Aku tak menyangka hutan yang ditunjukkan oleh aplikasi itu berada di dekat rumah Pijar. Apa ini bisa dihitung sebagai suatu keberuntungan? Atau malah aku harusnya merasa curiga? Yang jelas ini akan mempercepat perjalanan kami.
“Ta, jelasin dulu, ini ada apa sebenarnya?” Layung kebingungan tiba-tiba aku memegang pisau miliknya, ponselku hilang di sebuah hutan yang belum pernah kami datangi dan aku meminta untuk pergi ke lokasi dimana handphoneku berada menurut aplikasi itu.
“Maksudmu apa, Ta? Kok bisa ngambil ponsel di sana? Itu hutan lho. Singup tau gak? Angker! Aku udah bilang kan gak mau pulang kemaleman, soalnya daerah hutan itu sepi banget. Malah sekarang kamu ngajakin kesana. Moh aku! (gak mau aku!)” tambah Pijar. Samudra hanya melihatku dalam diam. Aku mempertimbangkan untuk berkata jujur pada mereka, entah salah satu dari mereka adalah pengkhianat atau bukan.
“Kalau aku cerita apa kalian akan percaya?” aku bertanya untuk memastikan mereka semua memperhatikan dengan baik.
“Jangan berbasa basi cepat ceritakan ada apa sebenarnya.” jawab Layung. Pijar menurunkan kecepatan kendaraan. Samudra diam memperhatikan.
Aku lalu menceritakan mimpi yang baru saja aku lihat. Kali ini aku menceritakannya secara detail tak ada yang dikurangi maupun kutambah. Wajah mereka berubah pucat saat aku selesai menceritakan bagaimana tiba-tiba pisau ini benar ada di genggamanku dan ponselku berpindah ke sebuah hutan yang belum pernah kami datangi.
“Ada lagi yang belum pernah aku ceritakan pada kalian. Saat aku sakit tepat di hari kita memutuskan akan pergi ke pulau itu untuk merayakan purnama kedua, aku juga mendapat sebuah mimpi. Dalam mimpi itu aku sedang berada di sebuah pantai bersama Wulan. Dia berlarian bermain dengan air di pinggir pantai, lalu mendadak ada ombak besar menggulung tinggi sampai menutup sinar matahari menuju ke arah kami dari tengah laut. Wajah Wulan berubah takut dan panik, lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Mimpi itu masih berlanjut. Waktu berubah menjadi malam. Masih di pantai itu, aku dan Wulan duduk di pinggir pantai memandangi lautan dengan api unggun di hadapan kami. Lalu Samudra muncul entah darimana. Dia menarik tangan Wulan. Membawanya ke arah laut. Wulan tampak ketakutan dan menangis memanggil namaku. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Badanku seperti tertahan di atas pasir, tak kuasa menolongnya dari Samudra.” aku berhenti sejenak menarik nafas. Perasaan bersalah itu datang lagi.
“Aku tau mimpiku yang itu bisa saja tidak berhubungan sama sekali dengan kejadian setelahnya. Mungkin saja aku bermimpi demikian karena saat itu aku memang sedang memikirkan Wulan dan Samudra. Makanya sampai sekarang aku belum pernah menceritakannya pada kalian. TAPI. Tapi aku sangat menyesal sudah mengabaikan mimpi itu. Seandainya saja aku menolak untuk pergi ke pulau atau ke pantai karena mimpi itu, mungkin saja kejadiannya takkan senahas ini. Dan kini aku mendapat mimpi lagi. Kali ini si pengirim mimpi itu memastikan aku mendapat pesannya dengan baik. Bahkan sampai memberikan pisau dan titik lokasi secara akurat. Kali ini aku tak bisa mengabaikannya lagi. Aku harus ke sana.” kataku meyakinkan mereka semua bahwa aku harus ke sana. Aku. Bukan kami.
“Gimana kalau pengirim mimpi itu adalah orang dibalik semua ini, Ta? Dan dia sampai memberimu pisau, gimana kalau ternyata dia ingin mengajakmu bertarung?” kata Layung kemudian.
“Siapapun yang mengirim mimpi itu, dia pasti membutuhkanku. Dia takkan repot-repot memanggilku dengan cara seperti ini bila tujuannya untuk menghabisiku, Yung.” jawabku dengan tenang.
“Tapi terlalu berbahaya, Ta. Cuaca juga sangat gak mendukung. Kita ke sana besok pagi saja. Yang penting malam ini kita ketemu simbahku dulu.” kata Pijar. Memang benar hujan angin masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
“Kamu turunkan saja aku di titik terdekat dengan lokasi yang ada pada peta itu, Jar. Lalu lanjutkan perjalanan kalian ke rumahmu. Aku akan ke sana sendirian.” kataku merespon kata kita di kalimat Pijar.
“Kamu udah gila apa? Gak! Gak boleh! Kalau kamu hilang kaya Wulan terus kita mau gimana, Ta?” Layung membantahku mentah-mentah.
“Tenang, Ta. Jangan gegabah. Bisa saja itu jebakan.” tambah Pijar.
“Jebakan atau bukan, aku akan tetap ke sana, Jar. Dan aku bisa jaga diriku sendiri, Yung. Tenang aja. Kalian lanjutkan cari petunjuk ke simbah Pijar.” kataku.
“Ta! Woy! Gak! Pokoknya gak ada yang boleh pisah lagi. Kalau mau ke sana kita ke sana sama-sama.” Layung bersikeras melarangku pergi sendirian.
“Bener. Aku juga gak mau lagi ada yang ilang-ilangan. Sampai semuanya selesai kita harus saling menjaga satu sama lain. Apalagi yang mau kamu datangi ini bukan tempat sembarangan. Hutan itu terkenal angker di kampungku, Ta. Banyak orang yang hilang di sana dan gak ditemukan jasadnya sampai sekarang. Ditambah lagi kita gak tau apa yang sudah menunggu kamu di sana. Kalau kamu ke sana sendirian, aku gak yakin kamu bisa keluar hidup-hidup.” kata Pijar memperingatkan dengan keras.
“Kita masuk ke sana bareng-bareng aja belum tentu kita bisa selamat.” tambah Pijar dengan volume yang sangat kecil seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Heh, cangkemmu lho, Jar! Neg ngomong sing genah! (Heh, mulutmu lho, Jar! Kalau bicara yang bener!)” Layung memarahi Pijar. Pijar bungkam.
Sejujurnya aku tak ingin mereka pergi bersamaku. Cuaca saat ini betul-betul tak bersahabat dan aku tak tau bahaya apa lagi yang akan mengancam kami di sana. Aku tak bisa menjamin keselamatan diriku sendiri apalagi keselamatan mereka. Terlebih bila mengingat kemungkinan adanya pengkhianat di antara kami, bisa saja ini perangkap agar kami bisa disergap dan dihabisi sekaligus di tempat itu. Meski begitu, sekarang sudah sedekat ini aku tak bisa menyerah. Aku percaya walau kemungkinannya kecil tapi tetap masih ada kemungkinan dialah yang selama ini mengirim peringatan padaku dan berusaha untuk mencegah kejadian ini terjadi. Aku harus ke tempat itu, menemui si pemberi mimpi dan mencari tahu apa maunya.
“Kita ke sana setelah dari rumahku gimana? Kita bisa minta ditemani simbah atau mungkin orang lain yang lebih tahu tentang hutan itu.” saran Pijar.
“Sekalian saja ajak satu kampung, Jar! Buat sayembara berhadiah rumah untuk siapa saja yang bisa menemukan handphone Semesta di hutan itu.” Layung mengejek ide Pijar. Aku juga sama tak setujunya dengan Layung.
“Aku mikirin keselamatan kita, Yung!” Ada nada marah di kalimat Pijar.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar. Terima kasih kalian sudah mengkhawatirkan keselamatanku. Tapi aku juga sama khawatirnya pada keselamatan kalian, jadi biarkan aku pergi sendiri ke dalam hutan. Kalau kalian mau, kalian tunggu saja di dalam mobil. Bila dalam beberapa menit aku tidak kembali, kalian lanjutkan perjalanan ke rumah Pijar.” kataku kemudian.
“Ini lagi! Ngomong gak pake otak! Buat apa kita tunggu di mobil? Dikira lagi drive thru?” kelakar Layung membuatku tertawa.
“Kita omongin lagi sambil istirahat aja. Bensinku habis, ini juga udah mulai masuk kota Jogja. Perjalanan udah tinggal sejam dua jam lagi. Kita harus bikin rencana yang mateng kalau bener mau masuk ke hutan itu hari ini.” kata Pijar memotong tawaku.
Tak lama setelah itu Pijar berbelok ke rest area. Setelah mengantri isi bensin, Pijar memarkirkan kendaraan di depan sebuah restoran ayam cepat saji.
“Ayo turun. Kita makan sekalian.” ajak Pijar.
“Di sini aja, Jar. Badan kita bau banget lho.” tolak Layung. Memang benar penampilan kami sudah mirip gelandangan saat ini, kami juga belum mandi dan membersihkan diri sejak semalam. Sedangkan restoran itu saat ini sedang ramai pengunjung karena orang-orang memilih menghentikan perjalanan ketika cuaca buruk seperti ini.
“iyo ya, nembe sadar aku dewe rung adus. (iya ya, baru sadar aku kalau kita belum mandi.)” Pijar mengatakannya sambil mengamati pakaiannya dan mengendus-endus ketiaknya.
“Drive thru aja kaya kata Layung.” kataku pada mereka. Layung melirikku lalu melayangkan tinju. Pijar terkekeh, sambil menjalankan mobil ke gerbang drive thru.
Sekarang kami sudah siap untuk berunding. Makanan sudah tinggal disantap, kendaraan sudah terisi bensin dan saat ini kami berhenti di tempat parkir yang terlindungi dari hujan yang semakin mengganas. Waktu baru menunjukkan pukul lima sore, tapi hujan tak membiarkan cahaya matahari lewat membuat hari lebih gelap dari semestinya.
“Kita cuma membuang-buang waktu di sini.” Samudra akhirnya bicara setelah daritadi hanya diam. Aku setuju dengan Samudra, berhenti disini hanya akan menyia-nyiakan waktu yang berharga.
“Aku juga butuh istirahat, Sam. Kamu pikir nyupir pas hujan deras seperti ini mudah? Lagi pula apa kamu tahu hutan seperti apa yang ingin di datangi Semesta? Kamu jelas butuh tenaga ekstra untuk bisa sampai di sana.” sepertinya Pijar tersinggung dengan omongan Sam.
“Memangnya hutan itu kenapa, Jar?” tanya Layung sambil mengunyah ayam dan nasi.
“Hutan itu masih sangat rimbun, rengket alias lebat banget. Belum terjamah manusia. Medannya sangat sulit dibelah dan jelas akan sangat licin di hari hujan deras seperti ini. Di hutan itu juga ada sebuah goa besar. Kalau cuacanya begini terus pasti goa itu akan banjir oleh air hujan. Jadi kita perlu menghindari daerah itu. Lalu banyak jurang-jurang yang gak kelihatan karena lebatnya tanaman di hutan itu dan yang pasti jarak pandang kita juga bakal berkurang karena hujan deras seperti ini. Tambah lagi, titik lokasi ponsel Semesta sepertinya masuk cukup jauh di dalam hutan. Kayanya kita harus tracking dulu lumayan jauh untuk bisa sampai di titik itu.” Pijar menjelaskan dengan hati-hati.
“Kamu kok kayanya tau banget, Jar?” tanya Layung.
“Aku pernah cerita kan kalau aku sering diajak ayah sama simbahku bertapa? Nah, aku beberapa kali bertapa di goa itu.” jawab Pijar sambil menikmati kentang goreng dan burger.
“Berarti kamu udah hapal, kan? Bagus dong! Terus kenapa kamu khawatir banget?” tanya Layung lagi.
“Masalahnya aku ke sana waktu kecil, Yung. Sekarang pasti sudah banyak berubah. Dan aku cuma ngikutin ayah sama simbahku waktu itu, mana mungkin aku tau jalan. Makanya aku bilang ngajak simbah aja biar aman.” jawab Pijar.
“Selain masalah medan, ada lagi yang harus kita khawatirkan gak, Jar?” tanyaku penasaran karna Pijar sebelumnya sempat beberapa kali membahas soal angkernya hutan itu.
“Yaa, namanya hutan, Ta. Pasti banyak makhluk yang tinggal di sana. Aku pernah ada pengalaman gak enak di sana. Kalau ingat itu aku pasti langsung merinding, bikin ogah lewat daerah hutan itu.” jawab Pijar.
“Setan?” tanya Layung.
“Iya, lengkap!” jawab Pijar.
“Halah, yang seperti itu tak perlu dikawatirkan, Jar! Mereka tak bisa menyakiti kita!” kata Samudra tiba-tiba.
“Kamu bilang begitu karena kamu belum mengalaminya, Sam. Aku pernah di cekik lalu di angkat tinggi-tinggi oleh penunggu hutan itu. Kalau simbahku tak menemukanku tepat waktu, mungkin sekarang aku takkan berada di sini bersama kalian.” Pijar menceritakan pengalamannya dengan gusar. Kami tertegun diam sejenak.
“Terus sekarang gimana, Ta? Kamu udah denger sendiri, kan? Masih mau ke sana sendirian?” tanya Layung kemudian.
“Iya. Bagaimana pun aku tetap harus ke sana, Yung.” jawabku tegas.
“Hahhh.. Sam, kalau menurutmu gimana?” tanya Layung pada Samudra.
“Aku ikut Semesta.” jawabnya singkat.
“Jar?” tanya Layung pada Pijar.
“Iya, aku juga ikut. Tapi bisa gak kita ke hutannya besok aja? Atau setelah dari rumahku deh.” tanya Pijar.
“Kita gak punya waktu, Jar.” jawab Samudra.
“Yowes yowes, sak karepmu, aku manut wae. (Ya udah ya udah, terserah kalian, aku ikut aja.)” kata Pijar pasrah.
“Berarti sudah diputuskan. Setelah ini kita langsung menemui si pengirim mimpi itu bersama-sama. Oke, Ta? Kamu sudah tidak bisa menolak. Sam, kamu segera habiskan makananmu, kita butuh tenaga untuk menjaga diri di sana.” Layung merangkum hasil putusan rapat ini dengan singkat.
Ternyata tak ada ruginya berhenti sejenak untuk berunding. Sekarang aku tau darimana suara gema dan gaung di dalam mimpiku berasal, ternyata ada sebuah goa di dalam sana. Kurasa si pengirim mimpi itu ingin aku mendatangi goa itu. Baiklah, tunggu saja!