Pijar kembali dengan beberapa bantal dan sebuah karpet. Aku dan Layung membantu menggelarnya di lantai kamar Pijar yang cukup luas. Lalu dia pergi lagi mengambil air dan makanan untuk kami. Samudra kembali dari kamar mandi saat kami sedang makan ayam goreng dingin dengan sambal, sisa makan malam keluarga Pijar.
“Kamu abis mandi, Sam?” tanya Pijar.
“Iya.” jawab Sam.
“Nih, makan dulu. Adanya ini.” kata Pijar sambil menyodorkan sepiring nasi dan ayam padanya.
“Gak, udah sikat gigi. Buat Layung aja. Yung, tanganmu bener gak kerasa apa-apa?” tanya Sam sambil merebahkan diri di kasur Pijar.
“Iya. Gak kerasa apa-apa. Kaya gak pernah ada luka.” Layung mengamati tangannya lekat.
“Lecet-lecet di tangan dan kakiku juga hilang semua. Padahal aku ingat sempat berdarah waktu aku terpeleset jatuh karena lumut.” kata Pijar lagi memperlihatkan kaki dan tangannya kembali mulus seperti semula.
“Kejadian Layung tertusuk pisau kan jauh sebelum kita sampai di hutan. Jadi gak mungkin itu mimpi.” kata Samudra.
“Mana mungkin itu mimpi, aku masih ingat jelas gimana ngilunya mencabut pisau dari tanganku sendiri.” sambar Layung.
“Berarti kita benar-benar sudah mengalaminya. Luka-luka kita sembuh karena sesuatu menyembuhkannya.” kata Samudra sambil menguap.
“Sesuatu atau seseorang.” kata Layung. Dia lalu menatapku.
“Kamu sudah bertemu dengan si pengirim mimpi itu kan, Ta?” tanya Layung padaku.
Aku hanya diam. Aku tak berniat untuk menjawab ya, tapi juga tak mempersiapkan alasan untuk bilang tidak. Cerita Warastra terlalu panjang untuk diceritakan saat ini. Aku juga belum memutuskan apakah aman atau tidak untuk menceritakan pertemuanku dengan Warastra kepada mereka.
“Sudahlah, kita istirahat saja. Besok harus bangun pagi kalau mau bicara dengan simbah.” Pijar merapikan piring makan kami lalu membawanya keluar. Dia menyelamatkanku. Aku langsung pergi ke kamar mandi, menghindar dari tatapan Layung dan Samudra. Berharap mereka sudah tertidur begitu aku kembali.
“Pasti ada sesuatu sampai Semesta tak mau menceritakannya pada kita.” Aku mendengar suara Samudra membicarakanku saat kembali dari kamar mandi. Aku mengurungkan niatku untuk masuk kamar dan melanjutkan menguping dari balik pintu.
“Mungkin dia telah diancam?” kata Pijar.
“Atau mungkin dia tak percaya lagi pada kita.” kata Layung
“Kalian jangan terlalu menekan Semesta. Dia yang paling banyak berpikir di antara kita.” Pijar membelaku. Aku sedikit tersentuh dengan kata-katanya.
“Semesta pasti sengaja menyembunyikannya dari kita.” kata Sam.
“Kamu jangan menuduh yang tidak-tidak lagi, Sam. Dia itu sahabatmu. Ingat?” kata Pijar.
“Pijar benar. Kita tidak boleh menuduh tanpa bukti. Semesta pasti punya alasan tersendiri kenapa dia tak mau menceritakannya. Mungkin dia sedang menunggu waktu yang tepat.” kata Layung.
“Apa kita terlihat sedang punya banyak waktu?” sindir Samudra.
“Sam, sebenarnya ada apa antara kamu sama Semesta? Kenapa kamu selalu berselisih dengan Semesta belakangan ini?” tanya Pijar.
“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kalian sangat patuh dengan Semesta? Kenapa kalian tidak curiga dia tahu segalanya sedang kita tidak?” Samudra mulai meninggikan suaranya.
“Patuh? Kalau begitu aku juga harusnya bertanya padamu, kenapa kamu diam saja padahal tahu apa isi buku itu, Sam? Kenapa kamu tidak langsung memberi tahu kita dan malah membiarkan kita terombang ambing dalam kebingungan selama ini?” sekarang Layung juga ikut menjawab dengan suara lantang.
“Ssstttssss! Ibu dan adik-adikku sedang tidur, kalian mau bikin mereka bangun? Pelan-pelan ngomongnya.” kata Pijar berbisik.
“Sudahlah. Lebih baik aku tidur daripada debat kusir denganmu Sam!” kata Layung. Mereka lalu diam tak bersuara lagi. Aku menunggu beberapa saat lalu masuk ke kamar dan tidur di samping Layung.
Paginya kami dibangunkan oleh adik adik Pijar yang senang kakaknya pulang. Mereka menyerbu masuk kamar dan langsung berlompat-lompatan memanggil “Mas Pijar”. Samudra yang tidur di kasur bersama Pijar menjadi sasaran empuk kaki-kaki adik kembarnya. Aku dan Layung juga terbangun karena keributan itu.
“Hei, Kelana Kayana! Ada temennya Mas Pijar itu!” Ibu Pijar berteriak dari depan pintu kamar.
“Dek! Aduuuhh badannya mas sakit semua dong!” Pijar mengaduh badannya kini ditindih dua adiknya.
“Mas Pijar kapan kesini? Ayo kita main mas! Ayo mas! Ayo!” kedua gadis kecil itu berebut bicara.
“Mas pulang mau ketemu simbah, bukan mau main. Lana turun, mas mau bangun.” kata Pijar menyingkirkan dua adiknya dari kasur.
“Ngapain ketemu kakung? Mas gak kangen yana?” astaga adik Pijar yang bernama Kayana ini menggemaskan sekali. Pita merah muda di kepalanya membuatnya persis seperti kado natal.
“Kangennnnnn. Sini tak cuwil (kucubit) pipimu!” Pijar membungkuk menyamakan tinggi dengan kedua adiknya.
“Kyaaaa, gak mauuuu, lariiiiii.” duo kembar itu kabur keluar kamar.
“Kamu mau ketemu kakung? Ngapain?” ibu Pijar bertanya.
“Mau tanya-tanya doang. Semesta tuh.” Pijar melempar kewajiban menjawabnya kepadaku.
“Iya tante. Riset aja soal bahasa dan budaya jawa.” aku sigap menjawab.
“Oh, yaudah. Itu kakung lagi di meja makan, kalian sekalian sarapan sana. Jar, temennya diajakin makan.” ibu Pijar pergi menuju meja makan.
“Sekarang? Apa mau mandi dulu?” tanya Pijar menatap kami semua yang masih muka bantal.
“Sekarang aja wes. Kalau masih pagi simbah kupingnya masih mireng (kedengeran). Ayo!” ajak Pijar kemudian.
Kami semua pindah ke meja makan. Di situ ada kakek Pijar, dua adik kembarnya, dan ibu Pijar. Ibu Pijar berpakaian rapi sepertinya hendak pergi bekerja. Adik-adik Pijar yang lain pasti sudah berangkat sekolah karena sekarang sudah pukul 8.
“Kalian di sini sampai kapan? Gak buru-buru, kan?” tanya ibu Pijar. Kami saling pandang tak ada yang mau menjawab.
“Gak tau mah. Liat nanti.” jawab Pijar akhirnya.
“Kok tumben cuma kalian? Wulan gak diajak?” tanya ibu Pijar lagi. Kali ini kami pura-pura sibuk makan untuk menghindar.
“Gak. Wulan.. Aduh dekkk, mas mau makan dulu, masa dua-duanya minta dipangku sih.” beruntung tiba-tiba adik kembar Pijar mengganggu pembicaraan ibu dan anak itu.
“Lan, duduk sendiri. Yana juga. Malu sama temenne Mas Pijar.. Aduh sudah jam segini lagi, mama berangkat dulu ya, ada meeting sama orang bea cukai. Nanti kabarin mama ya kalau kamu pergi mas.” ibu Pijar lalu mengecup pipi ketiga anaknya, lalu pamit keluar.
“Lana sama Yana main sendiri dulu ya? Mas Pijar mau ngobrol sama kakung. Gak boleh ganggu omongan orang tua. Oke?” Pijar dengan halus meminta adik kembarnya pergi. Sekarang hanya ada kami dan simbah Pijar yang sedang membaca koran.
“Kung, kakung..” Pijar memanggil kakeknya dengan lembut. Kakeknya melengos.
“KUNG, KAKUNG!” sekarang Pijar memanggilnya dengan sedikit berteriak.
“Lho Pijar. Kapan tekan? (Kapan sampai?)” tanya simbah baru sadar kami duduk di dekatnya.
“Wau bengi, Kung. (Tadi malam, Kung.) Kung niki rencange Pijar (Kung, ini temannya Pijar), pengen didongengi tentang purnama.” kata Pijar.
“Ono opo? Koe ngerti to rembulane ilang? (Ada apa? Kamu tau ya rembulan menghilang?)” tanya simbah. Layung dan Pijar bertatapan.
“Lho Kung, kok Kakung ngertos? (kok Kakung tau?)” sahut Pijar.
“Jar, dewe kui cah-cahe purnama. Masio mendung peteng, udan deres, gunung njebluk, tetep yen rembulan kui ketok yo ketok, yen ndlesep yo ndlesep. Awakku kui ket cilik wes adus sinar rembulan saben wengi. Purnama ora purnama wae iso kroso,opo meneh kok nganti ora ono rembulan blas! Koe reti, awake dewe kui Jar, iso mulyo tekan dino iki yo mergo kersone sang candra. Sampek dino iki teko-teko purnama ilang, koe iso mikir ora opo akibate nggo keluargane dewe? Ciloko nang! Ciloko! (Jar, kita itu anak buah purnama. Meskipun mendung kelabu, hujan deras, gunung meletus, tetap saja kalau rembulan itu ada ya ada, kalau menghilang ya menghilang. Badanku itu dari kecil sudah mandi sinar rembulan setiap malam. Purnama gak purnama aja tetap bisa terasa, apa lagi kok sampai gak ada rembulan sama sekali! Kamu tau, kita itu Jar, bisa berjaya sampai hari ini ya karena izin dari sang candra. Sampai hari ini tiba-tiba purnama menghilang, kamu bisa mikir tidak apa akibatnya untuk keluarga kita? Celaka Jar! Celaka!)” kata simbah pada Pijar.
“Kung, memang kepiye carane purnama iso marakke mulyo? (memang bagaimana cara purnama bisa bikin berjaya?)” tanya Layung.
“Koe pengen reti carane cah bagus? Meluo aku topo ngisor purnama. Ora perlu ngopo-ngopo, wes anggero koe meneng, nrimo lan percoyo. Mengko koe bakal krungu swarane sang candra nekoni panjalukanmu opo. (Kamu mau tahu caranya? Ikutlah aku bertapa di bawah purnama. Gak perlu ngapa-ngapain, sudah pokoknya diam saja di sana, menerima dan percaya. Nanti kamu akan dengar suara dari sang candra menanyakan apa keinginanmu.)” jawab simbah.
“Lha Kakung riyin ngertose niku saking pundi, Kung? (Lha kakung dulu tahunya itu dari mana, Kung?” tanya Layung lagi.
“Mbien, bapakku kui pernah ngimpi. Jare ditemoni karo nenek moyange. Dikandani ngene, ngger yen koe arep urip mulyo, njaluk’en kersone sang candra. Awake dewe kui keturunane Sasalancana, dewe kui anak-anake sang candra, awake dewe nduweni kekwatan sing ora diduweni wong liyo. Mulo njaluk’en karo sang candra, nganggo atimu sing tulus, kabeh gegayuhan urip opo wae pasti bakal dikabulno nganggo kersane purnama. (Dulu, bapakku pernah mendapat mimpi. Katanya dia didatangi oleh nenek moyangnya dan diberitahu seperti ini; anakku, jika kamu ingin hidup berjaya, mintalah restu pada sang candra. Kita adalah keturunan Sasalancana, kita adalah anak-anak sang candra, kita mempunyai kekuatan suci yang tak dimiliki orang lain. Maka mintalah pada purnama, gunakan hatimu yang tulus, segala keinginan dalam hidup pasti dikabulkan dengan izin purnama.)” jawab simbah.
Aku terkejut mendengar kata Sasalancana terucap dari mulut simbah. Apalagi dengan jelas terucap keturunan Sasalancana. Apa berarti keturunan Jalada adalah Pijar? Tapi kata Warastra, keturunan Jalada-lah yang menyelesaikan mantra untuk menyembunyikan bulan, dan dia adalah Samudra. Jadi, hubungan apa yang tersembunyi di antara mereka berdua?