"Semuanya perkenalkan ini adalah murid baru yang akan masuk kelas kita. Ayo silahkan perkenalkan diri kamu dulu!"
Mereka semua menatap Haura dengan beragam macam tatapan.
"Halo semuanya perkenalkan nama saya Haura Aini Mahya, biasa dipanggil dengan nama Haura. Semoga kita semua bisa berteman dengan baik di sini. Salam kenal semua," ujar Haura mulai memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lebar.
"Salaam kenaal, Hauraaaaaa." Semuanya sontak menjawabnya dengan bersamaan.
Kemudian setelah itu suara bisik-bisik mulai terdengar. Mereka mulai membicarakan Haura di meja mereka. Rata-rata mereka berbicara senang memiliki teman baru. Penantian mereka juga tidak sia-sia melihat mereka memiliki teman yang ceria.
Dan Haura benar-benar tidak menyangka mereka akan seheboh ini menyambut kehadirannya.
Kelas yang awalnya hening kini berubah menjadi ramai bak pasar. Suasananya sudah tidak bisa terkendalikan lagi.
Mendengar kegaduhan dalam kelas ini, Bu Citra sontak mengambil alih suasana kelas ini.
"Harap tenang dulu oke!" teriak Bu Citra keras dan sangat tegas.
Ajaib!
Dalam hitungan detik semuanya langsung menutup mereka. Kemudian mereka juga mulai fokus menatap ke depan sekarang.
Lalu Bu Citra mulai menatap Haura sambil tersenyum menyambut. "Baik, terimakasih atas perkenalannya yang baik, Haura. Selamat datang di SMA Galaxy dan saya harap kamu betah di sekolah ini. Dan juga saya harap teman-teman semua mau membantu Haura yang ketinggalan dalam pelajaran.
"Jadi silahkan kamu duduk di kursi kosong yang ada di sana ya, Haura."
Bu Citra menunjuk kursi kosong di samping seorang siswi cantik berambut cokelat yang mungkin panjangnya di bawah bahu yang saat ini juga sedang menatapnya.
Hanya kursi itu saja satu-satunya yang kosong.
"Baik, Bu. Makasih ya."
Setelahnya Haura mulai melangkahkan kakinya ke tempat yang ditunjuk tadi. .
la sekilas melihat siswi yang akan menjadi teman sebangkunya itu sedang tersenyum ke arahnya.
Sontak Haura langsung membalasnya dengan senyuman juga.
Haura kemudian menarik mundur kursi kosong itu lalu ia segera mendudukkan diri di tempat ini.
"Halo kenalin nama gue Alma."
Siswi di sebelahnya yang mengaku bernama Alma itu mulai mengajaknya berkenalan.
Haura menjawab sambil tersenyum, "Haura."
Alma menatap Haura sambil tersenyum. "Seneng banget bisa ketemu lo. Akhirnya gue punya teman sebangku."
"Kamu udah lama duduk sendiri?" tanya Haura yang mendadak bingung dengan pernyataan Alma barusan.
Alma menggelengkan kepalanya.
"Udah dari lama sih sebenernya gue duduk sendiri. Dulu waktu gue kelas X, gue masih punya teman sebangku. Tapi lama-lama dia nggak mau duduk sama gue lagi karena katanya gue galak. Dia takut sama gue. Yaudah deh jadinya gue mutusin buat duduk sendiri sampai sekarang," cerita Alma.
"Oh gitu ya?"
Entah mau kasihan atau ketawa karena alasannya, tapi Haura cukup senang saat ini ia bisa menjadi teman sebangku dia.
"Iya. Duh kan jadi curhat," keluh Alam keceplosan.
Ia merutuki diri sendiri yang sering menceritakan masalahnya pada orang lain dengan mudahnya.
"Iya gapapa."
Mereka akhirnya mulai terdiam ketika Bu Citra sudah memulai pelajarannya di dalam kelas. Semua murid mulai menyimak di depan sana.
Termasuk Haura yang ternyata sudah cukup jauh tertinggal oleh pelajaran, dia berusaha menangkap materi lanjutan yang ada di papan tulis depan.
Sampai tiba waktunya istirahat telah tiba. Beberapa murid yang di kelas XI IPA Ii langsung berbondong-bondong pergi berlarian keluar kelas untuk menuju ke kantin.
"Kalau boleh tau lo kenapa pindah ke sekolah ini, Hau?" tanya Tata di saat kelas ini mulai agak sepi.
Hanya ada beberapa murid yang ada di sini. Jadi mereka semua otomatis mendengar jelas percakapan keduanya.
Mendapati pertanyaan itu, Haura hanya diam.
Ia sama sekali tidak minat untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Kenapa cuman diem? Apa gara-gara karena cogan?" tebak Alma ngawur.
"Cogan mulu pikiran lo! Capek sumpah gue dengernya!" celetuk Putra.
"Lo mah bukan golongan cogan, jadi diem aja ok," sahut Alma pada temannya itu.
Tapi sebenarnya tidak salah juga bila mereka menanyakan hal tersebut. Terlebih SMA Galaxy merupakan gudangnya cowok-cowok tampan dan juga keturunan kolongmerat.
"Jadi alasannya kenapa lo pindah?" tanya Tata sekali lagi dengan penasaran penuh.
"Karena pengen aja," jawab Haura.
"Iya, tapi kenapa?"
Wajah Haura mendadak jadi sedih ketika dia dipaksa ditanya seperti itu. Gadis itu menundukkan kepalanya.
Semakin ditanya tentang pertanyaan itu, semakin membuat Haura kembali mengingat masa lalu sekolah lamanya yang sangat kelam dan menyedihkan.
"Kenapa sedih, Hau?" tanya Dani penasaran.
Alma menatap mereka murka." Kenapa sih lo lo pada nanya begituan? Kepo banget dih! Keliatan kan dia nggak mau jawabnya, jadi nggak usah tanya mulu!"
"Dih apa-apaan sih lo? Gue sama yang lain cuman nanya biasa aja. Kalo nggak mau dijawab yaudah gapapa sih. Gitu aja sewot lo!" sahut Kayla sinis.
Setelah itu mereka segera pergi meninggalkan kelas ini karena malas meributkan sesuatu sehingga di sini menyisakan Haura dan Alma yang masih berada di dalam kelas ini.
"Maaf ya, mereka semua emang gitu. Suka kepo orangnya," tutur Alma mulai merasa tidak enak.
Haura mengangguk pelan. "Iya, aku tau kok. Mereka sebenernya nggak salah. Mereka cuman nanya aja. Cuman akunya aja yang nggak mau kasih tau alasannya kenapa."
Pertanyaan itu memang wajar-wajar saja untuk lebih mengenal satu sama lain. Pertanyaan itu sebenarnya juga tidak sedang menyinggung. Namun karena Haura yang ditanya seperti itu, Haura tidak mungkin menjawab pertanyaan yang wajar itu.
"Iya, gue ngerti kok. Jadi gue nggak bakalan paksa lo ungkapin alasannya karena gue yakin pasti ada alasan penting yang nggak pengen lo ceritain ke orang-orang."
Haura tersenyum menatap Alma. Dia memang orangnya pengertian. Jadi Haura tidak perlu menutup-nutupinya lagi.
"Lo mau ke kantin?" tawar Alma.
"Iya mau. Ayo!" ajak Haura.
Mereka berjalan bersama sembari melewati lorong demi lorong. Alma juga dengan baik hatinya memperkenalkan ruangan-ruangan di sekolah ini sehingga membuat Haura cukup hafal dengan denahnya.
Haura merasa sangat terbantu dengan hal itu.
Sampai mereka tiba di kantin. Mereka juga sudah memesan makanan mereka. Mereka juga memutuskan untuk duduk di tempat paling pojok sana yang kebetulan sedang kosong.
Haura menatap Alma. Ia jadi ingin bercerita tentang dirinya sendiri. "Kalo boleh jujur, sebenarnya sebelumnya aku dulu pernah berhenti sekolah selama enam bulan."
"Kenapa gitu?"
"Di sekolah lama aku pernah dibully sama orang-orang sana. Nggak ada yang mau nolongin aku.Boro-boro mau nolongin, punya temen aja nggak ada."
"Dibully kayak gimana? Pake kata-kata atau fisik?"
Haura terdiam cukup lama hingga akhirnya dia menjawab dengan berat hati, "Dua-duanya."
"Apa aja?" tanya Alma. Gadis itu sudah terlihat mulai posisinya. geram dari
"Dulu aku anaknya pendiem banget terus juga penampilannya kelihatan culun, katanya. Jadi mereka-mereka bully aku karena sifat aku begitu. Aku sampai dikata-katain waktu itu. Dan yang lebih parah aku sampai hampir di dorong dari atas gedung sekolah.
Beruntungnya waktu itu aku selamat karena bodohnya mereka bully aku sambil live i********:. Dan ternyata guru mereka ada yang lihat terus pergi ke tempat kejadian dan berhentiin semuanya," cerita Haura.
"Jadi karena itu aku jadi trauma sama sekolah. Aku takut dapet teman-teman kayak gitu lagi," ungkap Haura jujur.
Alma terlihat semakin greget. Dia membunyikan jari-jari tangannya sendiri. "Dih itu mah yang ngelakuin pembullyan generasi-generasi yang udah rusak! Ngapain coba bully anak orang? Merasa paling hebat? Sumpah, gue dengernya aja kesel banget tentang bully. Gue paling nggak suka ada bully soalnya, Kalo scondainya ge ada di sana gue pasti pites-pites ful bocah ingusan! Kalo bisa sampai kayak bakteri sekalian!"
"Kamu bisa aja." Reflek Haura kemudian tertawa lucu mendengar occhan Alma yang tak ada habisnya.
Alma menatap Haura serius sambil menggebrakkan kedua tangannya ke meja dengan cukup keras. "Gue serius, Hau. Asal lo tau gue itu paling anti sama kasus-kasus bullying! Muak gue sumpah dengernya, apa lagi kalo gue liat orangnya langsung. Pengen gue remek-remek tuh muka kayak kek rengginang! Habisnya sok jagoan banget. Emangnya merasa paling jago apa?"
Haura tersenyum mendengarnya.
Merasa senang ternyata masih ada orang yang memiliki pikiran yang positif. Ucapannya saja juga terdengar sedang tidak bercanda.
"Kok lo cuman senyum-senyum aja sih, Hau!?" Alma mendadak jadi jengkel. "Lo nggak ikutan kesel gitu dengerin gue kesel?"
Haura menggeleng. "Nggak kesel."
"Aneh lo ya! Bisa-bisanya sabar banget ceritanya. Gue yang denger udah greget banget dari tadi ," seru Alma kesal.
Pantas saja bila Haura mudas ditindas di sekolah lamanya. Haura terlalu baik dan positif orangnya. Selain itu juga sangat penurut sehingga Haura sulit lepas dari belenggu perundungan yang orang-orang itu buat.
"Kalo menurut aku itu semua udah jadi masa lalu, dan yang berlalu biarin aja berlalu. Nggak usah dipikirin lagi. Sekarang aku udah pindah dan nggak ketemu mereka. Jadi buat apa aku kesel?" kata Haura lagi.
"Iya juga sih, tapi bagi gue sih itu perbuatan itu harus dibales!"
"Nggak harus juga. Kalo soal pembalasan itu bukan kita urusannya, tapi itu urusan yang di atas, Alma," sahut Haura yang ada benarnya.
"Bener sih. Tapi kalo gue jadi lo, gue pasti bakalan balas dendam
Di saat mereka sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba suasana kantin yang awalnya tidak terlalu ramai mendadak menjadi ramai seketika membuat Haura dan Alma berhenti berbicara seputar kasus bullying.
"Ada apa sih rame-rame?" tanya Haura bingung. Jantungnya entah kenapa jadi merasa tidak tenang ketika mendengar kegaduhan ini.
"Biasalah. Siapa lagi sih kalo bukan pentolan Galaxy yang disebut-sebut enam cowok badboy kaya raya yang paling tampan di sini?" sahut Alma terlihat cukup berbinar.
Haura kemudian mulai menatap mereka yang semakin lama berjalan mendekat ke arah kantin. Hal yang lebih mengejutkan bagi Haura yaitu mereka-meraka ternyata adalah orang-orang yang tadi saat Haura temui di rooftop.