Rahasia Berdarah

3171 Kata
  Hari itupun berlalu begitu cepat seperti hari kemarin. Ini sudah seminggu semenjak Chaty meninggalkan Rumah Alvaro, dan hari keenam sejak dia tinggal di Villa milik Alfa yang super megah dan besar. Tapi mengapa Chaty seolah sangat merindukan sosok pangeran yang angkuh itu, semakin dia berusaha semakin wajah Safir selalu membayanginya. Padahal disisinya sudah ada Alfa yang begitu baik dan perhatian menurutnya. Alfa juga telah berjanji untuk melindungi ayahnya dari Safir dan berusaha membebaskannya dari bayangan gelap tuan muda Alvaro itu, bahkan Alva berjanji secepatnya akan membawa ayah Chaty mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi. Tapi sikap sempurna Alfa tidak juga meredupkan kerinduan Chaty untuk mendengar suara Safir dan menatap wajahnya. Ia benar benar tertekan, andaikan Safir tidak se temprament itu. Malam itupun begitu, Chaty duduk diam di dekat kolam ikan sembari menikmati pemandangan teras belakang yang indah, sementara Alfa belum pulang sejak tadi pagi, pikirannya entah menuju ke mana. “ Ayah… bagaimana keadaanmu?”  Pikirnya keras. Jauh dalam lamunnya… “ Hei.. Maaf aku pulang terlambat.”  Alfa dengan senyum manisnya tiba tiba duduk di hadapan Chaty membuat gadis itu terhenyak. Pemuda itu masih mengenakan stelan jas kerjanya, keringat dingin tampak mengucur dari keningnya. “ Iya Alfa, tidak apa apa.” “ Kamu sudah makan malam?” Tanya Alfa melihat wajah pucat gadis di depannya. Chaty menggeleng pelan. “ Kalau begitu ayo makan malam denganku.”  Ajak Pemuda itu menarik lengan Chaty masuk  ke dalam rumahnya. Mereka makan di sebuah meja yang cukup besar, berbagai hidangan lezat di suguhkan di sana. Para pelayan masih tampak sibuk dengan tugasnya masing masing sebelum pulang ke rumah mereka. Alfa tidak pernah mengizinkan pelayannya untuk menginap. Mereka hanya datang pada jam 10 pagi dan pulang pada jam 8 malam. Sejenak Alfa hanya memperhatikan Chaty yang tampak hanya memutar mutar spageti di piringnya. “ Kau tidak suka hidangannya?”  Tanya Alfa. Chaty hanya tersenyum. “ Tidak Alfa, aku hanya belum lapar. Aku merindukan ayahku.”  Tutur gadis itu. “ Ayahmu pasti akan baik baik saja, aku janji.”  Senyum pemuda itu ramah. Mendengar janji itu Chaty tersenyum kemudian mulai menyuap makanannya. “ Ekhm Chaty...” “ Ya.” “ Kau mau ikut denganku kan?” Chaty mengkerutkan keningnya. “ Kemana?" “ Begini, Lusa adalah hari pernikahan Safir dan Karina, aku ingin kau menjadi pasanganku nanti. Kau tau kan akan sangat memalukan kalau aku tidak membawa pasangan nantinya.”  Senyum sinis Alfa. Mendengar itu tangan Chaty gemetar, wajahnya berubah pucat. Sendok di tangannya terlepas “ Safir? Menikah? Lalu bagaimana dengan dirinya, dan anaknya?”  Pikirnya kacau “ Chat?” “ Eh.. Emmm al.. A.. Aku harus ke kamar dulu , maa maaf.”  Tutur Chaty parau, ia bergegas berlari ke lantai atas tidak lucu kalau Alfa sampai melihat air matanya jatuh. Alfa tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Chaty. Dia kemudian melangkah menyusul gadis itu ke lantai atas. Benar saja.. Chaty tampak telungkup sambil menangis di bantal di atas kasurnya. “ Ekhm.. Maaf kalau aku membuatmu sedih.”  Alfa memahat wajahnya sesedih mungkin. Chaty menatap Alfa hampa, dia tak mau lagi bersembunyi, lagi pula Alfa kan sahabatnya, akan lebih baik kalau Alfa tahu yang sebenarnya. “ Tidak apa- apa Al.” “ Kamu mencintainya?”  Tanya Alfa kemudian duduk di dekat Chaty. Chaty mengangguk lirih, Alfa pura- pura menarik nafas panjang, mungkin seandainya jadi actor dia akan dapat penghargaan. “ Aku sudah menyangkanya, jangan sakiti dirimu sendiri Chaty, kamu ini cantik dan baik. Aku tahu ini sulit, tapi Safir memang seperti itu, sejak aku mengenalnya, kalau dia memang mencintaimu, dia pasti sudah akan menyusulmu ke sini, tapi.. Tidak bukan, padahal dia sudah tahu kalau kau bersamaku.”  Tutur Alfa prihatin, mendengar itu Chaty menangis, menyadari betapa bodohnya dirinya, sudah jelas siapa Safir, tapi Chaty masih saja memikirkannya “ Maafkan aku Al, aku selalu menyusahkanmu.”  Timpal Chaty. Alfa tersenyum menghapus air mata Chaty lalu merangkul gadis itu di dadanya, membelai rambutnya. “ Kau tau aku tidak pernah merasa di susahkan selama ini, aku tidak suka melihatmu sedih.”  Tutur Alfa parau. “ Kau baik sekali, mengapa kau begitu baik padaku?” Chaty menatap Alfa. “ Karena aku.. Aku menyukaimu Chaty.”  Chaty tertegun mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Alfa, matanya membulat saat Alfa tiba- tiba mendekat ke wajahnya. Chaty bahkan bisa merasakan nafasnya yang hangat. Tangan Alfa menghapus butiran rambut yang menempel di wajahnya karena air mata yang terus mengalir. “ Aku mencintaimu Chaterina Khedira.”  Tutur Alfa kemudian hendak mencium bibir Chaty, namun… Chaty memalingkan wajahnya. “ Maaf Alfa , aku tidak bisa.” Alfa menahan nafas, bagaimana bisa Chaty menolaknya? Amarah tiba tiba menguasai hatinya, matanya nyalang menatap Chaty. “ Aku tidak mencintaimu.”  Tambah Chaty membuat tangan Alfa mengepal erat. Pemuda itu kemudian tersenyum sinis. “ Sial… sia- sia saja usahaku selama ini.”  Tuturnya membuat Chaty tercekat mendengarnya. Chaty gemerar melihat perubahan sifat pria yang selama ini di kenalnya baik. Alfa berdiri menatap Chaty dalam- dalam. “ Ka.. Kau kenapa Al.”  Tanya Chaty gugup, gadis itu berusaha berdiri menjajari. Alfa tersenyum kemudian memegang pundak Chaty erat, hingga gadis itu meringis menahan sakit. “ Kau tahu, sebenarnya Safirlah yang memintaku datang untuk menjemputmu malam itu, Safir bilang dia sudah muak melihatmu, dia juga sudah bosan denganmu, dan aku bersikap baik padamu tapi kau malah menolakku, lagi- lagi selalu saja Safir.”  Bentak Alfa, terlihat urat uratnya menegang di balik kulitnya yang putih bersih. “ All.. Al.. A.. Aku.” “ Sssttt, diamlah, bahkan Safir memintaku untuk melenyapkanmu.”  Senyum Alfa sinis membuat tubuh Chaty menegang. “ Alfa, mengapa kau jadi begini.. Aku tahu kamu orang baik.. Tolong .. Aku takut melihat sikapmu yang seperti ini.”  Pinta Chaty, wajahnya yang pucat karena takut membuat Alfa semakin senang. Sudah lama dia menahan moment ini. Perlahan di tariknya pinggang Chaty ke pelukannya, di peluknya erat gadis itu hingga Chaty seolah tak bisa bernafas. “ Dengar.. Gadis sepertimu tidak bisa di sikapi dengan baik- baik, Safir pernah bilang kau itu sangat hebat, dan aku ingin membuktikannya.”  Senyum Alfa berbisik. Chaty menelan ludah mendengar ucapan Alfa. Gadis itu akhirnya sadar, Safir dan Alfa telah mempermainkannya. Dia harus lari… ya dia harus lari. Terasa Alfa sudah mulai mencium telinganya, nafasnya mulai terasa di leher Chaty. Namun… “ Aaarrrkkhh “ Chaty menendang kaki Alfa dengan kuat hingga pemuda itu terpekik dan melepaskannya. “ Kau jahatAlfa!!”  Cerca Chaty lalu bergegas berlari ke luar dari kamar itu. Alfa tersenyum memegang kakinya yang sakit. “ Mau kemana kau pelacur.”  Bentak Alfa kemudian mengejarnya. Tampak Chaty berlari dengan wajah ketakutan menuju ke tangga. Gadis itu akan turun ke lantai bawah saat Alfa berhasil menggapai tangannya. “ Awww “ Chaty menahan rambutnya yang perih karena di tarik kasar oleh tangan kokoh Alfa. “ Seandainya kau bersikap baik, maka aku akan bersikap baik, tapi malam ini juga kau akan menyesali setiap langkahmu yang berusaha menjauh dariku, aku Alfa Stefan sahabat Safir Alvaro, jangan macam- macam denganku, aku akan menghancurkanmu sampai ke akar.”  Senyum Alfa di telinga Chaty. Rumah itu sudah sepi, pintu pagar sudah di kunci saat para pelayan pulang baru saja. “ Toloooongg… tolong akuu.”  Teriak Chaty. Dan.. “ Brakk “ Alfa melempar tubuhnya kasar membentur lantai. Chaty merasakan cairan hangat mengalir di keningnya. Dia berdarah. “ Ayoo teriaklah.”  Senyum Alfa. “ Alfa tolong.. Maafkan aku.. Tolong jangan seperti ini.. Alfa aku mohon.”  Chaty menangis, sedih dan sakit. Bukan hanya nasibnya yang terancam tapi juga buah hati yang ada di rahimnya. Namun… “ Aarrkkhh “ Teriakan keras kembali menghiasi bibir mungilnya saat Alfa menginjak kakinya. Pemuda itu tertawa saat terdengar bunyi retak di betis gadis itu, terlihat jelas kaki gadis itu memar, seolah tidak puas, Alfa menyeret kembali rambut Chaty hingga kepalanya terdongak dengan air mata meleleh turun, melodi teriakan gadis itu seolah syair indah di telinganya. Alfa kemudian menyeret dan mendorong Chaty mendekati tangga. “ Tadi kau ingin turun kan?”  Senyum Alfa di telinga Chaty. “ Tidak Al.. Tidak.. Aku mohon jangan.”  Chaty menggeleng parau, Rasa takut kembali hinggap saat melihat puluhan anak tangga yang berjejer rapi. Dan... “ Aaarrkkhh.”  Alfa mendorong tubuh Chaty membentur tangga dan berguling ke bawah. Permainan itu seolah begitu menyenangkan baginya, melihat gadis itu tertelungkup tak sadarkan diri di lantai bawah setelah terjatuh dari tangga yang cukup tinggi. “ Ouuchh kasihan “ Senyum Alfa kemudian menarik pundak Chaty hingga terlentang menghadapnya, Gadis itu tak sadarkan diri. Alfa tersenyum melihat keadaan Chaty yang begitu menyedihkan. “ Ini salahmu karena menjadi benda kesayangan si b******k Safir itu.”  Senyumnya lalu mulai mencium Chaty yang tak berdaya. Alfa mencoba melecehkan Chaty, namun... “ Arkh “ Alfa menjerit ketika Chaty menggigit bibirnya, dengan segenap tenaga gadis itu kembali berusaha bangkit dan berlari dengan kaki pincang, tak peduli dia menahan sakit yang teramat, ia berusaha sekuat tenaga menuju pintu. “ Toloooongg “ Teriaknya. Namun sial, pintu itu terkunci. Chaty menangis serak, tak ada jalan kabur baginya. Matanya nanar melihat Alfa yang mulai mendekat dengan bibirnya yang teluka. Tangisan Chaty seolah membuat Alfa semakin bersemangat, ia memeluk Chaty dari belakang. “ Lepaskan aku!!!.”  Teriak Chaty berusaha memukul, Tapi tenaganya bagaikan semut di bandingkan Alfa. Alfa menarik Chaty ke meja makan tak jauh dari sana, Di lipatnya tangan Chaty ke belakang, agar gadis itu tidak bisa meronta. Dan.. “ Bug “ Chaty menahan sakit yang teramat sangat, saat pemuda itu mendorong tubuhnya tertelungkup di meja, perutnya menghantam sisi meja, Chaty menggigit bibirnya. Ia meronta dan berteriak, usaha melepaskan diri yang sia sia. Mengapa Alfa menyiksanya? Kesalahan apa yang ia lakukan? “ Sekarang rasakan ini pelacur.”  Mata Chaty mendelik saat Alfa tiba tiba menarik rambutnya kasar lalu menghujamkan kepalanya membentur meja. " Toloonggg... Tolongg akuu!”  Tangis Chaty berontak. Tapi Alfa malah semakin menyiksanya. Pria itu melucuti kain yang melekat ditubuhnya lalu memukuli dan memperkosanya sadis. Tangisannya tak didengar oleh siapapun... Tak ada yang menolongnya.. Dunia ini seketika menjadi kutukan untukku... Aku seolah menyesali setiap napas yang telah aku hembuskan Atas kesalahan apa... aku di hukum? Hatiku meratap, memohon belas kasih tapi tak ada yang mendengar tangisku Sejauh yang bisa aku rasakan, hanyalah hinaan.. “ Jangan Al.. Ku mohon.. Jangan… a.. Aku s.. Aku sedang hamil. Tolong hentikan ini, aku mohon....”  Tangis Chaty dengan darah yang mengalir dari hidung dan bibirnya. “ A.. Apa?.”  Wajah Alfa sedikit tercekat. “ A.. Aku hamil...”  Chaty berharap Alfa akan bersimpati padanya dengan kebenaran itu , namun… “ Hahaha bagus, Safir juga pasti tidak menginginkan anak darimu, Safir ingin kau mati, sejak awal dia tidak pernah menginginkanmu, kau selalu mempermalukannya.”  Tawa Alfa. Dan… “ Aarrrkkkhhhh.”  Ia mencekik Chaty, membuat gadis itu melemah kehabisa napas. “  Chattt… kau akan tahu apa rasanya neraka setelah ini.”  Bisiknya mengerikan. " Brak." Ia melemparkannya kebawah, di cengkramnya kuat dagu Chaty yang sudah tak berdaya itu, lalu ia tersenyum dan menamparnya berkali kali membuat gadis itu menangis menahan sakit dan perih tak terhingga sementara bibir dan hidungnya tak hentinya mengalirkan darah segar Aku bukan pria yang jahat.. jangan berpikir terlalu keras mengapa aku melakukan kekejian ini padanya. Aku hanya membenci apapun yang Safir sukai, salahkan wanita ini karna ia membuat Safir bahagia. Itu kesalahan besar yang membuatnya harus menderita... Beberapa saat kemudian... Chaty meronta, ia sudah tidak sanggup lagi dengan siksaan dan rasa sakit yang terus Alfa berikan padanya, darah segar mengucur derah dari dalam rahim Chaty. Pemuda itu sudah bosan dengan permainannya, lagi pula gadis itu sudah ia hancurkan. Chaty merasakan anggota tubuhnya seolah terlepas satu persatu sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri. Sementara Alfa menatapnya… Gadis itu seolah tertidur, tidur yang sangat lama. Tubuhnya seolah lemah tak berdaya, tulang tulangnya seolah retak, matanya membengkak, bibirnya robek, tak ada yang tersisa selain luka di sekujur tubuhnya. Sungguh menyedihkan. Terkadang Alfa merasa begitu keterlaluan pada gadis yang sebenarnya sangat manis itu. Chaty mengalami pendarahan hebat. “ Andai saja kau bukan orang yang di cintainya, andai saja dia bukan Safir Alvaro mungkin aku tidak akan sekejam ini padamu dan bayimu, ku harap kau tidak akan bertahan untuk memaafkan aku. Matilah dengan tenang agar aku tak terlalu merasa berdosa padamu.”  Ucap Alfa merapikan pakaiannya. Digendongnya tubuh Chaty di pangkuannya lalu di bawa keluar rumah menuju tempat parkir, Alfa melempar tubuh Chaty ke bagasinya. Lalu pemuda itu membawanya entah ke mana. “ Ayah, aku merindukanmu.”  Ingatan terakhir Chaty sebelum akhirnya Alfa mendaratkan mobilnya di sebuah tempat. Di gendongnya tubuh Chaty keluar dari bagasinya kemudian di tidurkan di sisi jalan tanpa rasa kasian. Alfa tidak ingin mengambil resiko. Melihat sekelilingnya “ Hutan Keramat “ ya, hutan yang tidak pernah di singgahi manusia sebelumnya karena terkenal keangkeran dan banyaknya hewan buas yang hidup di sekitarnya. Alfa kembali menatap tubuh Chaty yang mengejang, mungkin kehabisan darah, dia kemudian mengeluarkan sebuah belati dari dalam saku celananya. Dan menghujamkannya beberapa kali ke perut Chaty sebelum akhirnya Chaty tak bernafas lagi. Di rasakan sudah aman, Alfa kemudian meninggalkan Tubuh Chaty begitu saja, tanpa alas atau selimut di tengah hujan yang kemudian turun dengan derasnya. Sementara di sana…… “ Dady…” terdengar suara kecil serak di telinga Safir, seolah benar- benar nyata di tengah tidur lelapnya. “ Dady… “ Kembali suara itu terdengar diantara suara halilintar yang menggema hebat. Perlahan mata kebiruan itu terbuka, dilihatnya sebuah cahaya seolah menggenggam lembut tangannya. “ Daddyy...”  Seorang anak lelaki begitu rupawan tersenyum di hadapannya membuat Safir terkesiap, tentu saja itu hanya mimpi, mimpi yang begitu nyata. “ Mengapa kalau dady jahat, harus aku yang menanggungnya, mengapa harus aku dan ibu yang menanggungnya.”  Suara itu terdengar begitu menghiba, Safir berusaha menggapai tangan mungil itu. Namun… Sebuah cahaya seolah menarik tubuhnya jauh, hingga… “ Ya tuhan….”  Safir mengusap wajahnya, di lihatnya sekelilingnya, dia masih tertidur di ranjang empuknya, Safir terduduk menahan keringatnya yang mengalir deras entah mengapa pikirannya tak tenang, dadanya terasa sesak, seolah baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Diambilnya hpnya yang tergeletak di nakas, kemudian memencet dial number yang terhubung dengan suara di seberang. “ Iya Tuan ada apa?.”  Tanya pemilik suara itu yang tak lain adalah Damian. “ Damian, cepatlah kemari, aku ingin meminta bantuanmu.”  Celetuk Safir . Beberapa saat kemudian Damian datang masih rapi dengan pakaian pelayannya, seolah pria tua itu tidak pernah menggantinya. “ Damian, ntah mengapa firasatku tidak nyaman kali ini, tolong aku .. Siapkan mobil, aku akan ke rumah Alfa sekarang.”  Tutur Safir dengan keringat yang masih mengucur deras di wajahnya. Tanpa basa- basi Damian mengangguk kemudian bergegas keluar menyiapkan sebuah mobil sport mewah berwarna merah. “ Sudah di siapkan Tuan, anda mau saya yang mengantar?" Tanya Damian. Safir menggeleng , Pemuda rupawan itu langsung mengenakan Jaketnya dan segera menuju mobil. “ Chaty, Mengapa aku merasa ada yang salah denganmu, tak seharusnya kau menyiksaku seperti ini, mengapa kau tidak pernah pulang padaku. Jangan membuatku cemas.”  Bisik hati Safir. Entah mengapa seolah ada yang sakit di dadanya malam itu, bayangan Chaty seolah menari nari di pelupuk matanya. Beberapa saat kemudian mobil itu mendarat di sebuah pekarangan rumah mewah bernuansa putih, tampak seorang wanita tua bersiap siap untuk membuka gerbang. “ Apakah tuan Alfa ada?" Tanya Safir tanpa turun dari mobilnya. “ Tidak tuan, sudah satu minggu tuan Alfa ke Pentohausenya di puncak.”  Tutur wanita itu. Safir langsung memutar arah, suara decitan mobilnya nyaring terdengar. Mobilnya melaju di keheningan udara subuh mencari jejak sang gadis. Chaty, tak peduli jika kau tidak mencintaiku.. Aku merindukanmu..                                                                                       ***   Matahari mulai terik saat mobilnya tiba di halaman Villa megah Alfa, benar saja, belum turun dari mobilnya Alfa tampak sedang duduk manis di terasnya sambil menyeduh secangkir teh. “ Heiiii Safir… what”s up brother?”  Senyum Alfa sumringah menyambut kedatangan Safir, para pelayan langsung tertegun melihat kearah Safir seolah melihat bayangan malaikat yang turun ke bumi, pahatan wajah yang begitu sempurna. “ Apa Chaty ada?”  Tanya Safir, wajahnya tampak sangat kelelahan karena menyetir semalaman. Mendengar itu wajah Alfa berubah pucat. “ Hei.. Di mana Chaty, aku ingin menjemputnya?” Tanya Safir lagi. Beberapa pelayan yang mendengar saling berbisik . “ Hmmmmm bagaimana caraku menjelaskannya ya.” “ Ada apa Alfa?”  Tanya Safir dengan mata elangnya. Alfa menggigit bibir bawahnya. “ Begini Saf, kemarin dia ada di sini bersamaku, tapi….” “ Tapi kenapa? Safir langsung mengepalkan tangannya. “ Kemarin aku ada meeting dengan Clientku dari amerika, aku pulang cukup larut, dan saat aku tiba.. Chaty sudah pergi.”  Tutur Alfa dengan penuh penyesalan “ Kau mau mati hah!”  Safir langsung mencengkeram kerah baju Alfa. Matanya menyala marah, wajahnya memerah dan itu cukup menggelitik batin Alfa. “ Tidak Saf, sebenarnya ada yang Chaty rahasiakan darimu.” “ Apa?” “ Kau tau hubungan kami tidak seperti yang kau kira, aku dan Chaty hanya berteman. Dia hanya mencintaimu , Dia ikut denganku karena dia tidak tahan melihat kelakuanmu dengan Karina dan gadis gadis lain, dan saat dia pergi dia tengah hamil, anakmu.” “ Deg.”  Genggaman tangan Safir langsung melemas, ditatapnya wajah Alfa yang begitu serius. Ucapan Alfa barusan bagaikan petir baginya. “ Iya Saf, karena itu aku menjaganya, tidak mungkin aku membiarkannya keluar sedangkan dia tengah mengandung anak sahabatku kan, tapi aku benar benar tidak tahu di mana dia sekarang.”  Tutur Alfa tersenyum simpul menyadari wajah Safir yang berubah. “ Di... Di..manaaa diaaaa.”  Bentak Safir geram. Alfa menundukkan wajahnya kemudian menggeleng memelas. “ Siaaallll.”  Safir menendang Vas bunga di dekatnya hingga hancur berantakan, dia langsung menelfon Damian meminta pria tua itu melihat Chaty di rumah Rina, namun malang, permainan seolah berputar di otaknya, karena beberapa saat kemudian sebuah kabar mengejutkan dia dengan telfon dari Damian bahwa Rina Agustinaa sahabat karib Chaty di temukan meninggal karena over dosis n*****a pagi tadi. Safir segera kembali dan mencoba mencari Chaty di rumah sakit jiwa tempat ayahnya di rawat namun hal yang sama terjadi, Ayah Chaty kritis karena menyilet tangannya sendiri dan terpaksa harus mendapat perawatan intensif karena koma. “ Chaty, di mana kau.”  Air mata Safir tak terasa menetes, air mata tulus pertamanya. Tapi sayang semua itu sudah terlambat. Mungkin saat ini tubuh gadis itu sudah membusuk atau bahkan sudah di cabik cabik binatang buas bersama putra yang seharusnya dia sayangi. Karina dan Alfa tertawa terbahak – bahak di tempat lain menyadari rencana mereka berhasil. “ Apa kau sudah puas ?" Tanya Karina “ Tentu saja, tidak hanya sekedar puas tapi sangat puas sayang, aku menyiksanya, aku yakin siksaan itu membuat dia dan anaknya mati. Dan melihat wajah Safir yang strees karena mencarinya aku tambah puas, sekali sekali pria b******k itu harus merasa kehilangan agar dia tidak sok lagi.”  Tawa Alfa. “ Aku juga puas, karena mulai sekarang Safir hanya akan menjadi milikku, aku puas karena nasib gadis itu yang malang, juga nasib temannya yang kampungan itu, cukup sulit untuk membuatnya seolah mati dalam keadaan over dosis.”  Karina menenggak anggur di tangannya tandas “ Haha, bagaimana kalau kita merayakannya.”  Tanya Alfa. Karina tersenyum lalu merangkulkan tangannya di pundak Alfa dan mengangguk senang. Mereka berdua memang actor yang jahat.                                                                                        ***            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN