Bab 31 - Sekutu

1025 Kata
          Bagiku maha guru Warastra adalah penyelamat keluarga kami. Beliau memberi kami tempat tinggal dan makanan ketika rumah kami dibakar habis oleh pasukan musuh saat perang antar wilayah terjadi. Beliau juga menerima Kanda Jalada sebagai murid padahal sebelumnya tak ada satu orang pun ia terima bahkan meski mereka datang dari kaum para bangsawan. Itu membuat banyak orang dari kerajaan memusuhi maha guru Warastra. Mereka menyebarkan rumor bahwa maha guru anti kerajaan, terlebih karna hanya maha guru Warastra satu-satunya pemilik kekuatan suci bulan yang menolak menduduki singgasana raja. Tapi tidak ada satu orang pun yang peduli pada rumor itu. Karna meskipun maha guru Warastra tak menggunakan mahkota raja, beliau memperhatikan dan menolong penduduk Sasalancana dengan tangannya sendiri. Begitulah caraku mengenal maha guru Warastra selama ini.             Saat Kanda Jalada mengatakan hal buruk mengenai maha guru, aku tersesat untuk sesaat. Aku yakin maha guru tak akan melakukan hal buruk pada Sasalancana, tapi apa kata Kanda Jalada sangat masuk akal. Seolah menjawab rumor- rumor yang selama ini mengelilingi maha guru. Dan aku bersyukur itu semua salah. Aku merasa lega setelah maha guru menjelaskan yang sebenarnya terjadi padanya. Ia dipaksa duduk di kursi pesakitan tanpa bisa menolak, tanpa bisa menjelaskan, tanpa bisa membela diri. Ia sendirian menanggung beban itu sejak hari dimana kekuatan suci bulan diturunkan padanya. Itu bukanlah waktu yang sebentar.             Para penerima kekuatan suci bulan tak hanya menerima anugerah kekuatan besar dan kejayaan tapi juga umur yang panjang. Rata- rata penduduk Sasalancana meninggal di usia 50 tahun, banyak dari kami yang bahkan tak sampai menyentuh umur 47 tahun. Tapi penerima kekuatan suci bulan bisa hidup sampai usia lebih dari 100 tahun. Dengan tahta dan kekuatan yang dimilikinya tentu hidup 100 tahun pun terasa kurang, namun bagi maha guru Warastra itu berarti 100 tahun hidup dalam kesalah pahaman. 100 tahun hidup untuk dikenang sebagai pemilik kekuatan suci bulan yang paling tidak berhasil memanfaatkan kekuatannya untuk menjaga Sasalancan, 100 tahun hidup sebagai boneka.             Kanda Jalada harus mengetahui yang sesungguhnya. Ia mungkin akan menghentikan rencananya bila aku memberinya penjelasan yang tepat. Aku harus menemuinya dengan rogosukmo. “Kanda..” aku berhasil menemukannya dengan mudah, ini tidak seperti dirinya yang biasanya. “Indu, akhirnya kau mendatangiku. Aku sudah menunggumu.” kata Kanda Jalada. Tubuhnya masih lemah karena tusukan pisau Semesta kemarin. “Kanda Jalada sudah tau saya akan datang mencari, karena itu Kanda tidak menutup jejak kekuatan Kanda.” kataku. “Tentu. Aku tak ingin kau tersesat saat mencariku.” kata Kanda sambil tersenyum. “Kanda, ada yang harus Kanda tahu mengenai maha guru Warastra.” kataku. “Apa lagi yang pak tua itu katakan padamu, Indu? Apa dia menyakinkanmu bahwa semua ini melawan kehendak sang candra? Aku sudah sering mendengarnya.” kata Kanda Jalada. “Apa Kanda ingat bagaimana kisah pertama kali maha guru Warastra mendapatkan kekuatan suci bulan?” tanyaku. “Langsung saja ke intinya, Indu. Aku malas dengan bada basi seperti itu.” jawab Kanda. “Maha guru Warastra mendapatkan kekuatan suci bulan di umur 13 tahun, Kanda. Usia yang sangat muda. Bahkan tercatat sebagai penerima kekuatan suci bulan termuda dalam sejarah Sasalancana. Dalam usia semuda itu, beliau mendapat tanggung jawab yang besar dari sang candra. Tanggung jawab yang tak satu pun dari kita mampu menanggungnya.” aku mengambil jeda sejenak, Kanda Jalada memperhatikan dalam diam. “Apa kau tahu apa itu, Kanda? Tidak, sang candra tidak meminta maha guru untuk menjaga Sasalancana. Sang candra justru menyuruh maha guru menarik tangan dari Sasalancana. Sang candralah yang melarang maha guru menggunakan kekuatannya selama ini, Kanda. Sang candra berencana mengambil kembali kekuatan suci bulan dari Sasalancana. Sang candra ingin Sasalanca berjalan tanpa kekuatan suci bulan.” kataku menggebu-gebu. “Dan kau percaya itu, Indu? Hahahaha, kau percaya bualan seorang pria tua yang tak pernah kau kenal? Itu semua omong kosong! Sang candra takkan membuang Sasalancana.” kata Kanda Jalada, ia tertawa untuk menghinaku. “Tidak, Kanda. Tak mungkin maha guru berbohong.” kataku mengelak. “Indu, aku tahu kau ingin melindungi Sasalancana. Aku punya rencana yang lebih baik daripada si tua Warastra. Apa kau mau dengar?” tanya Kanda Jalada, aku mengangguk. “Bergabunglah denganku. Jadilah sekutu untukku. Kita bangkitkan Matahani lalu aku akan minta ia menghidupkanmu lagi agar kita bisa memimpin Sasalancana bersama- gsama.” ajak Kanda. “Aku punya saran yang lebih baik, Kanda. Bagaimana bila kita kuasai dimensi ini. Mari kita tinggalkan Sasalancana yang akan segera hancur ditinggalkan oleh sang candra.” kataku. “Apa maksudmu?” tanya Kanda Jalada. “Sasalancana selama berabad- abad menjalani kehidupan damai dan makmur karena kekuatan suci bulan, Kanda. Dan bila maha guru Warastra benar, sebentar lagi sang candra akan mengambil kembali kekuatan itu dari Sasalancana. Lalu apa yang akan terjadi di sana?” tanyaku. “Kehancuran, keruntuhan Kerajaan Sasalancana.” jawab Kanda. “Benar. Kau ingat rumah kita yang dibakar saat kita kecil, Kanda? Akan lebih banyak rumah yang terbakar, akan lebih banyak orang yang mati kelaparan. Akan semakin banyak perang, akan semakin banyak pertikaian, perebutan kekuasaan antar bangsawan, perebutan wilayah perbatasan. Kerajaan Sasalancana akan hancur. Sasalancana tak akan bisa bertahan karena selama ini kita hanya bergantung pada kekuatan suci bulan. Tapi! Tapi berbeda dengan dimensi ini. Dimensi ini bergerak dengan dinamis, Kanda. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Penduduknya berumur panjang dengan banyak harapan dan cinta. Hanya satu kelemahan fatal yang dimiliki oleh dimensi ini. Apa kau tahu apa itu, Kanda?” tanyaku lagi. “Apa itu?” sahut Kanda Jalada. “Di dimensi ini tak ada yang memiliki ilmu sihir seperti kita, Kanda. Tak ada yang memiliki kekuatan magis seperti Matahani. Mereka takkan mampu melawan kita. Kita akan langsung penjadi penguasa, Kanda! Hahahaha!” aku menirukan tawa jahat Kanda Jalada. “Bagaimana Kanda? Maukah kau bersekutu denganku? Mari kita kuasai dimensi ini! Sudah saatnya kita buang Sasalancana! Kita ciptakan kerajaan baru yang sesuai dengan keinginan kita. Kanda!” kataku untuk menambah keyakinan Kanda Jalada bersedia menjadi sekutu berkomplot denganku mengambil alih dimensi ini. “Apa yang sebenarnya kau inginkan, Indu? Kau merencanakan sesuatu dariku.” kata Kanda curiga. Aku diam, mengatur nafas sejenak. “Pria yang menusukmu, Kanda. Aku mencintainya, aku menginginkannya, dia harus jadi milikku, Kanda. Bila kita menguasai dimensi ini, dia akan menjadi milikku selamanya..” jawabku kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN