Samudra menggenggam tanganku dengan kuat. Dia menuntun jalan seolah sudah hafal dengan hutan ini. Di belakang Layung dan Pijar mengekor menyamakan kecepatan dengan kaki Samudra.
“Sam, dimana Semesta?” tanyaku. Aku tak melihat Semesta sejak bertemu mereka di dalam goa, begitu pula saat sudah keluar dari goa.
“Nanti aku ceritain, kita keluar dulu dari hutan.” jawab Sam dengan suara pelan.
“Memangnya kenapa? Apa terjadi sesuatu sama Semesta?” Sam tak mau menjawab.
“Sam!” aku menghentikan langkahku, kutarik tangan Samudra agar dia berhenti berjalan.
“Lan, ceritanya panjang. Di sini gak aman.” kata Sam memohon pengertian.
“Gak ada tempat yang aman, Sam. Percayalah, mereka bisa menemukan kita kapan saja bila mereka mau. Cepat katakan padaku apa yang terjadi pada Semesta.” Sam masih tak mau mengatakannya. Aku memalingkan pandangan pada Layung dan Pijar.
“Yung? Jar? Ada apa sebenarnya? Semesta kemana?” aku yakin aku melihat Semesta bersama mereka melalui benjana air yang diberikan Tuan Warastra beberapa saat yang lalu. Apa benjana itu tipuan?
“Semesta memisahkan diri dengan kami beberapa saat yang lalu, Lan. Dia bilang ada sesuatu yang harus dia lakukan.” jawab Pijar.
“Tadinya kami berencana mencarimu dalam goa itu bersama-sama, lalu di tengah jalan dia menyuruh kami untuk kembali dan mencari Kitab Purnama Ketiga di rumah Pijar. Lalu ia pergi dengan bus ke arah hutan ini sendirian.” Layung menjelaskan dengan lebih detail.
“Dia tahu kalian sedang dalam bahaya. Apa kalian menemukan kitab itu?” tanyaku. Tidak ada yang menjawab.
“Gak, kan? Karena Semesta hanya berusaha untuk menyelamatkan kalian ke tempat yang aman. Dia harusnya sudah ada di hutan ini daritadi. Dia pasti berencana melawan Jalada sendirian.” aku beralih duduk di sebuah batang kayu besar yang melintang. Mereka mendekat mengerumuniku.
“Jalada? Darimana kamu tahu semua itu, Lan? Apa kamu tahu apa saja yang terjadi selama kamu di culik?” tanya Pijar terkejut.
“Aku tahu. Tuan Warastra memberitahukannya padaku. Aku tahu kalian dalam bahaya karena dia. Aku ada di sini juga karena dia sudah membebaskanku dari Jalada. Dia melarangku untuk kembali tapi aku tak bisa tinggal diam melihat kalian dalam bahaya. Jadi aku kabur dan tersesat di goa itu. Kurasa goa itu adalah penghubung antara Sasalancana dan dunia kita.”
“Tuan Warastra? Siapa itu? Kamu sudah tahu soal Sasalancana? Kita bahkan butuh waktu lama untuk mengetahuinya” tanya Pijar.
“Lan, sebaiknya kita pergi dulu dari sini. Kita lanjutkan ceritanya di tempat yang lebih aman.” sergah Layung.
“Sudah kubilang tak ada tempat yang aman untuk kita, Yung. Kita akan kuat bila kita bersama-sama. Kita harus menemukan Semesta.. dan Indu.” tiba-tiba aku teringat Indu, jangan-jangan Semesta salah mengira Indu sebagai diriku.
“Indu? Siapa lagi itu Indu?” Pijar bertanya lagi.
“Lan! Sebentar lagi gelap, apa kamu mau kita berkeliaran di hutan sepanjang malam? Kita tak bawa senter atau alat apapun untuk bertahan di hutan semalaman. Ayolah! Paling tidak kita kembali dulu ke mobil.” pinta Samudra padaku.
“Iya, Lan. Samudra benar. Kita kembali dulu ke mobil. Lanjutkan ceritamu di sana supaya kita bisa membuat rencana untuk menemukan Semesta.” kata Layung menambahi.
Aku mengalah. Tak kusadari wajah Samudra yang tampak begitu lelah dan sangat awas dengan sekitar. Begitu juga Layung dan Pijar. Kurasa tak masalah membicarakan rencana selanjutnya sambil duduk di mobil. Kami lalu melanjutkan perjalanan keluar hutan. Samudra masih di depan memimpin jalan, lalu aku kemudian Layung dan di paling belakang ada Pijar. Banyak kejadian telah mereka lalui sejak Sam membaca sebait mantra di pulau itu. Sam pasti merasakan beban berat di pundaknya. Tragedi ini harus segera diakhiri.
“Lan, kamu harus hati-hati bicara. Ada penghianat di antara kita.” Layung mendekatiku dan membisikkannya sembunyi-sembunyi. Penghianat di antara kita? Apa itu mungkin? Aku melihat semua rangkaian kejadian dari penglihatan Tuan Warastra dan aku tak menemukan adanya penghianat diantara kami dalam penglihatan itu. Layung, Pijar, Samudra, dan Semesta mungkinkah..
“Sebentar lagi kita keluar dari hutan. Hati-hati mulai dari sini jalanan sangat licin, ikuti pijakanku.” Samudra berbalik dan mengatakannya padaku.
“Iya.” jawabku singkat. Samudra berjalan selangkah demi selangkah sambil memperhatikanku. Saat aku kesulitan ia akan ulurkan tangannya untuk membantuku. Saat aku terpeleset di pijakan yang salah, Sam dengan sigap menangkapku. Beberapa kali aku jadi tak sengaja memeluknya karena Samudra menjagaku dengan tubuhnya yang tegap.
“Aku gendong aja biar gak kepleset terus.” Samudra merendahkan tubuhnya agar aku bisa memanjat ke punggungnya.
“Gak usah, nanti kita malah jadi jatuh berdua, Sam.” aku menolak.
“Gak bakal. Kalau kamu gak banyak gerak, kita gak bakal jatuh. Cepet naik.” kata Samudra.
“Iya, Lan. Digendong aja biar cepet. Udah mulai gelap ini.” kata Pijar di belakang.
“Sini biar aku bantu.” kata Layung sambil mendekatiku dan Samudra.
“Pijar penghianat. Positif. Aku ada bukti.” Layung membisikkan kalimat itu kepadaku dan Sam saat membantuku naik ke punggung Sam. Sam mengangguk perlahan lalu berdiri sambil menggendongku dipunggungnya.
Jantungku berdebar-debar. Entah karena kalimat Layung barusan atau karena sedang digendong oleh Samudra. Aku menahan diri untuk tidak bergerak sama sekali. Kusandarkan kepalaku di dekat telinga Sam.
“Apa itu benar?” tanyaku lirih. Dia mengangguk.
“Kami sudah lama mengawasinya.” jawab Sam dengan suara pelan.
“Gimana sekarang?” tanyaku lagi. Sam menggeleng.
“Entahlah.” gumamnya.
“Semesta sedang bersama Indu. Indu adalah kembaranku dari Sasalancana. Dia menggantikanku mengandung Matahani. Kita harus menemukan mereka.” bisikku pada Sam.
“Dimana mereka?” tanya Sam.
“Sepertinya masih ada di sekitar hutan ini.” kami saling berbisik dengan lirih agar tak ada yang mendengar percakapan kami berdua.
“Mobil Pijar diparkir di depan sana. Kamu harus hati-hati bicara. Pijar adalah keturunan Jalada.” kata Sam. Aku mengangguk tapi kepalaku masih berpikir apa yang harus kukatakan pada mereka nanti, aku sudah terlanjur menyebut nama Tuan Warastra dan Indu.
Samudra menurunkanku tepat di samping mobil. Hari sudah gelap saat kami sampai. Hutan benar-benar gelap gulita, hanya lampu jalan yang membuat kami masih bisa melihat. Aku menengadah ke langit. Tak terlihat apapun.
“Rembulan betul-betul tak terlihat.” gumamku.
“Ya. Sudah malam yang ketiga.” kata Layung.
“Kita bicara di mobil?” tanya Pijar sambil mengeluarkan kunci.
“Iya.” jawab kami serempak. Kami langsung masuk dan duduk begitu pintu di buka. Pijar memberiku coklat bar dan langsung kumakan dengan lahab. Rasanya baru ini makanan yang kusantap setelah beberapa hari.
“Mau beli makan dulu? Kita semua juga belum makan.” saran Layung setelah melihatku makan dengan lahab. Mereka bertiga memandangku.
“Atau mau makan di rumahku?” usul Pijar.
“Kita tak akan tidur di mobil juga kan malam ini?” tambah Pijar.
“Ya, oke.” jawabku. Dan kendaraan langsung meluncur ke rumah Pijar.
Kami sampai rumah sekitar pukul 8 malam. Masih belum terlalu larut tapi jalanan sudah sangat sepi. Tak terlihat orang di luar rumah. Meski rumah Pijar memang ada di pelosok desa tapi aku yakin di hari biasa takkan sesunyi ini. Mungkin mereka menyadari hilangnya rembulan dari langit, masyarakat pedesaan seperti ini memang lebih peka pada kondisi alam. Mungkin karena itu juga suasana malam jadi mencekam, padahal kota Jogja yang kukenal selalu hingar bingar 24 jam. Katanya sudah tiga malam rembulan tak nampak, aku penasaran bagaimana bisa suasana masih setenang ini. Bagaimanapun tak mungkin seluruh negeri diam saja membiarkan bulan tak nampak di langit mereka berhari-hari, kan. Kerajaan Sasalancana yang adalah pemuja bulan kehilangan kedamaian dan kemakmuran setelah bulan disembunyikan oleh Jalada. Lalu bila bulan benar-benar menghilang, apa berarti dunia kami juga akan hancur?
”Wulannn, kok baru kelihatan? Katanya kamu pulang ke rumah kemarin?” ibu Pijar langsung menyambutku begitu aku masuk.
”Iya tante. Ada urusan sedikit.” jawabku sambil mencium tangan beliau.
”Malam ini tidur sini, kan?” tanya beliau lagi.
”Mmm, sepertinya begitu tante.” kututup dengan tawa basa basi.
”Lan, sini makan dulu.” Pijar membawaku ke meja makan. Di sana Samudra dan Layung sudah duduk rapi menikmati sajian di atas piring.
”Keluarga kamu udah pada makan, Jar?” tanyaku. Keluarga Pijar memiliki tradisi untuk selalu makan bersama di meja makan. Tamu yang kebetulan bertamu ketika jam makan pun pasti akan diajak bergabung dengan seluruh anggota keluarga. Itu yang selalu kukagumi dari keluarga Pijar, mereka tak segan untuk menjamu tamu satu meja bersama keluarga mereka.
”Udah. Adik-adik lagi pada bikin PR. Simbah sudah di kamar. Makan yang banyak, Lan. Abisin aja semuanya.” kata Pijar. Aku masih diam belum berselera untuk makan. Melihat ini semua membuatku ingat pada Semesta. Apa dia sudah makan? Apa dia disambut juga dengan hangat sepertiku saat ini?
“Setelah makan kita baru bicarakan rencana untuk Semesta. Kalau kamu tidak segera habiskan makananmu kita tidak akan mulai untuk bicara.” Sam bisa membaca pikiranku dengan baik.
Aku segera menyendok nasi goreng yang sudah disajikan di hadapanku. Pijar menyiapkan makanan ini untuk kami. Dia sangat perhatian pada kami, bagaimana bisa ia jadi penghianat? Kenapa dia tega menghianati kami? Pijar adalah keturunan Jalada, aku terngiang kata Sam. Apa Jalada sudah menyihir Pijar?
”Mas Pijarrr, kemana aja? Ayo main sama Lana. Sama Yana juga..” kedua adik kembar Pijar berlari menghampirinya di meja makan.
”Mas lagi makan adek. Tuh, ada temen-temen mas juga. Maaf yah mas mainnya besok aja.” Pijar menjawab adiknya dengan lembut. Pria selembut ini, menghianati kawannya? Benarkah?
”Besok ya mas! Janji lho!” Kelana dan Kayana masih bermanjaan dengan kakaknya.
”Eh besok mas mau pergi ding. Lana Yana main sama mbak dulu aja ya” jawab Pijar.
”Halah, Mas Pijar sama aja kaya Papa!” mereka berdua lalu pergi kembali ke kamar.
”Papa jarang pulang. Di rumah ini isinya perempuan semua, kecuali Kakung tapi Kakung juga gak mungkin main sama mereka. Makanya mereka berdua jadi manja kalau aku atau Papa pulang. Aku pengen nanti usaha keluarga aku aja yang pegang, biar Papa sama Mama bisa fokus sama adek-adek. Jangan sampai mereka besar dengan kekurangan kasih sayang.” kata Pijar pada kami. Aku, Layung, dan Samudra saling pandang. Benarkah Pijar seorang penghianat? Pijar yang sangat perhatian ini? Dia bahkan tidak tega membiarkan adiknya bermain sendirian, bagaimana bisa dia menghianati kawan- kawannya sendiri? Layung pasti sudah salah menduga, mereka pasti keliru.