Bab 25 – Sabotase

1847 Kata
              Awalnya aku berniat untuk memanggil Wulan, tapi setelah mengetahui Kanda Jalada membuat rencana untuk menghabisi Semesta dan kawan-kawannya, aku segera beralih memanggil Semesta. Tak seperti saat pertama kali aku terhubung dengan Semesta, kali ini aku malah tak berhasil menemukannya. “Indu..” aku mendengar suara maha guru Warastra memanggilku. “Maha guru, Kanda berusaha untuk menyingkirkan Semesta dan kawan-kawannya. Kau harus menyelamatkan mereka maha guru.” pintaku melalui telepati. “Indu, tak ada yang bisa kulakukan. Aku sudah menggunakan semua kekuatanku untuk membantumu masuk ke gubuk Jalada. Aku butuh waktu untuk mengembalikan kekuatan. Saat ini hanya kau yang bisa menghentikan Jalada.” kata maha guru Warastra. “Baik, maha guru. Saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa.”               Sebelumnya aku berencana untuk menghentikan pertumbuhan Matahani dan menghancurkannya dari dalam, tapi aku membutuhkan kekuatannya sekarang. Tak ada yang bisa menyelamatkan Semesta selain aku, tak ada cara lain aku harus melawan Kanda secara langsung. Saat itu juga kubuka mataku. Kanda Jalada masih bersemedi, ini kesempatanku untuk menyerangnya saat ia lengah. Dengan kekuatan Matahani yang ada dalam diriku, aku menyerang Kanda sekuat tenaga. “Indu, Akhirnya kau bergerak juga. Aku tahu ini dirimu! Kau pikir aku tak bisa merasakan keberadaanmu?” Kanda Jalada menangkis seranganku dan langsung balik menyerang. Api membara di sekelilingku. Aku terkepung. “Apa Warastra yang mengirimmu kemari? Beraninya kau Indu! Kau menghianatiku! Kakakmu sendiri!” Kanda Jalada menambah besar api yang mengerubungiku. Kulepaskan kekuatan Matahani, hujan mendadak turun dengan derasnya memadamkan api yang tadi mengerubungiku.               Tapi tidak berhenti di situ, semburan api kembali keluar dari tangan Kanda. Api yang tadi padam kini kembali menyala lebih besar, membakar pepohonan di sekitarku membuatku semakin terpojok. Panas dan asap dari api membuatku sulit bernafas. Kuarahkan kedua tanganku ke hadapan Kanda Jalada, dengan segenap tenaga kukerahkan kekuatan untuk menyerangnya. Kanda pun tak tinggal diam, dia arahkan tangannya padaku untuk menahan seranganku. Lagi-lagi dari tangannya keluar semburan api sedangkan Matahani mengeluarkan cahaya ungu menyilaukan. Beberapa saat kekuatan kami beradu, menciptakan percikan lava dari dua kekuatan yang bertubrukan. Matahani masih belum sempurna, kekuatannya belum sepadan dengan Kanda Jalada. Aku terdorong mundur sedikit demi sedikit. Lalu terpental mundur begitu kekuatan Matahani lenyap. “Kanda! Sadarlah! Kanda sudah salah jalan! Apa yang hendak Kanda lakukan dengan Matahani? Kanda tak boleh melawan sang candra! Kumohon sadarlah Kanda!” aku memohon dengan setulus hati. Aku sungguh tak mau kakakku tersesat dan mendapat hukuman oleh sang candra. “Aku melakukan ini semua demi kebaikan Sasalancana, Indu! Demi kita semua! Warastra berencana untuk membawa kekuatan suci bulan mati bersamanya. Ia tidak berencana untuk melindungi Sasalancana.” Kanda Jalada mengatakannya dengan hati-hati. “Tidak mungkin! Kekuatan itu milik sang candra, Kanda. Maha guru tak mungkin melakukan itu tanpa kehendak sang candra.” “Apa kau mendengarnya sendiri dari Warastra? Apa Warastra pernah menjelaskan padamu bagaimana cara menyelamatkan dimensi ini? Dimensi kita? Tidak? Tidak, kan!” Benar, maha guru memang tak pernah menjelaskan apa pun padaku. Maha guru selalu seperti menutupi sesuatu. “Itu karna dia memang tak pernah ingin menyelamatkan kita, Indu! Warastra memang ingin kejayaan hilang dari Sasalancana. Iya ingin Sasalancana berhenti bergantung pada kekuatan bulan dan membiarkannya runtuh di kakinya sendiri!” “Tak mungkin.. Tak mungkin Kanda..” aku terkejut dengan apa yang barusan kudengar. Bila melihat apa yang terjadi pada Sasalancana belakangan ini memang segalanya menjadi sulit sejak kekuatan suci bulan diturunkan pada maha guru Warastra. Tapi mungkinkah maha guru berniat sejahat itu? “Percayalah padaku Indu. Ikutlah denganku. Kita berdua bisa memiliki Sasalancana bersama-sama. Kita akan hidup damai dan makmur di Sasalancana dengan Matahani. Dunia kita akan kembali indah seperti dulu Indu.” Kanda mengulurkan tangannya padaku. Api di hadapanku mengecil, membuka jalan untuk Kanda Jalada mendekatiku. “Kanda, sejak kecil Kanda memang selalu menjadi kakak yang melindungiku. Menjagaku dan keluarga kita.” kuulurkan tanganku untuk menyambut Kanda Jalada. Tak terasa air mataku menetes. “Benar. Aku hanya ingin kalian semua hidup dengan baik, dengan nyaman dan aman Indu.” Kanda mempercepat jalannya, sedikit lagi hingga tangan kami saling bertaut. “Tapi maafkan aku Kanda. Aku tak bisa menolongmu.” segera kuraih tangan Kanda dan kubuka jalan menuju dimensi kami. “Kita kembali Kanda. Ayo kita pulang.” kurengkuh tubuhnya lalu kujatuhkan tubuh kami ke lubang dimensi menuju Sasalancana. “Tidaaakkkk! INDU!!” tiba-tiba Kanda meronta dan mengeluarkan cahaya panas dari sekujur tubuhnya. Badanku terbakar, kulitku yang terkena sinar oranye itu melepuh. Kanda melepaskan diri dari cengkramanku. Dia lari menggunakan lubang dimensi lain dan aku terjatuh penuh luka di tempat yang tidak seharusnya aku berada. ***               Warastra kembali dari semedinya. Meski ia berniat untuk membantu Indu melepaskan diri dari Jalada tapi nyatanya kekuatan bulan yang ia miliki sudah pada batasnya. Bulan tak hanya hilang di dimensi sana, tapi bulan juga tak muncul di Sasalancana. Itu berpengaruh pada banyak hal. “Oh, sang candra, apakah ini benar? Segalanya terasa keliru saat ini.” Warastra berbisik pada dirinya sendiri, mempertanyakan tindakan yang hanya mengikuti kehendak sang candra seperti robot. Warastra merasa mengirim Indu ke dimensi sana adalah hal yang salah, bagaimana pun dia sadar dialah yang bertanggung jawab membawa Jalada kembali ke jalan yang benar. Tapi sang candra memiliki rencana lain, dirinya tak diizinkan untuk meninggalkan tanah Sasalancana demi alasan apapun. Warastra tak boleh turun tangan sampai batas tertentu. Sang candra sudah memberi perintah. “Tak ada titah yang lebih penting dari kehendak sang candra. Aku harus melakukannya. Aku tak boleh goyah.” Warastra menguatkan diri untuk kembali melanjutkan meditasi. Kini ia harus memanggil Semesta untuk menyelamatkan Indu. Tapi tiba-tiba dirinya merasakan ada yang hilang, pondoknya terasa kosong. “Tunggu, gadis itu menyelinap pergi.” Warastra bergegas bangun dan menuju tempat Wulan berada. Wulan tak tahu dimana saat ini ia berada. Hutan di sekeliling pondok Jalada adalah hutan keramat. Hutan itu dijaga oleh sihir sang candra yang akan mengirim sinyal pada Warastra bila ada seseorang yang menerobos masuk maupun keluar. Seseorang yang berniat buruk akan langsung disesatkan dalam hutan itu. Seseorang bisa tersesat tak hanya berputar-putar dalam hutan itu tapi juga bisa berpindah ke dimensi lain melalui ikatan antar dimensi yang terhubung dengan hutan itu. Dalam kasus ini, Wulan tidak punya niat buruk pada siapa pun. Dia masuk ke dalam hutan dengan tujuan untuk membantu kawan-kawannya yang berada dalam bahaya. Warastra yakin alih-alih menyesatkan Wulan, hutan itu justru membuka jalan bagi Wulan untuk kembali ke dimensinya. Dimana itu justru lebih berbahaya daripada tersesat di dalam hutan. “Jika Wulan menemukan jalan pulang, Purnama Ketiga bisa bangkit. Itu akan merusak tatanan dunia yang sudah dibangun sampai saat ini.” gumam Warastra sambil terburu masuk ke dalam hutan. ***               Suara yang dari tadi memanggil-manggil namaku sudah berhenti bergema. Hingga suara itu diam pun aku masih tak menemukan sosok yang mengeluarkan suara itu. Aku tak boleh tertahan di sini, aku harus segera menemukan jalan untuk pulang. Aku harus bertemu dengan Semesta segera. Aku melanjutkan perjalananku meniti jalan setapak di hutan ini. Tak ada waktu lagi, aku harus segera pulang. Aku berlari menerobos semak dan pepohonan, mengikuti kata hatiku menuntunku untuk pulang. Hanya satu yang kuyakini benar dan terus kuucapkan berulang-ulang dalam hati, aku harus pulang menemui Semesta – Aku harus pulang menemui Semesta – Aku harus pulang menemui Semesta! Brukk!!! Kakiku tersandung akar pohon. Badanku terjatuh di sebuah jalanan menurun, tepat beberapa senti sebelum kepalaku terantuk bebatuan cadas. Aku segera bangun dan melanjutkan jalan, mengikuti jalan batuan yang ternyata menuntunku pada sebuah goa. Begitu memasuki mulut goa, aku tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda. Atmosfer dalam goa ini tidak sama dengan hutan yang tadi kulalui. Goa ini tampak biasa saja. Ujungnya buntu hanya ada satu pintu untuk masuk dan keluar. Atasnya terbuka memperlihatkan pepohonan yang akarnya menjulur sampai ke bawah. Entah aku kerasukan apa, rasanya aku ingin sekali meneriakan nama Semesta dan kawan-kawanku dalam goa ini. “Semestaaa! Samudraaa! Layunggg! Pijarrr! Apa kalian dengar aku? Semestaaa! Samudraaa! Layunggg! Pijarrr! Kalian dimana? Taaa! Sammm!! Halooo! Layungggg! Apa ada yang bisa mendengarku? Pijarrrr!” aku berteriak sekuat tenaga sampai tenggorokanku kering tapi tak juga kudengar jawaban. “Taaa.. Semestaaa.. Kumohon jawab aku. Sammm.. Samudraaa! Layungggg Pijarrrrr! Heiiiii kalian dimana?” sudah beberapa menit aku tak berhenti memanggil nama mereka. Tak kuhiraukan rasa letih di kakiku, kuacuhkan gemetar di sekujur tubuhku. Aku takkan kehilangan harapan. Aku yakin mereka akan menjawabku, entah bagaimana caranya. “Taaaa Semestaaa! Samm Samudraaa! Jawab aku!! Yunggg Layungg! Jarrrr Heiii!!!” kuambil sebongkah batu lalu kulempar ke dinding goa ini.   Suara batu yang terpantul menabrak dinding goa membuat gaung super kencang yang getarannya sampai membuat dadaku risih. Suaranya lebih kencang dari yang aku perkirakan. “Wulan? Wulannn? Apa itu kau?” setelah gaung itu berhenti aku mendengar suara Samudra dari luar goa. “Sam? SAMMMM!!! Aku di sini, di dalam goa! Sammm! Kau dengar aku?” serta merta tubuhku dialiri kekuatan dan semangat begitu aku mendengar suara Samudra di luar sana. “Laannn!! Wulannn!! Tunggu! Tunggu kami ke sana!” sekarang suara Layung yang menjawab. Aku tak pernah merasa sebahagia ini, aku melompat-lompat seperti anak kecil mengetahui mereka akan segera menyusulku. “Yungg! Saammm!” tak sadar aku meneteskan air mata, suaraku parau meneriakan nama mereka. “Wulan! Ya Tuhan kau selamat!” Samudra muncul dari mulut goa, tempat yang sama dimana aku masuk tadi. Sam langsung memelukku, disusul oleh Layung dan Pijar. Kami menangis dalam pelukan bersama-sama seperti sekian lama tak bertemu. “Ya Tuhan, Lan! Kami terus mencarimu selama ini! Kemana saja kau?” Samudra mengatakannya tanpa melepas pelukan kami, aku masih mendengar isak tangis dalam suaranya. “Iyaaa, kami khawatir setengah mati Lan! Kami takut kau terluka.” Layung juga ikut menambah erat pelukannya. “Apa yang kamu lakukan di sini, Lan? Apa selama ini kamu disembunyikan di dalam sini? Kami sudah pernah ke sini sebelumnya, tapi tak berhasil masuk ke dalam goa. Syukurlah kali ini kami mendengar suara teriakanmu.” Pijar juga masih memeluk kami erat. “Kita harus segera pergi dari sini. Di sini bahaya. Ayo!” aku teringat pada tuan Warastra. Dia melarangku untuk kembali ke sini. Dan terakhir aku bertemu dengannya aku melarikan diri saat dia bersemedi. Akan gawat bila ia menemukanku dan membawaku kembali ke pondoknya.               Aku melepaskan pelukan mereka dan segera berlari keluar goa melalui pintu yang sama yang tadi kupakai untuk masuk ke goa ini. Lalu kusadari, hutan ini berbeda dengan yang tadi baru saja kulalui. Aku menoleh ke arah Sam di belakangku, mereka menungguku untuk bergerak. Benar, mereka juga tak mungkin ada di hutan Sasalancana. Aku sudah menyebrangi dimensi. Goa ini terhubung dengan Sasalancana. “Kenapa, Lan?” Sam bertanya karna aku tak kunjung bergerak. “Gak, Gak apa-apa. Aku cuma bingung. Aku gak tahu jalan, gimana caramu sampai ke sini, Sam?” kataku pada Samudra. “Ayo, ikuti aku. Yung, Jar, cepet jangan sampai kepisah.” Sam menggandeng tanganku, menuntunku keluar dari hutan ini. Tangannya sangat hangat, entah sudah berapa lama aku terpisah dari mereka semua. Hatiku merasa sangat rindu, air mataku tak terbendung. Aku tak ingin berpisah lagi dengan mereka. “Sam, Semesta mana?” aku bertanya setelah merasa cukup jauh dari goa. “Nanti aku ceritain, kita keluar dulu dari hutan.” jawab Sam masih dengan menggandengku diikuti oleh Layung dan Pijar di belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN