Kebencian Nindy

1169 Kata
Revan bergegas ke ruang OSIS, dia selama perjalanan selalu memikirkan Arianti. Dia terus saja mengutuk dirinya menyesal tidak bisa mengantar pulang gadis itu, tak lama Revan pun tersenyum mengingat semua kelakuan gadis cantik itu. Tanpa sadar Revan hati dan pikirannya kini sudah di penuhi oleh Arianti. “Hallo semuanya, kita langsung aja mulai diskusi hari ini. kita percepat saja karena hari udah semakin sore,” kata Revan dengan senyuman yang indah, Banyak wanita yang tergila-gila dengan ketampanan dan juga sikap baik dengan semua orang. Bahkan sejak masuk sekolah dia telah banyak memiliki fansclub tapi Revan merasa belum tertarik untuk pacaran, mungkin belum ada yang menggelitik hatinya. Setiap harinya akan selalu ada hadiah-hadiah kecil di mejanya. Sebelum Revan menjadi ketua OSIS seperti saat ini dulu dia diikutkan olimpiade dari kecamatan sampai nasional, dia pun membawa pulang kemenangan itu. Revan pun semakin di kagumi rakyt di sekolah itu. Tapi itu membuat Revan sombong, setelah menjadi Ketua OSIS memutuskan keluar dari olimpiade dan memfokuskan diri dalam kegiatan tersebut. Revan pun segara pulang bersama dengan anggota yang lainnya, dia ada acara nongki-nongki bareng sahabatnya tapi dia lebih memilih untuk pulang. Rasanya lelah seharian di sekolah dan ditambah lagi kegiatan OSIS yang cukup menyita waktunya banyak. Tetapi ada hal yang membuat dia harus segera pulang juga adalah mommy. ‘Kira-kira Arianti sedang apa ya?’ Revan tersenyum sambil mengendarai motornya. Arianti terdiam menatap kecarik kertas bertuliskan nomer telpon, dia pun melihat pengendara itu berjalan menjauh. Tidak mau ambil pusing lebih baik segera masuk sebelum Nindy semakin marah kepadanya, setelah di dalam rumah. Arianti meletakkan ayam itu di meja makan, di lihat ke arah mejikom ternyata nasinya masih banyak. “Nin… ini makanan ayo makan bareng,” teriak Arianti dengan kerasnya. Arianti pun masuk ke dalam kamarnya sambil masuk membawa makanan dan juga minum disana, sepanjang hari Arianti menghabiskan seluruh hidupnya disana. Sejak kepergian kedua orang tuanya Arianti menjadi sosok yang pendiam dan selalu menyendiri, Mariana adek kandung dari mamanya ikut merasakan sedihan Arianti. Mariana mengajak Arianti untuk tinggal di rumah yang baru dan membuatkan kamar yang lengkap untuk keperluannya tanpa harus keluar kamar untuk mengambil keperluanya. Di dalamnya terdapat dapur mini, kulkas, dispenser, ada juga kamar mandi dalam dan juga televisi tentu. Arianti pun bersyukur masih ada yang menampungnya, setelah berulang kali sering pindah-pindah rumah saudara seperti terbuang. Mariana setelah mengetahui kakaknya meninggal dan Arianti tidak ada yang menjaga dengan sukarela dia kembali ke Indonesia. Meninggalkan semua pekerjaannya di Inggris, memilih menetap di Indonesia untuk menjaga Arianti. Mungkin ini juga yang membuat Nindy enggak suka dengan Arianti, dia harus meninggalkan semua yang berharga hanya demi seorang Arianti. Nindy sejak dulu emang tidak suka dengan sikap Arianti yang sombong, urakan dan semaunya sendiri. Arianti terlahir dari keluarga yang berkeringan harta, dari kecil apapun yang dia inginkan selalu bisa terwujud. Kedua orang tuanya yang terlalu sibuk dengan pekerjaan hanya bisa memberikan dia harta tanpa adanya kasih sayang. Itu membuat sikapnya menjadi sombong, Nindy memang hidup di luar negeri sejak kecil tapi dia harus hiduo serba kekurangan dan juga mandiri karena Mariana seorang single parent. Saat Nindy kembali liburan ke Indonesia, Arianti enggan mengajak main dan ngobrol bahkan Nindy hanya dibiarkan saja. Nindy yang merasa diabaikan pun merasa marah, dia pun langsung ingin kembali ke rumah. Tidak mau pulang ke Indonesia. Tapi Nindy merasa ibunya sudah membagi cintanya dengan Arianti, kini Nindy semakin membenci gadis kesepian itu. Arianti pun mendekati meja belajar itu, dia mengambil buku diary yang sudah menjadi temannya lebih dari dua tahun. Semua rasa senang, sedih, marah, kecewa semua dia tuangkan dalam tulisan yang indah. Setelah menulis dia melihat ke arah foto orang tuanya. “Ayah, Ibu aku tahu dimanaku berada kalian selalu disampingku, aku bisa merasakan kalian menguatkan hatiku. Aku sayang kalian more… more…” Arianti menangis memeluk foto itu. Nindy keluar kamar dan menemukan ayam goreng, segeralah dia lahap habis. Tapi samar-samar dia mendengar isakan kecil. Dia pun bisa menebak, ulah siapa itu. Nindy menganggapnya angina lalu hal itu wajar setiap hari dia sampai bosen mendengarkan suara seperti itu. Semuanya berasal dari kamar Arianti pasti. “Dasar cengeng banget, mau sampai kapan kayak gitu. Bosan aku denger tangisan kamu, berhenti gak? Jangan sampai aku yang bikin kamu berhenti menangis!” Nindy melemparkan sendok di arah kamar Arianti yang memang dekat dengan ruang makan. Arianti yang mendengar teriakan Nindy, dia pun agak tersentak padahal ini bukan yang pertama terjadi tapi Arianti selalu takut. Tubuhnya semakin bergetar dan tangannya langsung dingin. Dengan terpincang-pincang dia pun berjalan ke kamar mandi. Dia pun berendam di bathtub dengan air panas. Setelah puas berendam dia merasa badannya mulai keriput, dia membilas tubuhnya di shower. Arianti melihat jam waker ternyata sudah sore, dia pun menyegerakan melakukan sembayang dan berdoa untuk orang tuanya. Setelah makan, Arianti pun keluar kamar sudah menjadi tugasnya untuk membersihkan rumah. Sebenernya ini tugas berdua dengan Nindy tapi biasalah Arianti lebih memilih membersihkan sendiri dan perlahan daripada harus melihat Nindy melakukan sesuatu yang tidak ikhlas serta menambah beban kerjanya. Seperti memecahkan piring, dan banyak hal. Setelah mengerjakan pekerjaan rumah, dia kembali kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya, tetapi pintu kamarnya di ketuk keras oleh Nindy. Nindy yang tidak sabar sebab tak kunjung buka pintunya. “Buka woy, aku tahu kamu belum tidurkan? Jangan keset deh” teriak Nindy semakin menjadi-jadi. Arianti dengan pelan membuka pintunya, sebenarnya tubuhnya lemas dan capek banget habis mengerjakan pekerjaan rumah yang baru aja selesai. Bahkan semua peluh pun masih ada di seluruh tubuh Arianti, bajunya basah disalah satu bagian. “Besok disuruh pake nametag dan bawa makanan juga, semua barang harus dibeli udah aku kirim di WA,” Nindy pun melempar uang lembar warna merah sebanyak tiga, “Tuh ambil sekalian loh beli juga untuk dirimu sendiri,” bentak Nindy. “Loh belum mandikan, jijik aku kalau megang tangan kamu pasti banyak kumannya. Bau bangke juga dari badan kamu,” Nindy menutup hidungnya melenggang pergi. Arianti memunggut uang ada dibawahnya, dia pun selalu tidak pernah menganggap semua perkataan Nindy. Dia yakin suatu saat nanti Nindy akan bersikap baik kepadanya, segera ditutup pintu, sekali lagi Arianti mandi lebih cepat dari yang tadi. Setelahnya Arianti melihat chat dari Nindy, ternyata cukup banyak perlengkapan yang harus beli. Arianti memasukan nomer di ponselnya, dinamainya “Ojek Aneh”. Arianti pun tersenyum sendiri melihat kontak yang ada ponsel. Setelahnya dia pun mengechat temannya dan memberitahu ini nomernya. Arianti pun mengucapkan rasa syukur ada teman yang baik dengannya. “Woy, buruan nanti selak malam nih!” teriak Nindy dengan keras. Arianti sampai berlari ke depan, ternyata disana sudah ada Nindy sambil bertolak pinggang, Arianti pun hanya bisa menghela nafas panjangnya, kini dia harus memboncengkan Nindy yang ingin main bersama temannya. Kini mereka sedang menaiki sepeda listrik, dengan cepat Arianti berjalan. Kini Arianti sudah sampai rumah dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk ini. Tiba-tiba dia mendengar ketukan dari pintu, Arianti pun terbangun dia baru saja ketiduran setengah jam. “Ri… ini tante” Mariana menetuk pintu dengan perlahan. “Iya tante maaf aku ketiduran” Ariana membuka pintunya lebar, “Kamu habis pergi toh. Darimana?” tanya Mariana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN