Forty One

1934 Kata

“Lo kenapa, Pril? Lagi sakit?” Prily mengangguk mendengar pertanyaan Dian. Gadis itu menggerakan tangannya menuju dadanya. “Ini sakit sangat banget,” ujar gadis itu sambil memasang wajah memelas. Wajah Dian berubah panik. “Kenapa? Lo punya penyakit hati? Udah parah?” tanya wanita itu membuat wajah Prily berubah menjadi masam. “Sakit hati, Di. Sakit hati. Ditolak untuk ke—ah entah berapa kalinya.” Prily tidak mau mengingatnya, karena setiap kali mengenangnya ia hanga teringat tentang betapa memalukan dirinya dan nasibnya yang menyedihkan. “Tumben lo patah semangat?” tanya Dian sambil menyodorkan beberap risoles di sebuah plastik mika. Lalu duduk di samping Prily, mereka memang berada di meja yang sama. Di ruang guru, namun dibagian yang paling ujung. “Gue enggak tahu.” Prily mengendika

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN