Rasa dan Noda

3282 Kata
  Kedekatan Alfa dengan Chaty semakin intens , Alfa bahkan mulai sering berkunjung ke sana dan tertawa bersama gadis itu. Apalagi sejak kematian tuan Alvaro, hanya Alfalah yang senantiasa menjadi tempat Chaty berbagi. Dia mungkin mencintai Safir, tapi Safir tidak tahu apapun selain bersikap kasar pada orang di sekitarnya. Apalagi setelah p*********n itu, Chaty menjadi takut untuk mendekat. Di tambah lagi kemarin… Gadis itu terlihat sangat cantik, bahkan Erika menangis melihatnya. Tubuhnya yang molek, tinggi dan terlihat berkelas dengan Rambut berwarna brown panjang sepinggang, wajahnya yang sangat indah, serta stratanya yang tinggi, Namanya Karina ya..  Karina, wanita bangsawan yang tatapannya senyalang elang. Wanita yang katanya akan menikah dengan Safir dalam waktu dekat, jadi mana mungkin Safir akan melihat kearah Chaty lagi? Hingga hari itu... “ Tuan, anda memanggilku ?”  Tanya Chaty karena mendengar panggilan dari Safir untuknya. Safir melihat kearah gadis itu mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pemuda itu kemudian berdiri menjajari Chaty yang terus menunduk di hadapannya. “ Klek” Wajah Chaty langsung terangkat mendengar Safir mengunci pintunya. Safir menatapnya tajam, wajah tampannya terlihat tidak bersahabat “ Berapa kali kau tidur dengannya?”  Tanya Safir membuat Chaty terhenyak. Gadis itu mengernyit tak suka. Safir selalu saja begini. “ Jawab, aku, apa Alfa jauh lebih hebat dariku sehingga kau tak pernah lagi melihatku?” Lagi lagi pertanyaan Safir seolah mencekiknya “ Maaf tuan, saya tidak mengerti apa yang anda maksudkan?”  Chaty berusaha meredam amarahnya. Tangannya mengepal meremas roknya “ Dengar ya, Jalang. Aku tidak peduli kau mau tidur dengan siapapun tapi jangan di istanaku, jangan di rumahku.. Kalau kau mau kau bisa jajakan tubuhmu di luar sana!.”  Bentak Safir. Mendengar itu tubuh Chaty bergetar, air matanya langsung turun. “ Chaty jawab aku !”  Bentak Safir sekali lagi. “ Aku ta.. Takut, aku takut bertemu denganmu, aku takut melihatmu, aku takut mendengar suaramu.”  Suara Chaty gemetar “ Apa maksudmu?” Perlahan Chaty mengangkat wajahnya, tatapan sendunya membuat hati Safir sakit. “ Tolong bebaskan aku, kembalikan ayahku, kau juga sudah menghancurkan aku. Aku ingin pulang… Tuan aku mohon bebaskan aku, aku ingin kehidupan normalku kembali, aku mohon tuan.”  Chaty menteskan air matanya. Melihat itu Safir langsung merangkulnya “ Panggil aku Safir ok, maafkan aku aku tidak bermaksud menyakitimu.” Ucapnya lembut. Chaty menggeleng takut. “ Aku memang tidak berarti apapun bagi anda, tapi aku tidak pernah melakukan hubungan apapun dengan laki- laki lain, anda yang pertama bagiku dan sampai saat ini andalah yang terakhir. Aku hanya ingin bebas, bebas dari rasa sakit dan rasa cinta, biarkan aku hidup.” Chaty terguncang  Mendengar itu Safir mengecup lembut kening Chaty, Chaty melihat ke dalam mata Safir. Sebenarnya diapun sangat merindukan Safir. Seandainya Safir bisa selembut itu selamanya. “ Maafkan aku.” Ucap Safir lirih. Tangisan Chaty langsung menyeruak memeluk Safir erat. Dikecupnya kembali bibir mungil gadis itu, bibir yang sangat dia rindukan, Chaty memeluk Safir erat " Aku sangat merindukanmu." Ucap Safir dengan mata berkaca kaca. Namun… “ Tok tok tok” "Boleh aku masuk?”  “ Astaga, Karina.”  Safir melepaskan Chaty spontan. Ia juga menghapus air mata Chaty, kemudian membuka pintunya. Tampak gadis itu menatap Chaty geram. Apalagi saat Safir berbisik ketelinga Chaty “ Kembalilah nanti, miss u.”  Chaty tersenyum kemudian beranjak dari tempat itu. “ Ada apa Karin?” Tanya Safir. Karina melangkah masuk ke kamar Safir tanpa menutup pintunya. “ Apa aku mengganggumu dengan pelayan itu hah?”  Senyum dingin Karina membuat mimik wajah Safir berubah. “ Jangan lagi lagi kau berhubungan dengannya, kau tahu aku bisa membunuhnya kalau aku mau.” Tutur gadis itu tenang namun terdengar penuh penekanan. “ Apa maksudmu?”  Mata Safir memerah. Karina tersenyum kemudian mendaratkan tangannya di pundak Safir dan menatapnya tajam “ Tuan Muda Safir Alvaro, apa kau fikir aku tuli atau buta sehingga tidak bisa melihat warna bibirmu yang berubah karena mencium pelayan itu, aku tidak menyangka levelmu serendah itu ya, seorang Alvaro yang populer dan waw.. Calon suamiku tercinta.”  Sindir Karina. “ Apa yang kau mau Karina?” Safir melepas tangan Karina dari pundaknya, ia benar benar merasa gadis ini berwatak ular “ Aku ingin kita menikah Lusa.” “ Apa?.” “ Apa kenapa?, aku tidak mau ya punya tunangan yang selalu dilirik gadis lain. Kau hanya boleh melihatku, hanya aku.”  Karina membelai wajah Safir kemudian menggenggam pergelangan pemuda itu kuat. Seolah menegaskan kalau Safir ada dalam cengkramannya “ Kau adalah jantung hatiku Safir, aku mencintaimu sejak aku melihatmu di tabloid dan majalah majalah, setiap malam aku memikirkanmu. Aku ingin memilikimu. Dan sekarang kau nyata di depanku jadi aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, kau harus ingat itu.”  Senyum Karina membelai bibir indah Safir lalu memeluknya. Namun… “ Prank!!”  Chaty termangu melihat adegan mereka dari pintu yang di biarkan terbuka. Dia mengira Karina sudah pergi, makanya dia segera hadir sesuai permintaan Safir tadi. Tapi adegan barusan membuat perutnya mual, matanya berkaca kaca. Ia sakit hati, lagi lagi hanya sakit hati yang bisa Safir berikan “ Ada apa pelayan? Mau mengantarkan anggur untuk kami, ah ya.. mungkin aku dan calon suamiku membutuhkannya?.”  Ucapan Karina membuat Chaty mematung sejenak, ia menatap Safirnya lalu .. “ Chaty….”  Safir hendak berlari menyusulnya, namun Karina memegang tangannya. “ Mau kemana sayaang?” “ Bukan Urusanmu!”  Bentak Safir menghempas cekalan Karina lalu berlari mengejar Chaty. “ Aku akan buat urusan denganmu pelayan sialan.”  Geram Karina. “ Chaty tungguuu….”  Safir menahan tangan Chaty di antara pintu kamarnya. Di lihatnya gadis itu menangis. “ Cukup Sahir, mencintaimu terlalu berat, aku sadar kok aku bukan siapa- siapa. Bodohnya aku terlalu berharap padamu. Aku menyesal, harusnya aku tahu nasib apa yang akan menimpaku. Bahkan aku tidak tau aku harus berkata apa lagi. Aku ingin kita selesai sampai disini. Jangan pernah masuk ke dalam kehidupanku lagi, jangan menyakitiku lebih jauh, aku mohon.”  Pinta Chaty. Safir menatap Chaty, di hapusnya air mata gadis itu lembut. “ Aku tidak bisa menjauh darimu chaty...” Ucapnya membuat hati Chaty bergetar mendengarnya. “ Kau bisa, kau sudah terbiasa melakukan ini kan, kau biasa menyakiti hati siapapun.” Tangis Chaty “ Katakan satu hal Chaty, apa kau mencintai orang lain? Jika tidak, aku tidak akan memiliki alasan untuk melepaskanmu, Chaty aku membutuhkanmu.”  Pertanyaan Safir membuat mata Chaty berkaca- kaca. Ingin sekali ia mengatakan tidak dan berhambur memeluk pemuda di depannya, tapi... apa yang akan terjadi lagi setelahnya? Safir pasti akan menyakitinya lagi dan lagi. Melihat kebungkaman Chaty, lagi lagi emosi Safir berubah. Ia mencekal bahu Chaty kasar “ Safir sakit!!” Teriak wanita itu meneteskan air mata “ Kenapa kau diam? Jawab aku!! Kau mencintaiku dan hanya mencintaiku kan? Kau tidak mencintai orang lain kan? Hah?”. Emosi Safir yang seperti ini dengan semua sikap labil dan kecurigaannya benar benar membuat Chaty sedih dan takut. Maka dengan berat hati... “ Iya, aku mencintai Alfa.” Ucapnya  Bagai petir disiang bolong, Tubuh Safir melemas, ia menggeleng pelan " Kau bohong." " Tidak, aku memang mencintai Alfa. Dia jauh lebih baik lalu kenapa aku harus melirik pria sepertimu?.”  Ucap Chaty berat. Hatinya terasa nyilu dan sesak. Apalagi saat melihat mata biru itu meneteskan air matanya. Tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi, Safir beranjak dari hadapan Chaty. Pemuda itu berlalu meninggalkan Chaty yang mematung dalam tangisnya. Chaty masuk kedalam kamarnya kemudian merapikan baju bajunya. Dia tak ingin tinggal di tempat ini lagi, tempat yang merenggut segala kebahagiaan dan tawanya. Sejenak ia terdiam menatap bayangannya di cermin “ Maafkan Ibu nak, Ibu akan membuatmu menderita karena jauh dari ayahmu, tapi mulai sekarang anggap saja ayahmu sudah mati. Ibu akan merawatmu dengan baik, ibu janji, ayahmu tidak akan pernah menjadi lelaki yang bertanggung jawab.”  Perlahan Chaty memegang perutnya yang masih datar. Benar, Chaty hamil. Wanita itu perlahan melangkah keluar dengan tas besar di tangannya, tanpa pamit dia pergi dari rumah Safir Alvaro. Namun sesampainya di pintu gerbang… “ Anda mau kemana nona?.”  Suara Damian mengagetkannya. “ Saya harus pulang Damian, saya tidak bisa lagi tinggal di sini.”  Chaty berusaha menyembunyikan air matanya. “ Nona, maafkan saya. Tapi anda tidak bisa pergi sekarang.”  Tutur Damian. “ Saya harus pergi.” " Tapi nona tuan muda tidak akan menyukai ini.” Chaty terdiam, ia tidak tau harus berkata apa lagi, hingga tiba tiba... “ Dia akan pergi bersamaku Damian.”  Tutur Suara seseorang dari arah berlawanan. Tampak seseorang berdiri dengan mantel hitam di sana “ Alfa.”  Senyum mengembang dari bibir Chaty, menyadari ada malaikat penolongnya di sana. Chaty segera berlari kearah Alfa. “ Dia akan pergi bersamaku Damian, jadi kau tidak perlu khawatir.”  Ujar Alfa meyakinkan. Damian melirik kearah Chaty dengan pandangan cemas. “ Tidak apa apa Damian, aku aman bersama Alfa. Dia orang yang baik.”  Senyum Chaty Damian menarik nafas panjang “ Baiklah, tolong jaga nona Chaty baik- baik nak Alfa.”  Lepas pria tua itu akhirnya. Dia tidak tau nasib Chaty akan semakin hancur nantinya, apalagi di rahimnya ada penerus keturunan Alvaro yang tertinggal. Apakah benar, Alfa sebaik itu? Sementara di sana, Safir menuju kekamarnya. Melampiaskan amarahnya dengan menatap Karina tajam. Gadis itu tersenyum masih dengan wajah tenangnya. " Kau ingin aku bukan, kalau begitu miliki aku sekarang." Ucapnya lalu jatuh kedalam pelukan gadis itu. Tentu saja, Karina tersenyum penuh kemenangan Aku memang selalu jatuh setiap kali emosi memelukku Bagaikan elang yang kehilangan arah dan merusak segalanya Lalu setelahnya, menangis dan menyesal...                                                                                  ***     Beberapa waktu kemudian... Karina tersenyum menatap wajah Safir yang terlelap disisnya. Di belainya wajah bak dewa yunani itu lembut “ Aku tidak akan melepaskanmu Safir Alvaro, apalagi hanya karena Chaty. Aku akan mengirim gadis itu ke jurang nerakanya.”  Kemudian Karina mengambil hpn dari tasnya dan menghubungi seseorang. Siapa yang dia hubungi? “ Halo.” “ Ya, ada apa.” “ Apa kau sudah membawanya pergi?" Tanya Karina datar “ Ya, dia berada di Villaku sekarang.”  Senyum sinis orang itu terdengar dari seberang. Suara yang tak asing “ Bagus, Lakukan rencana kita.”  Senyum Karina kemudian menutup Handphonenya. Siapa yang dia hubungi??? Apakah seseorang yang Safir kenal? Ditempat lain, " Kau menelfon siapa Al?”  Tanya Chaty pada Alfa " Eh.. Emm.. Aku... Aku baru saja menelfon sahabatku.”  Decak Alfa berdalih. Senyum manis yang meyakinkan tercetak di wajahnya " Ohh.. " Chaty tersenyum percaya. Alfa tersenyum dingin, benar, Alfalah yang di telfon Karina tadi. Tapi mengapa Alfa tampak begitu baik? Apa sebenarnya rencana mereka? Mampukah sahabat yang Safir percaya menghianatinya?                                                                                        *** Pagi itu suasana mendung di rasakan amat berbeda oleh pemuda berdarah Amerika yang sejak kecil tak mengenal sosok ibunya itu. Hawa dingin yang menyengat seolah menusuk ke dalam jiwa terdalamnya. Jauh dalam hening hatinya terasa hampa. Di tatapnya seluruh kemewahan hidup yang dia miliki, tapi mengapa hatinya tak merasa damai. " Tuan anda memanggil saya ?”  Tanya Damian penuh hormat. Safir mengangguk lirih sembari menatap wajah tua Damian yang terlihat letih. " Apa ada yang anda butuhkan tuan?” " Hmm, Tolong panggilkan Chaty.”  Pinta Safir membuat Damian sedikit tercekat. Apakah Safir tidak tahu kalau semalam Chaty sudah pergi? " Kenapa masih di sini, cepat panggilkan dia. Kau tidak tuli kan?”  Nada Pemuda itu meninggi membuat Damian bergidik. " Maafkan saya tuan, Nona Chaty sudah tidak disini, beliau pergi tadi malam bersama tuan alfa.”  Tutur pria tua itu akhirnya Jari- Jari Safir mengepal erat, terlihat urat lehernya menegang. " Alfa?" " Benar tuan.” Safir menatap Damian berang, seketika ia berdiri lalu diangkatnya kerah baju pria tua yang sudah 49 tahun mengabdi di istananya membuat wajah Damian pucat seketika. Ia benar benar terlihat mengerikan " Bagaimana bisa kau membiarkannya pergi dari sini hah, kau mau mati ya !.” Bentaknya.  " Ma.. Maafkan saya tuan.. Sa...” " Aaahh sudahlah, kau memang tidak berguna.” Safir melempar Tubuh Damian hingga tersungkur di lantai. Amarahnya meledak, ia menyambar jasnya lalu melangkah pergi. Menatap wajahnya pagi itu membuat para pelayan tertunduk takut. Safir bergegas menuju kamar Chaty, seolah tak percaya gadis itu sudah lepas dari tangannya. " Aku mencintai Alfa.”  " aku mencintai Alfa.” " Aku mencintai Alfa.”  Suara Chaty waktu itu seolah menggema kembali " Siaaaaalllll......”  Teriak Safir frustasi. Bagaimana tidak, kamar Chaty sudah kosong. Ntah mengapa Safir merasa sedih ketika melihat tempat yang biasa di tiduri Chaty. Amarah dan kecewa bercampur aduk di benaknya. " Mengapa kau lari pada Alfa babu... Mengapaaaaa???”  Teriak Safir frustasi, ia mengusap rambutnya kasar lalu menendang pintu lemari di dekatnya. Safir tidak tahu , Karina tersenyum dari luar pintu memperhatikannya. Rasa puas dan lega karena kini Safir hanya akan menjadi miliknya, “ Perempuan hina itu sudah pergi.” Senyumnya kemudian beranjak tenang. Tapi bukan Karina namanya, kalau dia tidak memikirkan semuanya secara matang, gadis itu sudah terlatih dalam hal politik bahkan politik dalam hidup orang lain, dia tidak mungkin membiarkan Chaty kembali suatu saat nanti. Senyum halus tergurat di bibirnya yang indah. Entah rencana apa yang ia pikirkan Sementara di sana... " Good Morning princess.”  Chaty mengerjabkan matanya beberapa kali melihat Alfa sudah duduk disisinya saat bangun tidur. " Alfa.. Huaaaammm.”  Chaty mengucek ngucek matanya. Ia beruntung, kehamilannya sama sekali tidak merepotkan, jadi ia tidak perlu membuat Alfa curiga. " Kau cantik sekali, bahkan saat bangun tidur, mari turun ke lantai bawah, kita sarapan bersama.”  Senyum Alfa manis. Siapa yang menyangka ia akan berbuat licik " Baiklah Al, aku mandi dulu.”  Chaty tersenyum manis, pemuda itu begitu baik, pikirnya. " Ok, aku tunggu di bawah ya.. Kalau butuh apa- apa kau tinggal pencet tombol warna biru.”  Senyum Alfa kemudian berdiri. Chaty hanya mengangguk kemudian melangkah turun dari ranjangnya menuju kamar mandi. Disana, ia kembali menangis sedih di bawah guyuran shower. “ Maafkan aku ayah, tapi aku benar benar tidak tahan bersamanya, aku harus melindungi bayiku dari sikap brutalnya, semoga kau baik baik saja disana.” Tangisnya sesak                                                                                     *** Alfa tersenyum sinis di lantai bawah saat melihat 12 panggilan masuk dari Safir Alvaro " Ada apa Tuan Muda Safir, apa kau merasa kehilangan sesuatu.” Senyumnya dingin lalu memencet tombol biru untuk menghubungi Safir. " Halo.. Safir ada apa bro?” Tanya Alfa dengan suara tenang. " Katakan, apa Chaty ada bersamamu?”  Suara Safir serak membuat batin Alfa terkekeh. " Hmm.” " Cepat bawa dia kemari, kau tau kan dia pelayanku.” " Baiklah, aku akan bawa dia nanti, tapi sekarang dia sedang tidak enak badan, kau tau kan dia dan aku saling mencintai. Dia memintaku untuk menjemputnya semalam.”  Sandiwara Alfa sukses membuat Safir tercekat. Ulu hatinya serasa terbakar. " Dimana dia?”  Teriak Safir Frustasi " Masih di kamar.” " Tut tut tut " Hp di matikan, Alfa tertawa terbahak bahak membayangkan ekspresi Safir di seberang sana. " Rasakanlah sekarang apa yang kau dapat atas sikapmu yang sok itu Safir.”  Ucapnya tenang lalu kembali meletakkan Hp nya di saku kemejanya. Sebentar lagi, kau akan merasakan rasa sakit yang tanpa sadar telah kau berikan selama ini padaku, Safir Alvaro. Kau tidak boleh bahagia, untuk itu selama ini.. aku berada disisimu Jauh dalam lamun dan senyumnya..   " Al ?” " Eh Chaty.”  Alfa segera menutup mulutnya menyadari kehadiran Chaty. " Kau tertawa kenapa?”  Gadis itu mengkerutkan keningnya heran. " Hmm tidak, aku hanya senang karena aku memenangkan tender besar pagi ini, kau mau ikut aku setelah ini?”  Tanya Alfa " Kemana?” " Ke sebuah Penthahouseku di puncak, aku ingat aku ada sebuah janji penting hari ini, dan aku akan sangat cemas jika meninggalkanmu seorang diri.” Sejenak Chaty terdiam, gadis itu tidak berani untuk tinggal sendirian, bagaimana kalau Safir datang dan menyeretnya. Sementara Alfa menatap Chaty dingin, rambutnya yang panjang dan masih basah, Kaos tanpa lengan yang dia kenakan dengan celana Jeans yang membalut tubuh indahnya membuat Alfa susah payah harus mengendalikan hasratnya. Pantas saja kalau Safir jatuh cinta dengan gadis di depannya ini. " Hmm Baiklah, aku ikut.”  Senyum Chaty kemudian. " Bagus.”  Alfa sumringah.Merekapun sarapan bersama sebelum akhirnya bersiap siap menuju penthohause milik Alfa di sebuah puncak pegunungan yang katanya berada di daerah jawa timur. --Chaty mungkin tak menyadari kepergiannya kali ini akan merenggut hidupnya untuk selamanya. Sementara Safir, sejak tadi hanya duduk tanpa ekspresi di taman rumahnya, dia tak berangkat kerja ataupun memanggil pelayan untuk meminta sarapan. Hal itu membuat Damian sedikit cemas. " Tuan muda, apa anda perlu sesuatu?”  Tanya Damian menghampiri " Apa kau tidak lihat aku sedang ingin sendiri, bodoh.”  Tutur Safir parau. Damian melihat kearah tanah, tampak ponsel Safir hancur total di sana seperti habis di injak injak. Kasian sekali nasib ponsel itu.... " Tuan apa anda tidak ingin sarapan?” " Kau ini cerewet sekali ya.”  Suara Safir meninggi. Namun Damian malah tersenyum. " Apa anda ingin saya mencari nona Chaty ?" Tanya Damian membuat Safir terhenyak. Apa begitu terlihat kalau dia memikirkan Chaty? " Kau ingin mati hah?” Bentak Safir menyembunyikan hatinya. " Tuan, anda boleh membunuh saya jika anda bahagia, yang saya inginkan adalah kebahagiaan anda.”  Tutur Damian. " Ku bilang Pergi !!”  Safir berdiri dari duduknya dengan wajah berang. Damian mengambil nafas panjang lalu berdiri, namun saat dia hendak beranjak... " Damian.. Tunggu.”  Terlihat wajah Safir ragu " Iya tuan... " Apa begitu terlihat, ka.. Kalau....”  Safir tak meneruskan kata- katanya, wajahnya tertunduk. Ia merasa gengsi " Kalau anda memikirkan nona Chaty?”  Tanya Damian " Ssstttt jangan keras keraaass.”  Bisik Safir " Tidak tuan.” " Lalu bagaimana kau bisa tahu?” " Karena saya sudah mengenal anda sejak anda kecil, saya bisa memahami anda seperti saya memahami diri saya sendiri.”  Tutur Damian. Mendengar itu Safir terkesiap, di tatapnya wajah Damian yang menua dan tampak lelah, baru ia sadari selama ini ia telah begitu kasar padanya, padahal tak sekalipun Damian tidak memperhatikannya. " Lalu, apa yang harus aku lakukan, Damian.. Gadis itu membuatku frustasi. Tapi saat ini dia bersama dengan Alfa yang di cintainya, aku tidak bisa berbuat apa- apa.”  Tukas Safir jujur juga akhirnya. " Nona Chaty mencintai Tuan Alfa?” Safir mengangguk lirih. Damian tersenyum " Saya rasa tidak tuan.” " Apa maksudmu Damian?”  Safir mengangkat sebelah alisnya. " Kalau dia mencintai tuan Alfa, dia tidak akan menyerahkan segalanya pada anda di malam ulang tahun anda hanya karena cemburu saat anda bersama dengan perempuan lain kan?.”  Senyum Damian. " Uhuk Uhuk.”  Safir langsung terbatuk mendengar penjelasan Damian, bagaimana bisa si tua itu tahu kejadian malam itu? Apakah dia sakti? Jangan – jangan.. Dia meletakkan CCTV di sekitar kamarnya? " Jangan kaget tuan muda.”  Senyum bibir tua Damian melihat wajah Safir yang memerah. " Kau jangan mengarang cerita!”  Dalih Safir merona. " Saya melihat anda membawanya ke kamar anda, lalu tidak keluar lagi sampai besok sorenya..”  Senyum Damian melihat wajah Safir lucu. " Diam kau menyebalkan!”  Bentak Safir malu. " Dia mencintai anda tuan, dari cara dia memandang anda, dari cara dia melihat dan berbicara dengan anda.”  Tutur Damian. Safir kembali terduduk, Hatinya seolah tersiram es yang memadamkan amarahnya mendengar ucapan Damian. Ia seolah memiliki harapan lagi " Kalau dia mencintaiku, kenapa dia pergi?” Pertanyaan Safir kali ini membuat Damian terdiam. " Sudahlah Damian, kau jangan berusaha menghiburku. Alfa tadi berkata kalau mereka sekamar, membayangkannya saja membuatku muak dan jijik, aku hanya harus melupakannya lagi pula dia bukan siapa- siapa bagiku.”  Telak Safir " Tuan muda... Anda jangan terpancing dengan ucapan tuan Al...” " Sudahlah Damian, Aku lelah... Aku mau ke kamarku.”  Potong Safir lalu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Damian yang menatapnya hampa. " Semoga anda tidak menyesal tuan muda.”  Ucap Pria tua itu datar. Ya, semoga Safir tidak menyesal.                              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN