Bab 30 – Consideration

1760 Kata
              Warastra kehilangan banyak hal. Dia kehilangan muridnya yang berbakat, kehilangan Wulan yang mestinya ia jaga, kehilangan kendali atas Indu, dan kehilangan kekuatan untuk memimpin. Seorang pemuda bau kencur menyebutnya pengecut yang lepas tangan, tapi ia tak bisa mengelak karena janjinya pada sang candra. Teringat kembali pada hari dimana ia mendapat kekuatan suci bulan secara tak diduga-duga. Dirinya hanyalah seorang penggembala kerbau di pinggir Kerajaan Sasalancana. Kabar mengenai kondisi Sang Raja yang sekarat bahkan tak sampai masuk di kepalanya. Untuk seorang penggembala muda sepertinya yang ia pedulikan hanya cara untuk menjaga ternaknya tetap sehat dan gemuk. Urusan pergantian tahta seratus tahun sekali itu sama sekali di luar jangkauannya. Siapapun yang mendapat kekuatan suci bulan dia pasti akan menjaga kerajaan ini dengan baik, tak perlu disangsikan lagi. Itu karena sang candra sendiri yang memilihnya. Selama berribu tahun sang candra memilih orang dari lingkungan kerajaan untuk menjadi walinya menjaga Sasalancana. Kekuatan suci bulan berputar-putar di kalangan bangsawan kerajaan sendiri, kali ini pun pasti sama. Maka ia pun pergi menggembalakan kerbaunya ke padang rumput seperti biasa. Dalam perjalanannya pagi itu, ia melewati sekelompok orang yang berkumpul di sebuah pondok untuk mendengar kabar mengenai siapa wali pilihan sang candra selanjutnya. Warastra dan kerbau-kerbaunya melintas santai seperti biasa. Tiba-tiba seorang pemuda di pondok itu memanggilnya. “Warastra! Tubuhmu!” pemuda ini berteriak sambil menunjuk ke arah Warastra. Sontak seisi pondok ikut melihat ke arah dirinya. “Apa? Kenapa tubuhku?” Warastra tak melihat apapun yang aneh dari tubuhnya. “Tubuhmu bercahaya!” kata pemuda itu. Mereka yang melihatnya langsung bersimpuh penuh hormat di hadapan Warastra. Kabar itu pun menyebar dengan cepat. Warastra yang tak tahu harus melakukan apa berakhir dengan bersembunyi di dalam rumahnya. Di sanalah ia bertemu dengan sang candra. Ia mendengar suara memanggil namanya, lalu dalam satu kedipan mata dia sudah berpindah tempat. Tiba-tiba dia berada di dalam hutan yang dipenuhi kabut. “Warastra” suara itu kembali memanggil namanya. “Ss.. Sang candra? Sang candra itukah dirimu?” Warastra tergagap ketakutan. “Kau kuberkati dengan kekuatan suci bulan. Pecahan kecil dari kekuatan purnama kutitipkan padamu.” suara itu seperti gema yang datang dari atas langit. “Ja.. Jangan sang candra. Jangan saya. Saya tidak akan bisa menggunakannya dengan baik.” Warastra langsung menolaknya. Ini tak pernah terjadi sebelumnya, siapa pun di Sasalancana tahu kekuatan suci bulan adalah kekuatan maha dahsyat yang bisa menjadikanmu raja yang dihormati semua orang. Kekuatan ini diinginkan oleh banyak orang. “Kau tak perlu menggunakannya jika tak ingin. Kau hanya perlu menjaganya sampai ku ambil kembali.” kali ini suara itu menjawab dengan perlahan, seperti berbicara dengan anak kecil. “Benarkah itu sang candra? Lalu siapa yang akan menjaga Sasalancana?” tanya Warastra bingung apakah harus senang atau khawatir. “Akulah yang akan menjaganya. Selama ini akulah yang selalu menjaga Sasalancana. Akulah yang mengabulkan segala harapan dan permohonan seluruh penduduk Sasalancana. Segala kemakmuran dan kejayaan di Sasalancana terjadi berkat kehendakku. Kekuatan itu kuberikan pada salah satu dari kalian agar kalian mengerti seberapa besar kekuatanku. Tapi kalian salah mengartikannya dan mulai memperebutkannya seolah kekuatan itu adalah milik kalian. Maka kukabulkan permohonan kalian, kini saatnya Sasalancana kembali menjadi kerajaan dengan kekuatan kalian sendiri.” “Jadi.. maksud sang candra.. saya..” “Kau adalah orang terakhir yang akan memiliki kekuatan ini. Aku akan mengambil kembali kekuatan itu selamanya dari Sasalancana. Persiapkan kerajaanmu dengan baik.”               Setelah memberikan wahyu seperti itu, sang candra mengembalikan Warastra ke rumahnya seperti sedia kala. Pasukan kerajaan datang mengetuk pintunya, memintanya untuk ikut ke istana. Hari itu ia menolak tahta dan memberikannya pada anak mendiang raja sebelumnya untuk mengatur kerajaan. Ia memilih untuk menyepi mengasingkan diri ke hutan dan menolak tawaran apapun dari istana. Sasalancana harus bisa berjalan sendiri tanpa kekuatan suci bulan. Mereka harus melupakan keberadaanku. Berpuluh tahun ia hidup menyendiri di pondok yang ia bangun sendiri, hingga suatu hari datang seorang anak kurus kering dan penuh luka yang memohon untuk dijadikan murid olehnya. Dia adalah putra sulung dari keluarga petani yang kehilangan lahannya karena pertikaian dengan kerajaan seberang. Aku tak bisa menutup mata dan membiarkan anak ini mati di hadapanku. Jadi Warastra menerimanya sebagai murid agar bisa memberinya dan keluarganya makan yang cukup dan mengajarinya keterampilan untuk melindungi orang-orang yang dia kasihi. Sebenarnya Warastra hanya mengajarkan segala hal yang sebenarnya sudah menjadi potensi setiap penduduk Sasalancana, tapi tampaknya tak ada yang menyadari hal itu. Orang-orang berpikir itu adalah anugerah yang hanya diberikan pada wali sang candra di Sasalancana. Seperti kata sang candra, orang-orang negeri ini terlalu bergantung pada kekuatan suci bulan. Mereka dibutakan hingga melihat ke arah yang salah. Aku dikhianati karena sudah gagal membuatnya mengerti.               Warastra duduk di biliknya dan mulai mencari keberadaan Jalada melalui rogosukmo. Jalada dalam keadaan terluka karena tusukan Semesta, ia pasti memusatkan kekuatannya untuk menyembuhkan diri. Jadi Warastra mendeteksi keberadaan Jalada melalui jejak sihir penyembuhan miliknya, dan Woof! Kini Warastra ada di hadapan Jalada. “Berhentilah membangkitkan Matahani, aku akan berikan kekuatanku padamu, Jalada.” Warastra langsung mengkonfrontasi Jalada. “Kau pikir aku bodoh? Kekuatan itu bukan benda yang bisa kau berikan pada orang lain sesukan hatimu, Warastra.” jawab Jalada dengan tenang. “Aku bisa. Asal kau tinggalkan permainanmu ini dan kembalilah ke Sasalancana.” pinta Warastra. “Kenapa? Apa karena kau tak bisa mengejarku ke dimensi ini? Baiklah, baiklah, aku akan kembali ke Sasalancana... Tapi setelah aku berhasil membangkitkan Matahani. Hahahaha! Bersiaplah Warastra, ajalmu sudah dekat. Sembunyilah bila kau merasa takut. Hahahaha!” Jalada tertawa puas. “Jalada, yang terjadi pada Sasalancana adalah kehendak sang candra. Bila kau membangkitkan Matahani, itu artinya kau melawan kehendak sang candra.” Warastra coba mengatakan yang sejujurnya. “Bukan, bukan, bila aku membangkitkan Matahani, itu artinya aku melawan kehendakmu, Warastra! Kau lemah! Kau takut aku mengalahkanmu dengan Matahani! Karena itu kau gunakan lagi nama sang candra untuk menutupi kelemahanmu. Kau sudah mengelak dengan alasan yang sama selama bertahun-tahun, Warastra. Cobalah untuk lebih kreatif lain kali. Hahahaha!” jawab Jalada tanpa rasa takut. “Kau tak tahu apa yang sedang kau lakukan, Jalada. Kau menggali kuburanmu sendiri.” kata Warastra dengan nada prihatin. “Mengocehlah sesuka hatimu, Warastra! Kita lihat siapa yang akan masuk ke liang kubur nanti. Hahahaha!” kata Jalada tak menghiraukan peringatan Warastra.               Warastra menarik dirinya pergi dari tempat Jalada. Dia kembali pada tubuhnya di pondok untuk memikirkan langkah selanjutnya. Jalada jelas tak bisa diajak bicara baik-baik. Tekadnya sudah bulat untuk membangkitkan Matahani. Tak ada yang bisa membujuknya meskipun itu adiknya sendiri. Tapi masih ada satu harapan. Warastra kembali memusatkan pikiran, kini ia berusaha mencari keberadaan Indu. “Maha guru Warastra.” Indu menunduk saat Warastra tiba-tiba muncul di hadapannya. “Apa yang kau lakukan Indu?” tanya Warastra. “Maafkan aku, maha guru. Tadinya aku berniat untuk menghancurkan Matahani dari dalam, tapi aku tak bisa. Aku membutuhkan kekuatannya untuk melindungi Semesta dan Wulan. Aku akan melahirkannya, maha guru. Aku butuh kekuatan Matahani untuk menghabisi Kanda Jalada dan melindungi dunia kita.” kata Indu. “Kau sudah tergiur dengan kekuatan yang bukan milikmu, Indu.” Warastra menggelengkan kepalanya. “Ampuni aku, maha guru. Aku harus bertanggung jawab pada apa yang sudah saudaraku perbuat.” Indu berlutut memohon ampun. “Jika kau ingin membiarkan Matahani lahir, kau tau betul apa artinya itu, Indu.” kata Warastra. “Betul maha guru, saya akan menerimanya. Kumohon ampuni aku, sudah terlambat untuk menghentikan pertumbuhan Matahani sekarang.” Indu mengatakannya tanpa ragu. Persis seperti Jalada. “Lalu apa rencanamu?” tanya Jalada. “Dia akan mengenaliku guru, dia akan menjawab panggilanku begitu lahir. Aku dari dimensi ini.” jelas Indu. “Tidak. Matahani memiliki kehendaknya sendiri, Indu. Dia adalah senjata sang candra. Kau tak bisa mengendalikannya begitu saja. Dan kau tahu persis, Matahani akan memanggil purnama ketiga. Begitu dia bangkit, kehancuran suatu negeri sudah bisa dipastikan.” kata Warastra. “Maha guru, apakah ada cara lain selain ini? Kumohon, saya hanya ingin melindungi orang-orang tak bersalah, saya hanya ingin orang-orang selamat dari kehancuran negerinya.” kata Indu putus asa. “Memohonlah pada sang candra, Indu. Dia akan mengabulkan permohonanmu. Aku hanya pria tua yang tak memiliki kekuatan apapun untuk melindungi orang-orang.” jawab Warastra. “Jadi apa yang dikatakan Kanda Jalada itu benar guru? “ tanya Indu tak percaya. “Aku tak tahu apa yang sudah Jalada katakan padamu, tapi kurasa kau sudah memiliki jawabanmu sendiri, Indu. Tak ada artinya membicarakan ini.” jawab Warastra. “Tentu saja ada, maha guru. Jika kami tahu alasan maha guru tidak berkenan menggunakan kekuatan suci bulan selama ini, kami pasti tak akan menentang maha guru. Kanda Jalada tak akan mengkhianati maha guru. Selama ini Kanda berpikir maha guru Warastralah yang ingin menghianati Sasalancana.” tutur Indu. “Aku sudah mengatakan padanya Indu. Ini semua terjadi karena kehendak sang candra, aku tak bisa menentang kehendak sang candra. Tapi Jalada tak mau mempercayaiku, tak akan ada yang mempercayaiku.” jawab Warastra. “Apa maksudnya itu, maha guru? Bukankah sang candra selalu melindungi Sasalancana? Saya sama sekali tidak mengerti.” kata Indu. “Aku dijadikan kambing hitam, Indu. Sedari awal kekuatan ini memang bukan untuk kugunakan. Sang candra ingin Sasalancana berjalan tanpa dukungan kekuatan suci bulan. Setelah aku mati, kekuatan ini takkan diberikan pada siapapun di Sasalancana. Aku hanya dijadikan boneka oleh sang candra, agar orang-orang berhenti meminta pada kekuatan suci bulan dan beralih memohon pada sang candra. Orang-orang akan mengenalku sebagai pemilik kekuatan suci bulan yang ingkar.” jelas Warastra. “Maha guru, benarkah itu?” Indu tampak sangat terkejut. “Aku paham bila kau pun tak bisa mempercayainya, Indu.” wajah Warastra menampakkan sosok yang penuh kebijaksanaan. “Kenapa tak kau katakan pada seluruh rakyat Sasalancana, maha guru? Kau tak perlu menanggungnya sendirian.” kata Indu. Matanya berlinang. “Aku tak bisa, Indu. Aku tak bisa. Biarlah aku sendiri yang menanggung semua ini.” jawab Warastra. “Maha guru..” Indu tak kuasa menahan haru. “Bila kau ingin membangkitkan Matahani, kau harus bekerja sama dengan Semesta dan Wulan. Jalada pasti akan mengincarmu, kau membutuhkan mereka untuk mencegah Matahani jatuh ke tangan Jalada.” sambung Warastra. “Baik maha guru.” jawab Indu. “Matahani akan mengabulkan satu permohonan yang didengarnya pertama kali. Setelah itu ia akan menentukan sendiri siapa orang yang layak untuk menjadi tuannya. Jadikan itu kesempatanmu sebelum purnama ketiga muncul.” kata Warastra. “Baik maha guru.” jawab Indu lagi. “Pertimbangkan sekali lagi keputusanmu Indu. Setelah kau membangkitkan Matahani, kau tak punya kesempatan lagi.” kata Warastra. Ia lalu pergi dari hadapan Indu, kembali ke pondoknya di Sasalancana. Tubuhnya sudah menua, dengan melakukan dua perjalanan rogosukmo dirinya sudah kehabisan tenaga. Semesta harus diperingatkan, tapi ia tak kuasa melakukannya. Indulah satu-satunya harapan yang tersisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN