Lihatlah. Di tengah kegelapan kastil tua itu, di bawah kubah kaca yang retak, ada tubuh yang tergantung di atas altar batu. Bukan patung. Bukan arca persembahan. Seseorang. Atau sesuatu yang dulu mungkin pernah hidup. Langkahkan kakimu sedikit saja, perlahan. Kau akan mendengar rantai berdecit, logamnya mengerang setiap kali tubuh itu bergoyang halus. Suara itu mengisi udara seperti napas dari dunia yang sudah mati. Atau mungkin hanya angin yang lewat, menyentuh penderitaan yang belum usai. Lihat rambutnya. Abu perak, menjuntai liar seperti kabut yang tumpah dari langit malam. Setiap helainya menangkap cahaya bulan, berkilau lembut di udara dingin. Cantik, bukan? Tapi perhatikan baik-baik. Itu bukan cahaya hidup. Hanya pantulan dari kulit yang terlalu pucat untuk disebut manus

