Aku adalah seorang anak sulung dari keluarga petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil panen sepetak sawah yang dimiliki keluarga kami. Ketika kami kehilangan sawah kami karena perang, itu artinya kami sudah kehilangan seluruh harta kami. Tak ada yang bisa dilakukan oleh orang tuaku untuk menghidupi adik perempuanku satu-satunya yang masih berusia 3 tahun dan aku sendiri 13 tahun karena pertikaian terus terjadi dimana-mana. Kami hidup berpindah-pindah dari satu tempat pengungsian ke tempat lainnya. Bergantung pada kemurahan hati para bangsawan yang bersedia berbagi sedikit makanan pada korban perang seperti kami. Selama beberapa bulan kami bertahan dengan terus melakukan itu. Lalu pada saat kami tiba di perkampungan hutan keramat, adikku sakit. Indu menderita demam tinggi beberapa hari dia mengigau dan menangis tanpa henti. Tapi tak ada tabib yang bisa memeriksanya karena semuanya sibuk mengobati korban perang yang berjatuhan. Lalu seorang warga kampung yang kasihan melihat kami, membawa Indu pada sang pemilik kekuatan bulan, maha guru Warastra. Aku terkagum- kagum saat melihatnya menyembuhkan Indu. Dengan satu ibu jarinya menyentuh kening Indu, dia bisa membuat Indu berhenti menangis dan tertidur lelap.
Esoknya aku datang lagi ke pondok maha guru Warastra. Aku diam- diam mengawasinya dari jauh, memperhatikan apa yang sedang ia lakukan. Tapi seorang anak berandalan dari kampung itu mempergokiku, dia dan kawan-kawannya mengeroyokku hingga babak belur lalu meninggalkanku di sebuah kebun pisang yang sepi. Secara kebetulan aku melihat maha guru Warastra melintas di dekat tempatku berada. Tak menyia- nyiakan kesempatan, aku langsung mengejarnya tanpa menghiraukan rasa sakit di tubuhku.
“Guru, Maha guru Warastra, tolonglah aku.” kataku padanya dari jauh. Maha guru membalikkan badan dan menghampiriku.
“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau penuh luka seperti ini?” tanyanya.
“Saya tak hanya terluka, maha guru. Saya juga kelaparan dan tak memiliki tempat tinggal.” jawabku.
“Dimana orang tuamu? Kenapa kau berada di tempat ini sendirian?” tanyanya lagi.
“Orang tua saya berada di pengungsian, maha guru. Mereka sedang menjaga adik perempuan saya yang sedang sakit.” jawabku.
“Bangunlah, aku akan mengobatimu.” maha guru membantuku berdiri.
“Tidak maha guru, saya tidak perlu diobati. Luka- luka ini tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kondisi orang tua dan adik saya yang masih kecil.” aku menolak tangan maha guru dengan halus.
“Kalau begitu biarkan aku mengantarmu pulang.” kata maha guru.
“Mohon ampuni saya, maha guru. Jika saya pulang dalam keadaan penuh luka seperti ini saya hanya akan membuat kedua orang tua saya semakin bersedih.” jawabku dengan menundukkan kepala.
“Lalu apa yang bisa kulakukan untuk membantumu, nak?” tanya maha guru.
“Tolong terima saya menjadi murid anda, maha guru! Saya akan berguru pada anda sampai saya bisa menjaga dan melindungi keluarga saya sendiri.” aku bersimpuh di hadapan maha guru Warastra.
Maha guru Warastra tak langsung menjawabku. Dia diam dalam beberapa menit sampai aku harus mendongakkan kepala memastikan apa maha guru masih di depanku atau tidak. Saat kami bertatapan mata, aku melihatnya mempertimbangkan dengan tatapan prihatin dan bimbang.
“Tak ada hal khusus yang bisa kuajarkan padamu. Kau hanya akan belajar hal- hal membosankan bersamaku, apa kau bersedia?” tanya maha guru Warastra setelah beberapa saat.
“Saya bersedia, guru! Saya siap menerima pelajaran apapun dari guru!” jawabku dengan penuh semangat dan dibalas dengan senyuman oleh maha guru Warastra. Setelah itu beliau membawa pulang ke pondoknya. Ia bilang ia akan menyediakan tempat tinggal untuk orang tua dan juga adikku di perkampungan hutan keramat, sedangkan aku akan tinggal bersamanya di pondok miliknya ini selama aku menjadi muridnya. Aku menyanggupi hal itu.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, banyak hal yang aku pelajari bersamanya. Sampai kuketahui bahwa ia tak pernah menggunakan kekuatan suci bulan untuk kerajaan Sasalancana. Aku menguping pada saat ia berbicara dengan raja di pondok kami. Raja murka karena maha guru tak mau memberikan kekuatannya untuk menjaga Sasalancana, perang yang terjadi selama ini seharusnya tak terjadi bila maha guru Warastra bersedia menjadi raja dan menjaga Kerajaan Sasalancana dari para kerajaan tetangga. Namun jawaban maha guru sangat tak bisa dimaafkan, “Apa yang terjadi adalah kesalahan negeri ini sendiri.”. Keluargaku kehilangan segalanya, banyak nyawa melayang dan orang-orang menderita, dia memiliki kekuatan tapi tak mau memberikannya dan malah menyalahkan negeri ini sendiri? Sejak hari itu, aku hilang kepercayaan pada Warastra. Aku kembali pada keluargaku tapi ayah dan ibuku sudah meninggal, tanpa sedikit pun kabar sampai di telingaku. Indu bilang, mereka sudah wafat sejak lama, mereka masing- masing memberi wasiat untuk jangan mengabariku agar tak menggangguku dalam berguru. Indu tinggal sendirian selama ini, ia mengaku mendapat banyak bantuan dari warga sekitar karna maha guru Warastra menitipkan Indu pada mereka. Tapi itu tidak membayar kesepian yang dirasakan adikku. Itu tidak membayar luka yang kurasakan.
“Kanda, bersekutulah denganku! Mari kita kuasai dimensi ini! Sudah saatnya kita buang Sasalancana! Kita ciptakan kerajaan baru yang sesuai dengan keinginan kita. Kanda!” saat Indu mengatakannya, aku yakin itu adalah tanggung jawabku yang ia inginkan. Aku yang seharusnya memberinya kehidupan layak sesuai keinginannya, bukan meninggalkannya di tempat asing tanpa seorang pun kerabat untuk menjaganya.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan Indu? Kau merencanakan sesuatu dariku?” aku bertanya sebagai seorang kakak. Tentu saja aku yakin ia pasti menyembunyikan sesuatu dariku, dirinya tiba- tiba berubah tak seperti indu yang kukenal.
“Pria yang menusukmu, Kanda. Aku mencintainya, aku menginginkannya, dia harus jadi milikku, Kanda. Bila kita menguasai dimensi ini, dia akan menjadi milikku selamanya..” jadi ia menginginkan pria itu. Pria yang menjadi mata- mata Warastra.
“Tentu saja kau boleh memilikinya, Indu. Aku akan membuatnya mencintaimu seorang, menjadi milikmu seorang. Dengan satu syarat.” jawabku.
“Apa itu Kanda?” tanya Indu.
“Datanglah padaku. Dan ikuti kata- kataku. Aku akan memberikan apa pun yang kau mau, Indu. Akan kubayar hari- hari dimana aku tak bisa menjadi kakak sejati padamu.” jawabku pada Indu yang mendatangiku dengan rogosukmo.
“Dimana aku bisa menemukanmu, Kanda?” tanya Indu.
“Di tempat pertama kali kau menemuiku dalam dimensi. Di gubuk yang sudah kau bakar menjadi abu. Kuyakin dengan Matahani dalam rahimmu kau pasti bisa membuka lubang dimensi untuk menemukanku di sana.”