You Are Mine...My Slave

1057 Kata
    Sejak kejadian hari itu Chaty mengurung dirinya di kamar, rasa sakit bukan hanya di rasakan di seluruh sendinya tapi juga di hatinya yang seolah tersayat sayat. “ Papa.. Aku ingin pulang.”  Tangisnya meringkuk di atas tempat tidurnya. Gadis cantik yang malang, dia bahkan tidak sanggup berdiri di atas kakinya karena p*******n keji yang di alami. Wajahnya penuh lebab dan kulit putihnya penuh dengan bekas pukulan yang membiru. Ia tak menyangka Sahir memiliki kepribadian sejahat itu? Sahir sekejam itu... Rasa takut dan trauma hinggap di hatinya setiap kali mendengar nama Safir di sebutkan. 1,2,3,4,5 satu minggu, bahkan 3 minggu lamanya Chaty menjadi pendiam, dan hal itu membuat Safir frustasi. “ Bagaimana bisa otakku di penuhi oleh gadis sialan itu?”  Decak Safir geram. Siang itu Safir melihat Chaty bersama pelayan lainnya di taman, senyum merekah di wajahnya saat memetik mawar- mawar indah yang bertaburan. Ada seberkas rasa sesal dan sakit di benak Safir, ada kerinduan yang memuncak untuk memeluk gadis itu dan merangkulnya untuk sekedar meminta maaf. Ia benar benar khilaf saat itu. Tapi.. Baru saja hendak melangkah.. “ Eh Tuan Muda.”  Sapa seorang pelayan Menyadari kedatangan Safir, Chaty langsung terdiam menundukkan wajahnya. “ Kau kekamarku sekarang, aku ingin kau membereskan lemariku di sana.”  Tunjuk Safir pada Chaty. Sayangnya, ia tidak pernah bisa bersikap baik. “ Baiklah tuan muda.”  Sanggup Chaty . Mendengar itu ada rasa sakit di hati Safir. Bagaimana bisa gadis yang 3 minggu lalu memadu kasih di kamarnya saat ini bersikap takut padanya. Sesampainya di kamar Safir, Chaty bergegas merapikan lemari di dalamnya, sementara Safir memandangnya sambil terduduk di sisi tempat tidurnya membaca sebuah buku. Tak sekalipun gadis itu menatapnya. Hal itu membuat Safir tak tahan. “ Maafkan aku Chaty...”  Safir membuka suara akhirnya. Chaty hanya diam, wajah cantiknya membisu sementara tangannya gemetar mendengar suara Safir yang sejujurnya sangat dia rindukan. “ Sudah selesai tuan, saya permisi.”  Tutur Chaty kemudian bergegas keluar, meninggalkan Safir yang masih terpaku, menatap kepergian Chaty. Tak terasa air mata pemuda itu menetes. “ Selamat Siang Tuan muda.. Tuan .. Tuan Alvaro kritis...”  Tutur Salah seorang pelayan dengan wajah pucat menghampiri Safir. “ Apa? Ayah?.”  Safir terlonjak dan segera bergegas mengikuti orang itu. Damian tampak menangis di depan pintu Tuan Alvaro. Safir segera masuk kedalam, Namun dia terlambat, penyesalan terberat yang Safir rasakan. Andaikan selama ini dia berada disisi ayahnya, sekali lagi keegoisan mengalahkannya. Bahkan menghancurkannya “ Maafkan Sahir ayah.”  Tutur Safir seraya mencium lembut tangan Tua ayahnya yang sudah tak bernyawa. Iya benar benar terlambat “ Tuan muda, “ Damian memegang pundak Safir lembut. “ Kenapa kau tidak memanggilku Damian? Kenapa?.”  Sesak Safir “ Tuan menitipkan seluruh asset kekayaannya pada anda tuan, seluruh perusahaan di asia sudah dialihkan atas nama Sahir Alvaro.” “ A.. Apa? Atas nama Sahir Alvaro? Damian kau tidak salah?”  Tangis Safir pecah. “ Iya Tuan… dan dia menitipkan sebuah surat untuk anda.”  Damian menyerahkan  amplop biru ke tangan Safir. “ Maafkan saya selama ini tidak menyadari kalau anda bukanlah tuan Safir, pantas saja anda tidak mengenali saya dengan baik, karena tuan Safirlah yang akrab dengan saya, saya sudah kurang ajar tuan.”  