Chapter 11 - Shatter

1291 Kata

Aku tersentak. Terlempar dari gelap itu seperti dilempar keluar dari jurang. Nafasku tersengal, tersedak. Udara terlalu berat, menusuk paru-paru. Teriakan Mama masih memekakkan telinga. Lebih dalam lagi seperti paku yang dipalu ke dadaku. Meremas jantungku sampai nyaris berhenti. Dan... aku memang berharap berhenti. Aku ingin mencengkeram kepalaku sendiri. Tapi rantai menahan tanganku. Bergemerincing. Mengejek usaha sia siaku. Aku menarik, memaksa, kulit pergelanganku terasa perih dan basah, mungkin sudah sobek, tapi besi tetap tak bergeser. Aku menggeleng keras, mencoba mengenyahkan suara itu. Namun semakin keras aku menggeleng, semakin jelas aku mendengar jeritan itu. Aaaah… Semua ini gara-gara Gwazel. Kebencianku padanya berubah jadi racun. Pekat. Menempel di tulang. Ia tahu ingata

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN