“Woy, kamu enggak ada akhlaknya, bisa-bisa membuat mataku enggak suci lagi nih” Arianti berlari ingin memukuli Deon.
Deon yang tahu niat Arianti segera berlari dengan cepat, merekalah main kejar-kejaran. Arianti pun berjalan ke pohon rasanya capek dan kesal juga dengan Deon larinya gesit juga. Deon yang tahu Arianti terduduk di bawah pohon segera mendekati dan jongkok di depannya. Arianti memiliki rencana licik, Dengan tiba-tiba Arianti mendorong Deon ke arah samping sehingga terjatuhlah Deon dengan tengkurap.
Arianti langsung memukuli dengan seragam basah Deon, dengan pasrah Deon menerima pukulan ini dengan senyuman terukir di bibirnya. Setelah Arianti tampak diam, dia membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Arianti, kini Arianti berada di d**a Deon. Ketika mendongak kepalanya ternyata tatapan mereka bertemu.
“Masih betah ya” kata Deon dengan senyuman licik.
Arianti tersadar langsung bangun dan memrapikan bajunya, dengan wajah yang memerah seperti tersipu malu.
“Ih pake ini dulu aku mau cuci ini dulu ya” Arianti pun melemparkan jaketnya lalu berlari ke kamar mandi yang ada di halaman belakang.
Ketika sampai di kamar mandi, dia tersenyum mengingat kejadian tadi. Dia pun menggelengkan kepalanya, kini dia dibuat terbelalak dengan kondisi kamar mandi sekolah yang super mewah. Di dalam kamar mandi ada peralatan mandi, ada bathtub dan juga shower. Ditambah lagi ada mesin cuci beserta sabunnya.
“Gila nih sekolah” teriak Arianti.
Deon mendengar teriak Arianti tersenyum, dia memegang jaket dan menciumnya ada aroma strawberry disana. Deon memegang ponselnya, dan menngetikkan sesuatu disana, beberapa saat ada orang masuk ke halaman belakang. Dia mengambil dua seragam sekolah yang masih baru dan juga ada tambahan lainnya dalam paperbag itu.
“Semua yang aku minta udah ada di dalam sinikah?” Deon memperhatikan paperbagnya lagi.
Setelah memastikan semua, dia menyuruh asisten untuk pergi dari sini. Tak lama kemudian Arianti pun kembali dengan wajah yang cerah banget. Dia pun langsung duduk disampingku, lalu melirik ke arahku.
“Kok bisa toilet ini beda dengan yang lain” Arianti mulai menyelidik, “Semua ini milikku” Deon memberikan paperbagnya.
Arianti membuka paperbagnya ternyata isinya seragam, karena angina yang sepoi-sepoi membuat mata menjadi mengantuk pun tiba. Arianti membuka tasnya dan memberikan bekal makanan kepada Deon, dia pun memilih membaringkan tubuhnya diatas rumput yang hijau ini. Deon memperhatikan kotak bekal Arianti ternyata terdapat sandwish. Deon pun memakannya sampai habis sebab perutnya mulai keroncongan.
“Kalau kita dicariin bagaimana?” tanya Arianti sambil melihat langit.
“Ini semuakan salah kamu, gara-gara siapa bajuku jadi basah. Kamu mestinya tanggung jawab” Deon menggerutu.
Arianti lebih memilih untuk memejamkan matanya rasanya malas sekali kalau pun harus berdebat dengan Deon, matanya kini juga enggak bisa diajak komunikasi lagi. Tak lama kemudian Deon mendengar dengkuran halus dari Arianti. Dan akhirnya mereka malah tertidur disaat yang lainnya sedang merasakan hukuman dari Revan.
Revan sejak tadi mencari keberadaaan Arianti yang tak kunjung kelihatan, tetapi ketika ingin menemuinya di kelas. Sepintas dia melihat Deon menyeret seorang gadis munyil ke halaman belakang karena penasaran sepertinya dia mengenalinya. Ternyata benar itu adalah Arianti, seketika kemarahanan Revan pun memuncak.
Selama upacara berlangsung Revan tampak diam dan tatapan cukup menakutkan. Rifky awalnya tidak menyadari peruabahan sikapnya akan tetapi dia semakin curiga sudah berulang kali dia menceritakan sesuatu dan melemparak guyonan tapi Revan masih bersikap sama. Setelah upacara selesai semua kegiatan akan diserahkan kepada OSIS.
Nindy yang tampak was-was semenjak tadi tidak melihat batang hidungnya Arianti, takut kalau jebakan itu malah mengenai orang lain. Satu hal yang mereka lupa ketahui kalau setiap kelas dan koridor memiliki CCTV. Bella dan Citra pun merasakan hal yang sama tetapi mereka berusaha bersikap biasa aja.
“Aku mau kita pisahkan laki-laki dan perempuan di pisah ya,” Revan tegas kepada masing PJ kelas.
Rifky yang mengetahui perubahan sikap temannya itu segera memberitahu yang lainnya untuk mengikuti aja semua yang dikatakan Revan, sebab dia emosinya sekarang sedang tidak stabil. Ini urusannya bisa panjang kalau mereka berani membantahnya. Hanya Rifky yang bisa berbicara dengan sahabatnya ini.
“Loh kenapa lagi? Akhir ini sering kumat lo” tanya Rifky.
“Aku sendiri juga enggak tahu kenapa bisa kayak gini,” kata Revan.
Rifky sebenarnya bukannya tidak mau ikut campur, kecuali Revan yang berbicara duluan kepadaku. Tapi beranjak dewasa dia lebih sering menanggung semuanya sendiri tanpa dibagikan ke orang lain, Rifky hanya bisa menenangkan pikiran dan hatinya agar tidak salah dalam mengambil keputusan.
Kini semua peserta upacara mulai di periksa kelengkapan seragamnya, dan hampir rata-rata banyak juga yang masih pakai logo sekolah yang lama. Lumayan juga yang bisa menuruti semua kebijakan MOS hampir tiga puluh orang. Semua peserta bisa meninggalakan lapangan dan kembali ruang kelas masing-masing.
Kini mereka yang melanggar aturan haruslah di berikan peringatan tegas agar tidak lagi ngulangi perbuatan mereka, cukup banyak yang melanggar di hari pertama MOS. Revan yang melihat anak-anak yang tidak bisa atur.
“Semua segera baris, pisahkan antara laki-laki dan perempuan. Lalu aku mau dengar identitas mereka dan alasan mereka. Kalau bisa di catat agar besok kita masih pantau adanya kemajuan atau tidak. kalau memang tidak ada perubahan segera beritahu guru BK,” kata Revan tegas langsung meninggalkan lapangan.
Nindy dan kedua sahabatnya pun langsung melangkah ke kelas. Mereka terbelalak ini seperti tidak ada kejadian apapun. Nindy sama sekali tidak melihat keberadaan Arianti saat ini, dia tampak sekali kesal sepertinya rencanannya kali ini gagal untuk mengerjai Arianti.
“Seperti dia enggak mau deh, tapi kenapa ember kita juga hilang ya?” tanya Bella.
“Entahlah tapi sebaiknya kita engggak perlu ngomongin ini di sekolah takutnya malah ketahuan nanti” kata Nindy tegas.
Kedua temannya tampak takut tetapi berusaha bersikap tenang, Nindy pun berusah untuk mengalihkan pembicara ke yang lain. Terlalu beresiko kalau di bicara terus menerus. Mirna berkali-kali menelpon Arianti tapi tak kunjung mendapatkan jawaban merasa khawatir terjadi sesuatu.
“Kok masih belum ada kabar ya?” kata Mirna cemas
“Udahlah kamu enggak perlu khawatir, kita doakan saja Arianti baik-baik saja” kata Delima memeluk sahabatnya.
“Kok mereka bisa kompokkan enggak ada ya?” Mirna mulai menyelidik.
Ketika kedua sahabat sedang asyik menggosip, tiba-tiba dari pintu muncullah Arianti yang baru saja datang, tetapi dia tak seorang diri. Dia bersama dengan Deon, setelah sampai di bangkunya.
“Kamu darimana aja sih? Kok enggak ikut upacara kenapa? Tadi ada yang cari kamu loh kak Revan” tanya Delima antusias.
Arianti pun mulai menceritakan kejadian tadi pagi ke temannya dan juga menkelaskan kenapa dia enggak ikut upacara. Sebenarnya Arianti takut kalau di hokum, Nindy yang mengetahui Arianti datang langsung tersenyum licik.