Bab 2x+2x= 8 Diprank

1632 Kata
"Oh, ternyata kalian sudah pernah saling bertemu sebelumnya? Bagus deh kalau begitu! Tenang saya jadinya," sahut Ferdi sambil tersenyum. Sementara Haura tersenyum menatap Aksa. Namun cowok itu hanya menatapnya datar-datar saja sehingga membuat Haura langsung berhenti tersenyum seketika. "Udah ya saya tinggal dulu. Aksa, Om titip Haura ya," pesan Ferdi. "Jadi anak baik di sekolah ya, sayang." Kemudian bergerak untuk mencium kening Haura. Seusainya papa Haura segera menaiki mobilnya dan mulai meninggalkan area sekolah ini. Kini hanya menyisakan Aksa dan Haura yang sama-sama terlihat canggung.. Aksa yang terlihat datar dan jutek, sementara Haura yang canggung dengan orang baru menjadikan mereka tidak langsung akrab satu sama lain. Aksa segera melangkahkan kakinya. Namun cowok itu menyadari bila Haura masih terdiam di tempatnya. "Kenapa lo diem aja? Ikutin gue buruan! Lo pikir gue nggak sibuk apa?" ujar Aksa dengan nada tak santai. Reflek Haura langsung menoleh ke arahnya. "Iya, iya, maaf." Haura kemudian berjalan bersama Aksa. Namun keduanya bukan berjalan saling beriringan, tetapi Haura memilih berjalan mengikuti Aksa di belakangnya. Sesekali Haura merasa seperti ada banyak orang yang mulai menatapnya di setiap langkahnya. Kebanyakan dari mereka adalah siswi-siswi yang sedang duduk di pinggir kelas mereka. Haura yang melihat hal itu sontak mengangkat salah satu tangannya lalu sambil tersenyum menatap mereka. Ia merasa seperti seorang selebritis sampai diperhatikan selama dan sedalam itu. Padahal sebenarnya, mereka yang memperhatikannya sejak tadi itu menyimpan rasa iri yang besar pada Haura karena bisa berjalan bersama dengan cowok tertampan di sekolah ini. Sementara Aksa yang melihat aksi Haura hanya bisa membatin." Polos sama bodoh emang nggak jauh beda.' "Buruan!" perintah Aksa terdengar dingin. Pasalnya Haura justru terlihat semakin memperlambat langkahnya sehingga membuat Aksa jadi menunggu Haura menyusul. Haura yang mendengar perintah itu langsung berlari pelan lalu berjalan di belakang Aksa. "Kalo lagi jalan bareng sama. orang itu di samping." Haura tersenyum tipis mendengarnya. Itu sudah menjadi kebiasaan Haura sejak kecil. Jarang mengikuti orang berjalan berdampingan. Haura lebih suka berjalan di belakang orang itu. Namun ketika mendengar perintah yang tegas itu membuat Haura menjadi menurut lalu ia berusaha menyamai langkah Aksa. Haura tiba-tiba mengatupkan dua jari telunjuknya yang saling bertemu. "Emm.. Soal kemarin maaf banget ya. Nggak tau ternyata minumannya udah di dalam plastik Aksa hanya menatap Haura sekilas tanpa memberikan jawaban apa pun. Kemudian Aksa tiba-tiba meninggalkan Haura begitu saja dengan langkah yang lebih cepat. "Dia sebenarnya maafin atau nggak sih?" gumam Haura mendadak merasa jadi tidak enak. Haura terlalu memikirkan sikap Aksa yang sulit terbacakan. Terkadang dia dingin, jutek, dan juga pun judes. Tapi yang pasti dia masih tersinggung karena ulahnya yang ceroboh. Makanya Aksa langsung berjalan lebih dahulu darinya setelah sebelumnya menyuruhnya untuk berjalan beriringan. Hingga tanpa sadar Haura telah tiba di ruangan kepala sekolah. Haura dan Aksa berhenti di depan pintu itu sambil berhadapan satu sama lain. "Lo masuk duluan sana ke dalam!" perintah Aksa. Merasa malas untuk masuk lebih dulu. "Ih nggak mau." Haura kontan menggelengkan kepalanya. "Ck. Ngerepotin aja sih!" Pada akhirnya Aksa memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan ini. Sebelum masuk ke dalam, Haura sempat menatap Aksa sekilas. Kalau dirinya ini merepotkan lalu kenapa Aksa mau menerima tawaran dari Papanya? Kan bisa ditolak. Haura menghembuskan napasnya kasar. Gadis itu segera masuk ke dalam ruangan kepala sekolah, menyusul Aksa yang sudah berada di dalam sana. Haura mendapati seorang pria yang sudah berumur terduduk di kursinya. Haura langsung bisa menebak bila beliau kepala sekolah. "Ini anak barunya, Pak." Aksa menunjukkan Haura di hadapan kepala sekolah yang saat ini langsung menatapnya. Kemudian tiba-tiba Aksa mendekat ke arahnya. Reflek Haura mundur beberapa langkah karena terlalu terkejut dengan sikapnya. Aksa menatapnya intens. "Gue tinggal dulu. Sibuk soalnya." "Makasih ya, Aksa. Maaf udah ngerepotin," sahut Haura sambil tersenyum manis. Haura tahu Aksa terlihat terpaksa, tapi setidaknya Aksa mau mengantarkannya sampai di sini. "Emang lo ngerepotin," bisik Aksa lagi tepat di telinganya. Jantung Haura mendadak mulai berdetak cepat. Sampai pada akhirnya Aksa mulai meninggalkan tempat ini, namun sampai saat ini Haura masih terbayang-bayang dengan perlakuan Aksa padanya sebelumnya. Sikap arogannya memang selalu ada, dan menurut Haura itu sangat menyebalkan baginya. "Jadi kamu Haura Aini Mahya ?" tanya kepala sekolah tersebut membuat pikiran Haura kembali pada kenyataan lagi. "Iya, Pak, itu saya." Pria itu mulai membuka-buka sebuah berkas lagi kemudian berkata, "Saya sudah menentukan kamu di kelas XI IPA 2. Kamu bisa ke sana sendiri sambil bertanya-tanya dengan murid-murid di sekolah ini. Maaf saya tidak bisa mengantar karena saya sedang sangat sibuk sekarang." "Oh iya, Pak, makasih ya." Setelahnya Haura keluar dari ruangan ini. Akan tetapi Haura tidak menemukan Aksa di tempat ini. Gadis itu juga bahkan sengaja menunggu sampai dua puluh menit telah berlalu dengan cepat di sini, namun Aksa masih saja belum terlihat sampai sekarang. "Semua orang sibuk. Kenapa nggak ada yang sempetin waktu buat aku gitu cuman buat nganter doang?" gumam Haura mulai merasa sebal. Kepalanya tertoleh ke kanan dan kiri, mirip seperti anak hilang. Kakinya saja juga sudah merasa pegal berdiri selama ini. Hingga pada akhirnya Haura mulai memutuskan untuk mencari kelas barunya seorang diri. Kedua sepatu hitamnya mulai menginjak marmer putih itu di setiap koridor sekolah, akan tetapi ia merasa seperti sedang berputar-putar di tempat yang sama. Jujur berada di posisi ini, Haura sungguh panik dibuatnta. Terlebih bel sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu, sementara sampai sekarang Haura masih belum masuk ke kelasnya. Selain itu, sama sekali tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kebingungannya ini. Haura juga termasuk sosok yang pemalu. Ia tidak berani untuk bertanya pada mereka. Yang sempat Haura percaya hanya Aksa saja. Meskipun pada akhirnya Aksa juga tidak bertanggung jawab atas hal ini. Padahal cowok itu yang diperintah oleh papanya, tapi dia juga yang tidak menepati amanah tersebut. "Jadi lo anak barunya ya?" Tiba-tiba ada seorang siswi mulai berbicara padanya ketika Haura larut dalam kesendiriannya. "Iya," jawab Haura singkat. la mulai merasa senang dikarenakan tiba-tiba ada banyak siswi yang menghampirinya setelah tidak ada satu pun orang yang mau mengajaknya mengobrol. Siswi itu kemudian menyodorkan tangan ke arahnya. Kenalin namu gue Ziandra. Panggil aja Zea." "Kalo nama gue Laras," sahut temannya yang lain. "Nama gue Alana." "Gue Vania." Haura tersenyum manis menatap mereka. "Nama aku Haura. Semoga kita bisa berteman dengan baik ya." Kedua mereka terlihat sedang saling lirik melirik satu sama lain setelah mendengar jawaban Haura. "Kelas berapa? Sini biar kita anter ke kelas lo," tawar Alana. "XI IPA 2." "Oohhhh, XI IPA 2 mah gampaanggg. Ayo lo ikut kita!" ajak Vania kemudian langsung menggeret tangan Haura begitu saja. Sedangkan Haura hanya menurut ketika mereka mulai menarik tangannya untuk pergi ke tempat yang ia inginkan. yang terpenting Haura senang akhirnya ia mendapat pertolongan dari mereka. Sampai tiba waktunya, Vania tiba-tiba melepas genggaman tangan darinya dan membiarkan Haura untuk berjalan sendiri. "Lo jalan duluan ya. Kita di belakang aja ngikutin lo," kata Zea. Wajah Haura mendadak menjadi bingung. "Ta-tapi..." Ia merasa tidak biasa ketika berjalan mendahului orang. Laras sontak memegang punggung Haura dengan kedua tangannya untuk mempercepat langkahnya, "Udah, nggak usah banyak mikir! Jalan doang di depan apa susahnya sih?" ketusnya. Pasrah mengikuti perintah paksaan dari mereka, pada akhirnya Haura memilih berjalan lebih dulu sampai beberapa menit kemudian sebuah ruangan mulai terlihat oleh pandangan mereka. Namun ada yang aneh dengan sekitarnya. Tempat ini terlihat tempat kosong. Tidak ada apa pun lagi di sini kecuali pintu cokelat itu. Zea menunjuk ke arah pintu. " Di depan sana ruangan kelas lo. Gue sama yang lain pergi dulu. Bye !" "Makasih ya kalian udah anterin sampai kelas," tutur Haura tersenyum sumringah. Setelah mereka pergi, Haura kemudian menatap pintu itu. tanpa ragu Haura langsung membukanya begitu saja. "Assalamualaikum" ucapnya. "Walaikumsalam." sahutan salam dari dalam mulai terdengar. Pintu telah terbuka dengan sempurna. Haura melihat banyak cowok yang sedang duduk di sini sedang merokok, bahkan juga ada yang sedang sibuk bermain online. game Kedua mata Haura mulai menatap tempat ini dengan tatapan kagum. "Wah keren banget kelasnya. Bisa ngelihat pemandangan secara alami di sini. Tapi kenapa di sini cowok semua ya?" tanyanya bingung menatap keenam cowok itu. Cukup lama mereka terdiam karena merasa bingung mendengar perkataan Haura barusan sampai akhirnya mereka mulai menyemburkan tawanya. "Sejak kapan tongkrongan kita jadi kelas woy?" celetuk salah satu cowok di sana. "Lo salah masuk kelas weh! Di sini itu rooftop, bukan kelas!" sahut yang lainnya menatap Haura. Haura menatap mereka dengan penuh tanda tanya. Jangan-jangan Haura dibohongi sama rombongan siswi yang tadi!? "Sa, kenapa ada cewek nyasar di sini?" tanya mereka pada temannya yang sedang fokus bermain game. Aksa yang terusik langsung menolehkan kepalanya. Kedua matanya melotot dengan sempurna melihat Haura berdiri di tempat ini. "Lo!?" "Aksa?" Melihat Haura dan Aksa yang saling terkejut satu sama lain, mereka jadi semakin bingung. "Lo kenal dia?" "Anak temen Papa gue," sahut Aksa. "Terus? " "Baru masuk sekolah di sini." "Oh pantesan," angguk temannya. "Tapi ya masa baru masuk sekolah udah salah masuk kelas aja? Masa nggak ada yang anterin gue?" "Gue yang anterin dia. Tapi gue lupa kalo gue ninggalin dia." Haura yang melihatnya langsung memelototkan matanya. "Parah sih." Aksa kemudian berdiri dari posisinya lalu berjalan mendekati Haura. "Buruan lo ikut gue!" perintah Aksa. "Iya." Setelah itu mereka berdua meninggalkan rooftop. Jika sebelumnya mereka terlihat canggung satu sama lain, kali ini Haura mulai berani mengungkapkan penyesalannya. "Bilangin Papa nih kalo ninggalin aku sembarangan!" ancam Haura. Siapa juga yang tidak kesal bila sudah menunggu lama tahu-tahunya tidak datang lagi? Kalau begitu lebih baik dari awal tidak perlu mengantarnya saja daripada harus ditelantarkan seperti tadi. Biarkan saja papanya yang mengantar Haura sampai ke kelas barunya dengan selamat dan sampai tepat waktu. Aksa menghentikan langkahnya. Dari jarak yang sedekat ini, dia mulai menunduk menatap Haura yang saat ini mendadak jadi sesak napas karena merasa terintimidasi tatapan tajamnya. "Gue juga bilangin papa lo, kalo pertemuan awal kita, lo nggak sopan ngambil minum orang sembarangan." Haura terdiam seketika dengan wajah merah. Lagi-lagi merasa malu karena kembali diingatkan oleh kejadian itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN