Tiba-tiba aku merasa dingin di sekujur tubuhku. Seperti ada banyak jarum menusuk-nusuk kulitku. Saat kubuka mata, tiba-tiba saja aku sudah berada di tengah hutan belantara. Gelap, berkabut tebal, tapi remang-remang kulihat sinar rembulan menembus sela-sela pepohonan. Aku berdiri seorang diri, suasana seram menyelimuti hutan ini. Aku melihat ke sekeliling, tak ada siapapun. Selain pohon-pohon raksasa dan keheningan yang mengerikan. Aku menjejaki jalur rumput berlumpur yang ada di hadapanku. Selangkah demi selangkah dengan sangat hati-hati dan siaga. Menyelinap di antara dedaunan perdu yang masih meneteskan bulir-bulir air. Aku menciumnya, bau khas hujan dan bau kayu basah. Bau yang akan kau pahami kala berada dalam pendakian di musim penghujan. Dalam genggaman tangan kananku ada sebuah pisau lipat, yang terbuka. Aku tak ingat kenapa pisau ini begitu dingin dalam genggamanku. Masih bersih, belum ternoda. Kuperhatikan lagi baik-baik, pisau ini milik Layung.
KRSKKK!!!! Mendadak kudengar suara ranting terinjak kaki. Otomatis kuacungkan pisau lipat itu ke arah sumber suara. Jantungku berdebar hebat, aku merasakan aura mengancam di sekitarku. KRSKK!!! Suara langkah kaki itu terdengar lagi. Kini berpindah tempat. KRSKK! KRSKK! KRSKK! Suaranya semakin dekat. Kugenggam erat pisau lipat itu dengan kedua tangan. Dadaku naik turun, nafasku mulai memburu, aku ketakutan. KRSKK!! Suara itu pindah, kini ada di belakangku. Reflek kubalikkan badan secepat mungkin. Kusabetkan pisau dengan liar ke arah sumber suara. Tak ada apa pun. Kakiku gemetar, bukan, sekujur tubuhku gemetar. Aku berjalan mundur selangkah demi selangkah. Masih dengan siaga mengacungkan pisau. Bruk! Tubuhku membentur sesuatu. Aku yakin itu bukan sebuah pohon. Badanku masih gemetaran, jantungku berdegup kencang seperti akan pecah. Kutelan ludah sebelum memberanikan diri menengokkan kepala ke belakang. Tercium bau wangi bunga melati yang menusuk hidung, sesaat sebelum mataku menangkap sosok bayangan hitam tinggi dan sepasang mata merah menatapku dengan murka.
Aku berlari sekencang-kencangnya. Menjauh dari bayangan itu. Lari.. lari.. lari.. jangan menoleh ke belakang! Aku berlari tanpa memperhatikan arah. Nafasku putus putus, aku terengah-engah ketakutan yang amat sangat. “BERHENTI!” terdengar sebuah suara serupa petir yang gemanya begitu memekakan telinga. Aku menghentikan langkahku, beralih menutup kedua kupingku erat-erat. Gaungnya masih santer terdengar, menyakiti gendang telingaku. Dadaku ngilu oleh getaran suara yang tak berhenti-henti. Aku menjatuhkan diri ke rumput. Meringkuk bak anak kecil ketakutan oleh suara petir. Menahan gemerutuk gigiku, tubuhku gemetar karna rasa ngeri dan terancam. “JANGAN TAKUT.” suara itu muncul lagi. Masih dengan gema dan gaung yang sama. Suara seorang pria tua. Aku memejamkan mataku dan menutup telingaku serapat mungkin. Aku menahan nafas ketakutan membayangkan wujud pemilik suara yang tadi kulihat. “AKU YANG MENGUNDANGMU KEMARI.” sekarang suara itu sedikit melembut. Getar gaungnya sudah tak semenyakitkan tadi.
Aku memberanikan diri membuka mataku perlahan. Kepalaku masih menghadap tanah. Dadaku mulai naik turun menarik nafas perlahan mengatur debaran jantungku yang tak selaras. Kukedip-kedipkan mataku beberapa kali sambil kulepaskan cengkraman pada kupingku pelan-pelan. Mataku melirik ke kanan kiri dan tak kulihat apapun. Sosok bayangan hitam itu hilang, tak mengikutiku. Dengan sangat perlahan dan hati-hati kuangkat tubuhku. Tak ada siapapun. Masih debaran jantungku yang berisik mengisi keheningan tempat ini. Badanku menggigil basah kuyup, keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dari pelipisku. “AKU TAHU APA YANG KAU CARI.” aku sudah sedikit tenang saat suara itu terdengar lagi. Suara orang yang sama. Menggelegar menggetarkan hutan. Tapi aku tak takut lagi. Dia yang mengundangku dan dia tahu apa yang aku cari. “Siapa kau? Tunjukan dirimu!” entah muncul darimana keberanian untuk meneriakkan kata-kata itu keluar dari mulutku. “DATANG KEMARI BILA KAU INGIN TAHU.” suara itu kembali memantulkan gema dan gaung yang menyakitkan, kemudian diikuti suara petir maha dahsyat. Aku terkejut, kembali kupejamkan mata dan kututup telingaku erat-erat. Aku menunduk menyelamatkan kepalaku.
Saat kubuka mata, aku sudah kembali berada di dalam mobil. Sepertinya aku tertidur dengan menyenderkan kepala ke jendela. Kutengokkan kepala ke kanan, ada Samudra di sana. Masih mengotak-atik ponsel dengan serius. Pijar juga masih konsentrasi menyetir di balik kursi kemudi. Hujan masih sama derasnya mengguyur kami. Sepertinya tadi aku melihat mimpi. Mimpi yang terasa amat sangat nyata. Aku mengulet sebentar, merenggangkan otot-otot dan leherku yang kaku lalu kutegakkan tubuhku dari posisi bersandarku tadi. Kini baru aku sadar tangan kananku tengah menggenggam sesuatu di dalam kantung hoodieku. Saat kukeluarkan tanganku dari saku, aku terkejut setengah mati. Tangan kananku tengah menggenggam pisau lipat milik Layung, sama seperti dalam mimpi. Padahal aku ingat betul, aku sedang membaca bagian terakhir dari kitab itu di ponselku sebelum aku tertidur. Lalu kenapa pisau lipat yang dingin ini ada di tanganku sekarang.
“Sam, kau menaruh pisau ini di tanganku saat aku tidur?” tanyaku pada Sam.
“Gak.” jawabnya singkat. Mukanya penasaran kenapa aku menanyakan itu. Layung yang mendengarku bicara lalu menengok ke belakang.
“Ini ada apa lagi... Lho, kok itu di kamu, Ta? Perasaan tadi pagi aku masukin dalam tas carrier deh.” kata Layung kaget saat melihat pisau itu di tanganku.
“Kamu masukin ini ke sakuku, Yung?” tanyaku pada Layung.
“Gak, lah! Gimana caranya?” jawab Layung yang memang duduk di kursi depanku.
“Kenapa lagi, sih?? Gak kelar-kelar daritadi berantemnya.” sekarang Pijar ikut bicara.
“Jar, kamu lihat ada yang masukin pisau ini ke sakuku saat aku tidur?” tanyaku pada Pijar.
“Ya gak, lah! Liatin jalan aja susah banget, gimana mau ngeliatin kamu? Emang kapan sih kamu tidur, Ta? Baru juga pada diem lima menit.” jawab Pijar. Hah?! Baru lima menit? Perasaan sekujur tubuhku terasa kaku dan pegal seperti sudah tidur satu jam dalam posisi ini.
Aku lalu merogoh kantongku dengan tangan yang lain. Tak kutemukan ponselku di saku, juga di kursi tempatku duduk. Aku menunduk mencari ke kolong, dan tetap tak kulihat keberadaan ponsel itu.
“Sam, tolong telponin ponselku.” pintaku pada Sam. Dia lalu mengotak atik ponselnya dan menyetingnya dalam mode loud speaker.
“Tersambung.” kata Sam. Tapi tak terdengar ringtone maupun suara getar nada dering ponsel itu di dalam mobil. Aku terus mencari ponselku sampai telepon itu terputus tak diangkat. Layung dan Sam juga ikut mencarinya di antara pintu dan kolong tempat duduk mereka masing-masing. Hasilnya nihil. Aku merasa ada yang tidak beres.
“Coba pinjam ponselmu, Sam. Aku sudah aktifkan gps lokasi ponsel. Aku bisa melacaknya.” dalam ponselku selalu kuaktifkan aplikasi lacak untuk menemukan lokasi perangkat bila tertinggal atau hilang di suatu tempat. Aku tinggal login dengan akun yang kugunakan di ponsel itu di aplikasi yang sama pada ponsel Sam, maka akan muncul titik lokasi terkini perangkatku yang hilang.
“Nih.” Sam memberikan ponselnya padaku. Karna ponsel kami dari merek yang sama, aku tak butuh waktu lama untuk bisa mengakses aplikasi itu. Dan lagi-lagi aku dibuat terkejut setengah mati. Aplikasi itu menunjukkan ponselku saat ini tengah berada di tengah hutan di selatan Yogyakarta, padahal saat ini kami bahkan belum meninggalkan Jawa Tengah.
“Edan!! Kok iso?! (Gila!! Kok bisa?!)” respon Layung mengagetkan Sam dan Pijar.
“Opo Yung?! (Apa Yung?!)” tanya Pijar penasaran.
“Ki lho, mosok handphone Semesta ono ning hutan, Jar? (Ini lho, masa handphone Semesta ada di hutan, Jar?” jawab Layung.
“Eror paling aplikasine. Jajal di baleni meneh.(Coba diulang lagi.)” saran Pijar. Aku mengulang semua tahap dari awal lagi. Setelah beberapa saat, keluar hasil pencarian yang baru. Namun masih berada di titik yang sama. Di sebuah hutan di selatan Yogyakarta.
“Masih sama. Berarti bukan aplikasinya. Kamu gak salah masukin akun kan, Ta?” tanya Sam.
“Gak, udah bener. Baru beberapa menit lalu aku login di ponsel itu, dengan akun ini.” jawabku terbata-bata.
Aku masih tak percaya hal seperti ini terjadi lagi padaku. Apa tadi itu bukan sekedar mimpi? Aku.. “DATANG KEMARI BILA KAU INGIN TAHU.” tiba-tiba terdengar suara itu di kepalaku. Aku mencoba mengingat kembali mimpi itu. “aku yang mengundangmu kemari.” “aku tau apa yang kau cari.” “datang kemari bila kau ingin tahu.” benar, ini sebuah undangan. Pisau ini dan lokasi ini, bukan sebuah kebetulan. Mimpi itu adalah undangan. Siapapun dia, dia memastikan aku mempercayai mimpi itu. Dia memintaku datang ke tempat ponsel ini berada, tempat pertemuan kami dalam mimpi. Tak seperti terakhir kali aku mengabaikan peringatannya, kali ini aku akan datang ke sana.
“Jar, aku harus ke tempat ini.” kataku pada Pijar.
“Kemana lagi hujan-hujan gini?” jawab Pijar ogah-ogahan.
“Kita ambil ponsel baruku.” kuberikan ponsel Samudra ke Pijar. Dia mengambilnya lalu mengamati tempat di peta itu sekilas.
“Lho, ini kan dekat rumahku.” kata Pijar kemudian.