Bab 32 – Second Attempt

1006 Kata
              Matahani adalah pusaka yang diberikan oleh sang candra untuk walinya yang pertama. Dibuat dari kekuatan purnama kedua yang kemerahan agar bisa menjadi senjata untuk melawan sifat alami manusia, yaitu iri dengki dan serakah. Pada awalnya pusaka ini hanya menghisap energi- energi negatif manusia sesat yang berbuat kerusakan di muka bumi. Tapi lama kelamaan bersamaan dengan semakin kotor hati manusia, Matahani mulai menghabisi nyawa yang dianggapnya tak termaafkan satu per satu. Wali sang candra tak menghendaki adanya p*********n di bawah hidungnya, ia lalu memohon pada sang candra untuk diberikan kekuatan agar bisa mengendalikan Matahani. Tapi tak satu manusia pun boleh mengendalikan Matahani yang memiliki kekuatan purnama kedua yang perkasa, maka sang candra memberikan syarat. Apabila mesti, lahirkanlah kembali Matahani.  Beri ingatan baru pada hatinya yang telah karam.  Perkenalkan pada cinta kasih dan ketulusan yang masih tersisa. Setelah itu sang wali pertama menyiapkan persembahan, seorang wanita berhati suci yang menjalani hidup dengan belas kasih dan ketulusan, dia adalah istri sang wali sendiri. Demi menyelamatkan nyawa orang- orang yang tersesat, ia mengorbankan wanita yang paling dikasihinya. Matahani memuji pengorbanan wali sang candra dan menerima persembahannya. Maka ia merasuki tubuh wanita itu. Tapi ternyata wanita itu tengah mengandung jabang bayi yang tak disadari semua orang. Matahani yang merasuki tubuh wanita itu terkunci pada janin di rahim sang istri. Karena bercampur dengan daging manusia, Matahani kehilangan nilai- nilai mulia yang dimiliki purnama kedua. Ia terlahir kembali sebagai senjata yang tunduk pada tuannya. Yang bersedia membersihkan hati penduduk Sasalancana dengan perintah wali sang candra. Begitulah bagaimana sejarah menceritakan Matahani. Tak hanya seorang gadis, tapi juga dibutuhkan janin untuk membuat Matahani tunduk. Indu tak menyadari hal itu. Tak banyak yang menyadari hal itu karena mereka hanya fokus pada kekuatan penghancur Matahani yang menyebabkan p*********n massal pada masa itu. Di Sasalancana pada zaman itu, setelah tugasnya selesai, wali sang candra menyerahkan kembali Matahani kepada penciptanya. Wali sang candra merasa kekuatan Matahani melebihi dari apa yang Sasalancana butuhkan. Maka dikembalikanlah Matahani pada purnama kedua. Aku tak mengetahui Matahani bisa dibangkitkan kembali hingga membaca kitab yang diberikan Warastra. Dalam kitab itu, Matahani diceritakan dengan cara yang berbeda. Tapi jelas dikatakan bahwa keberadaannya bisa dibangkitkan kembali dengan beberapa syarat. Bagaimana pun Indu tak memenuhi syarat- syarat yang tertulis dalam kitab maupun dalam sejarah, Indu tak bisa menjadi wadah yang sempurna untuk Matahani. Hanya gadis itu yang bisa melahirkan Matahani. Sebuah takdir bahwa abdiku bersahabat dengan titisan Indu. Aku bisa mendapatkan wadah yang tepat dengan mudah dan tanpa harus mengorbankan adikku satu- satunya. Aku harus mendapatkannya kembali, demi Indu, demi Sasalancana. “Prabu Jalada, maafkan hamba tak pernah menghadap, ini karena saya..” “Tak perlu berbasa basi. Aku sudah menemukan kaki tangan Warastra, tapi aku kehilangan gadis titisan Indu. Cari dia!” “Gadis itu bersama saya, Prabu. Di sini di hutan ini.” “Bagus! Bawa gadis itu padaku. Aku membutuhkannya di pondok.” “Maafkan hamba tapi itu mustahil, Prabu. Bila saya membawanya sekarang saya tidak akan bisa mengawasi kaki tangan Warastra lagi, Prabu.” “Kau sudah tidak perlu mengawasinya lagi. Matahani akan segera sempurna, aku membutuhkan gadis itu sekarang. Bawa dia ke pondok sebelum tengah hari besok.”               Matahani harus segera dipindahkan ke wadah yang tepat sebelum ia terlahir kembali agar ia mengenaliku sebagai tuannya. Bila aku menculiknya dengan lubang dimensi lagi, aku akan kehabisan kekuatan untuk menjampi gadis itu agar patuh padaku. Jampi-jampi dibutuhkan tidak hanya untuk menjaga gadis itu tak melarikan diri tapi juga agar Matahani mengenali kekuatanku karna aku bukan pemilik kekuatan suci bulan yang akan langsung dikenali oleh Matahani sebab kekuatan intinya sama- sama berasal dari bulan. Ah k*****t! Kenapa Indu mempersulit hal ini! Kini pria yang menusukku juga tak boleh dibunuh karena Indu menginginkannya. Pria itu berbahaya, pisau yang ia gunakan untuk menusukku bukan pisau biasa. Ada sihir perusak di dalamnya, membuatku sulit untuk menyembuhkan diri. Dan sihir ini bukan sihir dari Warastra. Ya, pria itu memiliki kekuatan yang unik. Berbahaya dan mengancam. Sepertinya aku harus mulai dari pria itu. “Prabu Jalada, Prabu Jalada, hamba membutuhkan bantuanmu.” ”Kenapa kau memanggilku? Darimana kau belajar rogosukmo?” ”Maafkan hamba sudah lancang memanggil anda, Prabu. Saat ini saya memiliki informasi penting yang harus segera saya beritahukan pada anda, Prabu.” “Apa itu?” “Hutan tempat saya berada saat ini memiliki sebuah goa yang langsung terhubung dengan goa lain di Sasalancana. Dan saat ini gadis titisan hendak dibawa oleh kaki tangan Warastra menuju ke goa itu, Prabu. Sepertinya ia tahu bahwa gadis ini akan saya bawa ke pondok kita.” “Pria itu lagi. Bagaimana ia bisa tahu rencana kita!” “Saya tidak tahu, Prabu. Saat ini saya kesulitan untuk membawa gadis titisan bersama saya. Bisakah Prabu Jalada membantu saya? Apa yang harus saya lakukan, Prabu?” “Ikuti mereka, halangi mereka memasuki goa itu. Aku akan membawa keduanya bersamaku.” “Baik, Prabu.” Tak ada pilihan lain. Aku harus membuka lubang dimensi dan menculik mereka berdua. Bila mereka sampai menyebrang ke Sasalancana, kerja kerasku akan sia- sia. Kukerahkan seluruh kekuatanku untuk membuka lubang dimensi ke posisi mereka. Hutan itu adalah hutan dimana aku mendapat tusukan itu. Kali ini kupastikan, pisau ini akan kembali pada pemiliknya. Kugenggam erat belati ini, lebih baik sekarang daripada nanti ia membunuhku. Maafkan aku Indu, aku tak bisa menjaga janjiku. Aku akan membangkitkannya kembali setelah Matahani lahir bila memang perlu. Begitu pintu dimensi terbuka, aku langsung berhadapan dengan pria itu dan gadis titisan di belakangnya. Tanpa ragu aku langsung menghujamkan pisau ke d**a pria itu. Tapi sial, dia berhasil menghindar, hanya menyisakan luka gores panjang di lengan kanannya. Dua kawan pria itu berhamburan hendak menyerangku. Segera ku raih tangan gadis titisan dan menyeretnya masuk ke lubang dimensi, sama seperti di malam purnama kedua menghilang. Gadis ini berhasil kuculik untuk yang kedua kalinya. Kali ini ia meronta dan berusaha menyerangku dengan beringas. ”Lepaskan aku! Atau aku akan membunuh diriku sendiri agar kau tak bisa membangkitkan Matahani dengan tubuhku!” gadis itu merebut pisau dari tanganku dan langsung mengarahkannya ke lehernya sendiri. Darah menetes dari lehernya, gadis itu tak bercanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN