k*****t! Aku sampai harus bersembunyi seperti tikus got karena Warastra. Tak kusangka pak tua yang d***u itu bisa mengetahui rencanaku untuk menggulingkan tahta kerajaan. Dia datang persis di tengah mantra dan langsung menyerangku bertubi-tubi. Aku tak sempat menyelesaikan mantra dan mesti bertarung melawannya dengan kekuatanku yang tersisa. Beruntung aku masih berhasil melarikan diri dengan lubang dimensi. Meski ruang waktu jadi tak terkendali karena serangan mendadak Warastra, tapi rupanya aku jatuh beberapa bulan sebelum purnama kedua terbit di dimensi ini. Waktu yang cukup untuk mencari abdiku. Aku harus menyelesaikan misiku, mantra ini harus disempurnakan.
Di dimensi ini, tidak ada wali sang candra, tak ada manusia dengan kekuatan bulan. Purnama pun tak muncul setiap malam. Kekuatanku melemah karenanya. Aku tak bisa menyelesaikan ritual hanya dengan kekuatanku. Bertahan tinggal di dimensi ini, ditambah pengembaraan dengan lubang dimensi akan membutuhkan banyak tenaga. Aku butuh lebih dari seorang abdi, aku butuh perantara untuk menyelesaikan mantraku. Melalui sebuah ritual, aku menemukan keturunanku di dimensi ini. Sangat mudah, hanya perlu setetes darah dariku lalu dia datang dan menuruti semua kehendakku. Warastra memang hebat. Segala ilmu dan mantra yang diajarkannya tak satu pun meleset. Hanya pikirannya yang terlalu naif membuatnya tak berkembang, menyiakan potensi kekuatan yang diberikan sang candra padanya.
Pria berhati lemah itu akan tamat riwayatnya sebentar lagi. Dan dengan begitu kekuatan suci bulan akan diturunkan padaku. Apa Warastra pikir aku akan percaya dengan bualannya tentang orang pilihan bulan. Aku tahu kekuatan ada karena dicari, tak mungkin sang candra menutup mata mengabaikan aku yang sudah mengabdikan diri berguru mempelajari kekuatan purnama selama bertahun- tahun. Memberikan kekuatan pada orang d***u yang akan menyiakan anugerah kekuatan sebesar itu hanya untuk mati bersamanya adalah sebuah pemakzulan yang tak termaafkan. Kini setelah aku menghimpun kekuatan di dunia ini, rencanaku berhasil. Aku lebih kuat dari Warastra, aku berhasil membuktikannya dengan menyembunyikan purnama di dimensi ini. Aku juga sudah berhasil menanam kekuatan purnama yang kusembunyikan ke rahim gadis titisan. Tinggal menunggu waktu sampai Matahani sempurna dan terlahir untuk menuruti perintahku. Sebuah jalan pintas untuk memiliki kekuatan bulan tanpa campur tangan sang candra.
Merebut kekuatan bulan tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Sasalancana. Karna tak ada seorang pun penerima kekuatan bulan yang tak menerima singgasana dan menolak memimpin kerajaan. Seluruh rakyat menjadi bagian dari hamba yang mengagungkan sang raja yang juga satu-satunya pemilik kekuatan bulan. Sasalancana selalu menjadi negeri terkuat yang dipimpin oleh orang terkuat. Kemakmuran dan perdamaian abadi, hal mutlak yang Sasalancana miliki selama dipimpin oleh para pemilik kekuatan suci. Tapi Warastra merusak keseimbangan yang bertahun- tahun ada di Sasalancana. Dengan menolak tahta, Sasalancana mengalami perang untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Perang yang menelan banyak korban, ribuan orang mati dengan sia-sia. Karena keegoisan Warastra, Sasalanca kehilangan kedamaian, kekuatan, dan menjadi sasaran kerajaan-kerajaan lain diperbatasan. Padahal hanya dengan satu mantranya, kemenangan bisa diraih oleh Sasalancana. Tapi Warastra baru mau mengulurkan tangannya saat kekalahan benar hadir di depan mata. Warastra mengabaikan tugasnya sebagai pemilik kekuatan bulan. Dia meninggalkan kewajiban sebagai pelindung Sasalancana.
Aku sudah muak dengan nilai-nilai yang dia jaga selama ini. Aku bertekat untuk menyingkirkannya dan mengembalikan kejayaan Sasalancana yang memang seharusnya dimiliki. Aku harus menghabisi Warastra, merebut kekuatan bulan, menduduki tahta raja, dan memiliki Sasalancana selamanya. Satu langkah lagi. Matahani, dia akan memembuatku memiliki segalanya. Matahani, satu-satunya pusaka yang bisa mengalahkan kekuatan Warastra. Tak ada mantra untuk menghindar dari kekuatan Matahani. Tak ada kekuatan yang bisa menghancurkan benih Matahani yang sudah dikandung. Tinggal menunggu waktu, aku akan menjadi penguasa Sasalancana! Aku akan menjadi pemilik kekuatan suci bulan!
***
Setelah Jalada melarikan diri dengan lubang dimensi, Warastra tak tinggal diam. Dia tak bisa mengejar Jalada ke dimensi lain karena kekuatan bulan yang dimilikinya akan menghilang bila ia meninggalkan tanah suci Sasalancana. Tentu Jalada mengetahui hal itu karnanya dia memilih melarikan diri dengan lubang dimensi meski itu beresiko menguras tenaganya. Tapi Jalada tak tahu, Warastra bisa mengikuti dan memata-matai Jalada melalui jejak kekuatan yang dikeluarkan olehnya. Warastra menyadari niat Jalada untuk membangkitkan Matahani, maka ia segera memanggil Indu.
“Indu, kakakmu Jalada sudah salah arah. Dia berencana membangkitkan Matahani dan merebut kekuatan suci bulan. Kakakmu sudah melawan kehendak sang candra. Aku tak punya pilihan lain selain mengirim dirimu untuk menjadi wadah Matahani agar kekuatan suci bulan tak jatuh di tangan yang salah. Apa kau bersedia Indu?” Warastra memanggil Indu sebelum mengirimnya ke dimensi tempat Jalada berada.
“Baik, maha guru. Saya bersedia.” jawab Indu tanpa pikir panjang. Baginya sudah merupakan kewajiban adik untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh saudara kandungnya.
“Jalada memilih titisanmu di dimensi lain untuk menjadi wadah Matahani. Gadis itu tak ada hubungan sama sekali dengan Sasalancana, kita tak bisa membiarkannya dikorbankan demi ambisi Jalada.” tambah Warastra.
“Maha guru, bolehkah saya bertanya?” tanya Indu begitu mendengar penjelasan Warastra.
“Apa yang hendak kau tanyakan, Indu?” jawab Warastra.
“Kenapa Kanda Jalada memilih titisan saya untuk menjadi wadah Matahani, guru? Padahal gadis itu tak ada hubungan dengan Sasalancana?” lanjut Indu.
“Itu karena kau memiliki hubungan darah dengan Jalada. Begitu pula dengan titisanmu. Ikatan diantara kalian akan membuat Matahani menuruti perintah Jalada seperti pada pemiliknya sendiri. Itulah yang Jalada pikirkan.” jawab Warastra tanpa basa basi.
“Tapi maha guru, bila benar begitu maka saya pun tak mampu menghentikan Kanda Jalada. Saya akan langsung lenyap begitu Matahani bangkit kembali.” Indu paham betul situasi yang hendak dihadapinya. Dia ingin memastikan pengorbanannya tak sia-sia.
“Indu, satu hal yang Jalada tak tahu. Matahani memiliki kehendaknya sendiri. Mengendalikan Matahani tak bisa dilakukan tanpa restu sang candra. Terlebih lagi, Matahani yang dikandung dua wadah, akan langsung membangkitkan Purnama Ketiga. Sang Purnama Ketiga yang akan menghentikan Jalada.” jelas Warastra.
“Bila Purnama ketiga bangkit, artinya gadis titisan saya pun tak akan selamat, bukan begitu maha guru?” Indu bertanya kembali.
“Sudah waktunya kau pergi Indu. Kau akan menemukan jawaban ketika waktunya tiba.” Warastra membuka lubang dimensi dan langsung mengirim Indu pergi tanpa memberinya jawaban.
Indu masuk ke dimensi persembunyian Jalada tanpa kesulitan. Warastra berhasil menemukan keberadaan Wulan dan Jalada dengan memanfaatkan Indu yang bisa merasakan keberadaan titisannya. Indu berada di dalam hutan di kaki gunung begitu tiba dan sebuah gubuk yang dilindungi kekuatan mantra menarik perhatian Indu. Dia mendekat ke gubuk itu dengan hati-hati karna meskipun Indu adalah adik kandung Jalada, Indu tak memiliki kekuatan sihir maupun ilmu mantra seperti Jalada. Bila Indu tertangkap oleh Jalada, seluruh rencana yang telah disiapkan akan sia-sia. Sementara Indu mendekati gubuk itu melalui pintu belakang, ia mendengar sayup-sayup suara Jalada berbicara dengan seseorang di dalam gubuk.
“Prabu Jalada, sesuai dengan perintah Prabu saya sudah mengambil kembali Kitab Purnama Ketiga dari tangan Samudra. Sayangnya Samudra dan kawan-kawannya kini berusaha mencari informasi melalui keturunan Prabu Jalada selain saya. Saya tidak bisa menghentikan mereka untuk mendapatkan informasi tersebut Prabu. Apa yang harus saya lakukan sekarang?” suara itu berasal dari seorang pria dari dimensi ini tapi Indu tak mengenali pria itu sama sekali. Indu melanjutkan mengintip sambil menguping pembicaraan mereka berdua dari sela-sela pintu belakang gubuk.
“Biarkan saja mereka lakukan apa yang mereka mau. Samudra sudah tak diperlukan lagi. Kekuatan purnama sudah dikandung dalam rahim Wulan. Gadis titisan ini mempunyai kekuatan besar, dia akan berhasil melahirkan Matahani sempurna dalam beberapa malam. Tak ada yang bisa dilakukan bocah-bocah itu dalam waktu sesingkat itu.” Jalada memandangi Wulan yang terbaring diatas dipan dengan banyak dupa dan sesaji di sekitarnya. Wulan seperti tertidur, dia tak sadarkan diri.
Indu hanya perlu menyentuh perut Wulan untuk bisa menggantikan posisi Wulan mengandung Matahani. Namun untuk melakukannya Jalada dan pria itu harus meninggalkan gubuk itu dahulu. Tak ada yang bisa Indu lakukan selain menunggu mereka keluar, Indu memutuskan untuk pergi menjauh mencari tempat bersembunyi di sekitar gubuk itu. Dia tak boleh terlalu dekat, tapi juga tetap harus bisa mengawasi pergerakan Jalada dan gubuk itu dari tempatnya bersembunyi. Indu mendapati sebuah semak yang cukup rimbun di samping gubuk Jalada. Di sana dia bersembunyi dan mulai memanggil gadis titisannya yang kini jiwanya sedang tersesat mencari jalan untuk kembali pada raganya yang ditawan oleh Jalada, dengan kata lain Wulan dalam keadaan koma. Indu dan Wulan adalah satu orang yang sama yang tinggal dalam dimensi yang berbeda. Keberadaan mereka terhubung satu sama lain. Indu bisa memanggil jiwa Wulan dan menuntunnya kembali pada raganya, hanya bila Wulan menjawab panggilannya. Itu satu- satunya cara Indu bisa menyelamatkan hidup Wulan di dimensi ini.
Dalam proses pencarian jiwa Wulan, Indu dapat mengintip kehidupan Wulan di dimensi ini. Dia terkejut, betapa malang hidup titisannya sekaligus betapa kuat gadis titisannya menjalani kehidupannya selama ini. Indu merasakan kekuatan besar yang dimiliki Wulan adalah berasal dari seorang pria yang dicintainya. Kehangatan menjalari tubuh Indu begitu dia melihat memori Wulan bersama pria itu. Perasaan murni yang suci, penuh kasih tulus tak mengharapkan balasan. Indu teralih dari Wulan menuju pria itu. Tanpa sadar Indu membuat koneksi dengan pria itu. Indu memanggilnya dan mendapat respon dengan segera. Pria itu menjawab panggilan Indu, mendatanginya dan langsung mengenalinya sebagai Wulan. Semesta. Pria itu adalah Semesta. Andai Semesta bisa memanggil Wulan, gadis titisanku itu pasti akan langsung menjawab panggilannya. Ya, aku harus menemui pria ini secepatnya.