Deon telah sampai di rumah, dulu di rumah ini selalu ada yang memeluknya dengan hangatkan. Sudah lama dia tak pulang ke sini, sejak kepergian orang yang berarti dalam hidupnya. Dia lebih memilih untuk menghindar dan menutup dirinya dari orang banyak. Bahkan orang yang harusnya menjaganya malah membiarkan makh terlihat seperti membuang Deon.
Deon lebih memilih tinggal bersama nenek-kakeknya walaupun rumahnya lebih sederhana dan butuh waktu lama untuk kesana. Namun kini dia bisa membelikan rumah di kota yang tak jauh dari sekolah Deon. Merekalah menyayangi dengan tulus, memberikan semua kasih sayang yang harusnya dia dapat dari ayah tapi ayahnya mencari kebahagianya sendiri.
“Ternyata kamu ingat pulang juga ya, Nak” Abimanyu memeluk anaknya.
Deon terdiam saat ayahnya memeluknya saat dia ingin ke kamarnya, dia tak membenci ayahnya lebih tepatnya kecewa. Tapi direlung hati yang dalam dia sangat menyayanginya. Ayahnya mengelus wajah anaknya yang lebih dari sepuluh tahun tak bertemu, Deon melihat mata ayahnay yang berkaca-kaca lebih memilih memandang ke arah lain.
“Kenapa enggak datang? Apa aku ini masih anakmu?” tanya Deon dengan berteriak,
Cukup lama dia tak mendapatkan jawaban dari ayahnya, rasanya rasanya sakit dan juga amarahnya pun semakin memucak. Ayahnya hanya mendekat ke arahnya dan mengelus rambut sampai ke wajah anaknya. Air mata ayahnya kini sudah jatuh ke pipinya, Deon pun segera berbalik dan berlari menuju kamarnya.
Deon membuka pintu kamarnya, sebenarnya Deon sering ke rumahnya saat ayahnya sedang bekerja di luar kota. Sebab dia belum kuat melihat wajah ayahnya, tapi kali ini dia sungguh tak menduga kalau ayahnya datang langsung memeluknya. Deon menyalakan kamar itu terdapat banayk kenangan di kamar ini.
“Kenapa ayah selalu membuatku sakit sih?” kata Deon.
Deon marah dan memecahkan beberapa barang disana, sampai saat ini dia belum bisa meneriam yang terjadi. Padahal kejadian itu sepuluh tahun yang lalu tapi luka yang ada dihatinya begitu dalam. Sangat selit menyembuhkannya,
“Woy, berisik bisa diam gak?” suara dari kamar sebelah.
Deon pun membaringkan tubuhnya, rasanya kantuk ini mulai datang menyerang. Dia pun segera masuk ke dalam alam mimpinya. Sedangkan ayahnya masih tertunduk di sofanya, menyesali semua yang terjadi. Hal ini juga menyakiti dirinya sendiri,
‘Deon mungkin kamu belum bisa memaafkan ayah, tapi aku juga punya alasan dibalik ini semua. semoga suatu saat nanti kamu bisa menerima semua ini, Nak. Sampai kapan ayahmu ini akan selalu merasa bersalah seperti ini. Nak’ katanya pelan.
Arianti seteah menyelesaikan makan malamnya dengan tantenya, Mariana selalu pulang malam sebab perjalanan dari kantor cukup jauh. Kini mereka berada di ruang tengah sambil menyelesaikan tugas MOS yang harus dibawa besok, setelah memberi tahu menceritakan semua kepada tantenya.
Tantenya bersedia membantunya menyelesaikan tugasnya, sungguh baik tantenya itu padahal Arianti juga kalau dia pastinya capek. Setelah menyelesaikan pekerjaannya pun mereka bersantai berdua saling berbagi cerita dan tawa. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat dengan berkata-kata dengan perlahan dia masuk ke kamarnya.
“Hey, Nin kamu itu masuk rumah udah kayak maling aja ngendap-ngendap gitu” Mariana menegur anaknya.
Tetapi Nindy bukannya menyapa malah semakin nyelonong masuk kedalam kamarnya dan membantingnya cukup keras. Mariana tampak kaget dan ingin berdiri dari posisinya, Nindy sepertinya sudah keterlaluan kok bisa sikapnya berubah menjadi anak yang enggak punya aturan seperti ini. sungguh ini bukan yang diinginkannya.
“Tante yang sabar ya, aku minta maaf ya membuat hubungan tante renggang dengan Nindy” kata Arianti.
Mariana malah memeluk erat Arianti dan menumpahkan segala beban hidupnya walaupun dia hanya diam tapi dengan begini membuatnya lebih tenang. Mendengar tantenya menangis dia pun semakin mempererat pelukan dengan tantenya. Mariana melepas pelukannya dan mengelus kepala Arianti dengan lembut.
“Arianti tante minta maaf belum kalau sikap anak tante seperti itu, kamu itu adalah anak keduanya tante. Sekarang kamu udah enggak punya orang tua, dulu papa kamu bantuin sekolah tante sampai tante bisa bekerja di tempat yang terbaik. Tante udah berjanji kalau akan menjaga kamu dan Nindy, kamu dan dia itu sama di mata tante enggak ada yang berubah,” kata Mariana yang tulus,
Arianti menghapus semua air mata yang ada di wajah tantenya, dan kini dia sudah berada di kamarnya ingin rasanya merehatkan tubuhnya rasanya lelah sekali seharian. Dia memejamkan matanya, sampai kapan dia akan merasakan hal seperti ini. Dia pun duduk di kasurnya, membuka ponselnya. Ternyata cukup banyak chat, ada banyak grup disana.
Grup teman sejati : Mirna, Delima, dan Arianti.
Mirna : Hai, Ri
Delima : Ri kamu udah tahukan besok tugasnya apa?
Mirna : Kayaknya dia belum online deh
Delima : Iya lagi apa ya?
Tiga jam kemudian
Arianti : Maaf ya aku baru buka ponsel.
Delima : iya gpp kok, kamu udah bikin tugasnya belum
Arianti : (kirim foto)
Mirna : Bagus banget sih
Setelah kurang lebih satu jam mereka chat, semua di bicarakan termasuk cowok yang duduk disamping ternyata namanya Deon. Katanya memang daridulu dia pendiam dan cuek banget. Tak ada yang berani mendekatinya karena takut di tajam oleh mata elang dan juga omongan yang pedes kayak cebe. Dan fakta yang lebih mengejutkan kalau dia anak pemilik sekolahan katanya, ini yang membuat Arianti tertunduk lemas.
Dari semua infomasi yang diberikan temannya, Arianti simpulkan kalau dia juga harus jaga sikap dengan laki-laki ini. berbeda halnya ketika membahas tentang Kak Revan mereka pun tamapak antusias dan lebih bersemangat. Arianti pun jadi teringat kejadian yang tadi siang digendong dengan Kak Revan.
Arianti pun mulai melihat ada dua grup lagi, ternyata itu grup kelas dan juga grup yang bercampur dengan PJ OSIS. Teman sekelas Arianti orangnya cukup kocak semua, dari cara bercanda dan juga saling meledek. Mungkin karena ada cowok yang bikin grupnya semakin rame.
Masih ingin membaca chat tapi kok rasanya mata petih sekali, mungkin sudah waktunya istirahat. Bergegas Arianti mempersiapkan semuanya dan juga membersihkan dirinya sebelum pergi tidur. Setelah dia merebahkan tubuhnya, ada yang menelpon dengan nomer asing. Arianti pun membiarkannya, mesti pun beberapa miscall. Akhirnya ada pesan masuk dengan penasaran Arianti pun membuka pesannya.
Nomer Asing : Kenapa enggak dianggat telponnya?
Nomer Asing : Gimana kakinya masih sakitkah?
Nomer Asing : Ini Revan, Arianti
Arianti langsung terbelalak kok bisa Revan menghubungi dia, dia ingat begitu tidak memberikan nomer kepadanya. Ini udah enggak bener, Arianti pun mengabaikan pesannya dan memilih untuk segera ke alam mimpi