Sesal Damian. Safir tak mendengarkan. Dia bergegas membuka amplop bersampul biru tua itu dan membacanya. -Alvaro Untuk anakku Sahir, ayah meminta maaf nak. Mungkin salah ayah kau jadi seperti ini. Ayah harus menitipkan kerajaan bisnis ini di tanganmu, ayah tau kamu masih sangat muda. Sebagai permintaan terakhir ayahmu yang hina ini, ayah mohon terimalah Karina Lucas sebagai Calon Istrimu, kau membutuhkannya. Ayahnya adalah rekan bisnis sekaligus kolega penting ayah yang berpusat di jerman. Karina Lucas sendiri adalah seorang wanita yang cerdas, dia juga berdarah bangsawan. Jadi pasti dia cocok bersanding denganmu. Dengarkanlah permintaan ayahmu ini nak. Safir menutup dan meremas kertas surat itu. “ Tuan Muda, Nona Karina besok akan datang kemari, “ Tutur Damian mengerti. “ Jadi kau sudah tau semua rencana ayah? Bagaimana bisa si tua ini begitu egois.”  Bentak Safir geram, ia menatap jenazah ayahnya lalu memejamkan matanya kesal Sampai kapan ayah? Sampai kapan kau akan terus mengatur hidupku? Bahkan sampai kau matipun, kau masih merencakan kehidupan yang harus aku jalani. Kau benar benar egois “ Dia memikirkan anda tuan, Nona Karina itu sangat cantik, cerdas dan sudah memimpin perusahaannya sejak usia 17 tahun.”  Tutur Damian. Mendengar itu Safir berdiri menjajari Damian. “ Urus saja jenazah ayah, aku tidak bertanya tentang perempuan itu?” Ucapnya dingin. Safir melirik jenazah ayahnya lalu beranjak pergi dari ruangan itu dengan rahang mengeras menahan emosi.                                                                                       *** Siang itu hujan turun dengan derasnya , ketika pengumuman kematian sang raja bisnis meluas, beberapa pelayan tua tampak menangis sementara yang lainnya biasa saja. Safir melangkah cepat dengan emosi yang masih tersirat jelas di wajahnya , tak peduli air hujan yang membasahi. “ Tuan, baju anda basah.”  Sapa seorang pelayan mencoba mencuri perhatiannya, sayangnya di waktu yang tidak tepat. Mata Safir menyala tajam melihat pelayan itu. “ Kau ku pecat.”  Ucapnya tanpa basa- basi lalu melangkah pergi. Ia sama sekali tidak menghiraukan tangisan sedih dari pelayan itu, hingga langkahnya terhenti saat melihat sosok dengan rambutnya yang panjang menangis di taman bekas pesta kemarin. Tubuhnya basah kuyup sembari menggigil bersama air hujan. “ Sedang apa dia disini?”  Pikir Safir saat menyadari bahwa sosok itu tak lain adalah Chaty.  Ingin Rasanya dia memeluk Chaty dalam dinginnya hujan, namun baru saja dia melangkah… “ Hai Chaty….”  Sapa seseorang dengan payung hitam di tangannya. “ Alfa?.”  Safir menggigit bibirnya kesal. Sejak kapan temannya itu begitu dekat dengan Chatynya. Ralat, maksudnya Chaty pembantunya. “ Tuan Alfa?” Senyum Chaty menghapus air matanya. “ Aku tau kamu pasti sedih dengan meninggalnya paman Alvaro kan, aku langsung datang saat mendengarnya, aku yakin kamu pasti lebih sedih dari pada Safir.”  Senyum Alfa memayungi Chaty. Pemuda itu benar benar memiliki sifat manis yang tidak di miliki Safir, ia bahkan melepas jasnya lalu menyelimutkannya ke bahu Chaty “ Terimakasih Alfa, kau baik sekali.”  Chaty tersenyum getir. “ Jangan terlalu lama di bawah hujan, nanti kau sakit. Ayo aku antar ke kamarmu.”  Alfa mengulurkan tangannya yang di sambut hangat oleh Chaty. Hal itu membuat Safir semakin berang saja, ia melangkah kesal lantas mengamuk di kamarnya sendiri. Semua perabotan dan gelas dibuatnya pecah berkeping keping “ Sial, awas saja kau Alfa Stevan.” Kesalnya    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN