Bab 24 – Menyusup

1706 Kata
Koneksi yang kubuat dengan Wulan dan Semesta bukanlah hal istimewa di Sasalancana. Setiap penduduk Sasalancana mengetahui cara untuk melakukan itu, karna dimensi tempat Sasalancana berada dulunya adalah dimensi yang berbeda dengan saat ini. Sang candra membiarkan kami tetap bisa berkomunikasi atau hanya sekedar melihat tempat asal kami melalui koneksi ini. Di dimensi asal kami, koneksi ini disebut sebagai rogosukmo. Dibutuhkan konsentrasi dan ketenangan untuk bisa menyeberang dan menemui orang yang kami cari. Untuk membuat koneksi juga dibutuhkan jawaban dari pihak seberang, dengan begitu komunikasi bisa berlaku seperti kami bertatapan secara langsung. Dalam kasus tertentu, koneksi bisa dilakukan secara paksa tanpa harus mendapat jawaban dari pihak seberang. Tapi resikonya pihak seberang hanya merasa seperti mendapat mimpi atau hanya berupa firasat, komunikasi secara dua arah tak bisa berlangsung dengan sempurna. Semesta bisa menjawab panggilanku dengan sangat cepat. Dia mungkin memiliki hubungan dengan Sasalancana, sehingga dia bisa merasakan kami dengan mudah. Bila benar begitu, maka Semesta bisa memanggil Wulan. Aku hanya perlu memberi tahu caranya. Saat ini, aku masih harus memikirkan cara untuk membuat Kanda Jalada dan pria itu pergi meninggalkan gadis titisanku sendirian. Aku harus merebut Matahani dan menghalanginya lahir untuk menyelamatkan semuanya. Maha guru Warastra tak mengatakan padaku bagaimana caranya, kupikir beliau pasti sudah menyiapkan rencana untuk membantuku. “Prabu, saya undur diri. Saya akan datang kembali setelah mengetahui rencana Samudra dan kawan-kawannya.” pria itu keluar dari gubuk dan berpamitan pada Kanda Jalada. Sekarang tinggal dia dan Wulan sendiri di dalam gubuk. Aku mendengar lamat-lamat suara Kanda merapal mantra, lalu gubuk itu kembali diselubungi oleh sihir aneh yang bercahaya kebiruan. Aku tak pernah melihatnya, mungkin itu sihir perlindungan atau bisa juga sihir penyaru agar gubuk ini tak terlihat oleh orang biasa. Tapi hutan ini bagaimana pun sudah cukup rimbun untuk menghalau orang biasa masuk, apakah Kanda tau aku ada di sini? Tak lama setelah pria yang tadi berpamitan itu tak terlihat, tiba-tiba langit menjadi mendung. Sebuah pusaran angin perlahan muncul di atas gubuk. Membuat awan hitam bergulung-gulung membentuk gelombang mengerikan mengobrak-abrik pepohonan dan menerbangkan daun-daun kering. Petir menyambar tanah, tepat di depan pintu masuk gubuk. Kanda Jalada semakin keras merapalkan mantra, aku bisa mendengarnya diantara ribut angin dan petir. Amukan petir semakin menjadi, kini mulai menyambar atap gubuk yang terbuat dari daun kering. Gubuk itu selamat berkat mantra perlindungan yang terus dirapalkan Kanda Jalada. Tapi alam masih belum selesai. Petir kembali menyambari gubuk itu. Duaarrr! Duaarrr! Duaarrr! Gubuk itu diserang bertubi-tubi, suara petir memekakan telinga membuatku bergidik ngeri ketakutan. Duuaarrrr!! Pada serangan petir selanjutnya cahaya kebiruan yang menyelimuti gubuk itu hilang. Duuaarrr! Sekali lagi petir menyambar atap daun kering gubuk itu dan kali ini langsung terbakar. Api besar melalap gubuk itu, Kanda Jalada serta merta berlari keluar gubuk. Ini kesempatanku! Saat Kanda Jalada tengah sibuk merapal mantra untuk melawan langit yang murka. Aku mengendap masuk ke dalam gubuk lewat pintu belakang. Api sudah hampir merambati dinding bambu gubuk ini. Aku langsung mendekati tempat Wulan berada dan memulai prosesi. Kututup mataku lalu kuarahkan tanganku mengikuti titik terkuat dimana Matahani dikandung dalam tubuh gadis titisanku. Tepat di rahimnya, Matahani sudah menempel pada tubuh gadis ini. Tak menunggu lama, kuletakkan tanganku pada perutnya, tepat di atas benih Matahani berada. Kupusatkan konsentrasi dan dengan satu tarikan nafas kubisikan namanya perlahan “MATAHANI”. Cahaya kuning yang lembut berpendar dari dalam tubuh Wulan. Aku merasakan sebuah aliran