“P-prily...? “Ya ampun, Prily!” pekik Hendang tidak percaya bahwa anak keduanya berada disini. Oceana, Amira dan Ridwan juga sama terkejutnya dengan kehadiran Prily. Padahal mereka tahu sekali bahwa gadis itu teramat benci dengan keluarganya sendiri. Prily memalingkan wajahnya kemana saja ketika merasakan semua tatapan ke arahnya. Ah, padahal ia sudah biasa menjadi sorotan orang-orang, tapi entah kenapa ia tidak pernah bisa tenang melihat tatapan keluarganya. Oceana yang bahagia ketika tahu Prily datang tersenyum. Namun ia menyadari bahwa kakaknya itu pasti tidak nyaman dengan anggota keluarga yang lain. “Bu, tadi katanya kita mau pulang kan? Ayo!” “Tapi, Mbak Prily datang, Oce,” tutur Hendang masih tersenyum lebar. Ia sangat rindu dengan Prily, ingin rasanya ia dekap anak perempuanny

