“Pak Dipta mau langsung pulang?” Prily bertanya ke sosok pria yang ada di sampingnya, menggigit bibir bawah cemas setelahnya. Ia berharap lelaki itu mengatakan tidak lalu mengajak Prily untuk makan malam di suatu tempat. Gadis itu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah depan, bisa bahaya jika ia menabrak seseorang di koridor Rumah Sakit. Apalagi yang ia tabrak adalah pasien kritis. Bisa jadi gawat nantinya. “Pak Dipta?” panggil Prily lagi sambil menyentuh lengan pria itu pelan. “Ah, iya?” Lelaki itu tersentak. Prily mengerutkan dahinya ketika melihat wajah Pradipta yang sedikit berbeda dari saat mereka hendak pergi tadi. Walau terlihat selalu datar, ia bisa membedakan ketika lelaki itu nampak senang dan memiliki pikiran. “Pak Dipta lagi mikirin apa?” “Tidak ada,” jawab Pradip