energi mengalir masuk dari telapak tanganku perlahan menuju ke bawah perutku. Matahani menyambut panggilanku dan kini telah berpindah ke tubuhku. Aku merasa sebuah limpahan kekuatan besar mendadak memenuhi tubuhku. Dengan kekuatan ini aku bisa membuka lubang dimensi, aku harus mengirim gadis titisan ini ke Sasalancana untuk melindunginya. Tepat sebelum dinding gubuk ini ambruk dilalap api, aku berhasil menyelesaikan semua ritual sesuai rencana. Kanda Jalada masih belum menyadari aku sudah bertukar tempat dengan gadis titisan. Dia berlari masuk gubuk menembus api, lalu membopongku yang pura-pura tertidur dan segera melarikan diri dengan lubang dimensi. Kami berpindah tempat dalam sekejap mata. “Sialan! Warastra berhasil menemukan persembunyianku! Dia berhasil menghancurkannya!” Kanda Jalada merebahkanku di atas rumput. Aku mendengar gemericik suara air dan desiran angin, sepertinya kami berada di bagian lain dari hutan. “Dia pasti sudah tahu aku berencana membangkitkan Matahani. Bagaimana bisa?! Aku sudah membangun benteng mantra untuk menutup jejak. Dasar pak tua sialan! Bagaimana caranya dia menemukanku!” Kanda berjalan mondar mandir tanpa arah. Sejak kecil setiap kali kebingungan dia selalu melakukan itu. “Mata-mata. Dia pasti memiliki mata-mata di dimensi ini. Sial! kenapa tidak terpikir olehku sebelumnya! Siapa abdi Warastra di dimensi ini? Anak-anak itu? Mungkinkah? Sial, aku harusnya membunuh mereka sejak awal! Aku harus segera membereskan mereka.” kata-kata Kanda begitu mengagetkanku. Selama ini dia adalah seorang kakak yang berhati lembut, aku tak percaya dia berencana membunuh orang lain. Ternyata Maha guru benar, Kanda Jalada sudah salah jalan. Tapi siapa anak-anak yang Kanda maksud? Kenapa dia malah bersemedi di sampingku bukannya pergi melakukan sesuatu, aku jadi tak bisa melarikan diri karenanya. Dalam kondisi seperti ini tak ada yang bisa kulakukan lagi selain rogosukmo. Aku masih belum menemukan jiwa Wulan, aku ingin mencobanya sekali lagi. Kupusatkan kembali konsentrasi, membayangkan wajah gadis titisan itu, dan memanggil namanya berulang-ulang dalam hati. Terus mengulanginya sampai mendapat balasan, sampai menemukan dimana jiwanya berada. Dalam proses itu, aku kembali melihat kepingan memori kehidupan Wulan. Wajah Semesta terus muncul, membawa kehangatan yang mengaliri tubuhku. Akhirnya aku sampai pada memori-memori terakhir sebelum dirinya diculik. Wulan dan kawan-kawannya terlibat dalam rencana Kanda. Semesta adalah perpanjangan maha guru Warastra, jadi yang akan disingkirkan oleh Kanda adalah mereka. Bahaya! Semesta dan kawan-kawannya dalam bahaya. Aku harus segera memperingatkan mereka. *** Di Sasalancana, raga Wulan berhasil diterima oleh Warastra dengan selamat melalui lubang dimensi yang dibuka oleh Indu. Dengan kekuatan Warastra dia berhasil mengembalikan jiwa Wulan dan membuatnya tersadar. “Dimana ini? Anda siapa?” tanya Wulan begitu membuka mata. “Saya Warastra, saat ini kamu ada pondok saya di Kerajaan Sasalancana.” jawab Warastra. “Sasalancana? Saya.. saya baru saja diculik. Bulannya menghilang, lalu tiba-tiba ada seorang pria. Di.. dia menyekap saya di sebuah gubuk. Lalu.. lalu.. lalu saya tidak ingat apa-apa lagi. Ada apa ini? Dimana saya sebenarnya? Teman-teman saya bagaimana?” Wulan panik dan kebingungan. “Tenang nak. Tenang. Sekarang dirimu sudah aman. Jika kau ingin tahu apa yang terjadi, ini, pegang tanganku. Aku akan memperlihatkannya” Warastra mengulurkan tangannya, membuat Wulan semakin bingung. Memperlihatkan sesuatu dengan memegang tangannya? Apa maksudnya? Tapi karena wajah Warastra tampak serius, Wulan memberanikan diri menyentuh tangan yang terjulur itu. Begitu kulit mereka bersentuhan, Wulan langsung terseret masuk ke dalam cuplikan memori Warastra. Dia melihat kelebatan memori seperti film. Tentang Jalada, Indu, dan kawan-kawannya. Waktu yang terlewat selama dirinya diculik baru beberapa hari tapi banyak peristiwa sudah terjadi termasuk keadaan kawan-kawannya yang kalang kabut mencari cara untuk menemukan keberadaannya. “Saya harus segera memberitahu Semesta kalau saya baik-baik saja.” kata Wulan setelah kembali dari memori Warastra. “Kau tak perlu merisaukan hal itu. Di sana ada Indu, dia yang akan mengurus sisanya.” jawab Warastra. “Tapi, saya harus kembali ke dunia saya tuan. Saya tidak bisa terus berada di dunia ini.” pinta Wulan. “Saat ini duniamu sedang ada dalam bahaya. Kalau kau kembali ke sana sekarang, kau hanya akan menambah beban pada mereka. Bersabarlah.” kata Warastra pada Wulan. Dia lalu mengeluarkan sebuah benjana air yang terbuat dari tanah liat. “Kau bisa melihat apa yang terjadi di sana melalui benjana ini. Kau hanya perlu menyebut dalam hati nama orang yang ingin kau lihat dan ia akan muncul pada permukaan air ini. Cobalah.” Warastra mendekatkan benjana itu pada Wulan. Setengah tak percaya Wulan ragu-ragu tapi tetap membisikkan sebuah nama dalam hatinya. Perlahan muncul cahaya dari dasar benjana. Seperti proyektor, benjana itu menampilkan gambar Semesta, Samudra, Layung, dan Pijar sedang berada di dalam rumah bersama dengan beberapa orang lainnya. Wajah Wulan berubah air mukanya, dia tampak sumringah sampai tak sadar mulutnya ternganga gembira. Ia yang awalnya tak percaya sudah tak peduli lagi dengan gagasan itu begitu melihat wajah kawan-kawannya tampak hidup dalam benjana tanah liat itu. “Apa ini live? Maksudku benjana ini menunjukkan apa yang sekarang sedang terjadi di sana, kan? Saat ini juga?” tanya Wulan. “Ya, air ini seperti cermin yang memantulkan gambar dari dimensimu secara langsung. Inilah yang saat ini sedang terjadi di sana.” jawab Warastra dibalas dengan senyum sumringah Wulan. “Ya Tuhan, aku sangat merindukan mereka. Syukurlah mereka semua baik-baik saja.” sambil berkaca-kaca Wulan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. “Apa mereka juga bisa melihatku?” tanya Wulan kepada Warastra. “Tidak. Mereka tak bisa melihatmu tak juga bisa mendengar suaramu.” jawaban Warastra sedikit membuat Wulan kecewa. “Apa aku juga tak bisa mendengar percakapan mereka?” tanya Wulan lagi. Warastra diam sejenak. “Kenapa kau sangat ingin tahu? Tak ada yang bisa kau lakukan meskipun kau bisa mendengarnya di sini.” kata Warastra kemudian. “Tuan Warastra, aku sangat mengkhawatirkan mereka. Hanya mereka yang aku miliki di dunia ini. Aku mohon kau pasti bisa melakukan sesuatu untukku.” pinta Wulan lagi. “Nak, dengan mengetahuinya kau akan semakin khawatir. Percayalah pada kawan-kawanmu, percayalah pada Indu.” jawab Warastra. Ia lalu pergi meninggalkan Wulan, menuju satu bilik di pondoknya lalu memulai meditasi. Wulan tak berhenti memandangi benjana pemberian Warastra. Dia melihat Samudra dan Layung saling hantam, wajah Semesta dan Pijar kebingungan, mereka semua kelelahan. Apa yang bisa kulakukan untuk kalian? Aku tak bisa cuma diam di sini, aku harus mencari cara untuk kembali. Wulan lalu mengintip ke bilik tempat Warastra berada. Dia duduk bersila seperti sedang bersemedi. Ia lalu pergi keluar dari pondok. Dilihatnya lingkungan sekitar pondok itu, hanya hutan. Ada sebuah jalan setapak tapi jalannya menuju ke dalam hutan yang lebih rimbun. Aku harus mencari jalan keluar. Diam saja di tempat ini tak ada bedanya dengan menjadi tawanan.Ia lalu meniti jalan setapak itu dengan bergegas. Saat sudah memasuki hutan, tiba-tiba telinganya mendengar suara gema. “Wulan.. Wulan.. Jawablah panggilanku..” sekujur badan Wulan merinding, bukan hanya karena tak terlihat ada sosok yang mengeluarkan suara itu tapi karena suara itu terdengar familiar, suara itu seperti suaranya sendiri. “Wulan.. Wulan..” suara itu terdengar lagi. Menggema, suaranya berkejaran satu sama lain. Wulan ketakutan, ia menutup telinganya rapat-rapat. Kenapa aku mendengar suaraku sendiri? Kenapa aku memanggil diriku sendiri?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN