Bab 21 – Keturunan Jalada (2)

1760 Kata
              “Kung, sang candra niku maksude sinten? (Kung, sang candra itu maksudnya siapa?)” tanya Layung ke simbah Pijar yag mungkin usianya sekitar 80 tahun. “Koe ora reti sang candra? Sang candra kui sing duwe Sasalancana nang! Sing nguripi lan nyukupi, sing ngelindungi lan ngerumati, sing ngerajai langit wengi, yaiku purnama.(Kamu gak tahu sang candra? Sang candra itu yang punya Sasalancana nak! Yang menghidupi dan mencukupi, yang melindungi dan memelihara, yang merajai langit malam, dialah purnama.” jawab simbah. “Lha yen Sasalancana niku sinten, Kung? (Terus kalau Sasalancana itu siapa, Kung?)” tanya Layung lagi. Pijar langsung menatap Layung, wajahnya bingung kenapa Layung menanyakan itu. “Kok “sopo”? Sing bener iku “opo”. Sasalancana iku panggonan ning nduwur langit. Kui negrine sang candra. Kerajaane sang candra. Mbien Sasalancana kui ono ning kene, ning lemah sing dewe pijek iki. Luase ping pindhone jowo. Terus karo sang candra dipindah digowo munggah duwur langit, supoyo ora rusak. Ben ora reget karo kesrakahaning manungso. Nenek moyangku kui uripe wes penak ning langit nang, lha dewe iki anak-anake sing cidro. Sing urip ning dunyo ngisor. Mulo, uripo sing bener ben iso digowo sang candra munggah menyang Sasalancana. (Kok “siapa”? Yang benar itu “apa”. Sasalancana itu tempat di atas langit. Itu negeri milik sang candra. Kerajaannya sang candra. Dulu Sasalancana itu ada di sini, di tanah yang kita pijak ini. Luasnya dua kalinya jawa. Terus sama sang candra dipindah dibawa naik ke atas langit, supaya tidak rusak. Biar tidak kotor dengan keserakahan manusia. Nenek moyangku itu hidupnya udah enak di langit nak, nah kita ini anak-anaknya yang rusak. Yang hidup di dunia bawah. Makanya, hiduplah yang benar supaya bisa dibawa sang candra naik ke Sasalancana.” balas simbah. Layung langsung kehabisan kata-kata. Dia terkejut dengan penjelasan simbah. Aku tak paham dengan percakapan mereka karena kakung tak mengerti bahasa Indonesia jadi aku tak bisa menyela percakapan. Aku hanya bisa berharap Layung dan Pijar mau menjelaskannya padaku nanti secara lengkap dan tanpa diubah. “Kung, Kakung ngertos carane mbalekke rembulan? (Kung, Kakung tahu caranya mengembalikan rembulan?” tanya Layung kemudian. “Ora reti ngger. Sak lawase aku urip, nembe iki aku ora nemoni rembulan ing wayah bengi. Aku yo ora ngerti opo sebabe rembulan iso ndlesep koyo ngene. (Tidak tahu nak. Sepanjang aku hidup selama ini, baru kali ini aku tak menemukan rembulan di kala malam. Aku juga tak tahu apa yang menyebabkan rembulan bisa menghilang seperti ini.” jawab simbah. “Yung apa artinya?” tanya Samudra. Dan hanya dijawab dengan tatapan misterius Layung. “Kung, Kakung ngertos Matahani? (Kung, Kakung tahu Matahani?)” tanya Layung setelah lama hening. Pijar terpaku menatap kakeknya, menunggu jawaban. “Koe ngerti Matahani seko endi? (Kamu tahu Matahani darimana?)” kata Simbah. Aku hanya paham mereka kini beralih membicarakan Matahani. Sepertinya kepercayaan simbah berhubungan erat dengan kitab purnama ketiga yang ditulis Warastra. “Kakung ngertos kitab Purnama Ketiga? (Kakung tahu kitab Purnama ketiga?)” tanya Layung. Sekarang mereka menyebut-nyebut kitab purnama ketiga. “Kitab Purnama Katelu maksudmu?” Kakung tiba-tiba melotot, lalu diam tak bergerak. “Kung? Kakung? Kung?!” Pijar panik melihat kakeknya membatu. “Jar, kasih minum, Jar!” kataku sambil memberikan segelas air putih. Kakung meminumnya dan kembali tenang setelah beberapa saat. “Bawa istirahat dulu aja, Jar.” saranku. Aku takut kakek Pijar mendapat serangan jantung karena pertanyaan tiba-tiba Layung. Pijar lalu memapah kakeknya menuju kamar. “Yung, apa aja yang udah kamu tanyain?” tanyaku memburu. Layung lagi-lagi hanya diam. “Yung! Kamu harus katakan pada kita apa artinya tadi!” paksa Sam. “Kalian ingin tahu? Kalau begitu mari kita lakukan barter informasi terlebih dahulu.” kata Layung kemudian. “Apa maksudmu?” tanya Samudra. “Kita perlu saling terbuka di sini. Aku tahu masing-masing dari kalian menyimpan rahasia yang berhubungan dengan kitab purnama ketiga. Dan aku sudah lelah menunggu kalian menceritakannya secara sukarela. Aku benci merasa disepelekan dan aku benci membayangkan kalian menusukku dari belakang. Sekarang kita membawa senjata kita masing-masing. Apa kalian ingin kita bekerja sama menyatukan senjata untuk menyelesaikan ini atau kalian lebih memilih menyimpan informasi untuk kalian sendiri dan terus bermain teka teki sampai salah satu dari kita menyerah?” kata Layung. “Yung, aku tak pernah menyepelekanmu.” kataku. “Kalau begitu katakan kenapa kau menyembunyikan pertemuanmu dengan si pengirim mimpi itu dariku, dari kita semua.” sanggah Layung. “Itu bukan karenamu. Tidak seperti yang kau pikirkan, Yung.” kataku. “Tik tok. Waktu berjalan.”kata Layung. “Ya. Aku akan berkata jujur. Aku akan memberitahu semuanya.” kataku. “Sam?” tanya Layung. “Ya. Aku juga akan memberitahu semuanya. Dengan satu syarat!” kata Samudra. “Apa itu?” tanya Layung. “Hanya kita bertiga. Tidak dengan Pijar.” jawab Samudra. “Setuju.” kataku. “Gak! Apa-apaan kalian? Aku sudah bilang, tak boleh ada perpecahan di antara kita. Tak boleh ada yang ditinggalkan.” tolak Layung. “Dia penghianat, Yung.” kata Sam. “Mana buktinya, Sam?” tanya Layung. Sam hanya diam. Dia tak punya bukti. Aku pun sama. Aku juga merasa tak ingin menceritakan pertemuanku dengan Warastra kepada Pijar. Tapi aku tak punya bukti untuk menguatkanku. “Aku punya firasat yang sama dengan Sam.” kataku. “Kita semua tahu firasat tak bisa dijadikan bukti, Ta.” balas Layung. “Aku tetap memilih untuk tak berbagi informasi dengan orang yang tak kupercaya, Yung.” kataku. “Bagaimana kalau kita bicarakan dulu bertiga dan setelahnya baru kita putuskan apa Pijar perlu tahu atau tidak.” saran Sam. Layung mengernyit. “Tik tok. Waktu berjalan, Yung.” sekarang kami yang mendesak Layung. “Oke. Mari kita lakukan seperti itu. Tapi bagaimana caranya?” jawab Layung akhirnya. “Ada satu cara.” jawab Samudra sambil tersenyum licik. Pjar baru saja keluar dari kamar kakeknya, saat Samudra selesai membisikkan idenya. “Jar, ponsel ibumu ketinggalan. Dari tadi bunyi.” kata Samudra. Dia menunjuk sebuah ponsel di atas meja. “Hah? Waduhhhh. Kebiasaan!” kebetulan ponsel itu berbunyi, sebuah panggilan telepon masuk. Pijar mengangkatnya. “Halo? Iya ma. Mesti deh! Dimana? Jauh banget, Pijar kan lagi ada temen. Hmmm, iya iya. Tunggu.” Pijar lalu mematikan telepon. “Aku disuruh nganterin handphone. Kalian mau ikut apa nunggu di sini?” tanya Pijar. “Kemana? Jauh?” tanya Layung basa basi. “Lumayan, ke arah kota.” jawab Pijar. Aku, Samudra, dan Layung bertatapan. “Gak, aku di sini aja.” jawab Layung. “Aku juga deh. Cuma nganter handphone terus pulang, kan?” kataku. “Aku juga di sini aja.” jawab Samudra. “Iya. Bentar doang. Kalian makan lagi aja kalau masih laper. Nitip si kembar sama simbah ya.” Pijar lalu bergegas pergi. “Beres.” kata Samudra.               Kini kami bisa bicara bertiga dengan leluasa. Rumah Pijar sepi, si kembar pergi ke kamarnya bersama dengan pengasuh dan simbah sedang beristirahat. Demi kenyamanan kami tetap berbicara lirih. “Siapa duluan?” tanya Sam. “Ayo diundi. Hompimpa yang menang duluan.” kata Layung. Ternyata Layung yang keluar sebagai pemenang. Dia harus menjelaskan pertama kali. “Apa yang dibicarakan simbah?” tanya Samudra segera setelah hasilnya keluar. Layung lalu menceritakannya panjang lebar, bahwa simbah sudah tau kalau rembulan menghilang, kalau simbah bilang bahwa dirinya dan keluarganya adalah keturunan Sasalancana. Bahkan beliau menjelaskan ternyata Sasalancana dulu adalah kerajaan di tempat ini, tapi lalu dipindahkan ke langit oleh sang candra demi menghindari keserakahan manusia. Beliau juga menjelaskan siapa itu sang candra, dan bagaimana mendapatkan kejayaan dari sang candra. Sayangnya saat ditanya apa simbah tau bagaimana caranya mengembalikan bulan, jawabannya tidak. Begitu pula saat ditanya apakah simbah tau tentang Matahani dan kitab Purnama Ketiga, beliau tidak menjawab. “Atau lebih tepatnya, simbah terkejut kita mengetahui tentang dua hal itu. Kurasa simbah tahu sesuatu tentang Matahani dan kitab Purnama Ketiga, beliau hanya tak menyangka kita menanyakan hal itu secara mendadak. Mungkin kita harus menunggunya agak baikan agar bisa mendapatkan informasi lebih banyak.” kata Layung menutup penjelasannya.              Informasi ini berarti banyak untukku. Apa yang simbah katakan hampir menyentuh 100% tepat, bila disesuaikan dengan informasi dari Samudra dan Warastra sebelumnya. Ini membuktikan siapa keturunan Jalada sebenarnya. “Sekarang giliran kalian. Ayo suit.” Layung menungguku dan Samudra bicara. Dan aku mendapat giliran selanjutnya. “Kau bertemu dengannya, kan? Siapa dia?” serbu Layung begitu aku kalah suit. “Ya, namanya Warastra. Dia pria yang menerima kekuatan suci bulan. Masalahnya bukan dia yang menyembunyikan bulan. Tapi muridnya, Jalada. Mereka hidup di dimensi yang berbeda dengan kita, tempat mereka tinggal bernama kerajaan Sasalancana. Dan kitab Purnama Ketiga yang kau baca itu ditulis langsung oleh Warastra. Kitab itu awalnya Warastra tulis untuk pedoman hidup sang murid. Warastra tahu muridnya mulai menyimpang, dia tersesat dalam keserakahan. Sayangnya dia terlambat mencegahnya. Jalada mengkhianati Warastra, dia sengaja menyembunyikan bulan, sumber kekuatan Warastra, agar bisa menyerang dan membunuhnya di kala lemah. Setelah Warastra kalah, dia berniat membunuh raja dan merebut kerajaan. Tapi ditengah pembacaan mantra, Warastra datang menghajar Jalada. Jalada melarikan diri menggunakan lubang dimensi, menuju dunia kita. Dia lari ke dunia kita karena dunia kita terhubung dengan Sasalancana saat terbit purnama kedua. Jalada berencana melanjutkan mantranya di dunia kita, tapi kekuatannya melemah karena serangan mendadak dari Warastra, jadi dia memanfaatkan keturunannya untuk menyelesaikan mantra menyembunyikan bulan. Kitab Purnama Ketiga yang pernah kau miliki itu adalah kitab yang sudah tercemar sihir Jalada, Sam. Kau sudah dimanfaatkan.” “Apa maksudmu..” tanya Samudra. Aku memotong pertanyaannya sebelum dia selesai mengucapkannya. “Biarkan aku menyelesaikannya dulu, baru kau bisa berkomentar, Sam. Aku tak peduli dengan perebutan tahta Sasalancana, aku tak peduli mau Warastra atau Jalada yang menang, yang kupedulikan hanyalah Wulan. Dan masalahnya yang menculik Wulan adalah Jalada. Dia hendak memanfaatkan Wulan untuk membuat pusaka yang lebih kuat. Aku tak tahu pusaka macam apa yang bisa dibuat dengan memanfaatkan Wulan, yang jelas apapun itu pasti mengancam nyawa Wulan. Warastra ingin aku menemukan keturunan Jalada yang sudah membantunya dan mencegah pusaka itu dibuat. Karena tebakanku, Jalada pasti akan mendatangi keturunannya lagi untuk mendapatkan kekuatan penyempurna pusaka. Berdasarkan apa yang terjadi, aku yakin keturunan Jalada itu adalah dirimu Sam. Makanya aku ingin kau mengingat-ingat apa kau pernah bertemu seseorang yang mencurigakan? Terutama sejak kau mendapatkan kitab itu. Selain itu, apa yang diceritakan simbah Pijar juga sangat menggangguku. Dia bilang dirinya dan keluarganya adalah keturunan Sasalancana. Yang berarti Pijar juga bisa jadi adalah keturunan Jalada. Ini menjawab kenapa Samudra tampak bingung seperti ditipu. Karena bisa saja Pijarlah yang sebenarnya keturunan Jalada. Samudra tak sadar telah diperalat, karena orang yang merencanakannya adalah Pijar, orang terdekat kita sendiri.” kataku menutup pembicaraan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN