Aku tahu dimana Indu berada, aku bisa merasakannya. Bus ini melaju ke arah yang benar. Sebentar lagi aku akan tiba. Semoga Indu masih bisa bertahan di sana. Bila Jalada tiba-tiba muncul dan menyerang kami, hanya ini yang aku miliki. Barang ini memiliki kekuatan Warastra, satu-satunya senjataku.
“Kiri mas!” kuteriakkan pada kernet bus yang lalu membuat bus berhenti ke pinggir. Aku berbegas turun dan langsung masuk ke dalam hutan. Jalan ini bukan jalan yang pernah kulalui bersama Pijar dan yang lain. Hutan yang sama tapi di bagian yang berbeda. Tak ada jalan setapak yang bisa kuikuti, aku murni mengikuti perasaan. Membuka jalur sendiri, berarti banyak yang harus kuwaspadai. Termasuk apa yang saat ini ada di hadapanku. Baru beberapa menit berjalan aku langsung berpapasan dengan seekor babi hutan di siang bolong. Aku tak menyadari ada seekor babi besar di depan semak yang kusingkirkan. Dua taring di kanan kiri moncongnya menunjukkan binatang ini siap bertarung. Tapi saat ini kami hanya saling pandang dan mematung.
“Saya harus menyelamatkan Indu. Dia terluka dan dalam bahaya. Ijinkan saya lewat.” tentu aku sudah gila mengajak bicara seekor babi hutan bahkan meminta izin padanya untuk lewat. Tapi ternyata ini berhasil. Babi itu mulai bergerak, bergeser beberapa langkah dari tempatnya berdiri, seperti memberi jalan untukku lewat. Aku berjalan dengan perlahan agar tak membuatnya kaget. Begitu berhasil melewatinya aku menengok ke belakang, babi itu kembali ke tempatnya semula. Dia sengaja menjaga jalanan ini.
Aku berlari secepat mungkin meninggalkan babi itu. Indu sudah dekat, aku ingat dengan tempat ini. Pohon besar ini sama dengan yang kulihat bersama Indu.
“Induuu!” kuserukan namanya untuk memastikan posisi gadis itu.
“Kangmas! Pergi! Jangan kesini!” suara Indu terdengar panik melarangku untuk menghampirinya. Tapi justru itu membuatku semakin ingin menemuinya. Jalada pasti sudah menemukan Indu. Akan kuhabisi b******n itu.
“Indu!” kusibak semak belukar yang cukup lebat. Di sana kulihat Jalada mencekik Indu dan menjadikannya tameng memamerkannya padaku.
“Ternyata kaki tangan Warastra di dimensi ini adalah kau. Tak kusangka selama ini aku melewatkanmu. Tapi tak mengapa, sekarang aku tak perlu susah payah mencarimu, kau sendiri yang menyerahkan diri padaku. Kini hadapilah kematianmu.” Jalada mengarahkan satu tangannya yang bebas kepadaku. Api menyembur keluar dari tangannya dan langsung menyerbuku. Ku jatuhkan tubuhku ke samping.
“KANGMAS!!! LARI!! Cepat pergi dari sini!” teriak Indu dalam cengkraman Jalada.
“Tidak Indu! Aku takkan kemana-mana tanpamu!” seruku sambil bersembunyi di balik pohon menghindar dari serangan Jalada.
“Jangan pedulikan aku, Kanda Jalada tak akan menyakitiku. Pergi kangmas! PERGI!” Indu tidak berusaha melepaskan diri dari Jalada, dia hanya terus menyuruhku pergi.
“Apa maksudmu? Dia menyerangmu hingga penuh luka Indu!” kataku sambil bergerak mendekati Jalada dan Indu secara diam-diam di balik pepohonan.
“Tidak, dia takkan melukaiku. Dia adalah kakakku. Maafkan aku kangmas.” aku menghentikan langkahku.
“Apa? Tidak mungkin! Omong kosong apa itu!” Jalada kembali menyerangku saat aku lengah. Serangan api Jalada berhasil mengenaiku kali ini. Aku terjerembab ke belakang. Tangan kiriku terbakar. Segera aku berguling di tanah untuk memadamkan api yang melalapku sampai pundak.
“AAAAAAA, SEMESTAAA!!! KANDA! Kumohon lepaskan dia. Aku akan mengikuti kehendakmu, aku akan melahirkan Matahani, tapi kumohon jangan lukai Semesta.” sekarang Indu memohon pada Jalada dan dibalas dengan seringai licik oleh Jalada.
“Apa kau mau bersumpah melakukannya, adikku? Kau akan menurutiku dan takkan kabur lagi?” tanya Jalada pada Indu yang masih berlutut di kakinya.
“TIDAAAKK! Hentikan Indu! Kau bisa mati bila melahirkan Matahani!” kurogoh kantong celanaku. Dengan seluruh tenaga, aku menyerbu ke arah Jalada dengan menggenggam pisau lipat milik Layung. Kutusukkan pisau itu ke punggung Jalada yang masih membungkuk melihat Indu.
“AAARRGGGHH!” Jalada mengeram, terjatuh ke tanah. Segera kuseret Indu kabur bersamaku.
“IINDUUUU!!” terdengar jeritan suara Jalada di belakang.
“Cepat Indu, ikuti aku!” Indu masih menengok ke belakang. Kugenggam tangannya, kutarik agar ikut berlari mengikutiku.
“Indu! Cepat!” kataku lagi. Indu kini melihatku lalu mengikutiku berlari sembunyi di tengah hutan.
Kemana kami harus sembunyi? Apa Jalada mati? Jalada adalah kakak Indu? Astaga yang benar saja! Hari ini matahari terik sekali, udara kering berhembus seperti kami sedang ada di gurun pasir. Badanku terasa panas, nafasku terengah-engah. Tapi tangan Indu terasa dingin. Kami harus terus berlari. Sejauh mungkin dari Jalada. Hutan ini luas sekali, pasti ada tempat untuk sembunyi. Aku tak tahu kami sekarang ada di mana. Aku.. BRUKK! GUSRAKKK! Tiba-tiba semuanya gelap. Sepertinya aku tak sadarkan diri beberapa saat. Atau aku sudah mati? Jangan-jangan aku sudah mati. Tapi Wulan belum aman, kawan-kawanku juga belum aman. Rembulan masih menghilang dari langit. Jalada dan Warastra belum selesai berselisih. Dia masih berkeliaran di dimensi kami. Aku tak boleh mati sekarang. Aku belum boleh mati, aku tak bisa menyerah sekarang. Aku belum mati mati! Aku belum mau matiii!!
“Semesta! Kangmas Semesta!” aku mendengar suara Indu. Ahh, sekarang aku bisa merasakan badanku sakit di sekujur tubuh.
“Mas! Buka matamu! Kangmas kumohon sadarlah!” aku mendengan suara Indu lagi. Sepertinya dia menangis. Aku ingin membuka mataku, tapi rasanya berat sekali. Aku mengantuk.
“Semestaa jangan pergi.. jangan tinggalkan aku..” aku merasa Indu sedang memeluk tubuhku. Aku merasa ada tenaga mengalir hangat ke tubuhku melalui pelukan itu.
“Tidak, aku takkan pernah meninggalkanmu. Aku takkan bisa mati dengan tenang bila kau menangis seperti itu di sampingku. Jangan menangis lagi, aku di sini.” aku membuka mataku.
“Kangmas! Kupikir kau..” wajah Indu terlihat berantakan dengan lumpur di pipi dan di rambutnya.
“Aku takkan mati semudah ini. Apa kamu ingat pendakian pertama kita? Kita tersesat saat mendaki Gunung Merbabu. Waktu itu kita juga hampir mati. Kita kehabisan logistik, badan kita basah kuyup dan hujan deras masih tak mau berhenti. Membuat parit-parit kecil menambah licin jalur pendakian. Katamu kalau hari itu kita selamat kau tak akan mau kuajak masuk hutan lagi. Tapi sekarang aku malah membuatmu tersesat di dalam hutan lagi.” aku tak tahan untuk tersenyum.
“Melihatmu sekarang ada di sini, berarti kita selamat ya waktu itu? Bagaimana caranya kita selamat saat itu?” Indu bertanya sambil menyinari tubuhku dengan cahaya putih keperakan yang keluar dari kedua telapak tangannya. Dia menahan isaknya menutupinya dengan senyuman.
“Aku memaksa kalian semua berjalan. Tak peduli meski terpeleset berkali-kali. Pokoknya kita tidak boleh berhenti bergerak. Badanmu gemetar menggigil, gigimu bergemeretak setiap kali kau bicara. Aku menggandeng tanganmu seperti hari ini. Tanganmu juga terasa dingin hari itu, seperti saat ini. Tau-tau kita sudah ada di pos dua. Kita bertemu dengan pendaki lain dan kita diselamatkan. Aku yang mengajakmu mendaki, aku sudah membahayakan dirimu. Seperti saat ini..”
“Apa setelah itu kita benar-benar berhenti mendaki?” tanya Indu memotong kalimatku.
“Tidak. Beberapa minggu kemudian kau mengajakku mendaki gunung itu lagi. Waktu itu Layung mengajak serta beberapa teman pendaki yang sudah hapal jalur pendakian di sana. Kita berhasil sampai puncak dan kembali ke kosan dengan selamat.”
“Gadis pintar.” Indu tersenyum cantik sekali. Seperti rembulan di malam purnama. Suaranya teduh menentramkan.
“Kenapa kau mengajakku lagi? Katanya kau sudah tak mau masuk hutan? Apa itu karena aku?” tanyaku setelah beberapa saat sunyi.
“Karenamu?” tanya Indu sambil masih sibuk menyinari bagian tubuhku dengan cahaya dari telapak tangannya, sekarang ia sampai di betis kananku.
“Karena aku terus merasa bersalah pada kalian. Aku terus menyalahkan diriku karna sudah membuat nyawa kalian dalam bahaya. Aku terus meminta maaf sampai kalian bosan mendengarnya.” jawabku. Aku melihat ke sekeliling, sepertinya kami jatuh ke jurang yang tak begitu dalam.
“Tentu saja. Memang karena apalagi.” jawabannya membuatku tersenyum. Rasa sakit di tubuhku sudah sedikit berkurang, sekarang aku bisa menggerakkan lenganku. Cahaya dari telapak tangan Indu memberi efek menyembuhkan.
“Kemana saja kau selama ini? Aku sungguh khawatir saat kau terhisap ke dalam angin itu.” kupegang kedua pundak Indu, membuatnya berhenti dari apapun yang sedang dikerjakannya untuk menatapku.
“Aku tahu pasti banyak sekali pertanyaan yang ingin kau tanyakan kangmas. Tapi aku tak bisa menjawabnya. Biarkan aku menyembuhkan lukamu dahulu.” Indu menepis tanganku lalu melanjutkan kegiatannya. Aku sudah menduga dia akan menjawab seperti itu. Tak heran aku tak merasa kecewa.
“Kita jatuh ke dalam jurang ya, bagaimana caranya keluar dari sini.” gumamku sambil menoleh ke kanan dan kiri.
“Kita bermalam di sini. Kanda Jalada takkan bisa menemukan kita di sini.” kata Indu.
“Hah? Di sini? Tapi Samudra dan yang lainnya akan dalam bahaya kalau kita tak segera menyusul mereka ke sana.”
“Aku tak bisa membuka lubang dimensi saat ini. Tubuhmu juga penuh luka. Kita tak bisa melakukan apapun untuk mereka.” jawab Indu acuh.
“b*****t!” aku merogoh kantung celana untuk mencari ponsel. Masih utuh dan menyala, tapi tak ada sinyal. Aku tak bisa menghubungi mereka.
“Apa mereka akan baik-baik saja?” tanyaku.
“Kanda Jalada sudah tahu kalau dirimulah kaki tangan maha guru Warastra. Kurasa ia akan berhenti mengejar kawan-kawanmu sekarang.” jawab Indu.
“Aku merasa aneh dari awal. Kenapa kau memanggilku kangmas, memanggil Jalada Kanda, dan sekarang seperti tak mengenal kawan-kawanku sama sekali. Apa kau bukan Wulan? Atau kau hilang ingatan lalu Jalada memanipulasi dirimu?” aku menatap Indu dengan penasaran. Dia hanya menghela nafas, diam.
“Apa kau tak bisa menjelaskannya padaku? Aku berhak tahu.” tambahku, memancingnya untuk bicara.
“Aku ingin bertanya padamu kangmas, kenapa kau sangat mengkhawatirkanku, mengkhawatirkan Wulan. Apa artinya diriku untukmu kangmas?” Indu menatap mataku.
“Kenapa kau bertanya? Siapapun pasti akan khawatir bila salah satu dari kita menghilang, apalagi diculik persis di depan mata.”
“Apa benar hanya itu mas? Tak bisakah kau jujur padaku?” matanya berkaca-kaca. Aku menarik nafas panjang, sepertinya inilah saatnya.
“Sudah lama aku menyimpan perasaan padamu. Tapi aku tahu, kau mencintai Samudra. Aku tak ingin merusak persahabatan kita. Aku..” gadis ini tiba-tiba menitikkan air matanya.
“Kumohon jangan menangis lagi. Aku tak ingin hubungan kita berantakan.” kupeluk Indu untuk menenangkannya.
“Aku tak pernah mencintai siapapun selain dirimu. Kami hanya mencintaimu seorang mas.” kata Indu dalam pelukanku. Kudekap tubuh kecil itu, mataku menerawang jauh mencari arti dari kata-katanya. Aku tak pernah membayangkan kalimat itu akan terucap dari mulut gadis yang kudambakan. Selama ini ia jelas menunjukkan padaku perasaannya pada Samudra. Walau mustahil ia tak menyadari perasaanku padanya sampai sekarang. Tapi saat kebenaran itu terucap kenapa hanya ada kepahitan yang kurasakan.