“Aku dengar disini tadi ada yang tidak mengikuti upacara, kalau bisa dengan sukarela maju untuk mengakui kesalahan sekarang,” Kakak senior datang langsung berkoar-koar.
Arianti yang semua takut ingin berkata sejujurnya kalau enggak satu kelas pastinya akan ikut dihukum, akhirnya dia pun berdiri dan memandang ke kakak senior itu. dia tahu ini pasti akan menjadi catatan buruk di sekolah tapi mau apa. dia juaga enggak bisa mengorbankan orang yang tidak bersalah, apalagi semua mata tertuju kepadaku.
“Saya kakak yang salah, enggak perlu teman-teman saya yang dihukum. Saya siap dihukum,” Arianti berteriak dengan kerasnya.
“Ya bagus kalau kamu mau bertanggung jawab atas kesalahan yang kamu baut sendiri kamu tidak boleh ya menyalahkan orang lain. Terimalah resikonya. Maju ke depan sekarang” Kakak Senior mendekat kearah Arianti.
“Kamu enggak memegang tangan Arianti, dia masih bisa jalan sendiri. Aku juga enggak ikut upacara kalian juga harus hukum aku. Ayo jalan buruan,” kata Deon tegas.
Arianti mau tidak mau harus ikut kemana pun mereka dibawa banyak orang melihat dengan tatapan sinis, Arianti pun tidak begitu menanggapinya itu adalah hal yang biasa sudah menjadi makanan sehari-hari begitu selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari orang banyak.
Deon menyentuh pundak Arianti, Arianti pun mendongak ternyata disana hanya ada wajah dingin dan tatapan yang menusuk. Mungkin ketika orang lain yang lihat seperti menakutkan tapi Arianti malah tertawa kecil. Deon yang mendengar Arianti seutas senyuman ada di wajahnya. Kini mereka dibawa ke lapangan tengah untuk mendapatkan hukuman yang harus mereka terima.
Arianti mengingat kembali ketika Deon mencoba membangunkan saat dibwah pohin, sungguh memalukan sekali jika harus diingat kembali. Tapi rasanya tidak bisa dilupakan dengan begitu mudahnya.
“Ri, bangun …bangun “teriak Deon,
Arianti bangun dengan wajah yang bingung dan takut. Sebab dia tak mungkin tidur dengan laki-laki tapi bagaimana mungkin bisa laki-laki disini, Arianti melihat kesekeliling ternyata masih terada di tempat ini. Kini Arianti melihat ke arah Deon yang sudah memakai seragam dengan begitu rapi,
“Ri ayo kita harus cepat kembali ke kelas nanti bisa aja jetahuan kalau kita enggak ikut upacara tadi, nanti bisa kena hukuman loh,” kata Deon berdiri da berjalan.
“Terus apa gunanya kamu berika aku seragam ini, ya sudah sebentar aku mau gantu baju kamu jangan kemana-mana ya,” Arianti berlari sambil membawa peperbag itu.
Tak butuh waktu lama buat Arianti ganti baju, tetapi dia sedikit menyelidik bagaiman bisa dia tahu juga ukuran dalemannya. Sungguh rasanya malu jika teriingat kembali Arianti tersenyum dan wajahnya kemerahan. Deon mengingat betapa bisa melihat gadis cantik dan imut bisa tertidur dengan semudah itu,
“Kalian berdua ini kenapa kok senyum-senyum sih atau jangan kamu habis melakukan hubungan yang enggak wajar ya nih,” kata kak senior itu pelan.
“Kamu pikir aku segila itu, lagian juga itu tidak baik untuk dilakukan ya. Dan yang perlu kamu camkanlah aku enggak mungkin melakukan dengan gadis ini, dia ini terlalu polos tahu,” Deon langsung cengar-cengir menjawab pertanyaan itu.
Arianti sebenarnya kesal sekali dengan Deon yang selalu saja mengatain dia dengan seenak jidatnya dia aja tanpa mikirkan perasaan orang lain, Mereka pun berdiri di tengah lapangan itulah hukuman yang sengaja diberikan kepada dua anak ini. bertepatan dengan bel istirahat kedua, kini betapa malunya keduanya ketika mereka semuanya mulai berbisik.
Revan yang sejak tadi mengunci dirinya di ruang OSIS, semua anggota mengira kalalu enggak ada satu orang pun yang berada disana. akhirnya dia ke kantin dengan melewati lapanagan tengah. Disana terlihat ada dua orang yang sedang dihukum, Revan pun semakin memencingkan matanya untuk tahu siapa itu.
“Arianti dan Deon siapa yang berani melakukan ini kepada mereka?” Revan mulai mengotak-atik ponselnya.
Revan pun dengan segera ke kantin ingin membeli sesuatu. Nindy tersenyum puas bisa melihat Arianti yang terlihat saat menyedihkan, lah walaupun rencananya gagal ini sudah di ganti dengan hal yang lebih baik lagi. Dia dan kedua temannya tersenyum mengejek kearah Arianti, selama melakukan hukuman. Arianti hanya meliahta kearah sepatunya.
“Kamu masih kuat gak? Lebih baik kamu istirahat aja aku sudah biasa kalau hanya melakukan ini,” tanya Deon yang mulai khawatir dengan kondisi Arianti.
Hari ini matahari semakin menunjukkan kekuasaannya dengan cahayanya semakin terang, sinarnya yang kena kulit seperti terbakar. Rasanya kepala ini seperti ingin meletus, pusing sekali. Belum lagi tenggorakan rasanya haus sekali, Arianti merasa menyesal ikut dengan Deon selalu ada aja hal buruk terjadi kepada mereka.
“Enggak usah sok peduli deh” Arianti menoleh dengan wajahnya pucat dan juga bibir kering.
Tiba-tiba dari kejauhan tampak orang yang sedang berlari mendekat kearah lapangan. Ketika sudah dekat ternyata itu Revan, di tangan kirinya ada topi dan di tangan kanan ada minuman. Dia pun berdiri di depan Arianti memberikan senyuman yang paling teduh, lalu Arianti pun merasa sudah tidak sanggup lagi menahan rasa pening yang ada di kepalanya semakin menjadi-jadi.
Arianti melihat Revan yang semula jelas bisa menjadi rabun dan akhirnya pun berubah menjadi gelap. Dengan sikap Revan langsung saja merengkuh tubuh Arianti di dalam pelukannya. Lalu melemparkan minuman dingin ke muka Deon, sebenernya Deon tahu kalau Arianti pingsa tapi dia enggan menolongnya.
“Kamu emang enggak pernah becus mengurusi apapun, dan sampai kapanpun kamu enggak akan pernah mendapatkan kebahagian seperti yang kamu inginkan. Dasar pengecut,” Revan langsung membopong Arianti ke UKS.
Sesampainya di tepian lapangan, dia melihat tajam kearah anggota OSIS yang lain.
“Kalian kalau mau menghukum orang boleh, tapi juga pikirkan juga ini membahayakan atau tidak. terlebih lagi kalian ini masih punya ketua jadi apapun itu harus diskusi dengan ketuanya mengerti tidak, silahkan kalian bikin surat pengunduran diri kalian daripada aku yang membuat kalian pergi satu persatu. Tidak bisa menghargai aku ya sudah.” Revan langsung pergi meninggalkan anggota OSIS itu yang masih terkejut.
Akhirnya mereka pun sampai ke UKS, Arianti langsung berbaring di bed. Shella mendekati Revan dan mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi. Shella kali ini menjaga UKS ini sendiri, dia sudah biasa disini sendirian sebenarnya anak PMR banyak tapi enggan menjaga UKS ini yang dibilang salah satu tempat yang lumayan angker. Sebab tempatnya yang terlalu terpojok dan bangunan masih menggunakan gedung lama.
“Kenapa lagi nih cewek kalau kamu bawa kesini selalu dalam keadaan sakit nih?” tanya Shella mulai memberikan minyak angin di tubuh Arianti.
“Mungkin aku ditakdirkan cuma sebagai pengobat lukanya saja, Shel” Revan membersihkan wajah Arianti yang penuh dengan keringat dengan tissue.