Sesosok bayangan hitam muncul di hadapanku setelah sebuah angin membantingku ke tanah. Bayangan hitam itu lalu mencekik leherku dan mengangkatku tinggi. Kemudian bak mengambil ancang-ancang, dia mengayunkan tubuhku, melemparku sekuat tenaga ke arah terowongan akar. Tubuhku melesat melewati terowongan tersebut, lurus sampai menembus keluar. Lantas tergasruk jatuh di atas batuan padas yang keras. Sekujur tubuhku sakit, seperti habis jatuh dari gedung bertingkat. Kurasakan mataku berat, aku mengantuk.
“Bangun!” terdengar suara berat pria tua itu lagi. Badanku masih terasa sakit, aku tak bertenaga meski hanya untuk membuka mata.
“Semesta..” kali ini suara Wulan. Aku mendengar Wulan memanggil namaku. Aku langsung mendapat kekuatan untuk membuka mata, mencari sumber suara.
“Wulan!” teriakku.
Aku menggeliat mengumpulkan tenaga untuk mengangkat tubuhku yang tertelungkup di atas lantai batu. Beberapa kali kurasakan sesak dan terbatuk-batuk memuntahkan darah. Saat berhasil terduduk, aku melihat tak jauh dari tanganku, sebuah ponsel menyala. Cahayanya menyebar menjadi pelita di tempat ini. Aku menyeret tubuhku untuk menggapai ponsel itu. Kakiku terasa sakit untuk digerakkan, sepertinya keduanya telah patah. Setelah berhasil mendapatkannya, aku sadar, ternyata ini adalah ponselku yang hilang. Aku berhasil menemukannya. Aku berhasil sampai di tempat orang yang mengirim mimpi padaku. Aku menyorot sekeliling dengan senter di ponselku. Ternyata aku berada di dalam sebuah goa. Tempat ini dikelilingi dinding batu tinggi, atapnya terbuka tapi tak kulihat ada bulan atau pun bintang, hanya kegelapan. Luasnya sekitar 25 meter, dasarnya adalah batuan padas dan lumpur, sama seperti dindingnya. Kakiku patah pasti karena menghantam batuan ini saat terlempar jatuh.
“Wulan!” teriakku lagi. Aku tadi mendengar suaranya, dia pasti ada di goa ini juga.
“Wulan!” suaraku menggema. Goa ini memantulkan nama Wulan berkali-kali. Tapi tak kudengar ada jawaban.
“Apa yang kau cari tak ada di sini.” tiba-tiba muncul sesosok pria dengan jenggot putih panjang mengenakan jubah hitam menutup ujung kepala sampai ujung kaki. Hanya bagian muka yang terlihat. Aku mengarahkan ponselku padanya, agar bisa melihatnya lebih jelas. Pria itu seperti aktor film laga. Badannya tinggi sedikit bungkuk, wajahnya putih bersinar penuh kerutan, alis, kumis dan jenggotnya berwarna putih keperakan. Matanya sayu dengan biji mata kecoklatan.
“Siapa kau?! Dimana Wulan?” tanyaku padanya.
Dia maju satu langkah, lalu membuka tudung jubah yang menutupi kepalanya. Dia memperlihatkan wajahnya lebih jelas padaku. Rambutnya berwarna sama dengan jenggot, dicepol di belakang kepala seperti patih Gajah Mada.
“Namaku Warastra. Jika kau ingin menyelamatkan Wulan, maka kau harus membantuku.” katanya.
“Membantumu? Tak sudi aku membantu orang yang sudah menculik kawanku! Kembalikan dia padaku!” kataku marah.
“Bukan aku yang sudah menculiknya. Orang yang menculik kawanmu, juga mengambil milikku yang berharga.” balas pria itu dengan tenang. Alis mataku berkedut satu kali.
“Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?” tanyaku pada pria yang kira-kira berumur 80 tahunan itu.
“Aku adalah pemilik kekuatan suci bulan dan orang yang sudah menyebabkan kekacauan ini adalah muridku, Jalada.” jawab orang yang memperkenalkan diri dengan nama Warastra itu.
“Kekuatan suci bulan? Jadi kau orang yang ada di kitab itu?” tanyaku tak percaya.
“Benar. Kitab itu aku yang menulisnya.” jawabnya dengan tenang.
“Berarti kau yang sudah membuat Samudra menyembunyikan bulan?” tanyaku lagi.
“Bukan.” kali ini dia hanya menjawab singkat.
“Lalu apa maksudnya? Jelaskan padaku!” dia lalu maju mendekatiku.
“Ikut aku bila kau ingin tahu.” pria itu mengulurkan tangannya padaku.
“Mau kau bawa kemana lagi aku?” jawabku sambil menerima tangannya.
Wushh!! Ternyata uluran tangannya bukan untuk membantuku berdiri. Begitu jariku menyentuh kulitnya, tiba-tiba aku sudah berpindah ke tempat lain. Aku ada di sebuah pondok, ada dua orang pria di dalamnya. Salah satunya Warastra dan satunya lagi lebih muda. Mereka berpenampilan seperti pada jaman majapahit. Aku tak mengerti mereka berbicara dengan bahasa apa tapi entah bagaimana aku paham saat ini mereka sedang membicarakan apa. Warastra sedang menjelaskan sebuah mantra. Pria yang lebih muda itu memperhatikan dengan seksama. Lalu tiba-tiba seorang pria berpakaian seperti prajurit mendatangi mereka. Dia meminta Warastra untuk menemui raja. Pria yang lebih muda memarahi prajurit itu, mengatakan bila raja ingin menemui gurunya maka dia yang harus kemari, bukan gurunya yang mesti mendatanginya. Tapi Warastra hanya tersenyum dan tetap mengikuti prajurit itu ke istana raja.
Sekembalinya dari istana raja, Warastra memanggil si pria muda itu. Dia menanyakan pada muridnya, apakah sang murid mau ikut dengannya ke medan perang. Dia hendak menunjukkan bagaimana mantra yang baru saja diajarkannya bekerja. Pria muda itu menyanggupinya. Dia tampak menghormati gurunya dengan tulus, berkata bahwa dia akan mengikuti kemana pun sang guru memintanya. Ketika mereka tiba di medan perang, keadaan sungguh sangat kacau. Pasukan kerajaan Sasalancana dalam kondisi terkepung. Warastralah satu-satunya harapan yang tersisa. Warastra lalu menjalankan taktik yang telah disiapkannya. Mereka pergi ke bukit yang menghadap medan perang bersama beberapa prajurit. Warastra mengangkat kedua tangannya, menatap rembulan lalu membaca mantra panjang. Dalam sekejab munculah badai, hujan dan petir. Rembulan perlahan menghilang lalu keadaan berubah gelap gulita. Di saat itulah pasukan kerajaan Sasalancana menyerang. Ketika prajurit musuh ketakutan oleh hilangnya rembulan, pasukan Sasalanca berhasil membunuh panglima perang musuh dan memenangkan perang. Bulan kembali bersinar begitu bendera Sasalancana berkibar. Pria muda itu tampak begitu kagum pada Warastra. Dia bertanya, kenapa sang guru tak mau menjadi raja padahal dengan kekuatan yang dimilikinya dia bisa menduduki singgasana raja dengan mudah. Sekali lagi Warastra hanya tersenyum dan membiarkan pertanyaan muridnya tak terjawab.
Waktu lalu berjalan tak terkendali, seperti video yang dipercepat. Aku tak bisa mendengar atau memahami yang terjadi. Warastra berubah menjadi tua dan muridnya kini tumbuh menjadi pria dewasa. Wajah si murid kini tak memancarkan kepolosan dan kekaguman yang sama dengan saat dirinya muda. Warastra menyadari hal itu namun menganggapnya sebagai tahap mematangkan diri yang lumrah. Dia lalu menyerahkan sebuah kitab, sambil mengatakan bahwa dengan kitab ini dia akan mengerti hakikat kekuatan dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya yang bersangkutan dengan tahta dan kekayaan duniawi yang selama ini tak pernah dijawabnya. Tapi celaka tak dapat ditolak, muridnya justru semakin jatuh pada keserakahan. Dengan kitab yang diberikan gurunya, pria itu menyusun rencana keji. Dia hendak menghianati gurunya, menjatuhkan raja dan merebut kerajaan.