Safir melangkah mendekati Alfa , belum pernah Alfa melihat Safir semarah itu. Wajahnya terlihat merah sementara Jas mahal yang ia kenakan tampak basah dengan orange jus. Pemuda itu melepas jasnya lalu melemparnya kesal ketanah
" Siapa dia, cepat cari tau siapa singa betina itu!" Tampak tangannya mengepal. Ia mengambil sebotol anggur classik dimeja lalu menenggaknya tandas. Napasnya terdengar berat dan matanya berkilat kesal.
" Sudahlah bro, Alena sedang menunggumu.. Tenangkanlah dirimu." Alfa mencoba mengalihkan.
" Diam kau, siapa dia.. Dalam 10 menit aku ingin tau semua tentangnya, atau kalau tidak aku akan mengambil sebagian dari sahammu, Alfa aku tidak main main. Cari tahu tentang dia sekarang juga, apa kau mengerti. Cepat!” Bentak Safir.
" Baiklah..." Alfa menarik nafas panjang lalu beranjak meninggalkan Safir menemui informan handalnya.
" Kasihan sekali gadis itu" pikirnya. Ia menunjuk kearah Chaty yang tampak menangis di pelukan sahabatnya dan meminta informan itu mencari tau semua tentangnya.
Dalam waktu 9 menit, Alfa kembali ke meja Safir dengan beberapa berkas di tangannya. Dikeluarkannya foto – foto dari gadis yang di carinya, tampak sangat cantik dan anggun. Melihat wajahnya saja mampu membuat hasrat Safir ingin mengenalnya. Andai saja ia tidak memberi kesan buruk diawal pertemuan mereka tadi. Pasti Safir tidak akan menyia nyiakan kesempatan untuk mempermainkannya.
" Dia adalah Chatrina Alexsandra Khedira, putri tunggal Tuan Alex Khedira pengusaha Properti yang cukup ternama, dia juga sahabat ayahmu sejak memulai bisnis, perusahaan yang kau hancurkan bulan kemarin dan melempar gadis itu menjadi miskin, kau pasti tidak lupa kan saf?Sekarang dia bekerja untuk menghidupi ayahnya dan biayanya di rumah sakit jiwa. Waw hati- hati Saf, sepertinya dia dendam denganmu.” Tutur Alfa. Mendengar itu, Safir tersenyum datar. Ingatannya menerawang pada kejadian 52 hari yang lalu. Wajah tua itu masih tergambar jelas dimemorienya dengan permohonan dan mata yang berkaca kaca. PT. Armanda Real Estate, bahkan nama perusahaannya masih terpatri di benak Safir.
Flashback 52 hari yang lalu
“ Jika tak ada yang ingin anda bicarakan lagi sebaiknya anda keluar dari ruangan ini!.” Tekan Safir bahkan tidak menatap kedalam matanya
“ Safir, aku dan ayahmu berteman dekat, tidak maksudku putriku benar benar membutuhkan semua ini, tolong jangan bersikap kejam, berikan aku kesempatan, hanya sedikit dana dan harapan dari Alvaro Group, nak aku tidak akan melupakan jasamu setelah ini.” Mohonnya melipat tangan di depan d**a. Safir tersenyum dingin lalu melepas kacamata dan berdiri dari duduknya menjajari tuan Khedira yang sudah berkaca kaca
“ Jika bisnisku di dasari dengan kata kasihan dan keluarga, maka aku tidak akan berdiri setinggi ini paman, Alvaro perusahaan besar yang mencari keuntungan dari perusahaan yang mumpuni lainnya, jika aku tidak melihat kesempatan peluang yang besar di dalam perusahaanmu untuk apa aku membantumu, belajarlah untuk tidak bergantung dengan siapapun saat kau dalam kesulitan, atau jatuhlah dengan terhormat!”Tekannya.
“ Tidak nak tolong, aku sahabat ayahmu nak. Tolong jangan perlakukan aku seperti ini.”
Safir tak mendengarkan, ia merogoh telepon di mejanya lalu menghubungi seseorang
“ Bawa orang ini keluar dari ruanganku!” Kejamnya. Beberapa saat kemudian..
“ Safiiirrr aku mohonn nak, beri aku kesempatan... tolong jangan ambil semua saham dan keuntungan dari Armanda... aku bisa hancur.. aku mohonn!” Teriakan permohonan itu memancing emosi Safir meledak. Ia mendekati sosok Khedira lalu menarik kerah kemejanya kasar
“ Dengarkan aku baik baik! Pemimpin Alvaro Company sekarang adalah AKU! Bukan ayahku. Apa kau mengerti?” Tekannya tanpa rasa kasihan sedikitpun
Dia benar benar menghancurkan sahabat ayahnya dalam sehari saat itu
Flashback Off
" Sial, rupanya aku belum menghancurkannya sampai ke akar. Akan ku beri gadis ini pelajaran sampai dia tidak berani menatapku lagi.” Ancamnya
Alfa hanya terdiam melihat ekspresi Safir. Tak ada yang bisa dia lakukan selain mengikuti arus sang pangeran berhati iblis ini. Alfa sendiri tak habis fikir, saat pertama datang ke California dulu Safir begitu pendiam, entah apa yang merubahnya menjadi sekejam ini.
***
Sementara di sana,
Beberapa hari kemudian...
Chaty meremas rambut panjangnya depresi, beberapa kertas notifikasi dan pemberitahuan dari kampus benar benar membuatnya susah untuk bernapas. Laporan keuangan dan tagihan yang benar benar mencekam batinnya menjadi momok yang membuat wajahnya pucat.
“ Chaty kau baik baik saja kan?” Rina mengusap punggungnya lembut. Chaty menyeka air matanya, menatap sahabatnya teduh
“ Aku bingung rin, pihak kampus sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk tunggakan biaya kuliah, entah kenapa mereka melakukan semua ini padaku. Dan Rumah Sakit juga akan mengeluarkan ayahku jika aku tidak segera melunasi administrasinya dalam 24 jam ini, tunggakan sewa rumah dan listrik, kenapa rasanya semua ini seperti kebetulan saja, seolah datang bertubi tubi, aku bingung.” Keluh Chaty depresi.
Beberapa detik semuanya menjadi hening, Rina pun tidak tahu harus menghibur bagaimana, ia sendiri ikut streess melihat kertas kertas yang tertimbun rapi di tangan sahabatnya.
“ Ayaaah.. aku membutuhkanmu, ya tuhan..” Chaty kemudian menangis sesak. Mengingat semua kenangannya bersama sang ayah.
Hingga...
“ Tok Tok Tok “ Terdengar ketukan pintu.
Chaty menatap Rina.
“Biar aku yang membukanya.” Ucap gadis itu berdiri lalu beranjak kearah pintu. Dan...
“ Klek.” Kakinya seolah mematung melihat siapa yang saat ini tersenyum di hadapannya.
“ Selamat siang nona, apakah saya bisa berbicara dengan nona Chaty?.” Tanyanya membuat Rina seolah tercekat
Bagaimana bisa orang ini.. berada di sini?
***
" Kalau anda ingin terbebas dari beban ini dan menyelamatkan ayah anda, tuan muda ingin anda datang dan bersedia menjadi pelayan pribadinya.” Bagai di sambar petir, hati gadis itu seolah tersayat sayat.
Terjawablah sudah, siapa dalang di balik semua musibah dan tagihan beruntun yang menimpa Chaty beberapa hari ini. Ini tak lain adalah ulah dari tangan si tuan muda “ Safir Alvaro” dan kekuasaannya. Ia dan pengaruhnya berhasil membuat Chaty mendapat tekanan dari kampusnya dan berhasil membuat jiwa ayahnya lagi lagi terancam. Safir menginginkan balasan atas sikap berani Chaty. Tidak, bukan hanya sekedar permintaan maaf melainkan “ dia ingin Chaty menjadi pelayan pribadinya.”
" Aku harus bagaimana Rin... Habislah aku, mengapa ada orang seperti dia di muka bumi ini? Dia benar benar menyebalkan, egois dan semena mena. Aku benar benar tak ingin menemuinya.” Tangisnya kesal
" Sudahlah Chat, aku akan selalu mendukungmu, kau pasti bisa, Ini kesempatanmu untuk menghancurkan Safir dari dalam, kau akan dekat dengannya.” Saran Rina. Chaty terdiam menatapnya
" Bagaimana bisa aku dekat dengannya, 5 menit bertemu dengannya saja membuatku hampir mati huaaa hiks hiks.” Chaty mengacak rambutnya frustasi
" Tapi tidak ada pilihan lain kan , kau memang harus kesana.” Tutur Rina.
Namun...
Bukan Chaty namanya, kalau ia tidak memberikan perlawanan terlebih dulu. Ia menatap wajah pengawal Safir itu tajam
“ Katakan pada tuanmu, aku lebih baik mati dari pada menjadi pelayannya!” Tekannya.
Damian menarik napas panjang lalu tersenyum
“ Sayang sekali nona, anda tetap harus ikut, tuan Safir tidak peduli dengan kematian anda tapi setidaknya pikirkanlah nasib ayah anda.” Ujarnya membuat Chaty menelan ludah dengan wajah pucat. Apalagi saat pria itu menyerahkan beberapa foto ketangannya, foto ayah tercintanya yang tampak berada di ruang isolasi. Air mata Chaty menetes
“ Aku bersumpah, Tuan mudamu itu akan membayar untuk semua ini.” Tekannya kemudian, pasrah
“Jika anda bisa, lakukanlah.” Tutur Damian lalu berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan agar Chaty ikut dengannya.
Benar, tidak ada jalan lain mau tidak mau Chaty harus mengesampingkan harga dirinya dan memilih ikut dengan Damian. Demi ayah tercintanya.
Chatypun melambaikan tangannya pada Rina dari balik kaca mobilnya, air matanya terus berderai memikirkan nasib yang akan dia hadapi di istana megah Alvaro.
Sementara Damian yang menyetir hanya tersenyum.
" Tenanglah Nona, Sebenarnya tuan Safir tidak seperti ini sebelumnya, saya yakin dia akan bersikap baik pada anda.” Hibur Damian.
" Semoga saja dia tidak memperkosa saya, mukanya saja sudah m***m. Menyebalkan membayangkan saya akan hidup seatap dengan monster itu", Celetuk Chaty membuat Damian terkekeh.
Perasaan Chaty semakin memburuk saat melihat gerbang megah itu terbuka. Memampangkan sebuah istana yang tak terukir indahnya, keringat dingin langsung membasahi tubuhnya.
" Tuhaaannn selamatkan aku.” Teriak batinnya.
" Tuan, Nona Chaterin sudah datang ", Tutur seorang pelayan, membuat sesungging senyum tercetak di wajah tampan Safir Alvaro yang tengah sibuk merapikan rambutnya
" Antar dia kemari dalam waktu 3 menit, aku tidak suka menunggu mainan baru." Senyumnya seraya menatap bayangannya di cermin.
Pelayan itupun mengangguk lalu segera pergi.
" Selamat datang di nerakamu nona Chaterin Alexsandrea." Senyum Safir seraya mengambil Hair Dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi.
Beberapa saat setelah mengambil sebuah jas terdengar pintu kamar di ketuk.
" Masuk saja!.” Suaranya menggema dari dalam, membuat Jantung Chaty seolah hendak berlari dari tempatnya. Dengan langkah gemetar gadis itu memegang knop pintu. Dan... "klek" dia pun melangkah kedalam, memandang kamar megah bernuansa eropa kuno dengan berbagai furniture indah disetiap jengkalnya, aroma mint yang elegan menyeruak di hidung mangir gadis 20 tahun itu, matanya memutar sampai menemukan sosok yang tampak sedang sibuk menyemprotkan parfum di depan kaca. Sejenak matanya tertegun, begitu tampan dan indah apa yang tuhan berikan pada pemuda itu, tapi mengapa hatinya busuk.
" Jangan terus memandangku, nanti kau tidak bisa tidur ." Tutur Safir kemudian menoleh kearah Chaterin. Melangkah mendekat...
Tidak dapat di pungkiri gadis itu hampir terkesiap gemetar saat melihat Safir mendekat, kancing kemeja putihnya yang belum terpasang memamerkan otot indah dan d**a bidangnya, apalagi bulu matanya yang tampak masih basah dan rambutnya yang belum terlalu kering.
" Selamat datang nona Alexsandrea.” Tutur Safir dengan nada sinis. Terlihat jelas pemuda itu berusaha menggoda imannya.
" Aku Chaty, jangan panggil dengan nama itu.” Jawab Chaty berusaha tegap. Tapi suaranya mulai gemetar.
" Heh dengar ya, kau ini babu, kau ini milikku.. Terserah aku mau manggilmu apa, mau Alex, Chaty atau Babu sekalipun, kau tidak berhak membantah!” Celetuk Safir dengan tatapan tajamnya.
Chaty tersenyum dingin mendengarnya
" Itu namaku, kau tidak berhak mengganti namaku dasar penjilat , apalagi yang akan kau rusak hah?” Balas Chaty geram. Namun ...
Nyalinya menciut saat melihat senyum Safir yang memandangnya jeli. Celakanya, Chaty hanya memakai hot pant dan kemeja pink yang memamerkan lekuk tubuhnya, sementara rambutnya dibiarkan tergerai.
“ A.. apa yang kau lihat?” Chaty mulai gugup
" Kau!.” Safir memegang lembut rambut Chaty lalu menariknya perlahan membuat gadis itu meringis.
" A.. Apa?.” Ucapnya menahan sakit dirambutnya.
“ Kau.” Jawab Safir sekali lagi. Chaty gemetar, bahkan terlihat jelas keringat dingin mengucur di keningnya. Safir tersenyum melihat ekspresi Chaty yang sumpah demi apapun ia benar benar menawan. Tapi... saat ia hindak mendekati wajahnya...
“ Brug.” Awww.” Safir terloncat memegangi kakinya yang terasa nyilu setelah mendapat kick off mendadak dari Chaty.
“ Jangan macam macam denganku, Tuan Muda.” Senyum Chaty mengangkat sebelah alisnya membuat Safir semakin geram saja.
“ Awas kau, aahh s**t !!” Safir meringis
“ Hubungi dokter pribadimu segera, aku takut kaki lemahmu itu akan segera diamputasi karna tendanganku, selamat menikmati. Bye.” Celetuk Chaty lalu melangkah pergi begitu saja dari kamar Safir, membuat pemuda itu bersungut sungut jengkel
“ Gadis gila!” Tekannya
***
Beberapa hari berlalu, sepertinya niat Safir membawa Chaty berbalik mempermalukan dirinya. Chaty selalu saja melawannya, dan itu hampir membuat Safir frustasi. Hingga siang itu...
Ia tampak terduduk dengan wajah jengkel di sisi tempat tidurnya saat Damian mengetok pintu untukmembawakan file file kantor. Kali ini Safir tidak berniat untuk bekerja sama sekali.
“ Tuan apa kepala anda baik baik saja?” Tanya Damian terkekeh didalam hati, Chaty benar benar membuat Safir sakit kepala.
“ Kenapa kau kemari?” Celetuknya dingin. Damian meletakkan berkas berkas itu di sisi Safir
“ Jika anda merasa kurang sehat, sebaiknya kita memanggil dokter keluarga saja.”
Safir menatapnya tajam
“ Aku tidak butuh dokter!” Tekannya
“ Tuan saya mengerti, akhir akhir ini anda sangat tertekan.”
“ Jangan sok tau!” Safir memalingkan wajahnya
“ Apa perlu saya memanggil nona Chaty kemari?.”Damian menahan senyumnya membuat Safir menatapnya kesal
“ Apa maksudmu hah, kau meledekku?” Tanyanya
“ Tidak tuan, tapi jika nona Chaty alasan anda merasa tertekan bukankah lebih baik anda menegaskan padanya bahwa anda bisa melakukan apa saja.” Nasehat Damian. Safir terdiam beberapa saat. Apa yang dikatakan Damian memang ada benarnya.
Beberapa saat, ia tersenyum. Entah pikiran apa yang ada di otak Safir, ia kemudian berdiri dan menatap Damian dalam
“ Kau benar, panggil dia kemari!” Ujarnya kemudian
Dan inilah penampakan beberapa saat kemudian...
“ Ada apa lagi? Kau memanggilku? Butuh makan, minum atau botol s**u hah?.” Ucap Chaty sinis, padahal dia selalu menahan hatinya jika berada di dekat Safir. Safir tersenyum mendekati Chaty, menatap irish mata gadis it lekat, yang jujur tatapannya membuat jantung Chaty seolah berdebar lebih cepat
“ Aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin mengajarimu sesuatu.” Safir mengangkat tangannya menyentuh wajah cantik Chaty yang seolah sudah mati rasa saat itu.
“ A..apa yang kau lakukan sekarang?” Tanyanya gugup
Sadar Chaty.. sadar.. dia musuhmu.. musuhmu..
Namun....
“ Arkh!” Chaty meringis saat tiba tiba Safir menarik rambutnya kuat
"Kau.. Kau yang akan aku hancurkan, jangan bohongi dirimu. Kau sama dengan perempuan lainnya. Tidak punya harga diri.” Senyum devil Safir, Chaty menarik rambutnya lepas lalu berlari kearah pintu. Namun... " Klek" terlihat Safr tersenyum melihat ketegangan di wajah Chaty, Safir telah meminta seorang pelayan berjaga jaga di depan pintu dan menutupnya saat gadis itu mencoba lari.
Pintu itu terkunci.
" Kau menjijikkan!” Teriak Chaty kesal.
" Hahaha... Lancang sekali mulutmu itu, andai kau bersikap baik aku tidak akan kasar, sampah.” Pemuda itu melangkah mendekat
Tanpa basa basi Safir mencengkram dagu Chaty , di dorongnya tubuh mungil Chaty membentur tembok, Safir mencengkram kuat bahu chaty, teringat saat gadis itu mempermalukannya. Ingin rasanya Safir merobek mulut mungilnya, namun tatapan gadis itu lagi lagi membuatnya runtuh. Entah kenapa pegangannya melemas. Dan...
" b******k !”
" Parrr.” Sebuah tamparan mendarat keras di wajah Safir, membuat amarahnya kembali meledak. Di tatapanya gadis itu nanar.
" Akan ku buat tanganmu itu menyesal telah menyentuhku!” Bentak Safir geram. Ia mencengkeram erat rambut Chaty, gadis itu terpejam takut. Bola matanya mendelik saat merasakan daging lembut tiba tiba melumat bibirnya kasar, Ya, Safir menciumnya. Chaty tak bisa bergerak karena tembok di belakangnya, belum lagi cengkaraman Safir yang begitu kuat. Walau Jujur saja, aroma dan wajah Safir membuat Chaty berperang dengan hatinya. Pria ini benar benar b******k, lama lama pertahanan Chaty melemas membiarkan dirinya di kuasai. Safir menarik lehernya mendekat dan tanpa Chaty sadari, ia juga mulai kehilangan kendali dan membalasnya, membuat pemuda itu tersenyum.
“ Lihat kan.. kau sama saja dengan yang lain.” Bisiknya ditelinga gadis itu, membuat Chaty memerah
Apa yang ia mau sebenarnya? b******k, dia benar benar brengsek
Chaty ingin menamparnya 100 kali bolak balik melihat senyum sialan itu, tapi tubunya menolak, pesona sang pangeran begitu kuat dan mampu menaklukkannya. Safir memeluk pinggang mungil Chaty lalu melemparnya ke tempat tidur.
" Lihat , kau bahkan menikmatinya bukan?” Senyum Safir kemudian melepaskan kemejanya sendiri membuat Chaty terkesiap melihat bentuk tubuhnya, tak heran jika gadis gadis bertekuk lutut di hadapannya. Kesadaran Chaty kembali, dia berusaha bangkit dan mengambil kunci yang tergeletak diatas nakasnya. Namun..
" Aaawww ." Tangannya segera di cekal. Gadis itu mencoba berontak, menendang, tapi sia – sia.
" Kenapa, kau juga pasti bukan gadis suci, aku akan menghancurkanmu Chaty.” Senyum Evil Safir lalu kembali mendorongnya ke tempat tidur.
" Kau benar, benar brengsek.. Tolloooongggg dia mau memperkosaku... Lepaskaaan !!!.” Teriak Chaty. Safir tersenyum sinis.
" Teruslah berteriak, semutpun tidak bisa mendengarmu, lagi pula apakah ini yang di maksud p*********n?” Sorot mata pemuda itu menajam
Chaty tak bisa bergerak saat Safir mencekal kedua tangannya kasar, kesal diperlakukan rendah tapi entah kenapa ia tak bisa menolak. Ia pun kemudian terisak
" Aku bersumpah kau pria paling b******k yang pernah aku kenal!” Tangisnya. Bola matanya berkaca kaca
Pemuda itu tersenyum, entah mengapa baru pertama kali dia merasakan sebahagia itu mempermainkan seorang gadis, menatap keringat di kening Chaty membuat badannya bergetar. Perlahan, di belainya wajah Chaty lembut. Ia mendekatkan wajahnya di telinga Chaty
" Kau Cantik.” Bisiknya, sejenak Chaty lupa siapa Safir sebenarnya, ia seolah terhipnotis kedalam permainan busuknya. Hubungan mereka semakin intens saat safir mulai memaksa menggerayangi tubuhnya. Chaty mencoba berontak, Membuat pemuda itu semakin berani. Namun, aaat Safir menginginkan lebih tiba tiba...
" Tolong... Jangaaann." Air mata Chaty menetes turun, bibirnya gemetar, tangannya menahan pundak Safir agar tidak melanjutkan.
" Tolon, Jangan..... Jangan lakukan ini, ku mohon... Hentikan.” Tangisnya terisak. Ia menatap Safir enggan.
Entah mengapa hati Safir terenyuh melihat air mata Chaty dan tubuhnya yang gemetar seolah ketakutan, tampak gadis itu menggigit bibirnya, sementara tangannya berusaha meraih bantal menutupi kerah blousenya yang sedikit robek. Perbuatan biadab pria jahat didepannya.
" Kenapa? Bukankah kau menikmatinya?.” Senyum Safir sinis. Chaty hanya menatapnya sendu.
" Tolong hentikan...!.” Kembali Gadis itu memohon, tubuhnya terasa lemas dan dadanya sesak. Ia menangis
" Kau bahkan mencakar leherku dan membuat punggungku lecet, dan sekarang kau minta aku berhenti... Ayolah kau ini gadis rendahan, harusnya kau bersyukur aku masih berminat padamu." Senyum Safir merendahkan...
" Please hentikan Safir, Im still virgin, aku tidak ingin masa depanku hancur.. Tolong akan aku lakukan apapun tapi tolong hentikan, aku mohon. Pleasee!!" Ujar Chaty gemetar dengan mata berkaca- kaca.
" Uhuk Uhuk.. " Safir langsung terduduk dari posisinya mendengar pengakuan Chaty. Di tatapnya tubuh gadis itu dengan seksama, benar benar aneh apa yang baru saja didengarnya.
Dengan tangan gemetar Chaty segera beringsut dari ranjang itu, lalu meraih kunci dari nakas Safir dan menatap pemuda itu dengan wajah memerah
" Kau, Pemuda pertama yang memperlakukanku serendah ini, aku tidak akan memaafkanmu Safir, jika bukan demi ayahku mungkin saat ini aku sudah membunuhmu, aku tidak peduli kalaupun aku harus di penjara. Jangan harap aku menyerahkan diriku padamu, aku hanya akan melakukannya dengan orang yang aku cintai. " Tutur Chaty terisak, lalu perlahan ia beranjak kearah pintu dengan langkah yang gemetar. Safir menarik nafas panjang.
" Pergilah, sebelum aku berubah fikiran!" Tuturnya kemudian mengambil kemejanya lalu mengenakannya. Safir memang kejam, tapi dia tidak pernah memaksa seorang gadis untuk mau bersamanya, walaupun selama ini gadis- gadislah yang mengantri. Safir bukan type yang akan menghancurkan kesucian seseorang. Perlahan, Chaty melangkah kearah pintu, menatap sekilas kearah Safir. Dan klek " pintu terbuka.
Setelah keluar dari kamar Safir, tampak beberapa pelayan kepo memperhatikan penampilan Chaty yang acak acakan.
" Apa yang Pangeran lakukan padamu, Beruntung sekali ya kamu " Cegat seorang Pelayan.
" Iya kau beruntung sekali, lihat bibirmu itu, apa Tuan muda menciummu, aaahhhh so sweetnyaa.” Sambung yang lain.
" Sudah diam, ini menjijikkan... Aku tidak sudi bahkan di sentuh Tuan Muda Kalian itu, apa aku sudah gila.” Ucap Chaty geram lalu melangkah pergi. Sementara Safir yang mendengarkan tersenyum dari balik kamarnya.
" Berbeda! Aaahh sial, aku bahkan belum mencapai puncak permainan. Tapi... Dia memang berbeda." Tutur Safir menyandarkan tubuhnya di tembok lalu bergegas ke kamar mandi.
Sementara Chaty, ia terus mengutuk dirinya sendiri, bisa bisanya dia hanyut dalam permainan Safir yang memalukan. Walaupun tak bisa dia pungkiri ada sesuatu dalam dirinya yang begitu menginginkan Safir, bukan seperti perasaannya pada mantan pacarnya selama ini, tapi jauh seperti rasa bahagia. Benar benar perasaan yang aneh
" Aaah tidak, aku tidak boleh jatuh hati padanya, dia adalah musuhku, dia hama yang harus aku musnahkan.” Tutur bibir Chaty. Namun, saat gadis itu meraba bibirnya seolah sentuhan Safir masih ada disana, nafasnya, belaiannya. Ya tuhann.. Ada dua pribadi yang sedang berperang dalam hatinya.
***
Berhari- hari Chaty berusaha menghindar dari Safir. Ia tak ingin menatap Safir, dan tak urung itu membuat Safir Frustasi, entah kenapa bayangan air mata Chaty terus menari seolah kaset rusak yang terus saja mereplay bayangan di otaknya. Dia bahkan tidak tertarik lagi dengan gadis lain, gairahnya hanya bangkit jika memikirkan Chaty saja.
Hari itu,
Chaty diminta untuk menemui Tuan Alvaro di kamarnya. Bau obat menyeruak saat Chaty menginjakkan kaki di ruangan utama rumah itu, kondisi tubuh tua yang terlihat menyedihkan dengan berbagai selang yang menancap ditubuhnya tersenyum padanya. Tangannya yang renta memanggil Chaty untuk mendekat.
“ Kau Chaterin putri Alex sahabku, maafkan atas sikap anakku .” Tuturnya lemah, wajah tuanya terlihat menyedihkan, Chaty hanya diam dan duduk disisinya. Hanya ada mereka berdua diruangan itu.
“ Sikapnya berubah sejak kematian Saudara Kembarnya , Sahir Alvaro saat dia berusia 15 tahun. Bahkan sampai sekarang dia belum menjengukku sejak dia datang.”
“ Tidak apa paman, lagi pula Chaty bukan siapa siapa jadi wajar kalau dia menganggap Chaty sebagai pelayan.” Tutur Chaty lirih bercampur nada kesal
“ Ssstt aku dan ayahmu sahabat karib, kami berteman sejak masih di bangku kuliah, Damian sudah menceritakan semuanya. Paman minta maaf ya nak, sabarlah atas sikapnya, Safir tidak sejahat yang terlihat.” Pinta Alvaro membuat Chaty mengangguk lirih.
“ Ada sesuatu yang ingin paman ceritakan, kemarilah.” Pria tua itu melambaikan tangannya meminta Chaty duduk disisinya.
Chaty mendekat.
Sementara disana, Safir tampak elegan seperti biasanya dengan kemeja cream casualnya melangkah kesana kemari sampai mendapatkan Damian tak jauh dari tikungan ruang utama
“ Damian di mana babu itu?.” Tanyanya dengan wajah tak sabar
“ Nona Chaty?.” Damian mengangkat sebelah alisnya
“ Ya, suruh dia kekamarku sekarang, persiapkan manisan untuk tamuku di sana, jangan lama lama!.” Ucap Safir lalu melangkah pergi begitu saja.
“ Baik tuan.” Dengan sedikit membungkuk, Damian yang dulunya pengasuhnyapun bergegas ke ruang utama menemui Chaty.
“ Maafkan saya nona, Tuan muda memanggil anda kekamarnya.” Tutur Damian.
“ Apa?” Bulu kuduk Chaty langsung berdiri mendengar perintah itu. Kenangan kejadian waktu itu seolah memutar di otaknya.
“ Apa lagi maunya kali ini.” Kesal Chaty lalu berdiri bergegas ke sana.
Sementara di sana..
“ Aahhh kau membuatku menunggu lama sayaaangg.” Manja Erika menggelayutkan tangannya di leher Safir.
“ Berhenti bertingkah seperti itu, kau membuatku muak rika.” Safir duduk di sebuah kursi di dekat ranjangnya, tapi seolah tanpa rasa malu gadis itu duduk di pangkuannya. Safir terdiam tenang
“ Kau begitu tertarik padaku ya?” Tanya Safir mengernyitkan alisnya sexi
“ Tentu , setiap malam aku memimpikanmu.”
Safir terdiam, cukup tersiksa juga kalau hanya Chaty yang menghiasi fantasinya. Ia ingin lepas dari bayangan Chaty. Dan..
“ Kalau begitu buat aku tertarik, kalau kau berhasil aku akan menuruti kemauanmu.” Senyum Safir. Mendengar itu Erika langsung merangkulkan tangannya di leher Safir lalu menciumnyapelan, Pemuda itu berusaha menikmati tapi entah kenapa tiba- tiba bayangan senyum Chaty kembali menghiasi otaknya. Safir berusaha menghapus bayangan itu dengan memeluk Erika dan membalas ciumannya. Hingga…
“ Klek.” Pintu terbuka. Safir langsung bangkit dari duduknya membuat Erika jatuh terjerembab di lantai dan bersungut kesal
“ Maaf.. Mengganggu.” Tutur Chaty parau, tangannya gemetar melihat adegan barusan, matanya tampak memerah. Entah apa yang ia rasakan seolah ada api yang meledak di hatinya melihat wajah Safir yang barusan bermesraan dengan gadis lain. Hatinya merasa terbakar. Tangannya mengepal
Dan Safir... ia yang sebenarnya berniat untuk membuat Chaty sadar akan posisinya dan menyakiti hatinya dengan memanggil ke kamar itu, malah merasa aneh melihat wajah Chaty, seolah hatinya merasa tercubit
“ Erika maaf, sepertinya aku sedang malas hari ini, pulanglah.” Decak Safir jengkel. Lagi lagi.. Ia tak berdaya saat melihat kesedihan diwajah Chaty
“ Tapi Saf…” Erika enggan
“ Cukup! Bukankah aku memintamu untuk pergi.” Tekan Safir memalingkan wajah
Sial, ada apa dengan hatiku?
Melihat mata Safir yang menyala membuat Erika bangkit dan berjalan kearah pintu, dilihatnya wajah Chaty yang menunduk.
“ Dasar pembantu sial, mengganggu saja!” Gumamnya kesal kemudian segera beranjak. Safir mendelik kearah Chaty yang masih termangu pucat.
“ Kenapa kau masih di situ?” Bentaknya kesal.
Melihat gadis itu membuatnya benar- benar frustasi.
“ Aku juga akan pergi, Maaf sudah mengganggu aktifitasmu, harusnya tadi kau lanjutkan saja.” Celetuk Chaty berlebihan kemudian melangkah keluar
Entah mengapa ucapan Chaty seolah mengganggu hati Safir hingga pemuda itu langsung berlari mengejarnya. Mendapati tangannya di dekat taman lalu menahannya, membuat beberapa pelayan yang melihat saling berbisik.
“ Kenapa dengan wajahmu itu?” Bentak Safir melihat air mata Chaty mulai menetes. Gadis itu memalingkan wajahnya
“ Lepaskan aku!”
“ Jawab aku, kenapa kau memasang wajah seperti itu, tatap wajahku!” Bentak Safir membuat Chaty menatapnya hampa.
“ Kau tidak cemburu kan? Dengar, jangan sampai kau berfikir kalau aku ini milikmu ya, aku ini majikanmu dan kau pelayanku, jangan berfikir untuk cemburu !” Bentak Safir. Chaty menatap Safir getir.
“ Aku tahu, aku sadar akan hal itu. Tidak mungkin aku cemburu, kau bukan siapa siapa bagiku, kau hanya playboy kasar yang tidak punya hati !” Timpal Chaty tak kalah pedas
“ Apa kau bilang, aku playboy kasar?” Mata biru Safir kembali berkilat
“ Ya, kau playboy, tengil, tidak punya hati, tidak punya perasaan, kau menyebalkan... aku membencimu, aku benar benar membencimu !” Bentak Chaty kesal, gadis itu juga tidak mengerti mengapa emosinya menjadi senaik ini.
“ Apa? Kau bilang aku tidak punya hati?Dasar gadis sial, menyesal aku bersikap lunak padamu. Harusnya aku renggut saja harga dirimu yang tidak ada artinya itu !.” Balas Safir tak kalah kasar. Air mata Chaty langsung meleleh mendengar ucapan itu.
“ Dasar bunglon, jika aku jadi tuan Alvaro, aku akan menyesal seumur hidupku memiliki putra sepertimu.” Ucap Chaty tajam.
“ Gadis gila!” Safir menatap Chaty berang
“ Dan jangan harap kau bisa membuatku cemburu apalagi sampai menyerah pada pria sepertimu!.” Ancam Chaty lalu bergegas meninggalkan Safir yang masih terdiam akan sikapnya.
“ Aarrkkhhh.” Kesal Safir menendang sebuah pot tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia kemudian pergi ketempat Alfa dan menceritakan semuanya, membuat temannya itu terbahak mendengar cerita konyol temannya.
“ Apa aku lucu bagimu hah, brengsek.” Gerutu Safir.
“ Jadi sejak saat itu kau tidak b******a dengan siapapun, maafkan aku maksudku.. Juniormu itu tidak bisa bangun lagi begitu.. Hahahah.” Alfa memerah menahan perutnya yang sakit menatap wajah Safir yang kacau. Safir hanya mengangguk lirih.
“ Lalu kenapa kau tidak paksa saja gadis itu, apakah Safir sudah jatuh cinta?.” Alfa mencibir
“ Sial, kalau tau begini, aku tidak akan pernah menceritakannya padamu.” Kesal Safir.
“ Bagaimana dengan Alena? Dia memiliki kriteria yang bagus dan sangat sexi.. Bayangkan saja dia berada dipangkuanmu dan....”
“ Sudah cukup, aku tidak tertarik.” Potong Safir membuat Alfa tergelak. Terlihat jelas Alfa melihat ada pancaran cinta di mata Safir yang tak pernah dia lihat selama ini. Pangeran itu hanya tidak mau mengakuinya saja.
“ Apa kau mau tau caranya, agar kau tau sebenarnya apa yang di rasakan gadis itu padamu?”, Tanya Alfa.
“ Maksudmu.” ?
“ Jauhi Dia, Lihat seberapa lama dia akan tahan di jauhi olehmu.” Ide Alfa.
Safir tersenyum mendengarnya.
" Boleh juga idemu." Decaknya lalu menyeruput segelas wishky didepannya. Alfa menepuk pundak sahabatnya lalu tersenyum
Benar saja, sejak hari itu. Safir menjadi dingin pada Chaty. Sikapnya memperlakukan Chaty sama seperti pelayan lainnya. Dan itu membuat hati Chaty sakit. Apalagi hampir setiap malam Safir selalu pulang dengan gadis gadis kelas atas yang begitu memukau, walau sebenarnya hanya di buat teman minum di kamarnya, seperti yang kita tau Safir sudah tidak tertarik dengan mereka. Itu membuat Chaty tidak tenang.