Kedekatan Tante dan Ponakan

1051 Kata
Arianti pun terbangun melihat ternyata udah jam empat pagi, dia selalu nerasa ada yang membangunkan pada pagi hari. Dia pun bangun membuka pintu balkon, langsung terkena hempusan angin yang cukup kencang dan dingin. Langit masih gelap, tampaknya matahari belum ingin beranjak dari tidurnya. Arianti duduk dibalkon memeluk lututnya rasanya tenang menikmati suara burung yang bersaut-sautan dan juga suara ayam yang mulai bernyanyi dengan kencangnya. Ketika pagi masih syahdunya, tiba-tiba ada suara ketukan pintu yang keras. Arianti bergegas membuka pintunya. “Mana nametagku!” teriaknya Nindy sambil mendorongku kedalam, “Kamu bilang udah bikin mana sekarang,” kata Nindy membongkar kamarku. “Kemarin punyamu ada dibawa tante, Nin,” Arianti menarik tangan Nindy karena membuat berantakkan kamarnya. “Lepasin aku enggak peduli mana sekarang,” Arianti terjatuh, “Ini punya kamukan, membagus juga ternyata ya,” Nindy sudah memegang nametag Arianti. Tiba-tiba Tante Mariana pun datang ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, ketika melihat kamar Arianti begitu berantakan dia agak terkejut. Arianti pun membisikan sesuatu kepada Tantenya. “Gimana kalau ini aku gunting ya” Nindy mendekatkan gunting ke nametagnya, “Jangan Nin,” Arianti pun mendekat, “Menjauh atau ini aku gunting sekarang,” Nindy tersenyum licik, “Tante cepatlah, aku mohon Nin,” Arianti pun sudah sujud memohon kepadanya. “Ini punya kamu!” teriak Tante Mariana, Nindy berhasil mendapatkan nametag miliknya tapi dengan liciknya dia memotong nametag Arianti dengan sengaja. Dia pun berpura bersedih untuk hal itu, sedangkan Arianti melihat nametagnya sudah terbelah menjadi dua. Nindy pun langsung keluar setelah kejadian itu. "Nindy kenapa sih sikap kamu bisa sebegitunya dengan Ri" Tante Mariana memegang tangan "Memangnya aku peduli sudahlah aku mau siap-siap berangkat sekolah" kata Nindy ketus dengan ibundanya. Mariana sudah jera melihat kelakuan anaknya ya gak bisa diatur itu, padahal harusnya dia bisa berbuat baik pada Arianti karena mamanya banyak utang budi dengan orang tua Arianti. "Mama enggak pernah mengajari kamu, bicara enggak sopan dengan orang tua ya" Mariana langsung menampar pipi Nindy, "Mama ini udah melahirkan dan membiayai hidup kamu sampai sekarang, Emangnya kamu pikir aku ini teman kamu apa dengan enaknya omong kayak gitu" Mariana berbicara dengan air mata yang bercucuran. "Mama sekarang tega menampar, hanya demi anak itu. Aku ini sebenarnya anak kandung mama atau bukan," Nindy semakin marah dan memegang pipinya yang merah. "Ini semua gara-gara kamu dasar cewek enggak tahu diri, selalu cari muka dimana-mana. Inikan yang kamu harapkan aku dan mamaku berantem kamu mau ambil semua kebahagiakukan. Aku tahu airmata buayamu itu enggak akan pernah bisa kena sama aku. Selamanya aku akan membencimu," kata Nindy yang menangis langsung ke kamar memanting pintunya. Mariana hanya bisa mengelus d**a melihat kelakuan anaknya yang semakin menjadi-jadi, dia pun langsung jongkok di depan Arianti yang menangisi nametagnya. Arianti pun mendongakkan kepalanya dan menatap Tante Mariana dengan tatapan yang tidak biasa dia artikan, lalu dia menghempuskan nafas panjanganya. “Kita buat yang baru saja ya, Nak. Nanti tante bantuin kamu enggak perlu sedih lagi dan omongan Nindy enggak perlu dimasukin ke hati ya” kata Mariana sambil mengelus kepala Arianti. “Enggak perlu tante, aku bisa menyelesaikan ini sendiri. Lebih baik tante berbaikan saja dengan Nindy. Sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk cari muka di depan siapapun, aku bisa mengerti kekecewaan Nindy sekarang tante. Tante bujuklah hati Nindy sebelum dia benar-benar pergi dari Tante,” Arianti memegam tangan tantenya dan diciumnya tangan itu. Arianti bergegas kembali ke kamarnya, membuang nametag itu di tempat sampah. Dia pun membanting tubuhnya ke kasur, sambil memejamkan mata dan semua kata-kata Nindy terlihat di pikiran. Tanpa sadar airmata ini mulai turun lagi dan tak terbentuk lagi, dia pun segera pergi ke kamar mandi tak ingin ada yang tahu kalau dia sedang menangis. Sedangkan Mariana kembali ke kamarnya untuk memenangkan diri sendiri. “Ibu, Ayah mengapa begitu beratnya hidup sendiri, ajaklah aku bersama kalian please” Arianti pun langsung masukkan kepalanya ke air. Saat kepala dan tubuhnya di dalam air, dia melihat ada kenangan yang indah sebelum kepergian orang tuanya. Melihat orang tuanya tertawa bersama dan saling memberikan kasih sayangnya. Arianti tahu selama ini jauh dari orang tuanya, hingga ada masanya mereka bersama dengan waktu yang sebentar lalu pergi untuk selamanya. “Arianti setiap orang hidup itu pasti punya masalah, Nak. Mengadulah semuanya pada Tuhanmu, kamu tak pernah sendiri, temukan kebahagiaanmu sendiri dan jangan menyerah,” Arianti seperti mendengar suara ayahnya di telinganya. “Anakku kamu itu perempuan yang kuat, jadilah hidupmu ini lebih berwarna untuk orang lain. Jangan mudah menyerah, orang tuamu selalu ada dihati kecilmu. Kami selalu mengawasimu. Nak,” Arianti pun terbangun lagi mendengar suara ibunya. Arianti membuka matanya segera menyudahi ritual mandinya, segera melakukan sembayangan. Dia pun melihat jam wekernya ternyata 05.00 WIB. Langsung dia membuat nametagnya dengan sederhana, tanpa terasa waktu bergulir dengan cepatnya butuh waktu satu jam dia menyelesaikan itu semua. Dia pun bersiap-siap berangkat ke sekolah, setelah memakai seragamnya dengan rapi. Kini mulai mengucir setengah rambutnya lalu digeser sisi kirinya tak lupa menghiasnya dengan pita warna warni. Setelah semua siap dia pun segera keluar dari kamar ingin ikut sarapan bersama Tantenya. Arianti melihat belum ada makanan di meja, dengan cepat dia mempanggang roti dan mengolesinya dengan selai kacang. Tak lupa dia membuat s**u, setelah selesai sarapan dia pergi ke kamar Tante Mariana. Dia yakin Tantenya belum berangkat karena suara mobil belum terdengar keluar, tapi Arianti tahu kalau Nindy sudah berangkat gasik ke sekolahnya. Arianti sudah di depan pintu kamarnya dengan nampan ada roti bakar dan s**u coklat kesukaan tantenya. Diketuknya pintu itu, “Iya masuk aja enggak dikunci kok,” ada suara dari dalam kamar. Kamar Tante Mariana tidak begitu terang, sebab semua lampu sudah dimatikan dan mengandalkan cahaya dari balkon. Arianti bisa melihat tantenya merapikan mukena dan wajahnya sedikit sembab. Arianti sudah meletakan makanan dimeja dan duduk di ranjang yang empuk ini, “Tante hari ini enggak berangkat kerjakah?” tanya Arianti lembut. “Tante merasa sudah gagal menjadi seorang ibu, sampai anakku bisa sebegitu kerasnya kepadaku. Tante merasa hati ini sakit, badanku juga panas dingin. Kepalaku juga pening sebab airmata ini tak berhenti turun,” Mariana duduk dan kembali meneteskan airmata. “Aku sudah menyiapkan makanan, dimakan ya Tante,” Arianti menghapus airmata yang turun itu, “Nanti aku coba untuk biacra baik-baik dengan Nindy, jangan sedih lagi ya. Aku enggak mau tante sedih” Arianti memeluk erat tubuh wanita yang rapuh ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN