Bab 21 – Keturunan Jalada (3)

1651 Kata
Aku merasa seperti mendongeng ketika menceritakan kisah Warastra kepada Samudra dan Layung. Aku yakin mereka pun merasa begitu, terbukti Layung hanya terpekur mendengarku bicara dari awal hingga akhir cerita. “Kamu yakin itu bukan cerita karangan pria itu, Ta? Siapa namanya? Warastak?” tanya Samudra. “Warastra, Sam. Aku yakin itu bukan cerita bohong karena aku melihatnya sendiri. Dia memperlihatkan ingatannya dengan cara yang sangat nyata. Lagipula dia bukan orang yang berbahaya, dari awal dia berusaha untuk memperingatkan kita. Dia juga menepati janjinya untuk mengembalikan kita ke tempat yang aman.” jawabku. “Baiklah, bila memang bukan cerita bohong maka itu menjelaskan segalanya. Sekarang kita bisa lanjutkan giliran mendongeng sebelum Pijar kembali ke sini.” kata Sam. Dia mengambil gelas berisi air lalu menenggaknya habis dahulu sebelum bercerita. “Aku sudah menceritakan bagaimana caraku mendapatkan buku itu, juga bagian awal sampai bagian ketiga dari buku itu. Kurasa sekarang sudah jelas apa itu Sasalancana dan apa yang saat ini sedang kita hadapi. Aku tak perlu lagi menjelaskan hasil analisisku, tinggal menceritakan bab terakhir buku itu, Matahani. Setelah mendengar cerita Semesta sekarang aku tahu, Matahani adalah nama sebuah pusaka. Pusaka yang hendak dibuat Jalada. Dikatakan dalam kitab; apabila perlu, ada sebuah kekuatan satu-satunya di dunia yang bisa lahir. Dialah Matahani. Matahani adalah sihir yang dikandung mantra-mantra dan dilahirkan oleh rahim yang mati dimantrai. Matahani bermata ganda, siap menghunus, menjaga, dan memenangkan yang menggenggamnya. Matahani adalah mahkota agung, berwibawa dan berkuasa. Kesaktian tunggal dunia yang membelah angkasa. Yang dengannya bumi terang benderang. Kala benteng, gunung, dan cahaya runtuh, perang membara, Matahani maju. Maka terbitlah purnama ketiga. Yang sayapnya suci mensucikan, dari keluhuran dan pengorbanan.” Samudra mengakhiri dongengnya. “Wulan akan dimanfaatkan untuk membuat Matahani. Apa itu sebenarnya? Sebuah pedang atau sebuah mahkota?” tanyaku. Samudra mengangkat bahunya. “Hanya itu yang ingin kau katakan, Sam?” tanya Layung. “Apalagi yang ingin kau tau, Yung?” Samudra balik bertanya. “Bagian mana yang mengatakan Pijar adalah penghianat?” tanya Layung. “Benar. Yang itu belum.” jawab Sam. Samudra melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang menguping. Dia bergerak sangat halus mendekatkan kepalanya pada kami, seperti akan membisikkan sebuah rahasia besar. “Aku melihatnya. Walau cuma sebentar, tapi aku yakin. Aku melihat Pijar tersenyum saat purnama menghilang malam itu.” kata Sam sangat lirih. “b*****t kau, Sam! Hanya itu?” umpat Layung. “Jangan pura-pura, Yung. Kamu juga pasti mencurigainya, kan? Simbahnya sendiri bilang, mereka adalah keturunan Sasalancana.” kata Sam. “Keturunan Sasalancana belum tentu keturunan Jalada, Sam.” bantah Layung. “Lalu siapa lagi? Semesta? Atau kau sendiri, Yung? Tidak ada yang mengetahui aku, lebih baik dari kalian. Tidak ada yang tau aku suka berburu buku bekas di pasar loak, selain kalian.” kata Sam. “Ya, itu benar, Yung. Di antara kita berlima, besar kemungkinan Pijar adalah keturunan Jalada. Dia yang menolong Jalada memperalat Samudra untuk membaca mantra. Meski aku juga tak mengerti kenapa bukan Pijar sendiri yang membaca mantra itu, tapi tetap tidak menutup kemungkinan Pijar adalah anak buah Jalada. Jadi, jangan sampai dia tahu kalau kita sudah bersekutu dengan Warastra.”kataku meyakinkan Layung. “Aku tetap tak suka kita saling menuduh tanpa bukti.” kata Layung. “Kita akan temukan buktinya. Cepat atau lambat, Pijar pasti akan bertemu dengan Jalada. Kita harus mengawasi Pijar, Yung. Dia bisa sekaligus menuntun kita pada Wulan.” kataku membujuk Layung. Dia hanya diam. “Jadi bagaimana? Kita sepakat untuk tak memberitahukannya, kan?” tanya Sam. “Tapi kita tetap harus berlaku seperti biasa pada Pijar agar dia tidak curiga, Sam. Kau tak boleh terus-terusan menatapnya dengan penuh kebencian.” tambahku. “Apa kau tak ingat? Aku bahkan pernah menuduhmu dengan terang-terangan, Ta. Jika aku sama sekali tak memasang wajah curiga padanya, itu malah lebih mencurigakan. Tugas kalian untuk berpura-pura membela Pijar, agar dia percaya kalian ada dipihaknya dan omonganku hanya bualan.” kata Sam. Sialan, jadi itu sebabnya dia menuduhku tanpa bukti waktu itu. Dia membuat dirinya tak terbaca, tak terduga. Sebuah alibi untuk bisa bertingkah sesukanya. Sekarang jadi aku dan Layung yang harus bersandiwara di depan Pijar. “Awas kalau kau menyusahkanku dan Layung, Sam.” kataku pada Samudra. Dia mengetuk pelipis dengan jari telunjuknya. “Makanya, mikir, Ta. Mikir.” katanya sambil menyeringai. “Gimana, Yung. Sepakat?” aku beralih pada Layung. Dia diam sejenak, mempertimbangkan tawaranku. “Baiklah. Semoga firasat kalian benar. Karna kalau sampai salah, bukan hanya waktu yang terbuang tapi juga perkumpulan kita.” katanya kemudian. “Tenang saja, Yung. Selalu ada rencana B. Nah, mumpung sekarang kita sudah sepakat kurasa ini saat yang tepat untuk menyiapkan alasan ketika Pijar kembali. Lihat, ini adalah mantra yang aku baca malam itu. Mantra yang membuat bulan menghilang. Aku kesulitan menghafalnya karena menggunakan bahasa yang sama sekali tak kupahami. Setelah bersusah payah, aku berhasil mengingatnya dan menuliskannya seperti ini. Kita berpura-pura mengartikan ini selama di pergi.” kata Sam sambil menunjukkan note di ponselnya. “Sepertinya kamu sudah merencanakan segala hal, Sam. Apa kamu betul bukan anak buah Jalada?” kata Layung. “Bagaimana kalau kau ingat-ingat lagi perkataanmu tadi sebelum kau meracau kemana-mana, Yung. Mungkin kau bisa membantuku mengartikan mantra ini sambil berkaca.” jawab Sam. “Oh iya, apa kau merasa ada yang berubah denganmu setelah membaca mantra itu, Sam? Mungkin kau jadi memiliki kekuatan khusus atau malah sebaliknya.” tanyaku memotong pertengkaran mereka. “Jelas ada yang berubah, Ta. Dia kini seratus kali lebih menyebalkan dari sebelumnya. Samudra jadi b******n b******k setelah membaca mantra itu.” cemooh Layung. Samudra menanggapinya serius. Dia langsung maju mencengkeram kerah kaos Layung dan menjatuhkannya ke lantai. Terjadi keributan semakin parah setelah Layung ikut melayangkan tinjunya pada wajah Sam. Saat mereka sedang bergulat di Lantai, tiba-tiba Pijar datang. “Astaga, apa-apaan kalian?!” Pijar setengah berteriak melihat Layung dan Samudra saling tendang di rumahnya. “Dari tadi mereka berantem terus. Bantuin aku pisahin mereka, Jar.” kataku pada Pijar. Aku menarik tubuh Layung dan Pijar menahan tubuh Samudra. “Yung, udah Yung! Gak enak sama keluarganya Pijar.” kataku ke Layung yang masih berusaha meraih Samudra. “Bawa Layung ke kamar, Ta. Pisahin dulu.” Pinta Pijar. Aku menyeret Layung masuk ke kamar. Menutup pintu lalu melemparnya ke kasur. “Yung! Udah! Sadar!” kataku sedikit keras. Layung diam saja, mengatur nafasnya. Aku ikut terduduk menyandar pada pintu. Tak habis pikir, untuk apa perkelahian tadi. Dalam ingatanku selama ini, mereka adalah sahabat karib. Sesengit apapun mereka berselisih pendapat, mereka selalu mengakhirinya dengan bercanda dan tertawa. Kenapa mata mereka saling memancarkan kebencian tadi. “Tenang, Ta. Aku cuma akting.” katanya dengan wajah serius, membuatku tak percaya dengan omongannya. “Akting apaan. Jujur aja, Yung. Kamu terpancing emosi, kan?” kataku. “Apa terlihat seperti itu? Berarti bagus.” katanya lagi, kali ini sambil tersenyum. “Anjing. Kalian beneran cuma akting?” tanyaku kesal. “Aku. Gak tau Samudra. Tadi aku lihat Mobil Pijar masuk rumah. Pas banget momentnya. Untung Samudra gak bener-bener sekuat tenaga mukul wajahku.” kata Layung sambil mengusap tulang pipinya. “Kalian udah pada sinting ya. Sinting tapi jenius.” kataku sambil tertawa pelan agar tak terdengar keluar. “Semoga Pijar jadi gak kepikiran dengan apa yang udah kita bicarain selama dia pergi. Aku masih ingin menanyai simbah tentang Matahani dan kitab Purnama Ketiga setelah ini.” kata Layung. “Kita di sini dulu sebentar. Gila, kupikir kalian serius berantem. Jantungku mau berhenti rasanya.” kataku. Aku pindah merebahkan tubuh ke kasur. “Memang kenapa? Kamu juga pernah menghajar Samudra, kan?” balas Layung. “Tapi konteksnya kan berbeda.. Aku.. punya alasan.. yang kuat.. Kok tiba-tiba ngantuk..” mataku terasa berat, rasanya aku lelah dan mengantuk sekali. “Hahh.. ketemu kasur langsung molor.. yaudah, kamu..” aku tak bisa mendengar kata-kata Layung selanjutnya. Rasanya aku jatuh tertidur, nyaman dan lelap sekali. Tak ingin bangun. Tiba-tiba aku melihat Wulan. Dia memakai pakaian seperti orang-orang di negeri Warastra. Dia melihat ke arahku. Tersenyum. Aku menghampirinya, tapi dia berbalik pergi meninggalkanku. “Wulan.” kupanggil namanya. Dia berhenti, memalingkan wajahnya dan berkata “Aku bukan Wulan. Aku Indu, mas..” dia lalu berjalan pergi menjauh, menghilang di antara orang-orang lain di sana. Aku mencarinya, menyisir kerumunan itu. Berjalan kesana kemari. Berharap menemukan wajahnya di sana. Tapi nihil. Ku teriakkan namanya sekuat yang aku bisa “Wulan! Wulan! Dimana kau?” tak kunjung ada jawaban. Sampai kerumunan itu membubarkan diri, menyisakan aku sendirian di sana masih memanggil-manggil namanya. “Lan! Wulan!” tak ada yang menjawab. Teringat dengan perkataan gadis itu, aku coba memanggil nama yang lain. “Indu.. Indu!” kataku. Sedetik kemudian sebuah tangan menepuk pundakku dari belakang. Saat aku berbalik, aku melihat gadis itu, tersenyum. “Wulan!” aku langsung merengkuhnya, memeluknya erat merelakan tubuhku melebur dalam dekapannya. “Aku bukan Wulan, mas..” bisiknya. “Jangan pergi. Biarkan aku memelukmu.. Indu..” balasku lirih, seiring dengan jatuhnya air mata di pipiku. “Baik kang mas.” jawabnya. Dan ia membalas pelukanku erat. “Tolong jangan pergi. Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku lagi.” pintaku merengek dalam pelukannya. “Baik kang mas.” jawabnya lagi dengan suara lemah lembut melelehkan telingaku. “Indu akan menemui mas Semesta.” katanya kemudian. “Sungguh? Kalau begitu berjanjilah.” kataku. “Indu janji mas.” jawabnya. “Sekarang Indu harus pergi. Saat kita bertemu nanti, mas harus ingat siapa saya.” katanya sambil melepas pelukanku lalu pergi selangkah demi selangkah meninggalkanku. Aku mengejarnya sekuat tenaga, tapi tak tersusul olehku. Aku melihat punggungnya makin menjauh, mengecil, lalu menghilang. “Wulan!” kuteriakkan namanya sambil terisak tersungkur di tanah. “Ta! Semesta! Kamu mimpi apa lagi?” begitu membuka mata, aku melihat wajah Layung di sampingku. Jadi tadi mimpi? Lagi-lagi. Aku mengucek kucek mataku, basah. Seperti habis menangis. “Aku tadi nangis, Yung?” tanyaku. “Iya. Kamu nangis sambil bilang, Indu.. Indu..” jawab Layung. “Indu?” gumamku. Apa mimpi ini juga pertanda dari Warastra? Kenapa Wulan menyebut dirinya Indu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN