Saat aku terbangun, aku menyadari yang barusan kualami bukanlah bunga tidur biasa. Aku yakin kini aku memiliki jembatan untuk bisa berkomunikasi dengan dunia Warastra yaitu Kerajaan Sasalancana, melalui mimpi. Mereka, orang-orang di Sasalancana, bisa memanggilku untuk menyampaikan pesan atau memberi peringatan padaku. Dan aku bisa berkomunikasi dengan mereka secara bebas dalam mimpi. Walau saat ini baru bisa dilakukan satu arah, mungkin suatu saat aku akan bisa memanggil mereka juga melalui mimpi. Aku merasakannya, seperti mendapat panggilan telepon. Aku tak tahu kapan dan siapa yang akan memanggil, aku hanya tiba-tiba merasa mengantuk dan pergi ke seberang. Barusan tadi adalah panggilan oleh Wulan. Dia memanggilku untuk menemuinya. Dia ingin menyampaikan pesan kalau dia masih hidup dan akan segera menemuiku. Tapi kenapa dia menyebut dirinya Indu, aku tak pernah tau Wulan punya nama panggilan seperti itu. Dan Wulan juga tak pernah memanggilku mas atau kangmas. Apa gadis itu bukan Wulan yang kukenal?
“Ta, kamu tadi mimpi apa?” aku terkejut melihat Layung di sampingku. Untuk sesaat tadi aku larut dalam lamunanku.
“Hah? Oh ya, tadi aku mimpi bertemu Wulan, Yung. Dia bilang dia akan menemuiku.” jawabku tergagap-gagap.
“Wulan? Kamu ketemu Wulan, Ta? Dia baik-baik aja? Dia ada dimana? Dia mau nemuin kamu gimana maksudnya?” ada nada khawatir dalam pertanyaan Layung.
“Iya, dia kelihatan baik-baik saja. Aku bertemu dengannya di dunia Warastra, Sasalancana.” jawabku.
“Jadi selama ini dia ada di dimensi lain? Terus? Gimana caranya menemui Wulan?” Layung langsung percaya dengan semua yang kukatakan.
“Entahlah, Yung. Itu aku juga gak tahu.” jawabku lemas.
“Terus Indu itu apa?” tanya Layung lagi.
“Indu? Indu itu Wulan. Dia gak mau dipanggil Wulan. Dia bilang dia bukan Wulan, dia adalah Indu.” jawabku padanya.
Layung mengerutkan dahinya, berpikir keras. Seperti biasa aku tak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari Layung yang peka.
“Ta, kamu merasa aneh gak sih? Tiba-tiba kamu ngantuk, tidur, terus mimpi. Maksudku, kamu emang udah beberapa kali dapet mimpi sih, tapi emang kamu biasa tiba-tiba tertidur gitu ya? Kayanya sekarang kamu juga jadi lebih sering mendapat mimpi semacam itu, kan? Apalagi sejak..” Layung belum menyelesaikan kalimatnya.
“Sejak aku bertemu Warastra. Benar. Aku juga menyadari itu barusan. Sekarang aku merasa seperti memiliki koneksi dengan dunianya Warastra, Yung. Tidak hanya dengan Warastra tapi dengan dimensi mereka, dengan orang-orang yang ada di dunia sana. Yung, kamu percaya ini? Aku gak mau dianggap seperti orang gila.” kataku menyela omongan Layung.
“Dunia ini memang sudah gila, Ta. Gak perlu mencemaskan pikiran orang. Jadi, kalau kamu memang terhubung dengan dimensi itu, apa berarti kamu bisa ke sana dan selamatkan Wulan?” lanjut Layung.
“Tidak. Belum. Selama ini mereka yang memanggilku dalam mimpi, aku ngerasa aku juga bisa memanggil mereka tapi aku gak tau gimana caranya.” jawabku tak yakin.
“Ta, ini kesempatan kita! Kalau kamu bisa terhubung dengan Wulan, kita bisa menyelamatkan dia lebih cepat. Atau kamu mungkin bisa memanggil Warastra, dia pasti tahu bagaimana menemukan Wulan.” mata Layung berbinar mengatakannya.
“Tapi aku tak tahu caranya, Yung.” jawabku. Aku juga tahu ini bisa jadi senjata untuk kami, sebuah kesempatan. Tapi bagaimana caranya!
Ingin rasanya aku kembali tidur dan memanggil Wulan atau Indu atau Warastra lagi. Tapi aku ingat, Pijar dan Samudra ada di depan. Aku khawatir meninggalkan mereka berdua saja terlalu lama.
“Yung, Pijar atau Sam udah ke sini?” tanyaku.
“Belum. Kita baru sebentar ada di sini. Mereka mungkin belum sadar.” jawab Layung.
“Kita keluar aja gimana? Masih ada yang mau ditanyain ke simbah, kan?” kataku.
“Iya sih. Ya udah ayo.” jawab Layung sambil beranjak menuju pintu.
“Yung, buat sementara jangan kasih tau Sam atau Pijar dulu soal omongan kita barusan. Kalau mereka tanya bilang aja kita cuma bicara soal simbah.” kataku. Layung mengangguk setuju.
Saat kami keluar, Pijar dan Samudra sedang dalam perdebatan sengit. Keduanya berbicara dengan tensi tinggi.
“Heh, ada apa ini?” tanyaku memotong pertengkaran mereka.
“Dia mulai lagi, Ta. Dia menuduh Layung tanpa bukti. Seperti padamu waktu itu.” jawab Pijar ngegas.
“Udahlah, Jar. Dia sudah seperti itu dari tadi. Jangan ikut terpancing.” kataku berbisik di telinga Pijar.
“Jar..” kata Layung sambil menyenggol pergelangan tangan Pijar. Dia melihat Simbah sedang berjalan tertatih ke arah kami.
“Lho, Kung! Kakung istirahat aja dulu.” kata Pijar begitu melihat simbahnya. Dia berjalan menyusul dan membantu simbah menuju meja makan.
“Yung, Jar, kalian langsung artiin ya apa kata Simbah biar gak buang-buang waktu.” kataku pada Pijar dan Layung, mengingat apa yang terjadi kemarin. Mereka mengangguk.
“Aku perlu tahu kenapa kalian bertanya tentang kitab purnama ketiga.” kata Simbah dalam bahasa daerah dan langsung diartikan oleh Pijar. Kami saling bertatapan, melempar kode “kasih tahu gak?” “kasih tau aja sejujurnya.” “mana boleh begitu.” “sana kasih tau, Yung.” “jangan!”.
“Berhenti main-main! Kalau kalian ingin tahu apa itu purnama ketiga, kalian harus jujur padaku.” Simbah mengatakannya dengan tegas.
“Kung, kami sudah dijebak dengan menggunakan kitab purnama ketiga.” kata Layung pada akhirnya.
“Jadi kalian yang sudah menghilangkan purnama?” tanya Simbah.
“Iya, Kung. Kami tidak sengaja melakukannya. Kami dijebak.” jawab Layung lagi.
Sekarang Simbah Kakung menatap marah pada Pijar. Pijar menunduk, entah ketakutan atau merasa bersalah.
“Kamu sudah aku peringatkan, Pijar! Kitab Purnama Ketiga itu adalah kitab terlarang, terkutuk. Kitab itu tak membawa apapun selain kehancuran dan kematian! Jangan sekali-kali berurusan dengannya, taruhannya nyawa, Pijar!” Simbah berbicara dengan perlahan, tapi sangat mengintimidasi.
“Bukan saya, Kung. Samudra yang memiliki kitab itu. Dia yang membaca kitab itu. Bukan saya yang menyebabkan purnama menghilang. Sumpah saya tidak tahu apa-apa, Kung. Ampun, Kung, ampuni saya.” suara Pijar bergetar, kepalanya masih menunduk tak berani menatap mata Simbah.
“Benar, Kung. Kawan saya Samudra yang sudah membaca mantra dari kitab itu. Tapi Samudra tidak sengaja melakukannya, Kung. Dia sudah diperalat. Karna itu kami ke sini untuk mencari cara mengembalikan bulan. Kami ingin menghancurkan kutukan itu.” tambah Layung, memberi pembelaan. Simbah melengos membuang pandangan keluar.
“Kitab Purnama Ketiga adalah kitab terkutuk. Kitab itu memiliki tuah untuk bisa memperalat orang-orang serakah yang menginginkan kekuatan, ilmu, dan kekuasaan. Kawanmu pasti sudah terbujuk oleh iming-iming kosong dari kitab itu. Ritual dalam kitab itu juga bukan hal mudah yang bisa dilakukan dengan tanpa sengaja. Mustahil kawanmu tak tahu. Dia sudah sengaja menyembunyikan purnama. Sekarang setelah berhasil menghilangkan bulan, Matahani akan segera muncul. Lalu purnama ketiga akan membinasakan segalanya, dan kita akan mulai lagi semuanya dari awal.”
“Maaf, Kung. Apa itu Matahani? Kami tidak tahu.” Layung menyela pembicaraan Simbah.
“Matahani adalah sebuah pusaka. Rembulan yang disembunyikan dalam wadah, dikandung ulang agar bisa terlahir kembali sebagai pusaka yang tunduk pada pemiliknya. Tindakan yang keji untuk bisa menguasai kekuatan bulan. Banyak orang dikorbankan untuk membangkitkan kekuatan pusaka itu. Kekuatan yang setara dengan kekuatan ribuan purnama. Sangat kuat, hingga bisa membangkitkan kembali orang yang sudah mati. Dalam Kitab Purnama Ketiga dijelaskan bagaimana cara untuk membangkitkan Matahani. Dimana kitab itu sekarang? Berikan padaku.”
“Kitab itu hilang, Kung. Hilang secara misterius.” jawab Layung.
“Omong kosong! Tidak ada yang namanya hilang secara misterius. Kitab itu pasti sudah kembali pada pemilik aslinya.” kata Simbah.
“Pemilik asli?” tanya Layung.
“Ada alasan kenapa kitab itu berpindah tangan dari satu orang ke orang lainnya. Itu karna orang-orang yang membacanya akan menjadi gila, hilang akal, urip tapi ora urup.. dan tak jarang kehilangan nyawa.Pemilik yang cukup cerdas akan membuat orang lain melakukan hal-hal berbahaya untuknya. Ketika mantra berhasil dirapalkan, kitab itu akan kembali pada pemilik aslinya. Dialah yang akan mengambil keuntungan membangkitkan Matahani dan meminta permohonan.” jawab Simbah.
Kami semua terdiam. Simbah tampak masih ingin mengatakan sesuatu. Kami menunggu dengan debaran jantung tak terkendali.
“Kitab itu membawa mala petaka, kehancuran, kerusakan, sampai kematian orang-orang tak berdosa. Yang kalian lakukan itu sama dengan menantang sang candra. Merusak tatanan hidup. Kalian harus bersiap untuk menghadapi murka sang candra. Terutama kau..” Simbah menunjuk Samudra dengan tatapan ngeri.
“Apa ada cara untuk kami membatalkan kutukan ini, Kung?” Layung segera menggenggam tangan Simbah untuk meredam kemarahannya.
“Semua sudah diatur dalam kitab itu. Segera setelah purnama menghilang, Matahani akan lahir. Jika kalian bisa menemukan pemilik asli kitab itu sebelum dia berhasil membangkitkan Matahani, masih ada kemungkinan untuk menunda purnama ketiga.”
“Tapi kami tak tahu siapa pemilik aslinya, Kung.” sambung Layung kemudian.
“Tanyakan pada kawanmu yang sudah membaca mantra dari kitab itu. Bila dia masih hidup dan belum hilang akal, dia mestinya terhubung dengan pemilik asli yang memberikan kitab itu. Kitab itu hanya bisa diturunkan pada murid oleh gurunya.” kami semua menatap Samudra.
“Seorang gadis yang berharga bagi pembaca mantra itu akan diambil paksa. Dia yang akan dikorbankan untuk menjadi wadah dari kekuatan purnama yang telah disembunyikan, sekaligus menjadi perantara lahirnya Matahani. Bila berhasil menjaga gadis itu, kalian masih bisa mengulur waktu. Tidak satu jari pun pria boleh menyentuh gadis itu sekarang.” tambah simbah. Sekarang mata kami terbelalak. Sebuah tabir telah terbuka. Wajah Sam kini panik dan pucat.
“Kung, satu kawan kami telah diculik bersamaan dengan hilangnya purnama malam itu. Dan kawan kami itu adalah seorang perempuan.” kata Layung. Simbah menghela nafas.
“Hahhh, terlambat. Gadis itu sekarang pasti sudah mengandung Matahani.”
“Mengandung? Kung, pusaka seperti apa sebenarnya Matahani itu? Apakah sebuah keris atau batu permata?” tanya Layung.
“Bukan, tentu saja bukan benda-benda duniawi semacam itu. Matahani adalah purnama yang terlahir kembali. Purnama tak bisa dipadankan dengan benda buatan manusia rendah seperti itu. Dalam suatu kisah, Matahani digambarkan sebagai malaikat atau peri dengan sepasang sayap putih keperakan bak rembulan. Matanya berjumlah tiga, dengan biji mata berwarna emas seperti sinar purnama di kala malam. Parasnya melenakan, melembutkan hati siapa saja yang melihatnya. Kulitnya bening berkilauan seperti mutiara yang diasuh samudra. Suaranya merdu seperti nyanyian harpa yang dipetik langsung oleh sang candra. Matahani ialah bidadari yang keberadaan awalnya adalah sebagai pusaka pemberian sang candra untuk manusia wali purnama di Sasalancana.” kata Simbah.
Simbah berhenti sejenak, matanya menerawang jauh. Seperti berat untuk mengatakan sesuatu.
“Gadis yang menjadi wadah dari Matahani takkan selamat. Untuk menciptakan wujud dan kekuatan dibutuhkan pengorbanan. Kelahiran kembali Matahani akan merenggut nyawa kawanmu.”
“Kung! Itu tak boleh sampai terjadi!” Layung menggertakan gigi untuk menahan teriakannya.
“Kawanmulah yang harus bertanggung jawab. Dia harus menemukan pemilik asli kitab itu, sebelum Matahani lahir di dunia ini.” lagi-lagi Simbah menudingkan jari telunjuknya ke muka Samudra.
“Sammmmm!! Lo kasih tau gue sekarang juga! Siapa sebenernya yang ngasih kitab itu ke elo!” Layung menarik kerah kaos Samudra, mendekatkan wajah penuh eramannya ke Samudra.
“Lo ngomong apa sih, Yung?! Gue kan udah bilang, itu dari toko buku yang kita udah samperin kemarin.” jawab Sam sambil meronta melepaskan diri dari Layung.
“Gak mungkin! Kitab itu cuma bisa diberikan dari guru ke muridnya! Nyawa Wulan sekarang terancam, cuma orang itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Wulan.”
“Bullshit! Demi apapun gue dapet itu dari toko buku!” Sam berhasil melepaskan dirinya dari cengkraman Layung.
“Kita gak bisa diam aja, kita harus segera pergi mencari Wulan, Yung!” kataku sambil menarik badan Layung.
“Ingat! Purnama ketiga lahir dari rahim yang mati dimantrai. Kesempatan kalian hanya sampai sebelum Matahani lahir.” Simbah menahan tangan Layung, mengucapkan kalimat terakhir itu lalu membiarkan Layung pergi bersamaku.