Sepanjang perjalanan keluar dari pasar, Sam masih seperti orang kesetanan. Ia dirangkul oleh Layung agar tidak bertingkah aneh-aneh. Kejadiannya sama persis dengan saat kami hendak pulang dari pulau, tak lama selepas amuknya selesai Sam jadi diam membisu. Mungkin pikirannya sedang bekerja mengolah informasi yang tadi disangkalnya. Kami tak ambil pusing, biarkan saja dulu dia melakukan apa yang dia mau. Toh mulutnya cuma akan bicara ngawur saat ini. Setelah masuk ke dalam mobil, Pijar berhenti sejenak tak langsung menghidupkan mesin mobilnya.
“Sekarang sudah jam satu lebih. Tetep mau ke kontrakan apa langsung ke Jogja?” tanya Pijar.
“Aku mau ambil ponsel lamaku dulu, Jar. Susah kalau cuma ponsel Layung saja yang masih bisa menyala.” kataku pada Pijar memberi alasan untuk tetap ke kontrakan.
“Kalau itu sih, aku beli baru aja di konter dekat sini gimana? Perjalanan pulang sekitar 5 jam, belum kalau nanti berhenti isi bensin sama istirahat juga. Kalau ke kontrakan dulu bisa bisa sampai rumah udah gelap.” kata Pijar memberi saran.
“Yaudah gitu aja.” jawabku beberapa menit kemudian setelah berpikir sepertinya tak masalah asalkan ada alat komunikasi lain untuk berjaga-jaga bila ponsel Layung mati.
“Gimana? Langsung pulkam (pulang kampung) nih?” tanya Pijar lagi menanyai pendapat kami.
“Iya!” jawabku dan Layung bersamaan.
“Yowes cepet. Mau mampir beli handphone juga, kan!” tambah Layung. Pijar lalu menghidupkan mesin mobilnya dan kami bergerak menuju konter ponsel terdekat.
Saat sudah sampai di toko handphone yang dimaksud, Samudra tiba-tiba ikut turun bersama Pijar. Toko itu cukup besar, tak sekedar konter pulsa seperti bayanganku. Kurasa pengertian kata konter bagiku dan Pijar jauh berbeda.
“Lho lho, ngopo cah kui? (ngapain tuh anak?)” kata Layung saat Sam mendadak membuka pintu mobil mengikuti Pijar.
“Paling mau beli handphone juga. Biarin aja, sama Pijar ini.” kataku mengacuhkannya. Layung jadi seperti ibu-ibu yang terlalu mengkhawatirkan anak nakal.
“Ooiyo melu melbu bareng Pijar. (Ooiya ikut masuk bareng Pijar.)” Layung masih memperhatikan mereka dari dalam mobil.
“Yung. Kamu udah ngira ya kalau keadaan kios itu bakal seperti itu?” tanyaku pada Layung mempertimbangkan reaksinya saat di kios buku. Meski sesungguhnya aku paham tindakannya hanya untuk membuat Sam tenang.
“Ya gak, lah! Aku yo kaget asline, Ta. Tapi lihat Samudra lebih kaget dari kita semua, ya masa mau didiemin aja.” jawab Layung masih dengan memperhatikan Pijar dan Sam di dalam toko. Jawabannya terlampau santai bila dibandingkan dengan reaksi Pijar di pasar tadi.
“Aku sebenarnya udah ngerasa bakal ada yang aneh sama kios itu, Yung. Tapi aku gak nyangka bakal seaneh ini. Kupikir penjualnya bakal lupa sama buku itu atau lupa sama Samudra, seperti Pak Risman lupa sama aku.” kataku jujur pada Layung.
“Aku malah gak kepikiran sama sekali, Ta. Kalau di film-film horor kebanyakan emang begini sih, pas balik ke tempat awal yang sebelumnya keliatan bagus dan mewah, eh ternyata itu bangunan b****k plus angker. Yowes piye meneh! (yaudah mau gimana lagi!) Semoga nanti simbahnya Pijar bisa kasih petunjuk yang lebih bagus.” Layung mencoba legawa melihatnya sebagai fenomena supranatural biasa. Memang peristiwa aneh seperti ini terjadi bertubi-tubi hingga membuat kami bisa saja merasa terbiasa. Tapi aku tak mau menjadi lengah dengan hal itu. Kios yang tak pernah digunakan bertahun-tahun, Wulan yang pertama kali menemukan brosur kios baru, dan Samudra yang mendapatkan buku itu. Mungkin mogoknya kendaraanku pada hari itu juga termasuk di dalamnya. Semuanya semakin jelas.
Dari kejauhan terlihat Pijar dan Samudra berjalan keluar toko kembali menuju arah kami dengan menenteng tas belanja. Begitu masuk mobil, Samudra mengestafetkan sekotak ponsel baru kepadaku.
“Apaan nih?” tanyaku pada Sam.
“Ku ganti ponselmu yang rusak karenaku.” kata Samudra dengan tak mengalihkan pandangan dari ponsel baru di tangannya.
“Karenamu?” tanyaku lagi.
“Udah terima aja, Ta. Punyaku juga dibayarin Sam.” kali ini Pijar yang menjawab pertanyaanku sambil memamerkan ponsel keluaran terbaru di tangannya. Baru kali ini kulihat Sam memerankan diri sebagai anak konglomerat. Kubuka bungkusan ponsel itu, merek dan seri yang sama dengan ponselku yang rusak. Tak pikir panjang, aku langsung mengambil simcard dari ponsel rusakku dan memasukkannya ke ponsel pemberian Samudra ini. Bila aku berhasil login dengan akun yang sama dengan yang kugunakan di ponsel lama berarti semua data-data di ponselku ini bisa kembali seluruhnya. Termasuk chat dan foto-foto kami bersama Wulan. Aku bisa membayar sedikit kerinduanku padanya.
“Kita langsung ke rumahku ya.” kata Pijar sambil menginjak pedal gas keluar dari halaman parkir toko ini. Saat itu pula mulai turun gerimis satu-satu membasahi jendela. Perjalanan panjang kami diiringi hujan rintik membuat perasaan semakin terasa tak enak.
Begitu dataku berhasil dipulihkan, aku langsung membuka chat terakhirku dengan Wulan. Last seen-nya adalah kemarin. Kucoba menghubungi nomor teleponnya, dan tentu saja tidak terhubung. Entah apa yang terjadi padanya saat ini. Aku sungguh berharap dia baik-baik saja. Kumohon bersabarlah, Lan. Aku akan menemukanmu dan takkan melepaskanmu lagi. PINGG!! Sebuah pemberitahuan masuk. “Peringatan dini cuaca ekstrem untuk Jawa Tengah dan sekitarnya. Lebih lengkap.” Rupanya rintik-rintik ini hanya pembuka, cuaca buruk sedang mengejar kami di belakang. k****a lebih lanjut pemberitahuan itu. “..Diramalkan hujan lebat disertai angin kencang akan melanda sebagian besar wilayah Jawa Tengah. Dihimbau untuk tetap berada di dalam rumah dan menjauh dari pohon besar..” Sebuah badai tengah dalam proses turun ke bumi. Apa dalam badai itu akan muncul pusaran angin lagi yang akan menyedot seseorang? Haruskah aku lari memburu pusaran angin jika melihatnya? Mungkinkah Wulan akan dimuntahkan kembali di pulau itu dalam badai ini? Pertanyaan demi pertanyaan muncul, kali ini tak kutemukan jawabannya.
Andai kami tak ke pulau itu kemarin, kata-kata itu membayangiku. Sambil memandangi foto-foto Wulan di galeri, aku teringat percakapan terakhirku dengan Wulan. Sehabis puas bermain air di dermaga lama, kami berdua istirahat sejenak sambil mengeringkan badan. Sam, Layung, dan Pijar sudah dulu pergi mandi karena jumlah toilet di pulau itu terbatas.
“Ta, next time kita harus ke Bali.” Wulan merebahkan tubuhnya di atas dermaga. Memandangi langit yang segera gelap.
“Kenapa pengen banget sih ke Bali?” tanyaku sambil duduk memungkurinya.
“Sebelum orang tuaku meninggal, kami berencana pergi ke sana. Tapi mereka keburu dipanggil Tuhan.” jawab Wulan lalu terdiam.
“Hahhh, kenapa gak bilang dari dulu sih? Kan bentar lagi aku balik Bengkulu, Lan.” kesal dan kecewa merasukiku kala itu.
“Takut, nanti kejadian lagi kaya dulu.” kata Wulan, singkat.
“Maksudnya?” meski aku sebenarnya sudah mengerti maksud kata-kata Wulan, tapi aku tetap menanyakannya. Dasar bodoh!
“Ya gitu. Pokoknya nanti kalau waktunya udah tiba, gak peduli kamu mau lagi ada di Bengkulu kek, Sam ada di Belanda kek, Layung Pijar sibuk ngapain kek, pokoknya nanti kalau waktunya udah tiba gak boleh ada alasan, kita pergi merayakan purnama di pinggir pantai pulau dewata.” nada ceria dalam kata-katanya membuat suasana berubah seketika.
“Kalau waktunya tiba itu maksudnya kapan?” godaku.
“Ya nanti, pokoknya kalau waktunya tiba.” jawabnya sambil tersenyum.
“Sendiko dawuh nyai.” jawabku ikut tersenyum.
“Sok Jawa!” ejek Wulan. Kubalas dengan tawa kecil.
“Jangan sampai kamu dipanggil Tuhan duluan ya!” sambung Wulan lagi.
“Iya nanti coba aku negoin dulu.” kataku sekedar membuatnya senang.
“Soalnya percuma kalau gak ada kamu.” ada suara deg! dalam hatiku saat Wulan mengatakannya.
“Kalau gak ada Sam?” aku coba menjawab setenang mungkin.
“...” Wulan hanya menghela nafas panjang yang terdengar sangat berat.
“Ta..” kata Wulan lagi.
“Apaan?” aku menengok ke arahnya.
“Aku udah inget semua memori waktu kita merayakan purnama di villa.” suaranya cukup parau untuk suatu berita bahagia.
“Ya bagus dong. Kan aku bilang juga apa, nanti juga bakal inget lagi.” aku merespon ala kadarnya saja.
“Kayanya lebih bagus kalau aku gak inget aja deh.” dia tersenyum kecil lalu memejamkan matanya.
“Dih, bisa gitu.” kembali kuarahkan pandanganku ke lautan lepas di hadapanku.
Aku merasakan waktu berhenti saat itu. Aku memerangkap dirimu dalam ruang dimensi yang kuciptakan sendiri agar aku bisa terus kunjungi. Di hari-hari seperti ini, dimana aku tak tau keberadaanmu, tak tau apa nafasmu masih utuh berkejaran dengan detak jantungmu. Demi memutar kembali gambar kita bercengkrama di bawah jingga langit kala itu. Aku menyiapkan diri memasuki ruang dimensi itu. Yang biasa mereka sebut kenangan. Yang membuatku makin sesak tak berdaya merinduimu. Kumohon bertahanlah, Lan. Ada banyak hal ingin kukatakan padamu. Ada banyak janji mengantri untuk ditepati. Jangan dulu menjawab panggilan Tuhan padamu.
“Ketemu!!” Sam berteriak di tengah keheningan kami. Sekali lagi Pijar terpaksa menginjak rem mendadak membuatku hampir terjungkal ke kabin pengemudi. Untungnya jalanan lengang tak ada kendaraan di sekitar kami.
“ASUUUU!! SAM!!” Pijar memaki penuh emosi, langsung membanting kemudi ke kiri lalu menghentikan mobil di pinggir jalan. Hujan semakin deras mengguyur kami.
“Ketemu! Buku itu ketemu!” Sam kembali berteriak memekakan telinga sambil mengangkat tinggi-tinggi ponselnya. Pijar yang tadinya hendak entah melakukan apa pada Sam, mengurungkan niatnya.
“MANA?!” aku menyawut ponsel di tangan Samudra. Layung dan Pijar ikut mendekatkan kepalanya pada layar ponsel itu.
“Aku cari pake semua kata kunci yang ada di pikiranku gak ketemu, tapi pas aku cari pake gambar ternyata muncul satu blog yang menulis tentang itu.” Samudra menjelaskan bagaimana dia bisa menemukan artikel ini.
Ini adalah sebuah blog pribadi. Blog itu menggunakan bahasa inggris dan menampilkan cover buku usang yang persis sama dengan yang aku lihat dimiliki Samudra di halaman depannya. Dari penjelasannya buku ini adalah artefak berumur lebih dari sepuluh ribu tahun yang dipercaya merupakan peninggalan suatu kerajaan kecil bernama Sasalancana. Kerajaan beserta para penghuninya yang keberadaannya diketahui lenyap begitu saja tanpa penyebab yang jelas itu merupakan pemuja dewa bulan. Buku ini menjadi satu-satunya bukti keberadaan kerajaan itu dan merupakan peninggalan yang menjadi jejak kepercayaan kerajaan tersebut. Artefak berbentuk kitab yang menggunakan bahasa kuno yang dipercaya menjadi cikal bakal bahasa ibu penduduk Asia Tenggara ini memuat informasi mengenai dewa yang di-Tuhan-kan di kerajaan tersebut dan bagaimana memujanya laiknya sebuah kitab suci. Sayangnya buku yang juga menerangkan tentang prosesi ritual dan strata sosial kehidupan kerajaan Sasalancana itu hilang tak lama setelah diumumkan penemuannya kepada media. Meski belum dibuktikan kebenarannya, penerjemah kitab itu menerangkan bahwa kitab tersebut juga memuat sebuah kutukan yang menjadi jawaban misteri lenyapnya kerajaan Sasalancana. Meski disayangkan teori tersebut tak bisa diteliti lebih lanjut karena menghilangnya kitab kerajaan Sasalancana itu.
Hanya itu yang ditulis di blog. Tak ada informasi lain yang lebih detail. Sekedar sebuah berita ditemukannya artefak yang tak lama kemudian dinyatakan menghilang sebelum bisa diteliti kebenarannya. Aku tak mengerti kenapa Sam begitu gembira menemukan artikel ini, karena pada akhirnya kami juga tak mendapat petunjuk apapun untuk bisa mengembalikan bulan atau menemukan Wulan.
“Sam, bisa jelasin kenapa kamu seseneng itu nemuin ini?” tanyaku pada Samudra yang tengah menyungging senyuman lebar di wajahnya yang penuh lebam kebiruan.