Bab 14 - Perpecahan

1502 Kata
              Bahasa matanya seperti yakin siap menjawab semua pertanyaanku. Hanya dalam waktu singkat Samudra sudah membuang keras kepalanya dan bersedia mengikuti kemauanku, aku tak boleh melewatkan kesempatan ini. Tak perlu ragu lagi untuk memuntahkan segala yang mengganjal yang mungkin bisa menjadi petunjuk. “Pertama, informasi soal gerhana. Gimana cara lo dapetin info gerhana langka itu? Malem itukan kita abis begadang, kenapa lo masih bisa dapetin info itu di waktu yang sangat pagi?” semuanya harus diperjelas dari awal. Bila yang kucurigai benar, informasi tentang gerhana itu pasti adalah umpan yang disebar oleh pelaku. “Gue pertama kali liat di twitter. Ada yang share berita itu. Terus gue lanjut cari tahu di website pemerintah yang lebih kredibel. Gue gak inget kenapa masih melek jam segitu, yang gue inget gue belum tidur sama sekali sampai gue bangunin kalian pagi itu.” Sam menjawab secepat yang dia bisa. “Lihat di twitter? Postingan siapa?” sesuai dugaanku, pasti ada orang dibalik semua ini. “Kalau gak salah itu diposting sama akun gosip yang gak gue follow. Dia muncul di beranda karena di retweet temen kampus gue.” jawab Sam sedikit ragu. “Siapa?” tanyaku memburu. “Kalian belum pernah ketemu, namanya Adira.” aku memang asing dengan namanya. “Terus dari mana lo dapet informasi pulau tempat kita merayakan purnama itu?” aku langsung pindah ke pertanyaan ke dua, menghemat waktu sebelum Sam berubah pikiran lagi. “Itu.. dari twitter. Gue dapet dari twitter juga. Dari akun jalan-jalan Jateng yang memang gue follow untuk cari info merayakan purnama.” Sam sempat berhenti sejenak, berpikir. “Kapan lo lihat itu?” tanyaku lagi. Aku memang tahu Sam banyak aktif di twitter. “Masih hari yang sama, sebelum gue liat berita gerhana itu. Mungkin semalam sebelumnya.” jadi informasi lokasi dan kejadian gerhana langka itu di dapatnya pada hari yang sama. “Terus buku purnama ketiga itu lo dapet dari mana? Kapan?” aku melompat dari satu topik ke topik selanjutnya tanpa jeda. “Itu dari kios buku baru yang waktu itu gue datengin sama Wulan. Waktu kalian nonton konser dangdut di mall.” jantungku seperti berhenti berdetak detik itu. “Anjing! Wulan dapet buku kaya gitu juga gak?” hari itu aku terlalu kalut pada perasaanku ke Wulan. Aku tak ingat menanyakan kenapa mereka selesai mencari buku lebih cepat dari biasanya. Selama ini aku selalu penasaran buku apa yang mereka dapat, hari itu aku malah sibuk memikirkan cinta segitiga di antara kami. Aku kecolongan. “Gak waktu itu cuma gue yang dapet. Satu buku itu doang. Buku lain yang dijual di kios itu kebanyakan buku keluaran baru, jadi gue sama Wulan gak lama-lama di kios itu.” Sam seperti bisa membaca pikiranku, dia langsung menjawab pertanyaan yang ingin kutanyakan selanjutnya. “Kios itu! Kita balik ke kios itu aja, tanya ke penjaga kiosnya tentang buku itu. Siapa tau dia masih punya buku yang sama.” Layung mendadak bersuara. Pijar yang sedang menyetir di sampingnya sedikit kaget dengan suara lantang Layung. “Gak mungkin. Gue yakin cuma liat satu buku itu doang di sana. Gak ada lagi yang kaya gitu. Gue udah liat semua koleksi buku di kios itu. Karena kiosnya masih baru jadi bukunya gak banyak.” Sam mematahkan pendapat Layung. Layung kembali diam. “Gak apa, gak ada salahnya kita cek ke sana.” kataku kemudian. Aku menduga akan ada sesuatu yang mengejutkan ketika kita mendatangi kios itu. “Jadi gimana nih? Ke kontrakan dulu apa langsung ke kios buku?” sahut Pijar menanggapi kata-kataku. Aku melihat arloji di tanganku, perjalanan kembali ke Semarang masih 2 jam lagi. Jika ingin ke kampung halaman Pijar masih butuh 5 jam perjalanan dari kontrakan. Masih cukup waktu. “Ke kios buku dulu baru ke kontrakan. Ambil yang diperlukan aja di kontrakan terus lanjut ke simbahmu, Jar. Gimana?” jawabku ke Pijar. Aku perlu mengambil ponsel lamaku di kontrakan karena ponselku masih belum bisa menyala. “Kuat gak awakmu (badanmu), Jar?” tanya Layung khawatir karena dari semalam kami belum tidur dan beristirahat. “Yo tak kuat-kuatke. Neg ngantuk mandek sedelok, ngopi. (Iya, dikuat-kuatin. Kalau ngantuk berhenti sebentar, minum kopi.)” jawab Pijar. “Ta, kalo lo udah selesai tanya, sekarang giliran gue mau tanya.” Sam mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Aku tak mengira dia akan punya pertanyaan untukku. “Mau tanya apa?” tanyaku penasaran. “Gue inget lo pernah bilang ini pertanda dari alam semesta pas mobil Pijar rusak. Terus waktu di perahu cuma elo yang denger peringatan dari Pak Risman. Dan waktu Wulan hilang juga cuma elo yang liat ada tangan yang menarik Wulan. Tadi juga lo pergi sendirian dan balik-balik ngomongin soal sihir gelap dan menghilangnya purnama..” Sam berhenti menunggu responku. “Maksud lo apa, Sam? Lo nuduh gue? Lo curiga ama gue? Lo kira gue ngada-ngada cerita, gitu?” Sam memang mengatakannya dengan perlahan, tapi aku bisa merasakan penekanan pada tiap kata-katanya. “Gak ada di antara kita yang menginginkan Wulan sama seperti elo. Bukan elo orang di balik ini semua kan, Ta?” Sam mengatakannya dengan serius. “b*****t lo Sam..” aku tak percaya ia mengatakannya. Aku susah payah mengurai benang kusut masalah ini dan sekarang malah aku yang dituduh menjadi penjahatnya. “Kenapa cuma elo yang mendapat peringatan? Lo gak bikin-bikin sendiri kan, Ta?” dia kini menghujaniku dengan tuduhan tanpa bukti. “Sam.. lo..” belum selesai aku bicara Sam sudah memutus kalimatku. “Kenapa cuma elo yang serba tau semuanya, Ta? Kenapa pertanyaan lo kaya elo udah tau jawabannya? Bukan elo kan yang mengatur ini semua, Ta?” seakan omongannya benar, dia bicara dengan lancarnya. “b*****t, elo yang udah bikin bulan ilang! Elo yang udah bikin Wulan diculik! Sekarang lo limpahin kesalahan lo ke gue, Sam?! Otak lo dimana anjing!!!” aku mulai terbawa emosi. Tapi Sam masih belum mau berhenti. “Jawab pertanyaan gue, Ta! Bukan elo yang mengatur semua ini, KAN! BUKAN ELO KAN TA?!!” Samudra menaikan suaranya, tangannya mengepal.  “BUKAN! BUKAN SAM! BUKAN GUE! SIALAN! Buat apa gue ngelakuin itu?! Dengan cara apa?! Gue rela Wulan sama elo, Sam! Asal kalian bahagia, asal kalian semua selamat, ASAL DIA ADA DI SINI SEKARANG!” jari telunjukku dengan liar menunjuk batang hidung Sam penuh amarah. Mata kami saling memantulkan rasa benci. “Ta, udah Ta! Sam, kamu juga tenangin dirimu. Jangan saling tuduh tanpa bukti.” Layung melongok ke belakang, dia menyingkirkan tanganku dari wajah Sam. “Uwis to uwis, do menengo. Ndasku mumet ket mau isine mung gelut wae. Ki dalane akeh truk lho ki, arep tak senggolke wae po ben getian gelut mbek supir truk! Puas-puaske kono jotos-jotosan karo supir truk! a*u Asuuu! (Udah dong udah, diem bisa gak. Kepalaku pusing dari tadi isinya cuma berantem aja. Ini jalannya banyak truk lho ini, apa mau aku senggolin aja biar gantian berantem sama supir truk! Puas-puasin sana adu jotos dengan supir truk! Anjing Anjingggg!)” kata-kata Pijar membuat aku dan Sam diam. Kami saling membuang muka, beradu punggung. Sekarang aku mengerti alasan Samudra terus menerus sensitif dan meledak-ledak, kenapa dia tak mau diajak bicara dan hanya diam selepas malam itu. Ternyata ia juga menaruh curiga pada seseorang di antara kami. Dia pasti merasa telah dikhianati oleh orang yang telah mengenalnya dengan baik. Karena itu dia selalu marah dan keras kepala. Tapi kenapa aku? Seaneh itukah aku sampai ia langsung mencurigaiku pertama kali. Dari sudut pandangnya memang apapun akan terasa salah dan ganjil, sulit untuk menyaring informasi benar dan salah. Memang benar hanya aku yang merasakan pertanda, hanya aku yang mendapat peringatan, hanya aku yang melihat tangan yang menarik Wulan. Benarkah hanya aku? Meski begitu bisa-bisanya dia menuduhku tanpa bukti. Dia bahkan mengatakan hanya aku yang punya motif untuk menculik Wulan. Dasar b******n sinting! Otaknya benar-benar sudah rusak! Dia melupakan persahabatan kita dan langsung menuduhku tanpa ragu. Apa yang sebenarnya dia mau?! Dia ingin perkumpulan ini pecah? Dia ingin aku mengakui tuduhannya yang tanpa dasar itu lalu apa? Mengembalikan purnama? Aku tak peduli purnama akan kembali atau tidak, yang kukhawatirkan sekarang hanya Wulan. Biar mampus Samudra kehilangan purnama selamanya, aku sudah tak peduli lagi. Aku masih tak habis pikir, tanpa malu dia bilang tak ada yang menginginkan Wulan sama seperti aku. k*****t tengik! Kalau memang tak ada yang menginginkannya untuk apa aku repot-repot menculiknya? Aku tak perlu mengotori tanganku hanya untuk memilikinya. Aku bahkan tak terpikir untuk memonopolinya sendirian. Wulan bukan barang! Dasar b******n! Wulan juga manusia! Dan dia sudah salah mencintai orang. Wulan pasti kecewa melihat pria yang diidamkannya berlaku seperti ini sekarang. Seperti manusia bodoh kerasukan setan! Berkali-kali kukatakan, aku tak mengapa melepaskan Wulan untuk orang yang dia cintai. Apalagi bila itu adalah dia, sahabatku sendiri! Dasar bocah sinting! Kata kata sudah tak mempan lagi padanya. Pikirannya dipenuhi dengan sampah dan omong kosong! Bila aku mengikuti cara mainnya begini aku bisa sama sintingnya dengan dia. Aku tak mau peduli lagi. Percuma kubuang waktu untuk memahaminya. Sudah cukup informasi yang kubutuhkan. Akan kutemukan Wulan dengan tanganku sendiri. Samudra yang sudah menyebabkan perkumpulan ini pecah. Sekalian saja kita lalui jalan yang kita pilih masing-masing.                 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN