Waktu demi waktu berlalu, Chaty merasakan sikap tuan muda itu semakin dingin padanya. Safir bahkan tidak menegur atau bertengkar dengannya saat berpapasan, ia seolah menganggap Chaty tidak ada, dan itu mmebuat Chaty menjadi gelisah. Hingga hari itu, saat ia tengah duduk di teras taman, tampak Damian mendekatinya
“ Nona, bisakah anda membantu saya menyiapkan pesta malam ini?” Tanyanya lembut
“ Pesta?”
“ Iya tuan Safir berulang tahun hari ini, dan tuan Alvaro ingin anda memakai gaun ini?.” Damian menyerahkan sesuatu di tangan Chaty .
Chaty memandang gaun itu jeli. Indah sekali, tuan Alvaro benar- benar baik padanya, tapi mengapa anaknya sangat jahat? Bagaimana bisa pria sebaik Alvaro memiliki putra sejahat Safir, ia seolah di kutuk dengan anak sekejam itu.
“ Pakailah Nona, karna tuan Alvaro meminta anda menemaninya di pesta tuan muda.”
“ Tapi kan paman sedang sakit?”
“ Iya, beliau akan hadir dengan kursi roda. Beliau juga sangat merindukan putranya, dan beliau meminta anda mendorongkan kursi rodanya.” Senyum Damian lalu menunduk hormat dan beranjak pergi. Chaty tersenyum mengiyakan.
“ Semoga paman panjang umur.” Senyumnya senang
Pesta Malam itu sepertinya akan menjadi pesta yang sangat meriah, banyak rekan bisnis yang diundang, juga artis dan model ternama.
***
Chaty menatap dirinya di cermin, air matanya hampir menetes turun melihat tampilan bayangannya yang mengingatkan pada saat masih bersama dengan ayahnya. Chaty sangat cantik, Rambutnya dihias bak princess dengan butiran bross Kristal kecil di sekeliling rambutnya, gaunnya yang terlihat sangat berkelas membuatChaty begitu anggun dan elegant.
Diluar sana, Safir Alvaro menjadi sorotan hangat seperti biasa. Gadis gadis langsung berusaha mengait perhatiannya. Bahkan tak jarang ada yang memberikan pancingan hangat dengan menggunakan busana sexi. Tapi bukan seorang Safir namanya jika mudah tertarik dengan wanita. Dia malah memilih asyik mengobrol dengan Alfa Stefan sahabatnya. Membuat semua gadis menatap Alfa penuh kecemburuan.
Hingga… Tatapan Alfa membundar menatap pintu masuk aula. Bagaimana tidak, Chaty muncul dengan Tuan Alvaro yang duduk diatas kursi rodanya.
“ Ya tuhaaan ini baru bidadari !” Seru Alfa terperangah kagum. Alvaro meminta Chaty mengantarnya kearah Safir yang masih tampak sinis menilainya.
“ Selamat ulang tahun anakku.” Tuturnya dengan linangan air mata, Safir hanya tersenyum dingin seolah tak peduli. Tatapannya masih beralih kearah Chaty yang tampak sangat cantik tak bisa di pungkirinya.
“ Chaty, Tinggalkan aku bersama putraku, kau boleh bersenang- senang !” Pinta Tuan Alvaro. Maka, sambil mengambil kesempatan.. Alfa segera berdiri
“ Mari aku antar.” Ajaknya memegang tangan Chaty. Chaty pun tersenyum lembut dan mengikuti langkahnya.
Beberapa saat, Safir memperhatikan banyak pria yang berusaha mengenal Chaty, bahkan ada yang berani tertawa dan memeluknya hangat, entah kenapa tangan Safir gemetar. Apalagi saat Alfapun mendekatinya. Seolah ada api yang meletup di dadanya
“ Apa kau yang mendandaninya seperti itu, seperti p*****r rendahan.” Tukas Safir pada tuan Alvaro. Ia memegang gelas anggurnya kesal. Namun...
“ Kau menyukainya kan?” Senyum ayahnya tergelitik
“ Tidak, tidak akan!” Safir mengembungkan pipinya
“ Apa kau lupa, dulu waktu kalian masih kecil aku mengajakmu kerumahnya, kau tak hentinya memegang tangannya yang waktu itu dia masih berumur 3 tahun dan kau 8 tahun.” Senyum Alvaro mengingat
“ Aku tidak ingat, tidak ada yang aku ingat, jangan bicara apapun padaku, aku tidak mau mendengarmu.” Cetuk Safir
“ Safir… ber..!”
“ Ayah berhentilah memanggilku Safir, kau tau betul namaku Sahir bukan Safir, dan aku benci kenyataan ini. Kenyataan bahwa Safir saudaraku yang baik sudah meninggal, dan karena hanya dia yang di sukai semua orang kau menganggap Sahir yang mati, bukan Safir. Kau memaksaku untuk menjadi Safir. Kau tau betul aku ini Sahir, aku tak akan bisa bersikap ramah seperti si bodoh Safir itu!” Bentak Safir kejam, membuat air mata ayahnya menetes.
Salah memang, dulu dengan egoisnya Alvaro meminta agar dia menjadi Safir di depan semua orang. Lebih lagi tuan Alvaro mengirimnya ke Amerika hanya karena agar orang tidak tau perbedaan sifatnya.
“ Maafkan ayah Sahir.” Alvaro menyeka air mata di Mata Tuanya.
“ Sudahlah, hal itu percuma. Anggap saja aku Safir, tapi jangan harap kau bisa melihat dia dalam diriku.” Tukas pemuda itu lalu beranjak meninggalkan ayahnya begitu saja. Matanya memerah sedih, tak ada yang mengerti perasaannya. Itulah yang membuatnya menjadi keras. Safir yang mati, tapi mengapa namanya yang di bunuh. Sahir tak akan pernah memaafkan keegoisan ayahnya.
“ Hei Safir .” Sapa Alena, model yang tampak sangat anggun yang melangkah mendekatinya ( Yang pernah ingin di perkenalkan Alfa ). Safir tak memperdulikan, dia mengambil segelas Wishky lalu meneguknya tandas.
“ Apa aku boleh mendampingimu, sepertinya kau sedang banyak masalah, Aku bisa menenangkanmu.” Senyum Alena kemudian duduk di sisi Safir. Lagi lagi, Safir melirik kearah Chaty yang tampak sedang Asyik bergurau dengan Alfa dan yang lain.
“ Boleh, apa yang bisa kau lakukan ?” Tanya Safir pada Alena. Tentu saja gadis itu tersenyum lalu mendekatkankan bibirnya ketelinga Safir.
Chaty terdiam seketika melihat kearah Safir, Pemuda yang sudah hampir 2 minggu mengacuhkan dan cuek padanya. Dadanya memanas saat melihat Alena terlihat sangat dekat dengan Safir lalu menariknya kelantai dansa untuk berdansa bersama, begitu mesra. Chaty meradang tangannya mengepal erat apalagi saat Alena terlihat membuat Safir tertawa
“ Kau mau minum?” Tanya Alfa melihat perubahan wajah Chaty yang kemudian melangkah kearah meja minuman, tanpa sadar, ia meraih sebotol anggur merah eropa yang langsung dia teguk sembari matanya terus menatap kearah Safir yang tampak tenggelam di pundak Alena. Chaty bisa melihat Alena berusan menggoda Safir. Melihat itu membuatnya emosi hingga seolah melupakan segalanya, bahkan dirinya sendiri yang hampir tidak pernah menyentuh alkohol
“ Chaty kau kenapa?” Tanya Alfa, Chaty terhuyung sembari memegang botol anggur yang sudah tinggal setengahnya.
“ Dasar playboy berhati dingin, beraninya dia mengacuhkanku setelah apa yang dia perbuat dan membiarkan gadis itu mendekatinya, dasar playboy. Sekarang kita lihat, siapa yang pelayan.” Celetuk Chaty aneh, Alfa hanya berdecak tak mengerti lalu meninggalkan Chaty.
Gadis itu melangkah kearah Safir. Dan...
“ Hei… !” Bentaknya tiba tiba membuat Alena kaget, tentu saja beberapa orang memperhatikannya.
“ Heeeyy playboyy, tuan es, seleramu itu ternyata buruk ya, mau mau saja di gerayangi gadis ini.” Teriak Chaty mabuk.
“ Chaty stop !” Wajah Safir memerah menahan malu
“ Dan kau gadis sok cantik, menjauh darinyaaa! Hah, dasar gak laku, kalau kau mau aku bisa mencarikanmu pria yang mau, jangan menggangunyaa, dia itu es, dia.. hiks!.”
Beberapa orang terhenyak melihat aksi Chaty. Melihat itu Safir langsung membungkam mulut Chaty dengan tangannya.
“ Maaf pelayanku sedang kacau, aku akan membereskannya.” Senyum Safir lalu menyeret tangan Chaty keluar dari acara.
“ Heeeeeiiiiii kau mau membawaku kemana?” Teriak Chaty, Safir bergeming, dia menyeret Chaty ke kamarnya lalu mendorong tubuh gadis itu sampai terhuyung di lantai.
“ Apa maumu sebenarnya, apa kau sudah gila!” Bentak Safir geram.
“ Kenapa? Marah? Nanti gantengnya hilang lo.” Celetuk Chaty lalu tertawa. Tentu saja terdengar lucu, Safir duduk dihadapan Chaty lalu memingkas lengan kemejanya sampai siku, sementara jaketnya sudah di lepas karena kesal dengan sikap Chaty.
“ Kenapa kau mengacaukan pestaku, dan berpenampilan seperti ini hah, aku tidak suka tubuhmu yang pasaran ini di pertontonkan!” Ucap Safir
“ Lalu, apa aku harus memperlihatkannya hanya padamu? egois sekali kamu, hahaha tapi kan kamu memang mesum.” Chaty lagi lagi membuat Safir menggeleng pelan
“ Kau sedang mabuk, diam disini !” Tekannya lalu berdiri dan melangkah kearah meja yang berjarak cukup jauh, mengambil secangkir gelas kecil Toga penawar Mabuk. Namun…
“ Klek “ Seketika Safir menoleh saat Chaty menutup pintu Kamarnya dan menguncinya dari dalam.
“ Minum ini, aku benci melihatmu begini.” Tutur Safir. Chaty langsung meneguk Cangkir Togu itu.
“ Diam disini dan jangan berkeliaran seperti ini, kau sedang mabuk!.” Safir hendak memegang gagang pintu. Namun ...
Chaty menahan tangannya.
“ Jangan pergi SAHIR .” Tuturnya lembut membuat Safir tercekat, bagaimana Chaty tau namanya? Bola mata birunya membundar. Pemuda itu mundur beberapa langkah.
“ Aku tau siapa kau, dan aku hanya mengenal kau sebagai Sahir. Aku tidak mabuk, aku hanya mabuk karena kau menjauhiku.” Tutur Chaty parau
“ Berhenti mengigau Babu,.” Sahir memalingkan wajahnya
Chaty menahan pundak Safir. Dan tiba- tiba...
“ I Love You.” Bisiknya di telinga Safir membuat pemuda itu merinding mendengarnya.
“ Kau mabuk, menyingkirlah!.” Safir mendorong Chaty kasar, namun gadis itu menempal pada pundaknya. Dan…
“ Muuuuaaahhh.” Kecupan singkat dari Chaty membuat Safir terkesiap.
“ Chaty.. Kau kesurupan?” Ucapnya tercekat
“ Ssttttt, apa kau tidak bisa diam hah? Dari tadi kau berteriak teriak.” Perlahan Chaty meraba wajah Safir, bibir indahnya kemudian mencium hidung mancung Safir dan perlahan turun di bibirnya
“ K...kau benar benar sudah gila. Sejak tadi kau yang berteriak dan sekarang... apa kau ti...” Safir terdiam saat telunjuk Chaty menempel di bibirnya. Gadis itu menarik leher Safir lalu kembali menciumnya lembut, di tatapnya bola mata Safir yang seolah berkilau ditengah remang lampu tidur yang dibiarkan menyala
“ Kau benar benar kejam, aku mengutarakan perasaanku dan kau hanya diam lalu marah marah, apa kau tidak mencintaiku?” Tanyanya manja
“ Chatyy.. aa..ku.” Safir tidak bisa menahan dirinya lagi, dia berusaha untuk sadar gadis itu belum sepenuhnya sadar apa yang dia lakukan.
“ Jangan memancingku Chaty?” Ucap Safir parau
“ Jangan mengacuhkanku Safir Alvaro.” Chaty mulai membelai wajahnya
" Kau melakukan kesalahan Chaty. Aku sudah memperingatkanmu!.” Ucap Safir lalu melepas kemejanya sendiri.
“ Aku ingin menjadi milikmu Sahir.” Pinta Chaty membuat Safir tersenyum sinis.
“ Kau sudah benar benar mabuk, babu.” Ulasnya lalu menarik pinggang Chaty mendekat. Dilihatnya mata Chaty yang memandangnya sayu.
“ Aku benar benar jatuh cinta padamu.” Senyum Chaty, tangan Safir gemetar mendengar ucapan Chaty. Perlahan, ia melepas pelukannya
“ Aku tidak bisa melakukannya Chaty.” Tuturnya lembut
“ Kenapa, apa aku tidak cukup menarik?" Tanya Chaty kecewa
“ Iya...” Bohong Safir. Namun tiba- tiba, Chaty menarik Safir dan memeluknya mesra
“ Sahir, aku benar benar jatuh cinta padamu, jangan menjauh lagi.” Ucap Chaty berkaca kaca. Safir terdiam menatap kedalam wajahnya. Ia kemudian tersenyum dan membalas pelukan itu. Jauh dalam hatinya entah kenapa ia seolah merasa tenang. Pemuda itu membawa Chaty ke tempat tidurnya, tersenyum lalu membelai wajah Chaty lembut
" Maafkan aku." Bisiknya..
Benar, malam itu adalah kesalahan besar yang di lakukan Chaty. Ia menyerahkan dirinya di dalam pelukan singa yang siap melahap harapan dan harga dirinya. Sesuatu yang akan membuat Chaty tenggelam dalam penyesalan hingga akhir hayatnya.
Dan saat fajar menyingsing, Chaty mulai membuka matanya, menyadari dirinya berada dibawah satu selimut dengan sang pangeran, berada di pelukannya dan sama sekali tidak ada penghalang diantara mereka, Chaty bisa merasakan betapa hangat dan kekarnya tubuh Safir, Wajahnya begitu indah walau masih terpejam. Setetes bulir bening jatuh di pipinya saat menyadari apa yang terjadi. Seluruh tubuhnya seolah mati rasa. Saat Chaty terisak, Safir membuka matanya
“ Apa sekarang kau menyesal?” Senyum Safir menyeringai. Pemuda itu bahkan terlihat tampan meski baru bangun tidur. Chaty menatapnya teduh
“ Mau aku antar ke kamar mandi?" Tanya Safir kemudian, berdiri dari tidurnya, Chaty menutup matanya melihat tuan muda yang masih tak mengenakan apapun itu.
“ Kenapa menutup mata, bukankah semalam kau bahkan tidak mau melepaskan satu incipun dari tubuhku, jangan biarkan setiap wanita menyentuh bibirmu.. Kau tampan.. Blab la bla.. Hahahah.” Tawa Safir menirukan Chaty. Dan...
“ Brug” Sebuah bantal tepat mendarat di wajah Safir.
“ Cukup, jangan menggodaku lagi, aku muak melihatnya.” Celetuk gadis itu kemudian melangkah ke kamar mandi Safir dan mengunci diri disana.
Menyesal? Iya.. Tak seharusnya Chaty memberikan mahkotanya pada pria yang tidak jelas kayak Safir, ah bukan , tapi maksudnya Sahir.
“ Tok Tok Tok.. Apa kau melahirkan di dalam sana, ayo keluar, aku mau mandi, ada meeting hari ini!!!.” Teriak Safir dari luar.
Chaty tak mendengarkan, gadis itu menghidupkan Shower lalu menggosok setiap inci dari tubuhnya sambil menangis. Beberapa Jam Chaty berada di dalam sana, sebelum akhirnya keluar dengan mata yang super bengkak, dilihatnya Safir sudah rapi dengan Stelan Jaspen mewah warna hitamnya.
“ Sudah cukup menangisnya, ganti bajumu.” Celetuk Safir melirik kearah Chaty yang masih mengenakan handuk.
“ Kau mau kemana?” Tanya Chaty gugup, tak berani menatap, Hatinya begitu resah saat melihat Safir hendak keluar, mengapa pemuda itu begitu tampan, bagaimana kalau ada gadis lain yang terpikat di luar sana?
“ Apa karna kejadian semalam, kau jadi pencemburu, Ingat Chaty kau hanya pelayanku.” Ucap Safir seolah mencubit perasaannya, Chaty memandang Safir nanar. Tak begitu berartikah dirinya?
“ Kenapa? Marah? Aku harap kau jangan bermimpi terlalu tinggi denganku, aku Safir Alvaro bagaimana mungkin aku mau tetap berada disisimu, kerajaan bisnis di dunia mungkin sedang menungguku, dan bisa saja nanti aku akan menikahi seorang putri, bukan seorang pelayan. Dan kejadian semalam aku harap jangan sampai ada yang tau, aku malu mengingatnya.” Ucap Safir tanpa jeda. Mata Chaty berubah merah mendengar hal itu. Jari jarinya mengepal erat hingga buku bukunya memutih
“ Baiklah, Tuan … Saya tau diri. Saya tidak akan mengangkat wajah pada anda lagi, saya tahu saya tidak cukup berharga apalagi setelah anda menghancurkan hidup saya, apa kau puas sekarang?.” Ucap Chaty kemudian mengambil pakaian yang disiapkan Safir di mejanya, Chaty melangkah menuju kamar mandi.
“ Kenapa kau tidak menggantinya di depanku?” Tanya Safir dingin.
Chaty tak mendengarkan, dia terus melangkah ke kamar mandi. Sikap Chaty membuat emosi Safir kembali naik, ia menyusul Chaty dan..
“ Awww lepas,, Lepaskan aku!.” Chaty menghempas tubuh Safir yang tiba- tiba menahannya hingga membentur pintu kamar mandi, wajahnya berubah menjadi menyeramkan.
“ Jangan berani berani menyentuhku lagi, aku tidak sudi” Bentak Chaty.
“ Dasar Munafik.” Safir menampar Chaty keras, pakaian yang di pegangnya berhamburan ke lantai. Gadis itu menangis.
“ Kau tidak berhak marah padaku.” Safir menarik tubuh Chaty lalu melemparnya hingga jatuh membentur bathub. Pemuda itu menatapnya tajam, lalu melepas kerah kemejanya. Chaty hanya bisa meratap merasakan sakit pada lututnya yang terluka, hingga tiba tiba...
“ Akan aku buat kau mengerti dimana statusmu.” Ucap Safir lalu menarik lengannya kasar dan mencoba menciumnya.
“ Sahir lepaskan aku, lepaskan... aku mohon lepaskan.” Tangisnya. Berbagai tamparan mendarat atas perlawanan Chaty. Bahkan Safir membuat bibir gadis itu berdarah dan menghantamkan tubuhnya ke bak mandi sebelum kembali memperkosanya.
" Lepaskan aku." Tangis Chaty pilu. Tapi Safir sama sekali tidak mendengarkan. Benar benar berhati iblis
“ Mengapa Tuhan harus menciptakan ia dan membuatnya hidup selama ini? Pria ini benar benar tidak berperasaan.”
Penyesalan yang akan di rasakan Safir Alvaro sepanjang hidupnya