Setelah kami mendapat informasi dari Simbah Pijar, aku tidak bisa menunggu lagi untuk bertindak. Aku harus segera menemukan Wulan. Dia bilang dia akan segera menemuiku. Di mana?
“Kita mau kemana?” tanya Pijar setelah kami berempat masuk ke mobil.
“Ke hutan yang waktu itu. Kita coba sekali lagi masuk goa itu, Jar.” jawabku spontan tanpa berpikir.
“Hah?! Kenapa ke sana?” Pijar urung menyalakan mobil.
“Gak tau, pokoknya ke sana aja dulu.” jawabku berkeras untuk segera berangkat.
“Ta, kamu gak inget terakhir kita ke sana apa yang terjadi? Belum lagi hutan itu luas banget, gimana mau nemuin Wulan di sana?” Pijar lagi-lagi membuat alasan.
“Jar! Kita gak punya waktu, cepet jalan!” aku sudah kehabisan kesabaran, kubentak Pijar untuk membuatnya menurutiku.
“Sam? Yung? Gimana?” Pijar meminta persetujuan pada yang lain.
“Udah turutin aja. Jalan dulu, Jar.” Layung memberikan persetujuannya.
Akhirnya mobil bergerak menuju hutan itu. Perjalanan dari rumah Pijar ke hutan membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Masih ada waktu untuk mencoba. Kututup mataku dan merilekskan tubuh untuk tidur. Bagaimana caranya? Bagaimana cara menyebrang ke sana? Ayo Ta, kamu harus segera menemukan Wulan. Ayo berpikir, temukan Wulan, Wulan.. Wulann.. Aku bukan Wulan kangmas, aku Indu. Tiba-tiba aku teringat suaranya, teringat wajahnya, teringat pertemuanku dengan Indu. Indu.. Indu.. Dimana kau..
“Kangmas Semesta? Apa itu kau?” mendadak aku mendengar suaranya, jelas sekali seperti ada di depan mataku. Aku terkejut dan langsung membuka mata. Sial! Aku masih di dalam mobil. Padahal tadi sudah hampir berhasil.
“Kenapa, Ta?” Samudra mengawasiku.
“Gak. Gak apa. Bangunin aku kalau sudah sampai, Sam.” kataku lalu kembali kututup mata.
“Indu.. Indu.. Apa kau dengar aku?” kumulai lagi proses tadi dari awal. Kucoba untuk mengingat kembali sosok indu yang kutemui. Lalu memanggil namanya berulang-ulang. Aku harus setenang mungkin, harus ada dibatas tidur dan sadar.
“Indu.. Jawab aku..” aku mengulang panggilanku.
“Mas Semesta..” akhirnya Indu menjawabnya.
“Indu.. Iya, ini aku Semesta. Indu dimana kau? Saat ini kau ada dalam bahaya.” aku berbicara secepat mungkin, aku takut aku akan kehilangan ia lagi.
“Kangmas.. Buka matamu..” kata Indu dengan suara yang lemah.
“Tidak, nanti aku kehilanganmu lagi. Cepat, sebutkan saja dimana kau sekarang.”
“Buka matamu kangmas.. Aku ada di sini.” aku merasakan sentuhan lembut di pipiku. Kuberanikan diri untuk membuka mata perlahan.
“Indu! Apa yang terjadi?” aku melihat Indu terbaring di atas rumput penuh luka. Badannya lemah tak bertenaga.
“Kangmas, kau dan teman-temanmu dalam bahaya. Kanda Jalada hendak menyingkirkan kalian. Kau harus menyelamatkan diri.” Indu yang penuh luka seperti ini masih saja mengkhawatirkan aku.
“Apa ini perbuatan Jalada? Apa Jalada yang menyakitimu Indu?” Indu hanya diam.
“SIALAN!!! Akan kuhabisi b******n itu!” kutinju tanah berumput di kakiku dengan keras. Darahku mendidih melihat Indu berlumuran darah.
“Kangmas, pergilah ke tempat yang aman. Saya akan di tempat ini sementara waktu untuk memulihkan diri. Kita akan bertemu lagi secepatnya.” kuarahkan pandanganku ke sekitar. Aku berada di dalam hutan. Tempat ini tampak asing tapi di kejauhan aku melihat pohon tinggi yang familiar di mataku.
“Kangmas! Bawa teman-temanmu pergi ke tempat yang aman. Kanda Jalada sedang mengejarmu! Cepat!” Indu mendorong tubuhku. Badanku seperti terpental jauh sampai kembali pada ragaku yang ada di mobil. Aku tersentak bangun, lagi-lagi Samudra melihatku dengan awas.
“Ta?!” Sam menunggu penjelasan.
Jalada mengejar kita, dia hendak menyingkirkan kita. Indu terluka dan dia ada di tempat itu sendirian. Apa yang harus kulakukan? Tak ada tempat yang aman untuk kami. Dan aku tak bisa membiarkan Indu di sana terlalu lama.
“Ta?!” Sam bertanya sekali lagi karna aku masih terdiam.
“Jar, berhenti sebentar.” kataku pada Pijar.
“Kenapa, Ta?” tanya Pijar sambil meminggirkan kendaraan.
“Kita berpencar dari sini. Kalian bertiga balik ke rumah Pijar. Cari Kitab Purnama Ketiga di kamar kita semalam atau dimana pun di dalam rumah Pijar.” aku memberi arahan sambil membereskan barang-barangku yang ada di mobil.
“Terus kamu?” tanya Layung kemudian.
“Ada yang harus kulakukan. Jangan buang waktu, pergi sekarang juga.” aku bergegas keluar mobil dan segera menaiki bus umum yang kebetulan berhenti di belakang mobil kami.
“Ta! Hei! Ta!” dari ambang pintu bus, aku melihat Layung keluar dari mobil dan berusaha mengejar bus yang kutumpangi. Mereka akan baik-baik saja di rumah Pijar. Di sana ada simbah yang akan melindungi mereka. Aku harus segera menemui Indu, dia terluka parah.
***
“Gimana ini? Kita balik?” Pijar bertanya pada Layung dan Samudra yang sudah kembali masuk ke dalam mobil.
“Kita cari kitab itu.” jawab Samudra.
“Terus Semesta? Kamu mau biarin dia pergi sendirian seperti ini? Kita harus ikuti bus itu, Jar!” Layung menunjuk arah bus itu menghilang.
“Semesta ingin kita menemukan kitab itu, Yung! Jar, kita balik ke rumahmu, sekarang!” Samudra meneriaki Pijar yang jadi semakin bingung.
“Gimana ini? Ikutin bus apa pulang?” Pijar memastikan sekali lagi sebelum menginjak gas.
“Pulang!” Samudra menjawab dengan segera. Pijar langsung memutar haluan kembali ke rumahnya.
“Oke oke, rileks. Kita pulang sekarang. Tapi mana mungkin kitab itu ada di rumahku.” Pijar mengatakannya sambil menyupir.
“Segalanya mungkin, Jar.” kata Samudra.
“Turunkan aku di sini, aku akan menyusul Semesta.” kata Layung tiba-tiba.
“Jangan gila, Yung. Bus tidak lewat setiap saat.” Pijar menambah laju kendaraan.
“Kita harus menemukan Kitab itu, Yung. Kamu dengar sendiri apa kata Simbah. Semesta bisa mengurus dirinya sendiri.” Samudra menepuk pundak Layung sambil menatapnya penuh arti.
Layung berhenti ngotot untuk turun dari mobil. Sekarang ia membuka dashboard mobil dan mulai mengobrak-abrik isinya. Semesta meminta kita untuk mencari kitab di rumah Pijar, lalu ia pergi memisahkan diri, pasti telah terjadi sesuatu. Begitu pikir Layung. Benarkah kitab itu ada di rumah Pijar? Atau Semesta hanya ingin kita mengawasi Pijar. Pikiran Layung masih belum mau berhenti, begitu juga tangannya yang mulai meraba-raba bawah kursinya. Bus itu mengarah ke hutan, dia berniat masuk ke hutan sendirian. Sekarang tangan Layung pindah mengacak-acak isi tas pinggang miliknya sendiri. Samudra dan Pijar saja sudah cukup untuk mencari kitab itu di dalam rumah.
“Kamu cari apa sih, Yung?” Pijar yang dari tadi mengawasi ikut geram dengan tingkah Layung.
“Handphoneku. Aku lupa dimana ponselku.” jawab Layung.
“Mungkin ketinggalan di kamar. Bentar lagi kita sampai, sabar.” kata Pijar sambil membelokkan mobilnya masuk ke dalam gang kampung. Tangan Layung tak berhenti mencari sampai mereka tiba di rumah Pijar
Mereka bertiga melompat turun dari mobil begitu kunci terbuka. Samudra dan Pijar langsung menuju kamar tempat mereka tidur semalam. Layung berhenti di meja makan. Ia mengambil kunci mobil yang diletakkan Pijar di atas meja lalu membuka bagasi dan mulai membongkar isi tas satu per satu. Hari itu di pulau, aku dan Pijar yang bertugas membereskan barang-barang sebelum pulang. Aku ingat, Pijar menyuruhku menyisir pantai untuk mencari barang-barang kami yang terbawa badai. Sedangkan ia sendiri akan mempacking tenda dan barang-barang yang sudah ada. Saat itu Semesta pergi mengelilingi pulau dan Samudra masih melamun di pinggir laut. Timingnya terlalu mencolok. Layung sudah mengeluarkan semua isi tas carrier. Tenda, nesting, sleeping bag, hanya itu. Lalu tangannya kembali meraba-raba bagian dalam tas, di sela-sela gulungan matras Layung menemukan sesuatu yang basah. Tepat! Ini dia. Layung membereskan kembali isi tas, merapikannya, lalu segera masuk kembali ke dalam rumah. Kunci dikembalikan ke tempatnya, ia lalu menyusul Sam dan Pijar masuk ke kamar.
“Sudahlah, kitab itu tak mungkin ada di sini. Ayo kita susul Semesta ke dalam hutan. Dia pasti sengaja ingin masuk ke hutan itu sendirian.” kata Layung pada Pijar dan Samudra yang tengah sibuk mengeluarkan isi lemari pakaian.
“Yung, kalau kamu gak mau bantu mending diam saja di pojokan.” Samudra mengacuhkan Layung dan tetap menyibukkan diri mencari dalam lemari. Layung mendekati Sam.
"Sam!" kata Layung sambil menepuk pundak Sam dan menatapnya dalam-dalam. Mereka berdua saling bertatapan untuk sekian detik. Pijar menghentikan gerakannya, menatap mereka berdua dengan tatapan jijik.
“Anjir, kalian kenapa sih? Najis!” Pijar memalingkan kepalanya.
“Jar! Kita harus pergi sekarang. Semesta bisa aja dalam bahaya.” kata Layung pada Pijar.
“Arghhh!!! Terserah terserah. Disuruh balik aku balik, disuruh ke hutan ya udah ayo. Terserah!” Pijar menjatuhkan diri di lantai lalu duduk bersandar tembok.
“Ayo Sam! Tunggu apa lagi?” ajak Layung.
“Aaaahh! Ayo Jar!” Sam membanting kaos yang dipegangnya ke lantai lalu berjalan keluar.
Mobil langsung melaju ke arah hutan. Kali ini tak ada satu pun yang bicara. Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Matahari bersinar terik, udara kering bercampur debu dan asap knalpot menemani sepanjang jalan. 30 menit berlalu, mobil berhenti di tempat yang sama terakhir mereka ke sana. Layung, Pijar, dan Samudra turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam hutan dengan satu kode anggukan. Semesta pasti pergi ke goa itu. Pikir Samudra sambil membelah semak belukar yang sudah lebat kembali. Apa kali ini kita bisa masuk ke dalam goa? Memuakan! Mereka semua memuakkan! Samudra memimpin jalan diikuti Layung dan Pijar di belakang. Kali ini mereka tak bertemu halangan apapun di jalan. Hutan selalu sunyi, kadang terdengar suara tonggeret, kadang gemerisik angin menabraki dahan pohon memecah keheningan. Tak ada kuntilanak apalagi pocong muncul di siang bolong. Mereka sampai di tebing batu padas lebih cepat daripada malam itu. Sebentar lagi terowongan akar. Batin Layung dalam hati.
“Sam.. Samudra.. Kalian dimana?” sayup sayup terdengar suara teriakan perempuan. Samudra menghentikan jalan, menajamkan pendengaran.
“Kalian denger juga gak?” tanya Samudra.
“Denger apaan?” tanya Pijar.
“Sssttt..” Layung menempelkan jarinya ke bibir, memberi kode untuk diam. BRAAKKK! Terdengar suara sesuatu jatuh dengan sangat keras.
“Heh, apa itu?” tanya Pijar kaget.
“WULANNN..” teriak Samudra ke arah suara benda jatuh tadi.
“Wulannn.. Wulann.. Apa itu kau?” Samudra berteriak kembali sambil berlari ke arah terowongan akar.
“Sammm.. Samudraa.. aku di sini... di dalam goa! Sammm! Kau dengar aku?” kali ini suaranya terdengar jelas dan dekat.
“Itu suara Wulan!” teriak Pijar dengan gembira. Mereka mempercepat langkah segera memasuki terowongan akar.
“Laannn.. Wulannn.. Tunggu.. Tunggu kami ke sana!” teriak Layung tak kalah gembira.