Deon memperhatikan wanita yang ada didepannya, terlihat begitu imutnya dengan wajah yang merah. Dari mulutnya mengeluarkan semua kekesalannya tapi mulutnya itu tipis, merah dan basah. Arianti setelah meluapkan semua amarahnya dia pun pergi menjauh dari Deon dengan wajah cemberutnya dan tampak berlari kencang.
Deon hanya melihat gadis itu berlari menjauh sambil terkekeh dengan sikap gadis itu yang imut. Angin sepoi-sepoi mulai datang, Deon memejamkan matanya menikmati sejukaan halaman belakang ini, kini dia membuka matanya terlihatlah indahnya pemandangan di halaman belakang ini. Ini termasuk tempat yang dikramatkan tak boleh satu pun orang yang pergi kesana.
Tetapi hari ini semuanya berubah, Deon membawa Arianti ke tempat yang selalu dijaga dan tak boleh dimasukin siapapun kecuali Deon. Di halaman belakang itu terdapat pohon beringin besar mungkin bagi sebagian orang menganggapnya mengerikan tapi Deon malah sering berlama-lama sampai tertidur pada malam hari sana. Tak jauh dari pohon itu ada taman kecil dan juga pondok kecil.
‘Kenapa aku bisa membawanya kemarinya? Inikan tempat rahasiaku. Gadis itu sungguh berani menatapku hingga menunjuk ke wajahku, aku semakin penasaran dengannya.’ Deon mengambil ponselnya.
“Oh… Arianti namanya” Deon pun memasukkan ponselnya ke sakunya.
Dia pun dengan perlahan memperhatikan gadis itu yang sedang terduduk, ingin menghampirinya tetapi dengan mudahnya Revan mengendongnya tanpa satu keraguan sedikit pun, Deon masih menahan kesabaran padahal tangannya tidak berhenti mengepal dengan kuatnya. Ketika sampai di UKS, Deon pun mulai mendekati dan mencoba mencaritahu apa yang dilakukan mereka disana.
“Dasar selalu saja cari muka dimana-mana” umpat Deon pelan.
Deon bisa melihat Arianti tampak kesakitan saat di obati Shella. Dia ingin segera masuk tapi egonya masih terlalu tinggi, tak mau ada yang salah paham dengan kondisi tersebut. Deon pun menunggu sampai mereka keluar dari UKS. Ternyata tak butuh waktu lama di UKS, Revan yang tampak mengajak ke arah kelasnya. Tepat di depan kelas, Revan membantu Arianti untuk beristirahat.
“Ini tas dan juga nomer telpon teman kamu, tadi mereka sempat ingin mencari kamu. Tapi aku bilang biar aku saja yang mencari kamu dan semua barang kamu akhirnya di titipkan ke aku,” Raven pun menyerahnya tasnya kepada Arianti.
“Kenapa kakak ingin mencari keberadaaanku?” Arianti menatap mata Revan, “Bukannya gitu akukan kakak senior yang pasti sudah tahu seluk beluk sekolah ini, sedangkan teman kamu masih baru lagian juga ada beberapa tempat yang tidak boleh dimasukin loh. Tapi itu belum dijelaskankan, makanya aku menyuruh semua pulang,” Revan membuang mukanya ke arah yang berlawanan dengan Arianti.
“Kakak yakin bukannya khawatir dengan aku ya?” tanya Arianti dengan serius,
“Kamu ini malah mikirnya macam-macam sudah ditolongin bukannya terima kasih malah kayak gitu. Sudah sana kamu pulang lagian juga aku masih banyak pekerjaan OSIS, ini harusnya aku meeting tertunda gara-gara kamu tahu,” kata Revan dengan tegas.
Arianti pun langsung tertunduk dan merasa tidak enak hati dengan Revan, tapi dia juga sebenarnya tidak menginginkan semua ini terjadi. Revan pun menarik nafas dan berusaha mengatur debar-debar yang ada di dadanya ini. Arianti memutuskan untuk pulang, Revan pun ingin mengantar tapi banyak tugas yang harus dia kerjakan.
Setelah melihat Arianti yang mulai menjauh berjalan dengan terpincang-pincang, ketika berbalik ternyata ada Deon dengan wajahnya yang garang. Revan hanya tersenyum singkat dan segera menyingkir ingin segera pergi tak ingin pertemuan mereka membuat kerusuhan seperti kesudahan.
“Gue mau Lo menjauh dari Arianti. Mengerti,” kata Deon tegas sambil memegang tangan Revan.
“Kalau gue enggak mau Lo mau apa?” Revan pun menghempaskan tangannya dan mendekat ke arah telinga Deon.
“Lo pikir gue takut dengan pecundang kayak Lo!” teriak Revan sambil berlari kencang meninggalkan Deon.
Deon pun mengepalkan tangannya rasanya d**a bergemuruh dan berkecamuk. Dia pun berlari menuju parkiran motor untuk mengambil motornya kesayangan yang butut. Tapi sebelum pergi dia sudah berganti pakaian terlebih dahulu. Ketika sampai digerbang sekolah, diliriknya kiri-kanan. Ternyata Arianti duduk di bangku di depan sekolah dengan wajah yang tertunduk.
Arianti terdiam duduk di bangku itu sambil merenungin, kakinya pincang ini sakit sekali jika harus berjalan lebih jauh lagi. Tapi pangkalan bis ada di seberang sana tapi bingung sendari tadi tak yang bisa dimintai bantuan untuk menyebrangkannya.
“Bagaimana caranya aku pulang ya? Apa aku minta tolong dengan kak Revan lagi ya? tapi aku juga enggak enak jika harus merepotkan dia terus menerus,” batin Arianti sambil terus berpikir.
Tiba-tiba ada motor yang berhenti di depannya, Arianti pun menyelidik sepertinya dia pernah melihat motor ini tapi dia tak ingat. Sang pengendara pun turun, Arianti pun sedikit takut dan berhati-hati.
“Maaf Neng saya disuruh oleh seseorang untuk mengantar pulang kamu, tadi orangnya ada disana” Sang pengendara menunjuk ke arah Pos satpam.
Arianti pun melirik ke sana ternyata ada satpam yang sedang tersenyum ke arah sini, dia pun menaikkan salah satu alisnya. Merasa aneh dengan sang pengendara dan pak satpam itu, dia pun belum mengenal satpam itu. Masih dalam pikiran yang berkecamuk, sang pengendara itu mengajak untuk segera naik kalau enggak Arianti akan ditinggal.
Akhirnya ini Arianti pun naik diatas motor itu sambil terus berpegangan ke bagian belakang, dia enggak punya pilihan lain selain ikut dengan sang pengendara ini. Ketika diatas motor, Arianti diam tak tidak mengatakan apapun. Tapi sang pengendara ini tahu jalan ke rumah Arianti tanpa dia memberitahunya.
‘Bagaimana mungkin dia tahu jalan ke rumahku? Apa satpam itu kenal aku? Rasanya aneh ini, tapi aku juga tidak punya pilihan lain’ batin Arianti,
Arianti tidak tahu kalau dibalik masker sang pengendara itu ada senyuman yang terus saj terukir, dia pun mengendarainya dengan kecepatan yang cendeng rendah dari biasanya yang suka kebut-kebutan. Bahkan banyak yang bilang dia seperti angin topan, sang pengendara ini adalah seorang geng motor yang cukup terkenal, tidak ada yang bisa menandingi ya.
Pengendara ini yang biasa menyalip-nyalip kendaraan dan menggunakan kecepatan yang dilusr batas, kini hanya berjalan pelan di sisi kiri jalan. Arianti pun mengetuk helm sang pengendara itu, otomatis dia menolehkan ke kiri jalan.
“Ada apa Neng?” tanya sang pengendara itu.
“Tolong berhenti sebentar disana, aku laper kita beli makanan itu ya.” Arianti pun menunjuk salah satu kedai yang ada di depan sana.
Pengendara itu menganggukkan kepalanya, tandanya dia mengerti dengan maksud Arianti. Arianti kini sudah berada di kedai makanan yang menjual ayam goreng krisy, yang ala-ala gitu. Arianti melihat kiri-kanan, ingin memastikan sesuatu tapi dia tak menemukan apapun. Akhirnya dia sudah sampai di depan kasir setelah cukup lama mengantri, walaupun ala-ala tapi rame juga mungkin selain mumer rasa pasti enak.
“Mau pesan yang mana, Kak? Silahkan di lihat dulu menunya,” kata pelayan kasir itu ramah.
“Aku beli tiga ayam bagian d**a, yang satu dipisahin pake nasi plus lemontea bisa mbak?” Arianti merogoh ke kantung sakunya.
“Tentunya kak” ujarnya, “Kak mau tanya disini masih terima lowongan kerja gak sih? Kalau boleh tahu persyaratannya apa aja ya kak?” Arianti pun menunjukan layar ponsel ke kasir itu.
“Ouh iya kak, tapi semua lowongan itu sudah terisi. Makanya kami tidak menempelkan lowongan lagi disekitar sini,” Kasir pergi memberikan pesanan Arianti.
Arianti yang mendengar itu cukup sedih, dia bingung harus mencari pekerjaan. Tetapi dengan usia dan juga lulusan SMP pastinya susah mencari kerja. Arianti yang bengong pun dikagetkan dengan suara Mbak kasir yang memberitahu kalau pesanan sudah selesai. Arianti yang tersadar segera membayar dan beranjak pulang ke rumah. Ketika di depan kedai, ponsel Arianti pun berdering ternyara Nindy menelponnya.
[Heh, kamu ngelayap kemana aja sih, sampai sekarang belum pulang. Gue ini laper enggak ada makanan nih, awas aja Lo dalam waktu setengah jam enggak sampai dirumah. Gue aduin kelakuan lo ke nyokap]
[Ini…]
Arianti hanya bisa menghela nafas ketika telponnya sudah diputus dengan Nindy padahal dia sama sekali belum menjawab pernyataannya. Arianti pun segera menghampiri sang pengendara itu, dia harus segera sampai rumah. Jangan sampai Nindy bilang yang macam-macam ke mamanya bisa panjang urusannya. Nindy pasti melebih-lebihkan ceritanya.
“Bang, ini ada makanan buat kamu. Jangan nolak ya,” Arianti pun naik ke jok, “Bang ngebut ya soalnya ayam di rumah udah berkoar-koar kelaparan nih. Alamat rumahku di jalan Pegangsaan Timur no 45. Buruan bang!” bentak Arianti.
Sang pengendara memasukkan makanan itu sambil tersenyum, segera dia menarik tuasnya ke belakang. Karena kaget Arianti pun menabrak punggung pengendara itu, Arianti hanya terdiam saat menabrak itu dia mencium bau sesuatu, sepertinya dia pernah mencium aroma tubuh seseorang.
‘Parfum ini milik siapa ya? Aku yakin pernah menciumnya dan ini bukan parfum kaleng-kaleng ini. Aku yakin ini bermerek tapi masa iya tukang ojek bisa beli sih, apa ini hanya mirip?’ Arianti pun menggelengkan kepalanya.
Nindy yang sejak tadi mondar-mandir di depan pintu, sambil memegang perutnya yang keroncongan. Akhirnya dia pun mendaratkan pantatnya di sofa dengan kasar, lalu mengecek ponselnya. Setelah memarahi Arianti di ponsel, kini dia mulai membaca chat dari kakak PJ sekolah yang membagikan info tentang besok. Tiba-tiba timbul senyuman jahat dari Nindy.
‘Kita lihat aja ini hukuman buat kamu yang ganjen banget sih, cantikan juga aku. Ih kesel banget ngelihat wajahnya itu’ batin Nindy.
Tiba-tiba dia mendengar ada suara motor yang berhenti di depan rumah. Nindy pun langsung mengintip dari jendela. Setelah tahu kalau itu Arianti langsung dia ngacir ke kamarnya, males jika harus bertegur sapa dengan Arianti lagian juga diakan cuma babu.
“Makasih ya Bang” kata Arianti menyelidiki wajahnya pengendara itu.
“Neng, boleh gak kalau saya antar jemput? Bayarnya boleh pake apa aja kok, soalnya saya lahi butuh banget, Neng?” pengendara itu dari motornya dan mengeluarkan kertas diserahkan ke Arinti.