FITNAH MANTAN (11)
…
Sidang pertama.
Sidang dilaksanakan di salah satu pengadilan agama secara privat. Tidak ada penonton, kecuali orang-orang yang terlibat langsung—dari kedua belah pihak.
Aku datang sebagai tergugat dan didampingi oleh Pak Martin. Pak Kairav, Haura, Mas Daffa, Mas Ferdian, dan Yozi juga akan ikut menghadiri jalannya sidang.
Sementara Kioya tetap di rumah bersama Mbak Riyanti. Selain belum perlu dihadirkan, kata Pak Kairav hal ini juga untuk menjaga psike Kioya tetap baik. Suasana perseteruan persidangan tidak baik untuk perkembangan psikis Kioya.
Ketika mobil rombonganku tiba di parkiran, rombongan Mas Vano sudah berkumpul di teras. Dari beberapa orang, Pak Bahtiar salah satu yang aku kenal. Pak Bahtiar asisten pribadi Mas Vano. Sekarang usianya mungkin sudah lima puluh dua tahunan. Rambut putihnya mendominasi. Namun, dia masih kelihatan bugar dan segar. Pak Bahtiar selalu berpakaian formal dengan setelan jas dan sepatu pantofel. Ketika bicara pun dia biasanya sangat formal. Meski begitu dia sangat ramah serta cekatan.
Putri Adiorra juga datang. Putri tunggal pemilik rumah sakit swasta itu mengenakan gaun brukat putih selutut. Sepatu jenis strapy shoes berwarna nude. Hiasan di depan sepatu terdiri dari mutiara hitam yang membentuk bunga dengan rangka besi collin berwarna emas dan kristal. Rambutnya disanggul sederhana dan disisipi headpiece anggun berbentuk bunga berwarna perak. Dua anting-anting mutiara menggantung menghiasi kedua daun telinganya yang putih terawat. Jari-jari lentik kirinya menjingjing tas Gucci Padlock Medium.
Bu Intan Permatasari juga hadir. Wanita berusia enam puluh tahunan itu masih tampak angkuh dan tegas. Keriput di sudut mata serta pipi yang mulai kendur tak menghalangi penampilannya yang tampak berkuasa. Bu Intan memakai kebaya formal modern hijau tua dengan sepatu jenis platshoes berwarna senada. Selendang dari batik Kawung yang juga berwrana hijau gelap menghiasi bahunya hingga ke pinggang. Rambutnya disanggul dan diberi hiasan krisal berbentuk bunga yang menjuntai-juntai.
Hanya mereka bertiga yang aku kenal. Sisanya asing. Namun, pria berusia empat puluh enam tahunan yang memakai setelan jas formal, sepatu pantofel, dan menjingjing tas segi empat sepertinya seorang pengacara. Kemungkinan pengacara Mas Vano. Wajahnya telihat sangat dingin dan serius.
Karena ini sidang perdata, advokat, pangacara, atau penasihat hukum, tidak diwajibkan memakai jubah toga dengan simare hitam. Pak Martin juga tidak pakai toga, hanya mengenakan setalan jas formal.
“Jangan gentar, Mai.” Pak Kairav menoleh dari jok depan.
Aku mengangguk. “I-iya.”
Mas Ferdian turun lebih dulu, menyiapkan kursi roda. Yozi membukakan pintu untukku dan Haura. Sementara Mas Daffa membukakan pintu untuk Pak Kairav.
Menyadari kedatangan rombonganku, rombongan Mas Vano berhenti. Mereka semua berbalik, seperti menunggu rombonganku untuk melakukan konfrontasi.
Mas Ferdian mendorong kursi roda Pak Kairav. Meski kulit Pak Kairav sudah memakai sunblock, tetap memerah ketika berada di luar ruangan. Kulitnya benar-benar sensitif pada cahaya matahari walau nggak langsung. Mata Pak Kairav nyaris memejam ketika pertama kali turun. Dia tidak menggunakan kacamata photocromic anti radiasinya.
Pak Kairav mengenakan setelan kemeja katun berwarna putih yang pas ditubuhnya. Dilapisi blazer formal selutut dengan celana katun dan sepatu pantofel. Semuanya berwarna putih. Penampilannya seperti setengakai teratai yang anggun dan indah.
Rombonganku dan rombongan Mas Vano saling berhadapan. Aura perseteruan terasa begitu kental mencengkeram.
Untuk kesekian kalinya, Pak Kairav yang duduk di kursi roda berhadapan dengan Mas Vano yang berdiri tegak. Meski di dalam diri mereka mengalir darah yang sama. Namun, baik sifat maupun sikap, keduanya sangat berbeda. Saling bertolak belakang.
Pak Kairav begitu lembut. Jarang menampilkan kemarahan. Lebih sabar dalam menghadapi setiap keadaan. Selama tiga tahun tinggal bersamanya, belum pernah sekali pun aku mendengarnya berteriak marah atau membentak. Ketika sedang marah sekalipun, suaranya tetap rendah dan lembut. Dan meski memiliki tubuh yang tegap, Pak Kairav terlihat sangat rapuh. Dia seperti kelopak teratai yang kapan saja bisa robek tergores ranting.
Sebaliknya, Mas Vano begitu kokoh seperti sebuah tombak perang. Dia sangat keras. Jika sedang marah atau dalam suasana hati yang buruk, tak segan membentak atau bahkan berteriak.
Kali ini, Mas Vano mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya, sehingga mencetak otot dan d**a bidangnya dengan nyaris sempurna. Setelan jas formal, celana katun formal, dan sepatu pantofel. Semuanya serba hitam, senada dengan rambut lurusnya yang lebat dan juga hitam bak arang.
Kulit cerah kuning langsat Mas Vano begitu cemerlang. Menopang wajahnya yang memang rupawan. Hidung bangir, alis lebat di atas sepasang mata elang yang bagai berlian hitam. Bulu matanya lurus dan juga lebat. Dia memiliki rahang tegas yang bersih tanpa bulu-bulu halus. Ditambah Mas Vano rutin ke gym, membuat tubuhnya penuh otot yang proporsional. Beladiri taekwondo dan pencak silat yang dia tekuni membuat sepasang kaki dan tangannya semakin penuh tenaga—memancarkan aura berbada yang kuat.
Pak Kairav seperti bunga teratai yang anggun dan indah.
Mas Vano seperti tombak perang dari besi hitam yang gagah dan mengancam. Tombak yang bisa dengan mudah merobek kelopak teratai.
“Aih! Kalian sangat tepat waktu,” puji Pak Kairav.
Suasana yang sangat tegang sedikit mencair hanya dengan seulas senyum Pak Kairav.
Bu Intan Permatasari menatapku dengan sorong dingin dan sinis. Aku ingat dia pernah begitu menentang pernikahanku dan Mas Vano. Namun, dia tak berdaya melawan Pak Bima yang merestui pernikahanku dan Mas Vano. Saat itu aku belum mengenal Pak Kairav juga tidak tahu kalau Pak Bima memiliki anak lain selain Mas Vano.
Mas Vano meletakkan tangan kirinya di bahu Pak Kairav. Dia membungkuk hingga hanya menyisakan beberapa jengkal antara wajahnya dan wajah Pak Kairav. Ketika pandangan mereka beradu, ketegangan kembali meningkat.
Pak Kairav tersenyum lembut, membuat suasana tegang kembali terurai. Ketenangannya dalam menghadapi segala situasi benar-benar membuatku kagum.
“Mata kamu agak merah, apa tidak bisa tidur semalam?”
Mas Vano menyeringai sinis mendengar pertanyaan dari Pak Kairav. Dengan nada sarkasme dia menjawab, “Lebih baik sedikit merah, ketimbang pucat seperti mata orang mati, ‘kan?”
Aku menelan ludah.
Kata-kata Mas Vano benar-benar kejam.
Anehnya, Pak Kairav seperti tidak terpengaruh. Dalam posisi masih ditekan, dia tetap tersenyum lembut.
“Benar juga,” jawab Pak Kairav, enteng.
Menyadari kalau usahanya untuk memprovokasi sia-sia, Mas Vano mendengkus kasar. Jari-jarinya yang menekan bahu Pak Kairav mengepal erat, urat-urat hijau muncul kepermukaan.
Mas Vano memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. Dia mengembuskan napas lalu menarik tangannya. Kembali berdiri tegak sembari merapikan kacing jas pergelangan tangan.
“Saya punya banyak kejutan untuk kalian.” Mas Vano menyeringai angkuh.
Aku bisa melihat sedikit perubahan di wajah Pak Kairav. Wajahnya sedikit menegang. Pak Kairav pasti menyadari kalau Mas Vano buka tipe orang yang suka berkoar tanpa bukti. Kalau Mas Vano mengatakan memiliki kejutan, sudah pasti dia memang memiliki sesuatu yang akan mengejutkan.
Diam-diam aku menelan ludah.
Telapak tanganku terasa dingin oleh keringat.
Bagi Mas Vano, menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bukanlah sesuatu yang mustahil. Genius dan licin—bagitu Pak Kairav menyebutnya.
Ya Allah, bagaimana kalau ternyata Mas Vano bisa memenangkan sidang dan mengambil Kioya. Jangan biarkan hal itu terjadi ya Rabb. []