Aku, Layung, dan Pijar saling pandang setelah membaca artikel itu sampai selesai. Kami bahkan sampai membacanya dua kali, tapi tetap tak mendapatkan alasan untuk bisa tersenyum sesenang Samudra. Kami melempar tatapan bingung pada Samudra yang belum juga menjawab pertanyaanku dan malah menikmati kebingungan kami.
“Sam? Oke, artikel ini memang memberitakan soal buku itu. Tapi ini bukan berarti kamu menemukannya, Sam.” tambahku lagi agar Samudra mau merespon.
“Ta, lihat! Artikel ini bahkan menjelaskan soal Sasalancana juga! Dia menjelaskan isi-isinya dengan singkat. Sekarang kita tahu, siapa pemilik kitab itu, Ta!” Sam masih tersenyum lebar sambil menunjuk-nunjuk ponselnya.
“Sam, Ojo cengengesan koe! (jangan cengengesan kamu!) Ini gak membantu apa-apa lho. Kerajaan itu udah lenyap, malahan orang yang bikin artikel itu aja sekarang gak tau dimana keberadaan kitab itu. Ini sama aja kita ketemu jalan buntu lainnya, Sam!” kata Pijar setelah muak melihat senyuman Sam. Dia masih kesal karena dibuat kaget saat sedang menyetir di hari hujan begini.
“Gak membantu gimana? Itu membantu kita membuktikan kalau kitab yang aku baca itu beneran ada. Malah diakui sebagai artefak. Bukan buku ajaib atau kitab terkutuk. Itu artefak, kitab suci kerajaan Sasalancana, Jar.” Sam menyombong dengan tololnya. Pikirannya betul-betul sudah rusak.
“Ya Gustiiiii. Pripun niki Gustiiii.” Layung mengeluarkan gestur andalannya, menepuk jidad sambil mengatakan kalimat itu penuh nada.
“Koncomu wes gendeng, Yung. (Temenmu sudah gila, Yung.)” tambah Pijar. Lalu dia kembali menghadap kemudi dan lanjut konsentrasi menyupir.
“Baca lagi baik-baik, Yung. Artikel itu menerangkan kalau dalam kitab itu memuat informasi mengenai dewa, cara menyembahnya, prosesi ritual, strata sosial bahkan katanya kutukan yang membuat Sasalancana lenyap, Ta!” Sam masih bersikeras dengan gagasan yang tak kami pahami.
“Iya. Cuma dijelaskan sejauh itu, Sam. Tidak ada informasi lain yang lebih detail. Kita butuh yang lebih terperinci dari buku itu. Prosesi ritual apa? Kutukan seperti apa? Kalau perlu sekalian dimana persisnya kerajaan Sasalancana itu sebelum lenyap.” sambar Layung ikut gemas dengan daya tangkap Sam.
“Masalahnya bukan itu, Sam. Yang kita butuhkan adalah cara menemukan Wulan dan mengembalikan purnama. Aku tak peduli mau itu artefak kerajaan kuno atau kitab suci sekali pun. Cara untuk menemukan Wulan dan cara mengembalikan purnama, Sam. Itu yang kita cari saat ini.” terangku dengan sangat perlahan agar Sam memahami maksud dari kata-kataku. Layung manggut-manggut mendengar penjelasanku.
“Ck! Kalian yang gak ngerti. Satu hal yang perlu kalian ingat baik-baik, kitab yang k****a itu benar dan informasi di dalamnya bisa dipercaya. Udah gitu aja. Selanjutnya tinggal mencari jawaban dari kalimat-kalimat membingungkan dalam buku itu yang belum aku pahami artinya.” kata Samudra masih dengan arogansi yang memuakkan.
“Buku itu hilang, Sam! Kamu gak ingat? Meski kitab itu benar, kalau wujudnya tak ada di sini lalu bagaimana caramu mencari jawabannya?” aku menahan diri agar tak menempeleng wajahnya yang kelewat menjemukan itu.
“Kitab itu hilang, tapi aku ingat semua isinya, Ta. Kata demi kata, halaman demi halaman. Untungnya buku itu hanya berisi beberapa halaman, tak sulit untuk menulis ulang bagian yang belum aku pahami.” Sam mengatakannya sambil merebut kembali ponselnya dari tanganku. Setelah mengotak-atik sebentar, dipamerkannya sejumlah catatan dalam note yang dia maksud sebagai bagian yang belum dipahaminya.
Dasar jenius b*****t! Bisa-bisanya dia hapal satu buku itu dan langsung menulis ulang isinya dalam waktu sesingkat ini. Kiranya aku sudah salah menilai dirinya selama ini. Meski buku itu hilang, kita masih bisa mencari petunjuk melalui ingatan Sam yang seperti gajah!
“Gokil! Kamu diem selama ini untuk mengingat ini, Sam? Kupikir kau kesurupan!” Layung tertawa girang melihat catatan itu. Samudra hanya menyeringai. Kukirimkan catatan itu ke ponsel milikku agar aku bisa leluasa membacanya. Samudra melihatnya tapi dia hanya diam membiarkanku memiliki salinan catatannya. Aku lupa baru beberapa jam lalu dia menuduhku sebagai pengkhianat.
“Seperti yang kalian baca di artikel tadi. Kitab itu memang beberapa kali menyebutkan Sasalancana di dalamnya. Aku tak mengerti bagian yang menyatut Sasalancana sebelumnya. Tapi setelah tau itu adalah nama sebuah kerajaan kurasa aku sedikit mengerti maksudnya.” ujar Sam. Layung memperhatikan dengan seksama.
“Tapi tetap di bab itu hanya menceritakan soal Sasalancana, tak ada penjelasan mengenai hilangnya purnama semalam. Apa lenyapnya kerajaan itu ada hubungannya dengan lenyapnya rembulan semalam? Mantra yang k****a adalah tulisan tangan seseorang, bukan bagian dari buku itu. Jadi kurasa..” Sam melanjutkan hipotesanya.
“Bentar-bentar, Sam. Selain yang kamu ceritain tentang purnama satu, dua, tiga dan seorang yang mendapat pecahan kekuatan bulan. Apalagi isi buku itu? Jelaskan dulu supaya kami bisa mengikuti omonganmu.” aku memutus kalimat Sam sebelum aku lupa dengan nama kerajaan yang sulit diingat itu.
“Kitab itu terbagi menjadi empat bab. Bagian awalnya menceritakan purnama sebagai dewa, seperti yang aku sudah ceritakan pada kalian. Bagian kedua adalah kekuatan purnama, termasuk seorang wali pilihan bulan yang mendapat kekuatan suci itu. Bagian ketiga membahas Sasalancana, dan bagian terakhir menyebut-nyebut Matahani. Untuk bagian ketiga dan keempat aku belum paham betul isinya. Aku belum sempat mencari tahu lebih jauh. Tapi berkat artikel itu sekarang aku sedikit paham untuk bagian ketiga.” kata Sam menjabarkan satu per satu bab dalam buku yang sekarang disebutnya kitab itu.
“Coba jelasin yang bab tiga kitab itu Sam.” pintaku. Kuperhatikan Pijar masih konsentrasi pada jalanan tapi ikut mendengarkan kami dengan baik.
“Sasalancana adalah rumah bagi purnama pertama. Semua elemen kehidupan tumbuh berdampingan dalam damai dan kemakmuran dengannya. Menjalankan peran masing-masing sesuai porsi dan tak saling mengusik menyakiti. Bagi purnama kedua, Sasalancana adalah tempat persinggahan. Membagikan mangsa pada pemangsa menjaga keseimbangan alam semesta. Sasalancana adalah yang paling terang dan bercahaya di kala malam. Purnama menghujani tanahnya dengan berkat kesuburan, mengabulkan doa-doa dan pengharapan, melindungi kecaman dan ancaman. Sasalancana menghamba dengan kemurnian, hingga bulan tak berhenti purnama malam demi malam, tahun demi tahun, abad demi abad. Dewa jadikan Sasalancana surga cahaya yang terang menerangi sepanjang masa sepanjang zaman.” lagi-lagi seperti membaca dialog dalam teater, Sam menerangkannya dengan sungguh-sungguh. Bulu-bulu di tengkuk dan tanganku sampai berdiri merinding.
”Awalnya kupikir Sasalancana adalah nama seseorang. Mungkin nama seorang wali yang mendapat kekuatan bulan.” tambah Sam. Benar, dalam narasi yang dijelaskan Sam, Sasalancana lebih seperti sesosok dewa daripada suatu kerajaan.
”He’e! (Iya!) Aku juga mikire itu nama orang.” Layung nyeletuk menimpali Sam.
“Di artikel itu Kerajaan Sasalancana disebut lenyap tanpa diketahui sebabnya. Padahal di buku terang menerangi sepanjang masa sepanjang zaman.” kata Sam sambil berpikir.
”Kalau bab empat, isinya apa Sam?” tanyaku kemudian.
“Kita belum siap masuk ke bagian itu, Ta. Sasalancana masih menyimpan banyak teka-teki. Bisa saja kita menemukan jawaban masalah kita di sana.” Samudra tak mau memberitahuku, dia melempar lirikan tajam kepadaku.
“Saat ini ada hal yang lebih mendesak, tak ada gunanya memikirkan negeri yang sudah lenyap, Sam.” kataku acuh sambil membalas lirikannya.
”Kau bisa baca sendiri jika ingin, Ta! Aku masih akan mencari isi dari bab 3.” Sam mengambil kembali ponselnya dari tanganku. Dia lagi-lagi memasang tampang kesal padaku. Sekarang dia duduk bersandar sambil memandang keluar jendela.
Aku tau seharusnya aku tidak bersikap seperti itu pada Sam. Tapi aku benar ingin membaca keseluruhan kitab itu dahulu agar bisa melihat akhir dari cerita ini dengan jelas. Bisa saja tiap bagian merupakan kisah bersambung yang saling terkait, karena itu hasil akhir hanya bisa tampak oleh orang yang membacanya sampai tuntas. Sam bisa memikirkan ini dan itu karena dia sudah menamatkan kitab itu berulang kali, aku juga mesti membacanya sampai selesai untuk bisa mengikuti gaya pikirnya. Dari note yang tadi sudah kukirim ke ponselku, aku mulai membaca isi bab terakhir kitab terkutuk yang sudah diketik ulang oleh Samudra.
“Manakala perlu sathu kesaktian tunggal dunya dapat lahir.
Ialah Matahani. Ia adalah sihir.
Kesaktian yang dikandung mantra-mantra.
Dilahirkan rahim mati yang sudah dijampi.
Matahani ialah pusaka.
Bermata ganda. Hunus menghunus tangkis membenteng
memenangkan tangan yang menggenggamnya.
Matahani ialah taju.
Adiluhung adikara adyapi.
Kesaktian tunggal dunya yang membelah angkasa
yang dengannya bhumi terang benderang.
Kala adaka acala adanu runtuh lebur adilaga nyala matahani maju.
Maka terbitlah purnama ketiga
yang sayapnya suci mensucikan, dari keluhuran dan pengorbanan.”
Setelah selesai membacanya, aku tak bisa bilang kalau aku mengerti. Aku juga tak bisa menemukan hubungan bab ini dengan hilangnya Wulan dan rembulan semalam. Atau lebih tepatnya aku bahkan tak bisa memahami keseluruhan rangkaian bab dari kitab ini. Bahasa yang digunakan bukan seutuhnya Bahasa Indonesia, ada beberapa kata yang asing di mataku. Mengartikan satu per satu kata saja akan butuh waktu lama, apalagi memahami keseluruhan isi. Sekali lagi aku dibuat takjub pada kejeniusan Sam memahami bagian satu dan dua dalam waktu sesingkat itu. Isi kitab yang selama ini diterangkan Sam dengan mudah pada kami awalnya berasal dari prosa-prosa sulit seperti ini rupanya. Pantas saja Sam begitu gembira ketika artikel itu muncul karna membuktikan bahwa dirinya sudah berada di jalur yang benar dalam memahami satu per satu kata. Aku menyesal telah berlagak angkuh di hadapan Sam. Aku merasa tengah diburu waktu, aku tak dapat memikirkan apapun dengan benar. Kepalaku terlalu penuh, dadaku sesak oleh ketidak-mampuanku mengartikan ini dan itu. Perasaanku carut marut mengkhawatirkan Wulan. Sekaligus merindukannya. Aku takut aku kehabisan waktu menyelamatkannya. Oh Tuhan, dimana gadis itu sekarang? Satu-satunya gadis yang kucintai selama ini. Tolong.. tolong beri aku petunjuk untuk menemukannya.. kumohon Tuhan, kumohon siapa saja..