FITNAH MANTAN (10)
Hatiku berawan kelabu.
Secarik kertas tergeletak di atas meja kaca. Surat dari pengadilan untuk sidang hak asuh anak. Benar kata Pak Kairav, Mas Vano memang bisa membuat hal-hal mustahil menjadi mungkin. Uang bisa mempercepat segala sesuatunya.
“Kamu jangan cemas, kita akan mempertahankan Kioya. Keinginan Vano menginginkan Kio sama sekali tidak masuk akal. Kita akan memenangkan hak asuhnya di pengadilan.” Pak Kairav menatap lembut.
Aku mengangguk.
Bersyukur bisa bertemu pria sebaik Pak Kairav.
Entah akan seperti apa hidupku tanpa dirinya.
Allah, bantu Mai dan Pak Kairav.
Pak Martin pengacara perdata yang sudah pernah menangani ratusan kasus perceraian, perebutan hak asuh anak, pembagian harta gana-gini, dan segala macam problem kekeluargaan. Persentasi kemenangannya hampir sembilan puluh dua persan. Hampir tidak pernah kalah.
Aku tidak dapat menebak dengan pasti berapa usianya. Mungkin empat puluhan lebih. Dandanannya rapi dan formal. Memiliki rahang kokoh, sorot mata tegas, kulit cokelat cerah dan bersih. Dia memiliki badan tinggi tegap. Aroma parfumnya tidak menyengat.
Aku hanya berkenalan singkat dengan Pak Martin. Selebihnya, dia berbicara di ruang privat bersama Pak Kairav dan Mas Daffa. Aku tidak tahu kenapa nggak diizinkan bergabung. Hati terasa resah jadinya.
Mas Kiovano orang yang ambisius.
Dia memiliki seribu satu cara untuk mencapai tujuannya.
Aku benar-benar gelisah. Sudah dua jam Pak Martin, Pak Kairav, dan Mas Daffa di ruangan. Tidak kunjung keluar juga. Bagaimana kalau ternyata kasus ini berat dan sulit.
“Mbak Mai.”
“Eh!” Saking fokus menatap pintu ruangan. Aku sampai tidak sadar Haura sudah duduk di sisiku.
Haura menggenggam jari-jariku yang berkeringat dingin. “Mbak … aku udah dengar semua cerita Mbak Maira dari Papa. Aku turut prihatin. Om Vano emang nggak jelas. Mbak sabar, ya. Om Kai orang yang hebat, kok. Dia pasti bisa ngadepin Om Vano yang kucrut itu! Jadi, Mbak jangan takut.”
Kucrut?
Aku balas menggenggam jari-jemari Haura. Menawarkan senyum persahabatan padanya. “Terima kasih, Dek.”
“Eh! Tapi Mbak jangan salah paham, ya.”
“S-salah paham apa?”
“Walau aku prihatin sama Mbak, tapi kita tetep saingan. Kita saingan secara sehat buat dapatin hati Om Kairav. Pokoknya aku nggak mau ngalah. Titik!”
Ya Allah.
Aku pikir apa.
“Mbak Maira menang satu langkah karena ada Kio-chan. Nanti aku juga mau buat anak biar kita jadi imbang.” Haura mengepalkan tangan kirinya dengan penuh semangat. Mau tidak mau, aku tersenyum melihat tingkah konyolnya.
Haura menambahkan akhiran atau suffix chan pada nama Kioya. Artinya dia menganggap Kioya seseorang yang dekat dengan dirinya. Di Jepang, suffix chan biasanya dipakai untuk memanggil anak kecil, gadis remaja, teman dekat, atau sahabat. Aku pernah mempelajari ini sedikit ketika sekolah.
“Pokoknya, kita akan lawan Om Vano sama-sama. Tapi tetep saingan kalau urusan hati Om Kairav, deal?” Haura menatapku dengan mata berbinar dan berapai-api.
Aku harus jawab apa?
Memangnya aku ingin memenangkan hati Pak Kairav?
“Mbak!”
“Eh! Emm—”
Aku tidak jadi bicara karena pintu tempat Pak Kairav, Pak Martin, dan Mas Daffa berunding sudah terbuka. Yang pertama kali keluar Pak Martin. Disusul Mas Daffa yang mendorong kursi roda Pak Kairav.
Sebenarnya kursi roda Pak Kairav bisa melaju secara otomatis. Namun, kadang-kadang dia membiarkan saja Mas Daffa atau Mas Ferdian yang mendorongnya. Senyuman lembut terukir di sudut bibir pucat Pak Kairav saat melihatku dan Haura.
“Sepertinya kalian mulai akrab,” komentar Pak Kairav.
Haura langsung berlari menghampiri Pak Kairav. Dia menumpukan kedua tangannya di lengan kanan Pak Kairav yang menumpang di sisi kursi roda.
“Gimana? Kita akan memenangkan sidangnya, ‘kan?” tanya Haura, antusias.
Pak Kairav memandangku, kebetulan aku sedang menatapnya. Pandangan kami beradu. Aku buru-buru menunduk—malu.
“Kita harus memenangkannya.” Walau terdengar lembut, aku bisa merasakan ada kesungguhan dan kegigihan ketika Pak Kairav mengucapkannya.
Pak Kairav benar-benar berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi aku dan Kioya. Usahanya tidak setengah-setengah. Entah dengan cara apa aku bisa membalas semua kebaikannya.
…
Luas.
Aku melangkah memasuki ruangan luas bak aula. Ruangan ini terasa menalan, aku jadi merasa seperti seekor semut bila sedang berada di ruangan ini. Entah kenapa Pak Kairav membuat ruangan seluas ini dan tanpa perabot.
Ruangan ini sudah dilengkapi dengan peredam suara gema. Jadi, meski lengang dan tidak ada perabotan apa pun. Bunyi atau suara di ruangan tidak bergema. Untuk pencahayaan, ruangan ini menggunakan jenis lampu TL (fluorescent).
Sinar senja sudah turun. Ketika aku naik ke sini, sudah pukul lima lebih empat puluh menit. Sebentar lagi adzan maghrib pasti berkumandang.
Pak Kairav duduk di kursi roda menghadap jendela raksasa. Sinar senja menyinari tubuhnya yang hanya mengenakan jubah piyama berwarna merah gelap. Meski kaca jendela terbuat dari jenis kaca sunergy, kulit Pak Kairav tampak agak sedikit memerah.
“Mas panggil aku?” Aku berdiri di belakang Pak Kairav.
Pemandangan di balik kaca merupakan jalan raya dan atap-atap rumah penduduk yang menghampar luas tak bertepi.
“Bagaimana perasaan kamu, Mai?”
“P-perasaan?”
“Apa masih gelisah?”
Oh!
Kupikir perasaan apa.
Aku akui memang masih merasa gelisah. Jika saja orang yang dihadapi Pak Kairav bukan Mas Vano, aku pasti akan percaya seratus persen Pak Martin akan memenangkan sidang. Namun, Mas Vano? Dia bukan orang yang gampang dikalahkan.
“Mai ….”
“Um, ya. Mai … m-masih … masih merasa gugup.” Aku tidak berbohong, kenyataannya aku memang gugup menghadapi pengadilan yang akan berlangsung beberapa hari lagi.
Pak Kairav menyodorkan setangkai mawar segar tanpa menoleh ke belakang—tempatku berdiri. Aku menerimanya.
“Coba hirup wanginya,” pinta Pak Kairav.
Patuh, aku mendekatkan kelopak mawar ke hidung. Harum. Aku memang suka wangi mawar, walau mungkin menurut sebagian orang wanginya cukup tajam. Duri-duri pada tangkai mawar ini sudah dibersihkan. Jadi, aku bisa menggenggamnya dengan aman.
“Kamu suka wanginya, Mai?”
“Y-ya. Mai suka.”
“Menghirup aroma wangi yang kita sukai biasanya bisa membuat perasaan serta pikiran lebih relaks. Sedikit mengatasi rasa setres.”
Aku mengiyakan dalam hati.
Adzan maghrib berkumandang. Aku izin undur diri untuk melaksanakan shalat. Tentu saja Pak Kairav tak menghalangi. Seulas senyum lembutnya terlukis sebelum aku melangkah pergi.
…
Aku meletakkan bunga mawar pemberian dari Pak Kairav di atas bantal. Kemudian melaksankan shalat Maghrib.
Selanjutnya, aku menjalani rutinitas seperti biasa. Membantu para ART menyiapkan makan malam, shalat Isya, membacakan dongeng dan menidurkan Kioya. Walau ada Mbak Riyanti, aku tidak melepas tanggung jawab seorang ibu begitu saja. Namun, begitu aku aku kembali ke kamar untuk tidur, seketika mulutku menganga.
Seingatku, sekitar pukul delapan ketika aku shalat Isya, kamar ini masih normal. Namun sekarang, kamar ini penuh dengan bunga dan kelopak mawar. Di atas kasur, di lantai, kelopak mawar berserakan. Mawar-mawar segar yang masih bertangkai tersusun rapi di dalam vas-vas kaca bening beraneka warna transparan. Ada juga lilin-lilin merah yang menguarkan aroma harum lembut. Lilin aroma terapi seperinya.
Pak Kairav! []