Bab 19 – Hutan

1810 Kata
Kami melanjutkan perjalanan menuju hutan itu setelah Pijar selesai makan. Menurut aplikasi pelacak ponsel milikku, perjalanan kami tinggal satu setengah jam lagi. Tapi sayangnya, hujan malah semakin beringas mengguyur kota ini. Membuat Pijar terpaksa menurunkan kecepatan, memperlambat perjalanan. Awan hitam yang menggelayuti langit ikut memperkeruh keadaan. Beberapa kali Pijar memekik kesal karena jalanan sangat sulit terlihat dalam derasnya hujan dan kurangnya cahaya. Ditambah gelegar suara petir yang seringkali datang mengagetkan, memperburuk suasana hatiku yang saat ini sudah gelisah tak karuan. Aku tak bisa berhenti melihat kilasan wajah Wulan menangis dan ketakutan, baik saat mataku terbuka maupun terpejam. Aku tak bisa menghentikan suara jeritan Wulan berputar-putar di kepalaku, membuatku gila tak bisa memikirkan hal lain. Bagaimana keadaan Wulan saat ini, saat hujan badai seperti ini. Apakah badannya menggigil kedinginan, apakah perutnya kosong kelaparan. Apa dia masih ketakutan, apa dia akan bertahan. Aku tak bisa berhenti memperbesar tanda tanya pada tiap akhir kalimat yang mengkhawatirkan kemana arah tujuannya. Aku tak bisa berhenti bersumpah untuk menemukannya dan membalaskan dendam pada orang yang telah membuatnya ketakutan dan menangis seburuk itu. Sebuah pisau lipat telah diberikan padaku. Aku berharap tak lama lagi pisau ini akan basah. Aku tak sabar ingin menghunuskan mata pisaunya ke perut dan leher orang yang telah merebut Wulan dariku. Membiarkan darah mengucur deras mengotori wajah dan tanganku. Mencabik isi perutnya hingga terburai keluar. Mencincang jari jemarinya yang telah berani menyentuh Wulan dan membawanya jauh dariku. Takkan kubiarkan kepalanya utuh menyatu dengan tubuhnya, bayaran yang pantas atas sihir gelap yang sudah dia gunakan pada Wulan. Dengan pisau dalam genggamanku ini, akan kubuat ia menyesal sudah merusak damainya hidup kami. Tak peduli seberapa berbahaya hutan yang akan kami datangi. Kupastikan tempat itu akan menjadi kuburan untuknya. “Ta! Ta!” tiba-tiba aku mendengar suara Samudra. “Ta, lepasin pisau itu!”kata Samudra padaku. Berani sekali dia memerintahku! Dia yang sudah menyebabkan semua ini terjadi, dia yang sudah membuat Wulan direbut dariku. Samudra harus ikut dihukum atas dosanya memisahkanku dengan Wulan. Darahnya harus tumpah membayar penderitaan yang telah Wulan hadapi. “SEMESTA! STOP!” tiba-tiba aku mendengar suara Wulan. Aku menghentikan gerakanku. Currrr…. Beberapa tetes air jatuh ke wajahku terus mengalir melewati pipi langsung terjun ke bawah dagu. Mataku terasa perih terciprat air itu, kukedip-kedipkan mataku. Tiba-tiba hidungku mencium bau amis yang menyeruak. Aku tersadar. Air itu berwarna merah. Itu adalah darah! Aku tersentak kaget. Aku lalu melihat ke arah depan. Samudra tersudut dengan tangan kiriku mencengkram kerah kaosnya. Wajahnya ketakutan menatapku, tapi tak ada darah dari tubuhnya. Aku mendongak ke atas, ke arah datangnya tetesan darah itu. Tangan kananku terangkat tinggi seperti hendak menikam Samudra dengan pisau lipat yang sedari tadi kugenggam. Tapi sebuah tangan menahan mata pisaunya sekuat tenaga. Itu adalah tangan Layung. Layung menahan pisauku dengan tangan kosong. Membuat darah tak berhenti mengalir dari telapak tangannya. Aku reflek melepas tanganku, menarik badanku mundur hingga menabrak pintu mobil. Badanku gemetar menyeka darah dari wajahku. Layung dengan perlahan mencabut pisau dari tangannya lalu mengepalkan telapaknya yang banjir darah. Tersirat rasa ngilu yang sangat melihat pisau itu tercabut dari daging di tangannya. Pisau itu dilemparkannya ke dashboard mobil, lalu iya segera membalut lukanya dengan cardigan yang ia kenakan. “Apa yang terjadi?!” tanyaku histeris. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku sudah berada dalam posisi itu. “Gak apa! Tenang, Ta. Sam. Aku gak apa. Kalian tenang dulu.” Layung yang bermandikan darah malah meminta kami untuk tenang. Pijar segera meminggirkan mobil dan mengambil kotak P3K. Darah akhirnya berhenti mengalir dari tangan Layung setelah beberapa saat ditekan atau lebih tepatnya disumpal dengan kain kasa. Selesai membalut luka Layung dengan perban dan memberinya obat penghilang nyeri, Pijar lalu menatapku murka. “b******n kau, Semesta!” Pijar mengatakannya sambil menggertakkan gigi menahan amarah. “Aku minta maaf, Yung! Aku minta maaf! Aku tak tau kenapa tiba-tiba seperti ini. Aku sungguh tak tahu apa-apa, aku bersumpah!” aku benar-benar merasa bersalah pada Layung dan Samudra dan tak bisa melakukan apapun selain minta maaf. “Ya. Aku tau itu bukan kamu, Ta. Kamu seperti terhipnotis, tersihir, atau kerasukan sesuatu. Matamu terlihat penuh amarah tapi juga kosong disaat bersamaan. Kamu sudah dikendalikan sesuatu.” kata Samudra. “Iya. Aku juga merasa begitu. Sama seperti Sam waktu membaca mantra dari kitab itu. Untung aku masih punya waktu menahanmu.” kata Layung tenang. Dia masih bisa berkata untung padahal tangannya terluka karenaku. “Sepertinya pisau itu yang sudah mengendalikanmu.” Sam menunjuk ke pisau lipat yang berlumuran darah di atas dashboard mobil. “Untuk sementara jangan ada yang menyentuh pisau itu. Biarkan saja dia di sana.” tambah Sam. “Kamu beneran gak apa, Yung? Kita perlu ke rumah sakit gak?” tanya Pijar memastikan keadaan Layung. “Santai, Jar. Kita lanjutin aja perjalanan biar gak kemaleman masuk hutan.” Layung mengepal-ngepalkan tangannya, memperlihatkan tangannya baik-baik saja. “Kita lanjutin? Gak ke rumahku aja?” tanya Pijar sambil melihat ke arahku dan Samudra. Meminta pengertian untuk mengurungkan niat kami masuk hutan dan pergi saja ke rumah Pijar yang aman setelah kejadian seperti ini terjadi. “Lanjutin. Kita harus bertemu dengan si pengirim mimpi itu secepatnya.” Layung menjawab pertanyaan Pijar dengan yakin. Aku, Samudra, dan Pijar saling pandang. Aku tak tahu harus lanjut atau tidak. Sejujurnya aku tetap ingin melanjutkan perjalanan ini, tapi Layung terluka, membuat resikonya jadi lebih besar dari sebelumnya. Aku memilih diam. “Ayolah! Kita sudah sampai sejauh ini. Sebentar lagi kita akan masuk kawasan hutan itu. Aku baik-baik saja, aku masih bisa bertarung ini lho!” sekali lagi Layung berusaha meyakinkan kami untuk terus lanjut. “Terlalu beresiko, Yung.” kata Pijar. “Konyol! Dari pertama melihat pisau itu tiba-tiba ada di tangan Semesta, kita semua sudah tau hal seperti ini pasti akan terjadi. Jangan jadi pengecut. Cepat lanjutkan perjalanan kita.” kata Layung. Dia memalingkan pandangan kembali ke jalan. Samudra mengangguk pada Pijar memberi tanda setuju, kita sebaiknya melanjutkan perjalanan seperti kata Layung. Mobil kembali bergerak. Hari sudah gelap saat kami mencapai titik terdekat yang bisa dijangkau dengan mobil. Langit masih digelayuti awan hitam tebal, aku tak bisa memastikan apakah bulan menempati posisinya atau masih menghilang dari pandangan kami. Hujan berganti jadi gerimis tapi tak mengurangi hawa dingin yang menusuk kulit. Dari sisi jalan tempat kami memarkir mobil, sudah terlihat betapa rimbun hutan yang hendak kami masuki ini. Pohon-pohonnya tinggi menjulang seakan membuat atap, rapat menutup hutan. Andai purnama bersinar pun, aku yakin cahayanya takkan bisa menyentuh tanah hutan itu. Sebelum turun dari kendaraan, Pijar lagi-lagi terlihat gelisah dan mencoba menghentikan kami. “Kalian yakin mau masuk sekarang?” kata Pijar sambil mengamati pemandangan hutan yang tersorot lampu mobil. “Sudah terlambat untuk mundur, Jar. Ayo jangan buang waktu!” jawab Layung. “Bentar-bentar. Kita siapin senter sama jas hujan dulu.” tahan Pijar lagi. “Semuanya sudah hilang terbawa angin waktu di pulau, Jar. Cuma tinggal satu lampu tenda.” jawab Layung lagi. “Hah?! Kok gak bilang dari tadi, Yung? Tau gitu kan kita bisa beli dulu di jalan!” rengek Pijar. “Jar, kamu tunggu di mobil aja deh. Aku malah jadi lebih khawatir sama kamu daripada sama Layung.” “Gak gak gak, aku ikut! Aku gak mau di sini sendirian.” jawab Pijar buru-buru membuka pintu mobil.               Kami masuk hutan bermodalkan lampu tenda dan ponsel sebagai alat penerangan sekaligus petunjuk jalan. Begitu menjejakkan kaki memasuki hutan, kami langsung disambut oleh tiupan angin kencang. Pijar mencengkram lengan bajuku, entah dengan sadar atau tidak. Matanya awas melihat ke atas pohon di sekeliling kami. Aku tahu Samudra dan Layung juga merasakan hal yang sama. Begitu kami menginjakkan kaki ke dalam hutan, seluruh penghuni hutan memperhatikan kami. Tak ada waktu untuk merasa takut, kami melanjutkan langkah demi langkah memasuki hutan. Persis sesuai omongan Pijar, tanahnya licin penuh lumut dan akar pohon, kadang berlumpur dan digenangi air. Tak ada jalur yang jelas, kami hanya berjalan menyelinap di antara pohon dan perdu yang terlihat bisa dilalui. Pijar sesekali memberi arahan, mencarikan jalan yang lebih mudah ditapaki. Saat melewati sebuah pohon raksasa, aku mencium bau wewangian. Kurasa Pijar, Sam dan Layung juga menciumnya. Aku menahan nafas sebisaku, agar tak terpengaruh bau itu. Tapi ternyata si pemilik bau justru menampak diri. Dibarengi dengan suara tawa melengking, melintas sesosok perempuan bergaun putih di atas kami. Terbang dari dahan pohon raksasa itu menuju pohon di dekatnya. Kami terpaku sejenak melihat mata merah dan rambut kusutnya yang menjuntai panjang ke bawah. Layung yang berjalan di depanku memberi perintah untuk mengabaikan makhluk itu dan terus saja melanjutkan jalan. Samudra mengangguk, kembali memimpin rombongan. Baru beberapa langkah, muncul makhluk lain di sisi kanan kiri kami. Kali ini tak hanya satu. Ada belasan pocong dengan bau busuk tak tertahankan memperhatikan kami. Tak ada mata merah melotot atau suara memilukan. Hanya rongga mata kosong dan kulit hitam membusuk. Muncul dan menghilang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengikuti langkah kami. Bersama dengan kuntilanak yang melayang dari satu pohon ke pohon lain, terkekeh dengan suara khasnya yang membuat merinding. Mereka hanya menakuti, tak mengancam atau menghalangi kami. Jadi kami acuhkan sebisanya, tetap melangkah mengikuti peta. Setelah berjalan beberapa lama, makhluk-makhluk itu berhenti mengikuti kami. Sekarang kami dihadapkan pada masalah lain. Sebuah tebing batu padas menutup jalan. Pijar ingat ada sebuah jalan tersembunyi yang langsung menuju ke goa tempatnya bertapa di dekat tebing ini. Jalan itu berupa galian tanah di bawah akar pohon besar yang ada di samping tebing ini. Rupanya kami tak salah jalan. Segera kami meraba-raba mencari jalan itu mengikuti petunjuk Pijar. Ternyata benar, tak jauh dari tempat kami berdiri terlihat satu pohon raksasa lain yang akarnya tercabut dari tanah. Sebuah terowongan terbentuk alami dari akar pohon itu. Bergegas kami menuju ke sana, tapi lagi-lagi terdengar suara aneh di sekitar kami. Kali ini adalah suara deheman berat laki-laki tua. Ya, suara yang sama dengan yang kudengar dalam mimpi. “HEMMMMHH” pria itu bersuara lagi, kali ini lebih keras dan lebih panjang. Seakan tak mendengar apapun, kami tak menghiraukan suara itu. Samudra dan Layung berjalan mantap menuju terowongan itu. Beberapa langkah sebelum masuk ke terowongan akar, tiba-tiba datang angin ribut. Angin itu menjatuhkan kami dalam sekali hembusan, seperti menghalangi kami untuk masuk ke terowongan. Menyadari hal itu, kami jadi makin bertekad untuk mengalahkan angin ini. Sekuat tenaga Samudra merangkak melawan angin menuju terowongan itu. Meranggih salah satu akarnya yang kuat, lalu menarik tangan kami satu per satu. Akhirnya berhasil membawa kami mendekat pada mulut terowongan. Tapi dalam sepersekian detik setelah itu, angin mengganas menebas tubuh kami. Kami terpelanting naik terbawa angin lalu dihempaskan jatuh ke tanah tanpa ampun. Aku melihat Pijar tak sadarkan diri, Samudra dan Layung tak bergerak. Setelah itu muncul sesosok bayangan hitam tinggi besar bermata merah seperti dalam mimpiku. Dia mengangkatku tinggi-tinggi dengan tangannya, leherku dicekik habis-habisan. Aku kesulitan bernafas. Tak lama setelahnya bayangan hitam itu mengayunkanku, melemparku sekuat tenaga menembus terowongan akar langsung terbanting jatuh di atas batuan padas yang keras. Sekujur tubuhku ngilu, mataku berat. Semuanya berubah menjadi gelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN