samudra yang mulai naik turun. Bagaimanapun wajah Samudra yang babak belur pasti sudah menarik perhatian orang, kini ditambah dengan adu mulut di antara kami.
“Mungkin lebih baik kita cari tempat lain untuk diskusi. Kalian bikin ribut di warung orang.” Pijar mengatakannya sambil melihat ke arah orang-orang yang sekarang mulai berbisik-bisik.
“Kita pulang dulu ke kontrakan gimana?” saran Layung.
“Kalau mau ketemu simbahku, kita mending pergi sekarang biar gak kemaleman.” balas Pijar.
“Yaudah pokoknya balik dulu ke mobil. Gak enak diliatin orang.” Layung berdiri membayar makan kami lalu menggiring kami masuk ke dalam mobil.
Aku tak tahu kenapa Samudra menjadi sangat sensitif dan meledak-ledak. Dia adalah orang yang paling bersalah di sini. Seharusnya dia bersujud meminta maaf memohon bantuan kami untuk membereskan kekacauannya. Gara-gara dia Wulan hilang, masih bagus kalau cuma disekap dalam keadaan utuh, bagaimana bila tubuhnya digunakan untuk ritual aneh yang mengancam nyawanya. Dan sekarang seantero negeri juga terancam tak bisa melihat rembulan lagi. Jutaan umat manusia akan terjebak dalam kegelapan mutlak setiap malam. Lantas bagaimana kami bisa memecahkan masalah ini bila dirinya tak mau bekerja sama.
“Kalian kenapa sih? Sam! Kudu banget kamu teriak-teriak gitu? Orang-orang bisa laporin kita ke polisi kalau kalian berantem di tempat umum.” Layung langsung angkat bicara setelah kami masuk ke dalam mobil. Aku dan Sam hanya diam saling memunggungi melihat ke luar jendela.
“Ini jadinya gimana? Mau pulang kontrakan apa langsung ke tempat simbah? Kalian jangan bikin masalah tambah runyam dong! Ayolahhh..” Pijar memohon sambil menjatuhkan kepalanya ke stir mobil.
“Ta! Sam! Gimana? Pulang dulu gak?” tanya Layung sekali lagi kali ini sambil menengok ke belakang ke arah kami. Sam tetap diam. Aku merasa saat ini tak ada kata yang bisa kuucapkan selain sindiran pada Sam, maka aku juga diam.
“Ash, mbuh! Karepmu! Wes ayo balik dhisik, Jar. Ben do mikir ning dalan. (Ah, tau! Terserah! Udah ayo pulang dulu, Jar. Biar pada mikir di jalan.)” Layung balik melihat ke depan dengan kesal. Mobil bergerak begitu mendapat aba-aba dari Pijar.
Aku tau ini bukan waktu yang tepat untuk menjadi keras kepala dan berlagak seperti abg sedang merajuk. Aku hanya terlalu lelah dan kesal pada Sam. Siapa juga yang takkan tersulut bila ia terus-terusan berbicara dengan nada tinggi. Kepalaku penuh dengan pertanyaan untuk Sam, tapi tanggapannya tak mencerminkan seseorang yang bersedia menjawab dengan kooperatif. Yang ada aku malah membuat ruang interogasi yang mencekam dan tak nyaman, semakin berlanjut semakin tak terelakan baku hantam di antara kami. Bila aku bersuara sekarang, hanya akan memperburuk keadaan.
“Yung, pinjem handphonemu sebentar.” Samudra menjulurkan tangan pada Layung. Layung langsung memberikan ponselnya tanpa pikir panjang. Sekarang pasti Sam sedang memastikan informasi tentang bulan yang aku berikan. Beberapa menit dia mengotak atik ponsel. Wajahnya mulai memerah, alisnya runcing di tengah dahi, dadanya kembali naik turun. Aku tau dia takkan senang melihat berita-berita itu. Purnama yang dicintainya menghilang karna ulahnya sendiri.
“b*****t!” Sam menghardik keras sambil menendang kursi Pijar di depannya.
“a*u! Aku lagi nyetir iki! Koe pengen dewe mati bareng-bareng po piye?! (Anjing! Aku lagi nyetir ini! Kamu mau kita mati bareng-bareng apa gimana?!)” Pijar langsung balas memaki Samudra. Kami semua kaget mobil sempat mengerem mendadak.
“Apa yang mau lo tanyain, Ta? Gue bakal jawab semuanya!” Sam mengatakannya padaku berbarengan dengan bunyi klakson dari kendaraan di sekitar kami. Matanya menatap tajam, bersiap untuk pembahasan serius.