Aku tak bisa lagi menahan amarahku pada Samudra. Permintaan maaf atas kecerobohannya saja tak pernah dia penuhi, kini dia lagi-lagi berhutang maaf padaku atas kata-katanya yang menuduhku tanpa bukti. Aku berupaya untuk menjaga perkumpulan kami tetap utuh dengan menjaga omonganku pada Pijar. Tapi dia malah dengan percaya diri memuntahkan semua kecurigaannya padaku dengan membabi buta. Matanya telah digelapkan oleh berita hilangnya purnama dari dunia ini. Begitu juga hatinya. Hatinya membusuk dalam khayalan yang dia buat sendiri. Aku tak lagi merasa prihatin, aku justru ingin menghancurkannya dengan lebih menyakitkan.
“Ta, please, kamu jangan kemakan omongan Samudra. Dia mungkin terguncang karena berita di internet, tambah lagi mantra yang dia baca sedikit banyak pasti sudah berpengaruh pada mental dan fisiknya. Buku itu, bisa jadi buku itu yang telah mengendalikan tingkah lakunya selama ini. Termasuk membuatnya membaca mantra itu.” Layung bicara padaku di emper minimarket. Setelah aku dan Sam adu mulut, Pijar menghentikan mobil di minimarket terdekat. Dia turun untuk membeli kopi, aku dan Layung ikut turun menjernihkan pikiran, tapi Sam dipaksa Layung tetap berada di dalam mobil untuk merenungi perkataannya. Pijar mengunci mobil untuk memastikan Sam tidak membawa kabur mobilnya sendirian.
“Aku takut ada yang sengaja ingin memecah belah kita.” kata Layung lagi. Dia mengatakannya sambil mengawasi Sam yang ada di dalam mobil. Aku diam pasang telinga.
“Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama dengan Samudra. Aku juga mencurigai seseorang di antara kita.” tambah Layung sambil menengok ke arah Pijar. Melihatnya sedang berdiri di depan lemari pendingin memilih minuman. Aku terhenyak mendengarnya, tak kusangka Layung juga memikirkan kemungkinan adanya musuh dalam selimut di antara kita.
“Aku tau kamu juga merasakan hal yang sama. Tapi kita berbeda dengan Sam. Kita masih punya hati nurani untuk menjaga perkumpulan kita tetap utuh. Pikiran kita masih waras masih menjadi milik kita sendiri, Samudra mungkin tidak lagi. Sejak malam itu aku merasa ada yang berbeda dari Samudra. Kamu pasti juga tau, Samudra yang kita kenal takkan membiarkan perkumpulan kita runtuh untuk alasan apapun. Dia yang merekatkan kita, dia yang menjaga kita selalu solid selama ini. Aneh sekali kalau tingkahnya berubah dalam satu malam.” Sambung Layung lagi. Aku bisa merasakan ketulusan Layung membela Sam dari nada bicaranya. Dan itu membuatku marah.
“Bisa saja kalau perubahannya itu disebabkan oleh purnama yang sangat ia cintai, Yung. Cinta selalu bisa mengubah seseorang. Apalagi Samudra yang kita tau sangat tergila-gila pada purnama.” kataku membantah Layung dengan emosi.
“Ta, jal mbok iling-iling meneh, coba kamu pikir-pikir lagi wes. Samudra yang kita kenal gak akan nanyain pertanyaan g****k yang jawabannya udah pasti kaya tadi. Buat apa dia tanya kaya gitu kalau dia udah yakin bener itu perbuatanmu? Dia pasti bakal langsung meringkus ngajar koe entek-entekan (menghajar kamu habis-habisan) sampe ngaku. Tapi kalau dia gak yakin dia pasti bakal selidikin dulu cari bukti, gak asal tuduh kaya tadi. Ini jelas bukan Samudra. Seseorang berusaha memecah belah kita, Ta. Makanya kamu jangan sampai kemakan jebakan ini.” Layung mencoba meyakinkanku. Kata-katanya ada benarnya. Samudra adalah kunci dari masalah ini. Jika aku mengambil jalanku sendiri dan meninggalkannya, akan ada orang lain yang diuntungkan. Hampir saja aku membiarkan perkumpulan kami pecah.
Tak kusangka Layung memperhatikan hal-hal dengan sangat detail. Dia masih sangat awas meski berada di situasi yang tak mengenakkan. Berusaha netral dan sangat rapi menyimpan perasaan juga pikiran-pikirannya. Tak sepertiku yang mudah sekali terprovokasi.
“Ta, Yung, ayo lanjut. Sakke gak sih cah kui? (kasian gak sih anak itu?)” Pijar menghampiriku dan Layung. Kami berjalan ke mobil sambil sedikit membahas Samudra.
“Kasian gimana?” tanyaku pada Pijar sambil melihat isi kantung belanjaan.
“Dia keliatan bingung, linglung gitu lho, Ta. Kamu jangan keras-keras sama dia, Ta.” jawab Pijar. Ternyata tak hanya Layung, Pijar juga sama khawatirnya.
“Kamu gak kasian sama aku, Jar?” tanyaku asal saja mengisi pembicaraan.
“Kamu masih bisa mikir, Ta. Beda. Sam udah kaya orang putus asa. Saking putus asanya dia sampai ngomong ngawur kaya gitu.” pembicaraan berhenti sebelum kami membuka pintu mobil. Kulemparkan berbagai snack dan minuman ke Samudra. Dia tak bergeming.
Perjalanan berlanjut menuju pasar buku bekas tempat Samudra mendapatkan buku itu. Aku memikirkan perkataan Layung dan Pijar baik-baik sepanjang perjalanan. Sepertinya aku telah tenggelam dalam amarah sampai aku tak bisa melihat permasalahan dengan jernih. Memang benar dalam keadaan normal Samudra takkan berkata seperti itu padaku. Dan jujur saja emosiku tersulut bukan hanya karena tuduhan tak mendasar itu. Tapi juga karena aku merasa yang Samudra katakan bukan sekedar omong kosong. Kenapa hanya aku yang mendapat firasat dan peringatan berturut-turut? Bukankah itu memang mencurigakan? Melihat respon Layung dan Pijar yang tak menggubris tuduhan Samudra padaku, aku jadi sedikit berpikir. Kenapa Layung dan Pijar menutup mata atas hal itu?
“Sam, kamu ingat dimana kiosnya?” Pijar bertanya setelah kami mulai dekat dengan pasar buku bekas yang biasa kami datangi.
“Iya. Dulu aku dan Wulan berputar-putar mencari lokasinya, tapi saat mau pulang aku menemukan jalan pintas.” jawab Samudra. Setiap kali nama Wulan disebut, dadaku terasa ngilu.
“Udah sampai. Ayo turun.” Pijar memberi tanda pada kami yang diikuti oleh suara pintu dibuka.
Pasar buku bekas ini bentuknya seperti pasar induk, tapi semuanya menjual buku. Dari buku bekas, buku baru, buku bajakan, buku sekolah, buku agama, semuanya. Bangunannya seperti bangunan jaman belanda pada umumnya. Ada banyak lorong dan kios berjejeran dari depan sampai belakang. Bila tak hati-hati akan tersesat oleh banyaknya persimpangan dan lorong yang hampir semuanya tampak sama. Kami mengikuti arah yang ditunjuk Sam. Pantas saja sulit untuk menemukan lokasi kios ini, jalanan yang kami lalui berkelok-kelok dan memiliki banyak gang-gang kecil. Benar-benar masuk ke tengah pasar yang berisi barisan kios kosong dan terbengkalai karena sepi pengunjung.
“Lho! Ini kiosnya! Baru beberapa minggu lalu aku ke sini bareng Wulan, kenapa sekarang jadi kaya gini?!” Sam menunjuk sebuah kios kosong terbengkalai yang hanya berisi barang-barang rongsokan. Debu dan sarang laba-laba yang ada di dalam kios itu menunjukkan sudah bertahun-tahun tempat ini tak pernah disentuh manusia. Kios di kanan kirinya juga sama, semuanya b****k ditinggalkan.
“Sumpah! Aku yakin di sini tempatnya. Aku ingat dengan kios-kios di sepanjang jalan kita menuju ke sini tadi. Aku gak salah kios!” Sam lagi-lagi berbicara seperti kerasukan. Dia sekuat tenaga berusaha meyakinkan kami itu adalah kios yang benar.
“Tenang Sam. Aku percaya ini benar kios yang kamu datangi bersama Wulan. Aku tau kamu tak akan bohong pada kami.” kata Layung sambil merangkul pundak Sam menenangkan dirinya yang mulai histeris. Pijar menjatuhkan dirinya ke tembok di depan kios itu. Badannya diserahkannya pada lorong pasar yang sepi, membiarkan semua debu dan kotoran menempel lekat pada pakaiannya yang bau asin laut dan keringat.
“Sekarang gimana?” kata Pijar pasrah. Matanya masih terlihat berkaca-kaca meski telah ditutupi dengan telapak tangannya. Kami semua senyap, tak ada yang menjawab.
Aku sudah menduga, tempat ini pasti akan membawa kejutan untuk kami. Tapi tak kusangka akan sejauh ini. Aku menuju kios buku terdekat yang masih buka. Aku berniat untuk menanyakan tempat ini.
“Pak, kios yang di sana itu sejak kapan tutup?” tanyaku sambil menunjuk letak kios yang masih ditekuri Samudra dan yang lainnya.
“Itu udah lama banget mas. Mungkin setahun atau dua tahun ini.” kata bapak-bapak berkaos partai yang sedang menjaga kios bukunya.
“Sama sekali gak pernah dipakai pak? Mungkin sebulan dua bulan lalu pernah buka menjual buku gitu?” tanyaku lagi. Meski melihat sendiri betapa kumuhnya tempat itu saja sudah bisa dipastikan tak mungkin kios itu pernah dibuka dalam waktu dekat ini.
“Gak pernah mas. Wong itu kios udah lama dijual tapi gak laku-laku. Yang punya juga udah lupa paling kalo punya kios di sini.” jawab bapak itu lagi.
“Emang yang punya siapa pak?” sambungku.
“Itu yang punya orang keturunan Arab. Udah meninggal. Anaknya pernah ke sini sama makelar buat minta tolong dijualin, tapi sejak itu gak pernah ada lagi yang nengokin. Memangnya kenapa mas? Sampean (kamu) keluarganya?” tanya bapak itu.
“Bukan pak. Cuma tanya aja. Temen saya lagi cari kios yang dulu tempat dia beli buku buat skripsi.” jawabku asal-asalan.
“Emang cari buku apa mas? Siapa tau di kios saya ada.” tanya bapak itu dengan mata berbinar.
“Buku sastra pak, judulnya Purnama Ketiga. Ada?” jawabku mencoba peruntungan.
“Purnama Ketiga? Karangan siapa mas? Kayanya gak ada sih kalau buku sastra. Kalau buku kimia fisika saya lengkap mas. Sini coba dilihat-lihat dulu.” kata bapak itu menawarkan dagangannya.
“Lain kali saja saya ajak temen saya yang jurusan kimia fisika ke sini ya pak. Bapak buka setiap hari?” kataku basa basi untuk menolak ajakan bapak itu melihat-lihat isi kiosnya.
“Iya, buka tiap hari mas. Langsung ke sini saja. Nanti saya bantu carikan bukunya.” jawab bapak itu bersemangat.
“Siap pak. Saya coba ke kios lain dulu ya. Matur nuwun (terima kasih).” kataku menutup pembicaraan. aku berjalan kembali menuju Sam, Layung dan Pijar.
“Gimana, Ta?” tanya Layung saat melihatku kembali dari kios terdekat.
“Katanya kios ini sudah kosong sejak setahun atau dua tahun lalu. Pemiliknya sudah meninggal, anak pemilik kios ini berencana untuk menjual kios peninggalan orang tuanya tapi sampai sekarang belum ada yang membelinya.” kataku mengulang penjelasan bapak itu.
Samudra tampak gusar mendengar penjelasanku. Badannya maju ke arah kios yang tadi kudatangi tapi ditahan oleh Layung.
“Hey hey, mau kemana marah-marah gitu?” kata Layung seperti seorang kakak menegur adiknya.
“Bapak itu pasti berkata bohong. Beberapa bulan lalu kios ini tampak bersih dan bagus. Buku-buku tersusun rapi, Yung!” kata Samudra sambil meronta-meronta dalam kuncian Layung.
“Iya, aku tadi juga sudah bilang begitu sama bapak itu, Sam. Tapi katanya kios ini tak pernah dipakai sejak lama. Kios bapak itu buka setiap hari, mustahil ia tak tau bila kios ini dipugar dan digunakan kembali.” kataku menjawab bantahan Sam. Sam masih meronta dalam dekapan Layung.
“Sam, Tenang. Inget, buku itu memang buku ajaib. Pantas kalau cara mendapatkannya juga ajaib.” Layung menenangkan Sam. Aku geli mendengar kata ajaib disematkan untuk buku itu.
“Buku terkutuk, Yung. Kitab terkutuk lebih tepatnya.” sambarku kemudian. Sam menatapku penuh amarah. Sangat menakutkan, seperti seorang yang kesurupan setan.
“Ta, jangan nambah-nambahin perkara.” kini gantian Layung memarahiku, aku merespon dengan senyum kecut.
“Njuk piye iki? Wes adoh tekan kene jebul rak ono opo-opo. (Terus gimana ini? Udah jauh sampai sini -ternyata gak ada apa-apa). Kalau udah selesai di sini kita mending langsung lanjut aja. Aku beneran gak mau perjalanan balik ke desa kemaleman. Jalanan singup (angker).” Pijar mengatakannya sambil masih tetap duduk selonjor di tengah lorong bersandar tembok kios orang lain yang sudah tutup. Aku, Layung, dan Sam bertatapan. Layung mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan deretan kios kembali menuju ke tempat mobil terparkir. Masih dengan menggiring Samudra yang belum rela meninggalkan kios itu.