Bab 29 – Reunite (2)

2255 Kata
              Warastra.. Warastra.. Apa kau mendengarku? Warastra.. jawablah.. Warastra. Puk! Aku merasakan sesuatu menyentuh pundakku. Ku buka mataku dan ku lihat Warastra sudah ada di hadapanku. “Warastra.” kataku terkejut melihat sosok itu tiba-tiba muncul. “Sekarang kau sudah bisa memanggilku rupanya.” kata Warastra. “Ya, aku mempelajarinya saat Indu memanggilku.” jawabku. “Jadi, kau sudah bertemu Indu.” kata Warastra tak jelas apakah maksudnya bertanya atau bukan. “Iya, aku bersamanya semalam. Lalu pagi ini dia menghilang tiba-tiba. Warastra, dia bilang Jalada adalah kakak Indu, apa itu benar?” tanyaku. “Ya. Ada alasan kenapa Jalada menggunakan tubuh kawanmu untuk mengandung Matahani dan kenapa dia memanfaatkan ‘kawanmu yang lain’ untuk membaca mantra itu.” Warastra menitik beratkan kata kawanmu yang lain pada kalimatnya. “Apa maksudmu?” tanyaku bingung. “Nak, apa kau sudah memahami isi Kitab Purnama Ketiga?” tanya Warastra. “Bisakah kau bicara langsung pada intinya? Kita kehabisan waktu Warastra!” aku mulai kesal pada sikap Warastra yang tak pernah lugas berbicara. “Tak bisa. Kau harus menemukannya sendiri, nak. Sang Candra tak mengizinkanku terlibat lebih jauh.” Warastra mengatakannya dengan getir sambil memunggungiku. “b******k! Lalu bagaimana cara mengakhiri ini semua, Warastra? Jalada mengincar kawan-kawanku, dia bahkan tak segan melukai Indu, adiknya sendiri.” aku muntab, aku sungguh muak dipermainkan. “Semua jawabannya ada di kitab itu, nak. Baca dan pahamilah.” kata Warastra membalikkan badannya. “Kitab itu hilang, Warastra! Bahkan bila menemukannya pun aku tetap tak mengerti bahasa yang digunakan oleh kitab itu. Aku tak bisa memahaminya. Kenapa kau melibatkan kami, Warastra? Ini masalah negerimu! Ini masalahmu dan muridmu yang b******k itu!” kataku sambil mengacungkan jari padanya. “Ini kehendak sang candra, aku tak bisa melawan kehendak sang candra, nak.” Warastra dengan pasrah mengatakannya seolah dia sendiri tak menginginkannya. “Kau pengecut Warastra. Kau lepas tangan setelah masalah semakin besar dan tak bisa kau kendalikan.” aku menatapnya geram. “Kau benar. Aku tak bisa mengendalikannya. Di dimensimu aku tak lebih dari seorang pria tua yang tak berdaya. Tapi tidak denganmu. Duniamu bergantung padamu, nak. Kau mewarisi kekuatan Sasalancana. Kau bisa memanggilku, kau pun pasti bisa membaca kitab itu, kau akan mengerti begitu kitab itu ada di tanganmu.” Warastra menyentuh pundakku sekali lagi dan kali ini aku merasa sesuatu mengaliri tubuhku dari tangan Warastra yang terasa hangat. “Pergilah, temui kawan-kawanmu. Kau membutuhkan mereka.” tambah Warastra. Dia berjalan pergi ke mulut goa. “Yang aku butuhkan adalah kekuatan untuk membunuh Jalada, Warastra!” kataku setengah berteriak. “Kau sudah memilikinya. Kekuatan itu selalu ada bersamamu.” kata Warastra lalu menghilang keluar dari goa.               b******k! Warastra jelas tahu sesuatu tapi dia tak mau mengatakannya padaku. Aku memiliki kekuatan untuk membunuh Jalada katanya, cih! Kemarin bahuku terbakar oleh kekuatan Jalada, aku bisa saja mati saat itu! Bila bukan karena pisau yang pernah mendapat sihir dari Warastra aku takkan bisa melepaskan diri dari Jalada. “Ta.. Semesta..” aku mendengar suara orang memanggilku. Suara itu berasal dari luar goa. Aku segera turun dari batu besar di tengah goa ini untuk pergi mencari sumber suara itu. “Semesta!” saat aku menengok aku melihat Indu sudah ada di bibir goa. “Indu!” kataku. Indu langsung berlari memelukku. “Bukan. Aku Wulan, Ta. Ya Tuhan, aku sangat merindukanmu.” bisiknya di telingaku. “Wulan?” tanyaku bingung. “Ta! Sialan, kami mencarimu dari kemarin!” kata Layung dari bibir goa. Di belakangnya ada Samudra dan Pjar.  “Nanti aku jelaskan. Ayo kita keluar dari sini.” kata gadis yang sekarang melepas pelukannya dan menarikku keluar. “Tidak. Tunggu, jelaskan di sini. Sekarang! Kenapa kau pergi meninggalkanku di dasar jurang sendirian? Lalu tiba-tiba kau muncul bersama mereka di goa ini. Dan kau bilang kau adalah Wulan? Ada apa sebenarnya? Apa yang kau tahu dan aku tidak? Aku sungguh sudah muak dipermainkan. Jelaskan padaku sekarang!” kataku padanya. “Apa? Kamu ada di dasar jurang, Ta? Edan, kamu gak apa-apa?” kata Layung sambil mengamati tubuhku dari kepala sampai kaki. “Lengan bajumu kenapa, Ta? Seperti bekas terbakar.” kata Pijar menyentuh lenganku. “Jelaskan padaku yang sebenarnya terjadi. Apa Wulan dan Indu dua orang yang berbeda?” aku menepis tangan Pijar dan menyentuh kedua pundak Wulan untuk membuatnya bicara. Wulan tampak bingung, ia menatap Samudra dan Layung bergantian. “Jawab aku, Lan!” bentakku sekali lagi. Aku melihat Layung dan Samudra, Sam mengangguk pada Wulan. “Ya. Indu adalah kembaranku dari Sasalancana. Dia.. dia.. melepaskanku dari Jalada.” Wulan mengatakannya sambil ketakutan, matanya berkaca-kaca. “Dan kamu adalah Wulan? Wulan yang kukenal?!” tanyaku lagi. “Iya, Ta.. Ini aku.. Wulan..” Wulan mulai menangis. Kudekap tubuhnya erat, kuciumi rambutnya yang dikuncir asal-asalan. “Lan.. Aku mencarimu.. Aku.. Aku.. Maaf.. Aku minta maaf.. Maaf..” aku ikut menangis dalam pelukan Wulan. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku sangat bersyukur dia selamat, aku bersyukur bisa bertemu dengannya lagi, aku bersyukur bisa memeluknya lagi. Aku sangat merindukannya. Aku teringat malam dimana dia diculik, dimana aku merasa sangat tidak berdaya tak bisa melindunginya. Aku teringat saat-saat dimana aku selalu mengkhawatirkannya, aku takut hal buruk menimpanya, aku takut tak bisa bertemu dengannya lagi. Sekarang saat aku bisa memeluknya, semua perasaan itu tumpah. Rindu, takut, khawatir, berubah menjadi syukur. Dadaku terasa lega, beban dan sesak yang selama ini menghimpitku hilang seketika. Aku sangat bersyukur bisa memeluknya saat ini. Tak ingin rasanya melepaskannya pergi. “Aku harus membunuh Jalada.” aku harus membunuhnya bila ingin Wulan aman bersamaku. “Apa, Ta?” tanya Wulan. “Aku harus membunuh Jalada dan menghentikan semua ini.” kataku pada Layung, Samudra, dan Pijar. “Kita. Jangan melakukan semuanya sendiri, Ta.” kata Layung. “Ya. Dan ini semua terjadi karena aku. Aku juga harus bertanggung jawab.” sambung Samudra. “Terus jangan ada yang menghilang tiba-tiba lagi. Kita kuat jika bersama.” tambah Pijar. “Aku kangen kalian semua.” kata Wulan dibarengi dengan pelukan hangat bersama-sama. “Oiya, kok Wulan bisa sama kalian? Gimana ceritanya?” tanyaku kemudian. Mereka saling bertukar pandang. “Kami ketemu Wulan di goa ini, pas kami lagi nyusulin kamu.” jawab Layung. “Hah? Maksudnya?” tanyaku lagi. “Kemarin setelah kamu naik bus, kita pulang sebentar untuk cari kitab itu. Tapi gak nemuin apa-apa. Terus Layung maksa kita untuk nyusulin kamu ke goa ini. Pas kita nyampe Terowongan akar, kita denger suara Wulan manggil-manggil kita. Dan ternyata Wulan ada di dalam goa ini. Sampai sekarang kita juga gak tau gimana ceritanya Wulan bisa ada di goa ini karena dia belum cerita sama sekali dari kemarin. Dia cuma terus-terusan bilang kita harus cari kamu di hutan secepatnya.” jelas Pijar panjang lebar. “Kamu selama ini ada di goa ini, Lan?” tanyaku. “Gak, Ta. Aku bingung gimana ceritanya.” sekilas aku melihat Wulan melirik ke Samudra dan Layung. “Gak apa, Lan. Cerita aja pelan-pelan.” kataku. “Aku diculik oleh Jalada. Dia seorang pria penyihir atau apa aku tak tahu. Dia membawaku ke sebuah pondok seperti gubuk di tengah hutan. Aku gak inget apa-apa setelahnya karena begitu tiba di sana dia langsung melakukan sesuatu seperti membaca mantra padaku. Tau-tau aku terbangun di pondok lain. Ada pria tua di depanku saat aku sadar. Pria itu mengaku bernama Warastra. Dia memintaku untuk bersalaman dengannya, tapi waktu aku menyentuh tangannya, aku tiba-tiba melihat berbagai hal berkelebatan seperti film. Katanya itu adalah peristiwa yang terjadi selama aku tertidur dalam mantra Jalada. Aku memohon padanya untuk mengembalikanku pulang ke dimensi kita. Tapi dia menolaknya, dia melarangku untuk meninggalkan pondoknya. Aku merasa ada sesuatu yang tidak benar, jadi aku kabur dari pondok Warastra ke dalam hutan yang ada di sekitar tempat itu. Tiba-tiba aku menemukan goa ini dan memanggil nama kalian sekencang-kencangnya. Begitu caranya aku bertemu kalian.” tutur Wulan tanpa jeda. “Wow. Serius? Persis novel ya.” oceh Pijar. “Apa aja yang kamu lihat waktu menyentuh tangan Warastra, Lan? Apa kamu lihat dimana Kitab Purnama Ketiga berada?” tanyaku pada Wulan. Mengabaikan celoteh Pijar. “Gak. Aku gak lihat dimana kitab itu berada. Apa kitab itu penting?” tanya Wulan. “Ya. Kitab itu penting. Kitab itu kunci untuk menyelesaikan masalah ini. Kita harus menemukannya.” kataku pada mereka semua. “Kita sudah mencarinya di rumah Pijar, di kamar tempat kita menginap. Di sana tak ada.” kata Sam. “Bentar-bentar, Sam kan sudah hafal semua isinya. Kenapa kita masih memerlukan kitab itu?” kata Pijar. “Entahlah. Aku cuma merasa kitab itu harus ada di tangan kita.” kataku singkat. “Terus apa yang harus kita lakukan sekarang? Kata Simbah Wulan mungkin sedang mengandung Matahani dan kita harus menjaga Wulan baik- baik, kan?” tanya Pijar. “Gak, aku sudah gak memilikinya lagi. Indu menggantikanku mengandung Matahani.” sahut Wulan. “Hah? Kok bisa? Bukannya itu mengandung secara harfiah seperti mengandung seorang anak?” tanya Layung kaget. “Aku juga gak ngerti, Yung. Pokoknya begitu.” jawab Wulan acuh. “Berarti sekarang kita harus menemukan Indu?” tanya Sam. “Hahh, bisa gak sih kita lupakan aja semuanya? Aku bener-bener udah capek ke sana ke sini.” kata Pijar. Tiba-tiba dia terduduk lemas dengan mata menerawang jauh. “Ini udah semakin kemana-mana tau, ini semakin gak masuk akal. Kita balik aja ke Semarang terus lanjutin hidup kita kaya biasanya. Toh kita udah kumpul berlima, kan? Ya? Please, aku pengen kita balik ke kehidupan normal kita kaya dulu.” Pijar memohon dengan wajah melas pada kami. “Bulan masih menghilang, Jar.” tepis Samudra. “Kita serahin aja masalah itu pada yang lain. Biar pemerintah atau siapa kek yang mencari bulan. Ini terlalu berbahaya buat kita. Semesta masuk jurang, Layung pernah ketusuk pisau, Wulan diculik dijampi-jampi lagi. Mumpung sekarang kita udah kumpul, lengkap, dan baik-baik aja, ayo kita balik ke Semarang. Yung, kamu juga harus bimbingan skripsi kan sama Bu Lina? Ta, sebentar lagi kamu wisuda. Ini juga buat kebaikan Wulan, kalau kita terus terlibat gimana kalau salah satu dari kita bakal terluka lagi?” Pijar meyakinkan kami satu per satu. Aku tak mau munafik, kata-kata Pijar ada betulnya. Aku juga lelah dengan semua ini. Aku hanya ingin bersama Wulan selamanya. Aku tak pernah ingin terlibat dengan hal-hal tak masuk akal seperti ini. Ini masalah Warastra dan Jalada. Ini masalah kerajaan Sasalancana. Mereka yang harus menyelesaikannya, bukan kami. Kulihat wajah Layung, Wulan, dan Samudra. Mereka juga pasti merasakan hal yang sama. Tak tahu menahu tiba-tiba terseret masalah ini. Mereka juga pasti ingin kembali ke kehidupan normal seperti dulu. Mereka pasti ingin pulang. “Aku..” aku baru mau menyetujui ajakan Pijar tiba-tiba Samudra berbicara. “Jar, kalau kamu mau pulang ke Semarang, pulanglah. Aku yang memulai semua ini, aku juga yang harus menyelesaikannya. Kalian juga pulanglah ke Semarang, serahkan masalah ini padaku.” kata-kata Sam mengagetkanku. Begitu juga Layung, Pijar dan Wulan. “Ngarang! Gimana caranya kamu selesein sendiri, Sam. Dasar gendeng!” Pijar memaki. “Tenang saja, aku akan menemukan caranya. Maafkan aku sudah membuat kalian dalam bahaya.” Sam mengusap rambut Wulan. “Jar, kamu pulanglah. Bawa Layung dan Wulan bersamamu. Aku yang akan di sini membantu Samudra.” kataku kemudian. “Gak. Aku ikut kamu, Ta, Sam. Kalian pasti butuh bantuanku. Lagian buat apa aku balik ke Semarang kalau gak ada kalian.” sahut Wulan. “Aku juga. Aku gak bakal bisa tidur nyenyak kalau belum lihat dalang di balik ini semua. Jar, kamu pulang aja. Keluargamu membutuhkan kamu.” ternyata Layung juga tak tergiur dengan ajakan Pijar.              Ekspresi wajah Pijar berubah. Antara kesal dan malu. Tapi dia tak juga beranjak dari tempatnya. Wulan mendekati Pijar, lalu berlutut memeluknya yang masih saja duduk membisu. “Jar, makasih ya udah khawatirin kita. Kami semua paham kok kalau kamu pengen pulang, kamu pasti mikirin adik-adik kamu. Gak apa, Jar. Kamu pulang aja, kita bakal samperin kamu begitu ini semua selesai.” Wulan membujuk Pijar agar dia tak merasa malu untuk pulang. “Hahhh, mana bisa aku pulang sendirian. Nanti aku pasti digebukin sama Simbah. Ya udah ayo kita mau apa sekarang?” Pijar bangkit dari tempatnya dan berjalan keluar dari goa. “Nah, gitu dong! Tungguin, Jar!” Wulan tertawa dan berjalan mengejar Pijar keluar goa. “Padahal lebih bagus kalau dia pulang aja.” bisik Samudra. “Iya bener. Sial, taktik kita gagal.” sahut Layung. “Hah?! Maksud kalian apa?” tanyaku bingung. “Nih, aku nemuin ini di tas carrier yang dipacking sama Pijar. Pijar sengaja sembunyiin ini di selipan matras.” Layung menyerahkan sebuah buku usang dari balik jaketnya kepadaku. “Ini!!” “Ssstt! Dia masih belum sadar kitab ini hilang. Kita harus pura-pura tidak tahu supaya dia tidak curiga. Suatu saat dia pasti akan mendatangi Jalada, kita mesti mengawasinya.” Samudra membekap mulutku, dan membalikkan badannya untuk menutupi kitab itu agar tak terlihat dari arah mulut goa. “Kitab ini kuserahkan padamu. Aku dan Wulan akan cari cara untuk menjauhkan Pijar darimu agar kau dan Samudra bisa membacanya.” kata Layung lalu berjalan keluar goa. “Wulan juga sudah tau?” tanyaku pada Sam. “Ya. Kita semua kecuali Pijar. Singkirkan ekspresi kagetmu itu. Bersikap biasa jangan sampai Pijar merasa sedang dikhianati. Dan sembunyikan kitab itu di balik bajumu. Jangan sampai hilang.” kata Sam lalu ia berjalan menyusul Layung.          Kitab ini, akhirnya kitab yang menjadi kunci dari masalah ini berhasil ada di tanganku. Dan sekarang sudah terbukti Pijar adalah keturunan Jalada, sang musuh dalam selimut. Sedikit demi sedikit tabir mulai terbuka. Babak baru akan dimulai. Kini saatnya serangan balasan dari kami. Saatnya membalas penghianatan dan merebut kembali purnama kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN