“Begini, Bu. Saya memang belum lama kenal dengan Prily tapi saya sudah yakin dengan anak ibu. Apa boleh malam lusa, saya dan keluarga datang kemari untuk melamar Prily untuk menjadi isteri saya?” Hendang yang mendengar itu tentu saja terkejut, tidak menyangka bahwa anak keduanya akan dilamar secepat ini. Sedikit rasa tak rela menguasi hatinya, bukan karena pria yang menjadi calon suami Prily adalah yang laki-laki yang ia harapkan. Namun, karena Hendang masih ingin lebih lama lagi bersama Prily. Sejujurnya Hendang tidak perlu peduli siapa yang menjadi suami dari anak-anak perempuannya, asalkan pria itu mencintai anaknya dan taat agama. Itu saja sudah cukup. Perasaan perempuan tua itu sekarang campur aduk, bahagia tentu saja ada namun sedih pun ikut masuk. Mereka sudah terpisah cukup lam

