2 minggu berlalu, Aleya tidak menampakkan wajahnya di rumah Safir. “ Tuan, anda tidak menjemput nona?” Tanya Damian pada Safir yang tampak asik menyulut sebatang rokok lalu menghisapnya “ Untuk apa?” “ Tapi tadi saya menelfonnya tuan, nona sedang sakit.” Timpal Damian. “ Itu bukan urusanku.” Celetuk Safir tanpa menoleh. Damianpun memilih diam dan kembali ke tempatnya. Seperginya Damian, Safir menghela nafas panjang. Tidak di pungkiri, dia sedikit khawatir. Dirogohnya ponsel dari sakunya dan mencari nomor Aleya, namun.. “ Aaah ada apa denganku.” Ucapnya kemudian memasukkan ponsel itu di sakunya kembali. Angin malam itu sangat kencang berhembus, menerobos masuk dari jendela yang dibiarkan terbuka. Terdengar hujan mulai turun dengan lebatnya, namun mata indah itu belum juga terpeja

