Bab 20 – Warastra (2)

1440 Kata
Aku menyadari saat ini aku bukan berada di dunia yang nyata. Aku seperti melihat film langsung dari lokasi syuting, namun tanpa kamera dan tanpa kru. Mereka berjalan sesuai skenario tanpa mempedulikan aku. Bahkan teriakanku tak terdengar oleh mereka. Aku berusaha memperingatkan Warastra, aku juga berusaha merebut kitab itu dari si murid. Tapi ternyata aku tak bisa menggenggam barang-barang dari dunia ini. Aku tak bisa mengubah jalan ceritanya. Yang bisa kulakukan hanya menonton, mengikuti mereka. “Ini adalah ingatanku. Aku memperlihatkannya padamu agar kau percaya. Aku dan Jalada, kami hidup di dimensi yang berbeda dengan duniamu. Di kerajaan kami, Sasalancana, bulan adalah dewa yang menjadi sumber kehidupan bagi kami. Sebagai satu-satunya pemilik kekuatan suci bulan, posisi raja sudah sepatutnya menjadi milikku. Tapi aku menolaknya. Aku tak menginginkan tahta maupun kekayaan. Aku tak butuh kehidupan duniawi yang nyaman. Kekuatan yang dianugerahkan padaku bukan bertujuan untuk memimpin apalagi menguasai, ini adalah kekuatan untuk merawat. Namun seperti yang saat ini kita lihat, Jalada tak berpikir demikian. Dia merasa jalan hidup yang kupilih terlalu naif. Baginya, aku sudah menyia-nyiakan anugerah yang diberikan dewa kepadaku. Anak yang malang. Dia tersesat dalam keserakahan. Dia tak memahami apapun dari kitab yang kuberikan padanya.“ Warastra tiba-tiba muncul di sampingku, Warastra asli yang tadi kutemui dalam gua. “Kitab purnama ketiga yang ada di duniamu adalah kitab tercemar yang telah disihir oleh Jalada. Dia menggunakan kitab itu sebagai perantara untuk mencapai tujuannya menyembunyikan bulan. Bulan adalah sumber kekuatan untukku. Awalnya Jalada ingin mengalahkanku dengan menyerangku saat bulan menghilang. Tapi tentu aku tak membiarkan rencananya berjalan mulus. Akan kutunjukkan sesuatu yang berhubungan dengan kawanmu.” Warastra mengulurkan tangannya padaku. Tanpa menjawab apapun aku menjabat tangannya. Sekarang aku berada di pinggir tebing yang menghadap samudra luas. Bulan raksasa kemerah-merahan terlihat jelas di hadapanku. Kurasa, ini purnama kedua yang sama dengan yang kulihat malam itu. Dari sini bulan terlihat sangat dekat, seperti bisa disebrangi dalam beberapa langkah. Jalada ada di sini. Dia sedang membaca mantra panjang, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seperti hendak merengkuh bulan. Matanya tak berkedip, mulutnya komat-kamit. Baru setengah mantra dirapalkan, Warastra muncul dari balik pepohonan. Kau telah melewati batas, Jalada. Warastra mengatakannya sambil mengangkat satu tangannya lalu mengayunkannya turun. Mendadak muncul hujan api dari langit, meluluhlantakkan tanah pijakan Jalada. Jalada berhasil menghindar. Kini dia melancarkan serangan balik ke Warastra. Terjadi pertarungan sengit di antara mereka. Tak satu pun berniat kalah. Warastra adalah guru yang mengajarkan segala ilmu yang dimiliki Jalada, tentu saja serangan Jalada bisa dibaca dengan mudah oleh Warastra. Jalada semakin terdesak. Tidak, aku tidak akan berakhir seperti ini. Jalada lalu membuka lubang dimensi dan melarikan diri memasukinya. Dia hendak melanjutkan membaca mantra untuk menyembunyikan bulan tapi tenaganya terkuras untuk melarikan diri dari serangan mendadak Warastra. Tak habis akal, Jalada mencari perantara untuk menyelesaikan kutukannya. “Dia pergi ke dimensi yang terhubung dengan purnama kedua. Dunia kalian. Melalui sumpah darah, dia berhasil memanggil keturunannya. Keturunan Jaladalah yang melanjutkan mantra itu hingga kini bulan benar-benar menghilang dari dunia kita berdua. Dengan hilangnya rembulan, kekuatanku melemah, begitu juga Jalada. Dia tak bisa membunuhku dengan kekuatannya, maka dia menculik kawanmu. Dia hendak memanfaatkannya untuk membuat pusaka.” kata Warastra setelah kami kembali berada di dalam gua. “Pusaka? Pusaka apa yang akan dia buat dengan Wulan?” tanyaku padanya. “Aku tak punya waktu lagi. Kekuatanku melemah, aku tak bisa berlama-lama di sini. Pergilah cari keturunan Jalada yang membantunya menyembunyikan bulan. Kau harus menemukan Jalada, jangan sampai pusaka itu berhasil dibuat. Aku akan menemuimu saat kekuatanku pulih. Oh ya, aku minta maaf atas apa yang terjadi pada kawan-kawanmu, aku beberapa kali mengirim peringatan untuk menjagamu dan beberapa hal lain untuk bisa bicara berdua denganmu. Aku akan mengembalikanmu dan kawan-kawanmu ke tempat yang aman sekarang, Semesta.” Warastra lalu menghilang. “Tunggu! Aku belum selesai bicara!” aku meneriakkannya persis saat Warastra menghilang. Aku ingin tahu apa keturunan Jalada yang Warastra maksud adalah Samudra? Lalu apa yang harus kulakukan bila sudah menemukannya? Tiba-tiba tanah bergetar, dinding gua ikut bergoyang. Menjatuhkan bebatuan kerikil dari atas, langsung menyerang kepalaku bertubi-tubi. Belum selesai aku mengaduh, gempa lebih besar datang. Tanah dan tumbuhan dari atas gua perlahan longsor menguburku hidup-hidup. Aku menutup kepalaku dan menjerit sekencang-kencangnya. Aaaaaaaa! Aku merasakan tubuhku terjatuh pada sesuatu, lalu gempa berhenti. Tunggu, aku mencium bau yang berbeda. Ini, ini bau parfum mobil Pijar. Aku lalu membuka mataku. Dan kami semua sudah berada di dalam mobil. Bersih, seperti belum pernah menginjakkan kaki ke dalam hutan yang berlumut dan penuh lumpur. Kakiku yang tadi terasa sakit juga sembuh seperti semula. Di sebelahku Samudra tertidur, atau mungkin tak sadarkan diri. Di depan juga Pijar dan Layung tak sadarkan diri di kursi mereka masing-masing. “Sam! Jar! Yung! Bangun! Bangun!” kuguncang-guncangkan tubuh mereka agar segera sadar. “Aaaaaaa!!” teriak Pijar begitu tanganku menyentuhnya. “Jar! Tenang, Jar! Tenang!” kataku sambil menahan tangannya yang mencakar-cakar ke segala arah. “Kita.. di mobil? Itu tadi mimpi?” kata Samudra. “Tadi.. kita udah masuk hutan, kan? Kita ketemu setan dan terowongan akar, iya kan?” kata Layung mengingat-ingat. “Iya! Iya! Aku juga ingat! Tapi ini, baju kita, sepatu, semuanya bersih kaya kita belum pernah masuk ke dalam sana. Tadi itu mimpi?” kata Pijar panik. “Bukan. Gak mungkin kita bersama-sama melihat mimpi yang sama persis. Dan lagi, lihat! Sekarang sudah pukul 12 malam.” Samudra menunjukkan jam di layar ponselnya pada kami. “Hah?! Mana mungkin! Kita sampai sini sekitar jam 7, kan?” Pijar menyahut dengan kaget. “Benar. Tadi itu bukan mimpi. Kita sudah masuk hutan itu. Lihat, Aku sudah mendapatkan ponselku kembali.” aku memamerkan ponsel yang hendak kita cari ke dalam hutan. “Ta, apa yang sebenarnya sudah terjadi?” tanya Layung. Dia melepas perban di tangannya dan memperlihatkan telapak tangannya bersih tanpa bekas luka sedikit pun. “Pisau itu juga menghilang!” sahut Pijar menunjuk dashboard tempat pisau berdarah itu mestinya berada. Samudra, Layung, dan Pijar menatapku dengan bingung. Mereka menunggu penjelasan. Aku merasa sekarang bukan saat yang tepat untuk menceritakan pertemuanku dengan Warastra. “Aku juga gak tahu. Saat tersadar, aku sudah ada di sini. Menggenggam ponsel ini.” jawabku. “Lebih baik kita pergi ke rumah Pijar sekarang. Aku tak mau lama-lama di hutan ini.” tambahku lagi. Kami bertukar pandang. Lalu pergi melanjutkan perjalanan ke rumah Pijar dalam diam. Aku tahu, dalam kepala mereka sekarang pasti penuh dengan tanda tanya. Mereka mungkin meragukan jawabanku, mereka pasti sedang menggali ingatannya lebih dalam. Tapi dengan semua yang telah terjadi saat ini, menunda pertanyaan sampai jawaban muncul dengan sendirinya adalah hal yang paling bijak. Warastra menepati janjinya. Dia mengembalikan kami ke tempat yang aman. Bahkan mengambil kembali cedera yang terjadi dalam rangka perjalanan kami menemuinya. Kata-katanya bukan omong kosong. Aku bisa mempercayainya. Sekarang aku harus menjalankan rencana selanjutnya, mencari keturunan Jalada. Orang yang membuat purnama menghilang. Bukankah sudah jelas? Itu pasti Samudra, tapi bagaimana membuktikannya. “Simbahku sekarang pasti sudah tidur.” kata Pijar memecah keheningan. “Gak apa. Kita tunda besok. Kita juga butuh istirahat.” sahut Layung. “Bulan sama sekali tak terlihat.” kata Samudra mengamati langit dari balik jendela. “Awan mendung masih sangat tebal. Orang-orang pasti tak menyadari kalau rembulan menghilang.” sambung Layung. “Bagus untuk menutup mulut media. Setidaknya tak akan ada kepanikan.” kataku. “Kamu ngabarin rumah kalau mau pulang, Jar?” tanyaku mengubah topik pembicaraan. “Gak. Aku belum sempat.” jawabnya. “Apa gak masalah kita datang tengah malam?” tanya Layung. “Gak apa. Aku bawa kunci rumah.” jawab Pijar. Kami tiba di rumah Pijar sekitar tiga puluh menit kemudian. Begitu kunci rumah terbuka, ibu Pijar terbangun dan keluar kamar. Karena malam sudah terlalu larut, beliau tak banyak bicara dan langsung menyuruh kami beristirahat. Pijar tinggal di desa. Rumahnya terhitung mewah untuk lingkungannya, tapi sederhana bila dibandingkan dengan rumah-rumah orang kota. Meski begitu ada banyak kamar kosong untuk tamu. Kami bisa memilih sendiri ingin tidur dimana. “Kita tidur di satu kamar aja.” kataku. Aku tak tahu kenapa mengatakannya. “Iya, bareng-bareng aja. Aku juga gak bakal bisa tidur kalau sendirian.” tambah Layung. “Yaudah tidur di kamarku aja. Aku ambilin karpet sama bantal.” kata Pijar. Malam itu kami tidur dalam satu kamar. Aku merasa ini adalah pilihan yang bagus, dengan begini aku bisa mengawasi bila salah satu dari mereka melakukan kontak mencurigakan dengan Jalada. Terutama Samudra yang saat ini sudah menjadi targetku. Samudra mungkin tak sadar bahwa selama ini dia sudah dimanfaatkan untuk menyembunyikan bulan. Dia juga mungkin tak sadar sudah menemui seseorang yang sebenarnya adalah musuh. Cepat atau lambat Jalada pasti akan menunjukkan batang hidungnya ke Samudra lagi. Dia akan butuh kekuatan Samudra untuk bisa membuat pusaka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN