Selama ini Wulan selalu mencintai Semesta, begitu juga Kangmas Semesta. Tapi mereka tersesat dalam prasangka mereka sendiri, membunuh perasaan mereka sendiri , hingga cinta yang harusnya terbalas jadi terkubur dan tersia-siakan. Kini di saat Kangmas Semesta sudah mengetahuinya, dunia mereka malah sedang dalam proses kehancuran. Dan itu karena kakandaku, karena Matahani yang tengah aku kandung. Kami telah melukai mereka. Kami merusak kebahagiaan mereka.
“Apa yang kau katakan itu benar? Lalu bagaimana dengan Samudra? Dia juga mengira kau mencintainya selama ini.”aku masih dalam dekapannya saat Semesta mengatakannya.
“Kau tak perlu pedulikan apapun selain perasaan kita Kangmas. Asalkan perasaan kita saling berbalas, bukankah itu sudah cukup? Yang aku butuhkan hanya dirimu.” aku melepaskan pelukanku dan mulai memandangnya lekat. Kangmas balas menatapku lembut. Aku terpikat pada matanya yang bening memancarkan ketulusan, kasih sayang, dan kerinduan yang mendalam. Nafasnya hangat menyapu pipiku yang basah oleh air mata. Kangmas mendekatkan wajahnya berusaha menautkan bibir kami. Inikah rasanya dicintai? Berada dalam pelukan hangat, dan ciuman mesra seperti sepasang kekasih yang mabuk asmara. Dadaku membuncah, detak jantungku tak lagi berirama, nafasku mulai memburu. Tanganku mendekap erat tubuhnya, dibuai kehangatan yang selama ini selalu kudambakan. Aku merasakan tangan Kangmas membelai rambutku, leher, pundak, dan terus ke punggungku memberi sensasi desiran hangat di setiap aliran darahku. Dia menarik bibirnya, mulai menciumi pipiku lalu berlanjut ke leher dan mendekati telingaku. Ia menarik nafas dengan lembut dan membisikkan kata “Wulan..” di telingaku.
Tidak, aku bukan Wulan. Ciuman itu bukan untukku. Semua ini bukan untukku. Aku merampasnya dari Wulan. Aku sudah menipu Semesta. Tidak, ini tak boleh terjadi.
“Kangmas.. maafkan aku. Sekarang kau harus beristirahat. Aku akan buatkan api, tunggulah di sini.” aku beranjak dari tempatku, mulai memunguti ranting-ranting kering di sekitar tempat kami.
“Maafkan aku. Aku.. aku terbawa suasana.” kata Semesta sambil menutupi wajah merahnya dengan salah satu telapak tangannya. Aku tertawa kecil.
“Tak apa. Aku juga terbawa suasana.” jawabku yang lalu disambung dengan ledak tawa kita berdua.
“Kita sungguh bermalam di sini? Tanpa tenda?” tanya Kangmas.
“Ya, sepertinya begitu. Tenang saja, di sini aman. Pohon-pohon ini melindungi kita dari angin, semak dan rerumputan akan membuat kita hangat. Dan api ini akan menjauhkan kita dari binatang.” jawabku.
“Wow, darimana kamu tau itu semua? Biasanya kamu yang paling rewel kalau kita berkemah.” kata Kangmas.
“Benarkah? Kau pasti salah orang.” balasku sambil tertawa.
“Mana mungkin, Pijar sampai selalu kesal karena kau membuatnya membawa banyak peralatan.” Kangmas ikut tertawa
“Pijar? sepertinya aku pernah dengar nama itu.” kataku lirih.
“Apa?” tanya Kangmas.
“Tidak apa-apa.” jawabku.
“Apa mereka baik-baik saja?” tanya Kangmas lagi.
“Kau tidak perlu khawatir Kangmas, besok kau akan menemuinya. Sekarang tidurlah, aku akan menyembuhkan luka-lukamu.” kataku.
“Tidak perlu. Aku sudah baik-baik saja. Kamu juga kemari, tidurlah di sini.” Dia menyiapkan tempat di sampingnya. Menarik tanganku untuk tidur berbantalkan lengannya.
“Saat semuanya berakhir, maukah kau ikut denganku ke Bengkulu? Di sana banyak pantai yang lebih bagus daripada Bali.” aku tak begitu mengerti maksud perkataannya.
“Ya, kita lihat nanti” aku hanya menjawab sedapatnya. Lalu menutup mata dalam dekapan Kangmas Semesta yang hangat.
Aku sudah menggunakan banyak kekuatan Matahani. Semakin banyak kekuatan yang aku pinjam darinya berarti semakin terikat Matahani denganku. Itu artinya sudah tak mungkin bagiku untuk menghancurkan Matahani sebelum lahir. Dalam dua atau tiga malam lagi Matahani akan sempurna dan siap untuk dilahirkan kembali. Siap untuk menerima perintah. Kanda Jalada pasti sudah mengetahui itu, cepat atau lambat dia akan segera muncul. Dulu yang menjadi prioritas awalku adalah menyelamatkan Sasalancana, tapi setelah bertemu dengan Kangmas Semesta tujuanku berubah. Aku akan melahirkan Matahani, apapun resikonya.
***
Saat aku terbangun, Wulan sudah tak ada di sampingku. Dia meninggalkanku sendirian di dasar jurang. Luka-luka di tubuhku sudah sembuh sempurna tapi tetap saja entah bagaimana caraku keluar dari tempat ini.
“Wulaannn!” kuteriakkan namanya, berharap ia hanya pergi di sekitar sini.
“Induuu!” sekali lagi kupanggil namanya dan masih tak kudapatkan balasan. Dia meninggalkanku tapi kenapa? Apa Jalada berhasil menculiknya lagi? Sialan! Aku harus menemukan jalan keluar dari sini. Dinding tebing tempatku terjatuh ini permukaannya tanah merah yang licin, aku tak akan bisa memanjatnya sampai ke atas. Sedangkan tempat yang kupijak sekarang juga hanya bagian dari punggungan jurang yang luasnya tak seberapa dan langsung menghadap ke jurang yang lebih dalam. Salah-salah aku malah akan terjatuh lebih dalam lagi.
Di saat aku kebingungan, aku mendengar suara berisik di balik semak di pinggir tebing. Dari sana muncul babi hutan dengan dua taring di moncongnya, dia babi hutan yang kutemui kemarin. Babi itu bertatapan denganku sebentar lalu berputar arah berjalan kembali ke semak-semak. Dia berhenti lagi menengok lalu mengeluarkan suara ngokk.. ngokk.. khas babi dari moncongnya. Tingkahnya seperti sedang menungguku untuk mengikutinya. Jadi ku ikuti langkah babi itu di antara semak-semak yang rimbun. Aku sampai harus merangkak dan memanjat batu-batuan untuk mengikuti babi hutan itu. Babi itu sungguh gila. Kemarin dia memberiku jalan, sekarang dia menuntunku jalan. Dia pasti bukan babi biasa. Aku percaya saja dan mengikuti babi itu sampai tiba di suatu dataran yang luas. Kutengok ke kanan kiri, astaga, ini tebing batu sebelum terowongan akar! Aku sudah kembali ke atas!
“Terima kasih.” kataku pada babi hutan itu. Dia mengangguk satu kali sebelum akhirnya pergi menghilang kembali ke semak-semak. Gila! Dia mengangguk! Ternyata sedari awal dia memang mengerti kata-kataku. Aku seperti orang bodoh yang terpesona pada babi hutan ajaib yang mengerti bahasa manusia.
Sekarang aku harus kembali pada Samudra dan yang lainnya. Aku harus memastikan mereka aman dan selamat. Tapi sebelum itu, aku ingin pergi ke goa itu dulu. Aku ingin mencoba peruntunganku memanggil Warastra. Ku percepat langkahku menuju goa tempatku bertemu dengan Warastra terakhir kali. Aku langsung takjub ketika memasuki goa ini. Terakhir kali aku ke sini aku tak bisa melihat apapun, sekarang setelah aku datang saat tersinari cahaya mentari aku bisa melihat betapa indah goa ini. Dindingnya terpahat alami oleh akar pepohonan yang mencengkeram kokoh puluhan tahun. Bagian atasnya seperti mulut vas bunga yang terbuka lebar dan dipenuhi tumbuhan rimbun. Dan yang paling mencolok dari itu semua, adalah sebuah batu besar di tengah goa yang langsung tersorot sinar matahari layaknya sebuah panggung pertunjukan. Tak lagi membuang waktu, aku memanjat naik ke atas batu itu. Kuambil posisi bersila dan mulai menutup mata menenangkan pikiranku.