Nindy merasa kecewa dengan perlakukan mamanya, selama ini dia selalu dimanjakan apapun yang dia inginkan semua terpenuhi dengan baik. Tapi semua berubah dalam sekejap ketika Arianti datang dengan mudahnya langsung masuk kehidupannya yang damai, dia merasa kasih sayang ibunya kepada Arianti begitu berlebihan. Bahkan sekarang dengan mudahnya Ibunya menampar dirinya di depan Arianti.
“Kamu lihat aja ya pembalasan aku kepadamu lebih kejam tentunya,” batin Nindy.
Nindy memutuskan untuk berangkat lebih pagi, agar bisa menyusun rencana jahatnya untuk mencelakai Arianti. Dia dibantu oleh teman sekelas lainya yang tidak suka dengan Arianti yang mulai di dekati para lelaki yang sangat terkenal.
“Semuanya udah kamu siap kan? Ada yang kurang gak?” kata Nindy sambil melihat kondisi diluar.
“Tenang aja semua aman kok, kamu enggak usah khawatir semua yang kamu sebutin tadi udah aku bawa nih, dan sekarang lagi di otak-otik dengan Citra nih.” Bella sambil merapikan rambutnya,
“Ini udah kayak orgil aja tahu pake pita segala, gue enggak suka nih yang kayak gini,” kata Bella kembali nyeletuk.
Nindy dan Citra menanggapi keluhan Bella dengan senyuman aja. Mereka bertiga sebenaranya enggak suka tapi mau bagimana ini aturan dari MOS juga. Akhirnya tak butuh waktu lama mereka menyelesaikan ini. Rencana ini pasti berhasil dan tidak akan ada satu orang pun yang tahu. Sebenarnya hari ini mereka kumpul pagi dilapangan bukan di kelas, tapi Nindy sudah dia chat untuk datang ke kelas langsung.
“Guys, kita ini keterlaluan gak sih? Aku takut kalau ini sampai di usut dan ketahuan deh kalau kita yang melakukan.” Citra mulai resah dengan yang dilakukannya saat ini.
“Loh mah aneh banget, kalau takut mendingan tadi juga enggak usah ikut deh. Ini bisa jadi ketahuan kalau sikap kamu kayak gini. Udah bisa deh, Bella coba deh kamu nasihatin dulu sih!” Nindy menyuruh mereka pergi.
Tanpa mereka sadari, sebenarnya sendari tadi ada yang sedang mencuri dengar rencana yang sudah mereka buat. Orang itu berdiri tidak jauh dari tempat Nindy berdiri memantau keadaan saat ini. Nindy pun mengikuti temannya yang sudah berjalan menjauh dari kelas dan mulai berkumpul di lapangan.
Arianti berangkat dengan perasaannya yang gundah, kini dia sudah berada di Bus. Dia memakai jaket untuk menutupi rambutnya yang banyak pitanya kayak gini. Di sepanjang perjalanan banyak yang dipikirkan, dia agak kaget ponselnya yang bergetar, setelah dilihat ternyata dari Nindy.
Nindy : Nanti setelah sampai sekolah langsung ke kelas ya ada yang harus aku bicarain dengan kamu.
Arianti : Okey
Akhirnya dia sampai didepan gerbang sekolah yang ternyata cukup ramai juga padahal masih pagi menurutnya, kini matanya meruncing melihat banyak orang dilapangan. Arianti tampak heran tapi dia juga harus menemui Nindy di kelas. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya,
“Ngapain sih ngintip-intip gitu?” tanya Revan sambil memegang rambut Arianti yang penuh pita.
“Apaan sih! Kakak jangan gangguin aku deh,” Arianti langsung berjalan menjauh dari Revan.
“Ih gitu aja kok marah sih, tadi malam kok aku chat kamu enggak dibalas sih” Revan malah mengejarnya.
“Aku udah tidur, Kakak aku duluan ya” Arianti langsung berlari tanpa mendengarkan jawaban Revan.
Revan ingin mengejar gadis imut itu tapi temannya malah memanggilnya untuk mempersiapkan acara pembukaan kegiatan MOS. Arianti tidak mau dekat-dekat dengan Revan yang memiliki banyak fansnya itu. Kalau sampai salah satu fans lihat kebersamaan kami bisa di bunuh Arianti. Tak mau tunggu lama dia segera kelas.
‘Kok sepi banget ya, apa mungkin semua sudah ada lapangan ya?’ batin Arianti.
Arianti sudah berdiri di pintu kelas, tetapi kok dia merasa kayak enggak ada orang disana. Tanpa pikir panjang Arianti membuka pintu dengan cepat, tetapi dia merasa ada suara air jatuh dan juga ember yang pecah. Arianti sudah menutup matanya sebab dia merasa kaget tiba-tiba ada orang yang menarik pinggangnya.
Arianti merasa tubuhnya sudah akan jatuh karena tertabrak tubuh seseorang tetapi ada tangan yang menyangga pinggangnya, dia membuka matanya. Arianti melihat sepasang mata coklat bening yang indah, tangan kanannya menarik pinggangku untuk mendekat di dadanya sedangkan tangan kirinya membentangkan jaket untuk menutupi kepala kami.
Tanpa hitungan menit air itu jatuh begitu banyak, setelahnya terciumlah bau yang menyengat dari air yang tumpah itu. seketika baju laki-laki itu basah kunyup, tetapi wajahnya tidak berubah masih dengan ekspresi tenangnya. Setelahnya dia membenarkan posisi berdiriku.
“Deon apa yang kamu lakukan?” Arianti melihat sekeliling, “Ya Tuhan kok bisa ini terjadi sih, siapa yang berbuat seperti?” kata Arianti.
Deon langsung mengotak-atik ponselnya, lalu dia bergegas pergi meninggalkan Arianti yang masih terkejut dengan kejadian itu, kini banyak air dan bahkan ada dua ember yang pecah di dalam kelas. Ketika sadar Deon pergi Arianti pun menarik lengannya.
“Aku bantu untuk membersihkan bajumu ya,” kata Arianti pelan.
Deon tak mengatakan sepatah kata apapun, dia pun berbalik meneruskan jalannya dan tersenyum melihat Arianti yang tampak khawatir. Setelah beberapa langkah Deon tak mendengar langkah Arianti. Dia pun berbalik ternyata empunya sedang bengong menunduk melihat sepatu yang digerakkan ujungnya. Deon berjalan pelan langsung menarik lengan Arianti dengan kasarnya.
“Deon kita mau kemana sih?” Arianti mencoba melepaskan tangannya.
Deon masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun, Arianti pun terpaksa mengikuti. Walaupun tetap berusaha mengikuti langkah Deon yang terlalu cepat, bukan sekali atau dua kali dia hampir nyusuk. Untung saja tangannya di pegang oleh Deon, jadi Arianti tidak sampai terluka.
‘Nih orang ditanya bukannya dijawab malah aku ditarik-tarik udah kayak kambing qurban nih. Emang dia pikir enggak sakit apa kalau digini’ batin Arianti.
Deon sudah membawa Arianti menjauh dari lingkungan sekolah dengan banyak aturan, terlalu juga banyak orang yang kepo dengan urusan orang lain. Kini mereka sudah berada di halaman belakang sekolah, Deon pun melepaskan tangan Arianti dengan kasar. Sedangkan Arianti hanya meliriknya tajam sambil melihat keadaan tangannya yang tampak memerah.
“Ngapain kamu ngajakin aku kesini sih? Kamu dengernya kita harus ke lapangan sekarang ya,” kata Arianti dengan tangannya dipinggang.
“Kamu itu bukannya terima kasih sudah ditolong malah nyolot kayak gitu, bagaimana bisa aku kembali kesana kalau tubuh aku aja bau kayak gini,” Deon mulai membuka satu per satu kancing bajunya.
Arianti sontak menutupi mukanya dengan tangannya, dia pun berbalik badannya. Namun ada tangan yang mencegahnya.
“Nih cuciin bajuku sekarang, aku mau mandi dulu sekarang.” Deon menyerahkan bajunya ke tangan Arianti.
Arianti membuka matanya, di depannya ada pemandangan yang lebih indah dari apapun, Deon dengan rambutnya basah berantakan, wajah putih dengan mata elangnya, hidung mancung dan juga mulut tipis basah. Kini malah tersaji d**a yang berisi otot dan dibawahnya ada roti sobek yang mekar.
‘Ya Tuhan tolong aku ingin pingsan rasanya nih’ batin Arianti pun mencerit,