tawaran Gino

2606 Kata
Rangga dan Jelita sudah sampai di perusahaan EBA, langkah tegap Rangga, wajah yang penuh karisma,serta aroma parfum maskulin yang sangat sesuai dengan Rangga, membuat mata karyawan wanita di perusahaan nya menatap nya penuh dengan harapan ingin memiliki nya "Ganteng nya" ucap salah seorang karyawan wanita tepat di hadapan Rangga "Mbak maaf kami mau lewat" jelita mulai tau jika mas Rangga nya tidak suka ada Wanita yang keganjenan di perusahaan nya. "Maaf" karyawan Wanita itu menunduk sopan dan langsung menjauh dari Rangga Rangga dan Jelita masuk ke dalam lift menuju ruangan Jeslin, karena Rangga harus bertanya dimana ruangan nya, sesampainya di lantai atas Jelita berlari kecil ke ruangan mama nya yang biasa tapi tidak ada Jeslin, nama yang tertera di papan nama adalah nama Rangga Hamid "Paling tidak ruangan ini sudah menjadi milik ku" Rangga sangat senang ruangan papa nya akan ditempati nya selama bekerja "Mas, dimana mama?" Tanya Jelita pada Rangga "Kamu punya hp" Rangga langsung duduk di kursinya,ada photo bersama kedua orangtuanya di meja kerjanya "Iya juga mas, jelita Telfon mama dulu" Jelita duduk di sofa baru yang dibeli Jeslin untuk Rangga "Pa, sabarlah sebentar Rangga akan mengambil semuanya dari tangan om Niko Malik dan nyonya Jeslin" Rangga menngkirkan bingkai photo kecil itu,dia tidak mau melihat luka yang sama setiap hari "Ma, dimana" "Kalian sudah di ruangan mas Rangga ya" "Iya ma" "Mama dan papa pindah ke lantai atas nak,itu ruangannya mas Rangga,kamu kau mau kesini naik saja ya nak" "Oh ini ruangan mas Rangga sekarang, nanti jeli nanti ke atas ya ma, tapi jeli di sini dulu temani mas Rangga" "Ya sayang" Sambungan telefon terputus, jelita memberitahu Rangga, jika mama nya sudah pindah ke lantai atas,dan ini ruangan untuk Rangga "Kamu di sini saja,saya mau ke atas" Rangga harus menemui Jeslin dan Niko untuk menanyakan pekerjaan dan perusahaan mana yang akan dipegang nya "Mas, Jeli mau melukis" Jelita mengeluarkan kanvas dat alat untuk melukis dari tas nya "Lakukan apapun yang kamu suka, setelah kamu selesai SMA di sini,kita akan ke negara SG kamu bisa kuliah di situ untuk mengembangkan semua bakat kamu, bila perlu satu lantai perusahaan saya untuk galleri kamu" Rangga menepuk pundak Jelita,dia tidak akan menghambat kemampuan adik nya "Tapi papa jangan sampai tau ya mas" Jelita memohon pada Rangga "Lukis lah sebuah lukisan yang indah,saya butuh bukti untuk merahasiakan semua ini dari om Niko" Rangga meninggalkan Jelita yang sangat bahagia di dukung oleh Rangga "Terima kasih mas Rangga" jelita mulai mempersiapkan alat lukisnya Rangga segera naik ke lantai atas menggunakan lift untuk menemui jesslyn dan Niko "Baguslah,jika kalian tahu di mana tempat kalian sebenarnya" Niko yang memutuskan untuk memberikan ruangan itu kepada Rangga karena Alm Erik Hamid dulu pernah memintanya untuk mendudukkan Rangga di kursi kebanggaan nya itu jika anaknya itu sudah pantas untuk memimpin perusahaan besar EBA "Semoga ini menjadi awal ya sangat baik untuk kita semua" Jeslin sedikit lega saat Rangga dapat ruangan papa nya itu. Jeslin sengaja membuka pintu ruangan nya agar Rangga tidak sungkan untuk masuk ke dalam Rangga masuk ke dalam ruangan jesslyn dan Niko "Rangga, ini adalah anak perusahaan yang harus kamu kelola, pastikan jika kamu layak untuk menjadi pimpinan di perusahaan ini,dan satu lagi jangan kau lupa syarat yang kedua,semakin cepat kamu mendapatkan wanita yang mendampingi, semakin cepat juga kau sampai kepada posisimu di perusahaan" Niko memberikan dokumen kepada Rangga "Tunggu dan lihat saja, semua akan kembali pada tempatnya" Rangga mengambil dokumen itu dan segera ingin keluar dari ruangan jesslyn "Anak perusahaan yang akan kamu kelola itu, sudah memiliki beberapa karyawan kompeten, kamu tidak usah mencari karyawan lagi" Niko sudah menghubungi karyawan yang mengurus anak perusahaan yang akan dipegang oleh Rangga "Aku pastikan anak perusahaan ini akan menjadi sangat besar seperti perusahaan di negara SG" Rangga keluar dari ruangan Jasmine dan Niko dengan membawa dokumen dokumen yang akan dikelolanya "Semoga syarat yang kedua cepat terlaksana Mas" Jeslin sangat ingin melihat Rangga bahagia dengan wanita yang akan dipilihnya menjadi istrinya "Jika dia sudah memiliki pacar atau calon tunangan maka dia tidak akan susah untuk menikah bukan" Niko tersenyum karena serangga tidak memperlakukan jesslyn dengan kasar di hadapannya pagi ini Siang harinya tepat jam makan siang Jelita, Rangga,jesslyn dan Niko sudah berada di rumah Sarah nenek dari Gino, Rangga, jelita. "Kalian semua sudah datang" Sarah sangat bahagia melihat anak dan cucunya berkumpul di rumahnya "Kami semua di sini ma" Jeslin memeluk erat mamanya, dulu hubungan mereka sempat renggang karena dia menikah dengan Niko ditambah lagi Rangga pergi meninggalkan mereka semua ke negara SG "Mama cukup bahagia dengan keadaan ini, Rangga cucu Mama sudah kembali" Sarah menangis terharu melihat Rangga dan Jeslin bersama-sama di rumahnya "Apapun akan Rangga lakukan untuk membahagiakan nenek" Rangga tersenyum pada neneknya, kebahagiaan wanita tua itu menjadi prioritasnya "Terima kasih sayangku" Sarah memeluk erat badan Rangga Anggun dan caca sudah sampai di rumah nenek Sarah, Anggun langsung menelpon Gino agar bisa masuk ke dalam membawa makanan yang telah dimasak nya "Maaf Mas ini dari catering Yuni Kami sudah di depan" Anggun "Baik-baik Mbak saya akan segera keluar" Gino "Nenek tunggu sebentar ya gino ada kejutan untuk nenek" gina bergegas keluar dari rumah untuk membantu Anggun masuk ke dalam membawa makanan yang sudah dipesannya Anggun dan Caca menggunakan taksi online untuk membawa makanan yang cukup banyak,setelah Gino keluar dan pagar terbuka, baru makanan diturunkan tepat di depan dapur agar tidak kejauhan mengangkat nya "Maaf Mas apa makannya langsung disusun di meja atau bagaimana" Anggun dan Caca masuk ke dalam dapur untuk menjaga makanan mereka agar tidak kotor atau di buka oleh orang lain "Langsung saja disusun di meja ya mbak" Gino menuju meja panjang yang sudah disediakan di dalam rumah Sarah untuk makanan yang dibawa oleh Anggun "Oh ya baik Mas, terima kasih kami akan segera menyusun nya" Anggun dan Caca mengangkat makanan-makanan yang sudah dibawa nya untuk diletakkan diatas meja "Saya bantu saja ya Mbak ini berat" Gino membantu Anggun untuk mengangkat makanan yang cukup banyak dipesannya "Maaf Mas kalau jadi merepotkan" Anggun sebenarnya tidak enak jika tuan rumah yang menyajikan makanan nya, tapi karena dia cuma berdua dengan Caca mau tidak mau dia menerima bantuan Gino Anggun dan Caca menyusun makanan dengan sangat hati-hati agar tidak ada yang tumpah dan mengotori meja makanan mereka. Penampilan Anggun dan caca sangat bersih sehingga orang pasti yakin jika makan itu sangat bersih hanya melihat penampilan Anggun saja Anggun dan Caca selalu memakai masker penutup mulut jika mereka menghidangkan makanan. Bagi Anggun kebersihan makanan adalah jantung dari usahanya ini.Setelah makanan tersusun rapi di meja, Gino segera memanggil keluarganya untuk menikmati makanan Anggun "Nenek pasti senang dengan apa yang sudah Gino pesan untuk nenek" Gino membawa neneknya berdiri untuk menuju meja makan "Kalian jangan membuat nenek terkejut ya, nenek sudah tua" Sarah tersenyum kepada cucunya itu "Nenek melihat nya pasti akan bahagia" Gino Anggun menundukkan kepalanya bersama Caca sebagai sambutannya kepada tuan rumah "Inikan catering yang sering Mama pesan untuk perusahaan kita" Jasmine sangat senang melihat Anggun ada dalam rumah Sarah , juga ada Rangga di sana "Ya Bu ini Anggun" anggun sangat bahagia jika melihat wajah pelanggannya tersenyum kepadanya, saat makanan sudah terhidang di atas meja. "Ini makanan kesukaan nenek kan" mata saraf berbinar bahagia melihat makanan yang sangat dirindukannya itu sudah ada dalam rumahnya "Iya, ini dia makanan nya nek" Gino Angga mempersilahkan Sarah untuk mengambil makanan yang diinginkannya "Selamat menikmati ya nek semoga nenek suka dengan makanan kami" Anggun tersenyum pada Sarah "Ya harus enak, kalau tidak enak untuk apa kamu berada di sini" Sarah memiliki sifat yang seperti Rangga dingin dan judes kepada orang lain "Semoga makanan kami sesuai dengan selera Nenek" Anggun masih tersenyum kepada Sarah,dia berharap jika makanan itu cocok dilidah Sarah. Caca sangat tersinggung dengan ucapan Sarah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka sedang mencari uang "Mama kenapa sekasar itu bicaranya" jesslyn sering berdebat dengan Sarah jika ucapan suara sangat kasar kepada orang lain "Nenek mau makan jangan ada yang berdebat lagi" Sarah memakannya ke meja makan tidak mempedulikan perasaan Anggun yang mungkin sedang terluka "Silakan diambil makanannya ibu, bapak,mas dan mbak" Anggun tetap mencoba ramah demi uang yang akan didapatkannya untuk ibunya "Jangan diambil hati ya nak ucapan nenek tadi" Jeslin mengusap kepala Anggun "Nggak apa apa bu,setiap orang juga berbeda-beda dalam menikmati makanan" aku tidak tersinggung sama sekali itu sudah biasa baginya mendapat cemoohan dari orang lain Rangga dan Jelita mengambil makanan yang ada di atas meja setelah semuanya sudah mengambil makanan masing-masing "Mas Rangga, makanan dari Yuni catering ini sangat enak loh, Mas wajib mencoba rendang buatan Yuni catering" Jelita mengambilkan makanan untuk rangga terlebih dahulu Rangga mengikuti Jelita di belakang serambi mengambil makanan yang diberikan oleh Jelita ke dalam piring nya "selamat menikmati mas mbak semoga kalian suka dengan makanan ini" aku menunduk sopan kepada Rangga dan Jelita Anggun yang sibuk memikirkan kondisi ibunya tidak tahu jika Rangga dan Jelita yang kemarin membantu membawa ibunya ke rumah sakit Tawa canda bahagia mereka di meja makan membuat Caca sangat iri,bagaimana bisa kehidupan setiap manusia berbeda-beda seperti mereka yang harus bekerja keras agar bisa makan dan sekolah. Sangat berbeda dengan kehidupan jelita yang sangat berkecukupan "Kapan ya kami bisa seperti itu,makan dengan tenang tanpa memikirkan esok akan mendapatkan uang darimana untuk melanjutkan hidup" caca Anggun di dapur memeriksa stok makanan mereka, karena Gino mengatakan akan ada tamu tamu penting yang datang untuk makan siang di rumah Sarah "Untung tadi makannya aku lebihkan jika tidak pasti akan kurang" Anggun memindahkan semua makanan yang ada di dapur ke meja makan, karena makanan yang ada di meja sudah mulai habis. Caca dan Anggun memindahkan 1 per 1 makanan yang telah habis ke dapur. Tak berapa lama tamu tamu mulai berdatangan, Anggun dan caca tetap berdiri untuk melayani para tamu "selamat menikmati makan kami Bapak Ibu semua kalian berkenan untuk memesannya kepada kami" Anggun dan caca selalu mengatakan hal itu agar para pemesan makanannya merasa dihormati dan senang mendapat pelayanan yang baik dan mereka.Tamu-tamu berbincang-bincang dengan hangat, sementara Anggun dan Caca masih setia berdiri di samping makanan mereka Gino menelpon seseorang untuk menanyakan bagaimana ginjal untuk neneknya kepada seseorang kepercayaannya "Bagaimana Pak apa sudah ada yang cocok untuk nenek" "Maaf Mas belum ada karena saya mendapati keadaan ginjal yang kurang sehat dari masing-masing pendonor ginjal" "saya ingin ginjal secepatnya Pak apapun caranya Bapak harus segera mencarikannya untuk nenek saya" gino memutuskan sambungan teleponnya karena sangat kesal belum juga ada ginjal yang cocok untuk nenek tersayang Anggun yang mendengarkan percakapan Gino dengan seseorang berasa mendapatkan undian berhadiah, biasa berharap semoga ini jalannya untuk melakukan operasi ibunya "Maaf Mas saya tidak sopan dengar percakapan Mas tadi, bisakah saya mencoba untuk mendengarkan ginjal saya kepada nenek Sarah?" Anggun langsung mendekati Gino dan berbicara serius dengan nya "Kamu mau mendonorkan ginjal untuk nenek saya" tanya Gino semangat "Kalau ginjal saya cocok Mas ambil saja, dan berikan saya uang untuk ginjal saya" Anggun berharap jangan sampai Gino menolaknya "Kapan kamu bisa tes ginjal ke rumah sakit" Gino yang akan mengantarkan Anggun untuk segera cek ke rumah sakit "Secepatnya Mas saya Siap kapan pun saja" Anggun bernafas lega akhirnya dia mempunyai uang untuk melakukan operasi pada ibunya "Baiklah bagaimana kalau besok" Gino menyodorkan tangannya untuk menyalam tangan Anggun sebagai pertanda jika mereka sudah sah dengan pembicaraan ini "Baik Mas hubungi saya saja jika Mas sudah di rumah sakit" Anggun segera meninggalkan Gino agar caca tidak mendengar pembicaraan mereka. Gino tampak tersenyum bahagia sudah menemukan seseorang yang menurut dia pasti cocok untuk ginjal neneknya Gino tidak tahu jika jesslyn dari tadi berada di belakang mereka,tapi dia memutuskan untuk mengejar Anggun saja, dia ingin tahu Apa alasan Anggun menjual ginjalnya tanpa memikirkan apa dampak yang akan dialaminya nanti "Anggun" Jeslin menarik tangan Anggun untuk berbicara berdua ditaman yang jauh dari orang "Maaf Bu ada apa" Anggun tampak cemas apakah makanan yang di hidangkan nya tidak enak "Apa alasan kamu menjual ginjal" Jeslin tidak mau sampai membahayakan nyawa orang lain demi mama nya "Maaf buk,Anggun tidak mempunyai kewajiban untuk menjawab itu karena itu adalah urusan pribadi Anggun Bu" Anggun tidak mau sampai ibunya gagal operasi "Itu urusan kami Anggun terlebih ibu, jika kamu nanti mendonorkan ginjal untuk nenek Sarah,maka kamu hanya mempunyai satu ginjal saja, suatu saat nanti jika kamu sakit kamu pasti akan ditanyain kemana perginya ginjal kamu itu, kami tidak mau Anggun jika terlibat dalam masalah mengambil ginjal seorang gadis yang masih dibawah 25 tahun" jesslyn sangat menegaskan kata-katanya itu "Bu, Anggun mohon jangan berubah pikiran. Anggun hanya berharap dari ginjal ini untuk kesembuhan Ibu Anggun" Anggun memegang erat tangan jesslyn "Kamu harus menceritakan kepada Ibu,jika Ibu bisa bantu, pasti ibu bantu kamu,tanpa harus menjual ginjal seperti ini nak" Jeslin mengusap tangan Anggun "Ibu Anggun terkena kanker atau tumor yang anggun belum mengerti Bu,dokter menyarankan agar segera melakukan operasi agar tidak menyebabkan tumor itu menyerang bagian yang lainnya" aku menceritakan semua keadaan ibunya kepada jesslyn "Apa ini caraku untuk menikahkan rangga dengan Anggun" Jeslin tidak tega melihat Anggun mendengarkan ginjalnya,lebih baik jika Anggun dinikahkan saja dengan rangka maka dia akan membiayai semua operasi ibu dari Anggun "Anggun mohon Bu" Anggun harus memastikan jika jesslyn mengizinkan ginjalnya diberikan kepada nenek sarah "Ibu akan membahas ini bersama keluarga Ibu dulu,apapun keputusan Kami nanti Ibu pasti akan membiayai operasi ibu kamu" Jeslin langsung meninggalkan Anggun, dia tidak tega melihat air mata Anggun,dia membayangkan jika itu adalah Jelita anaknya sendiri Anggun merasa kecewa jika sampai gino berubah pikiran,tapi semua yang dikatakan oleh Justin itu benar bahwa Anggun akan terkena masalah jika nanti ginjalnya hanya tinggal satu Jeslin mencari Gino untuk membahas masalah Anggun "Gino, bisa kita bicara empat mata sekarang di ruangan kerja atas" jesslyn tampak serius menatap mata Gino "Ya Tante" Gino penasaran Ada apa dengan jesslyn,kenapa dia sampai mengajaknya untuk naik ke atas hanya berdua saja Jesline membuka ruang kerja dan mempersilahkan Gino untuk masuk ke dalam "Langsung saja Gino,tadi apakah ada seorang gadis yang menawarkan ginjalnya untuk nenek Sarah" Jeslin bertanya dengan sangat serius kepada Gino "Tante tahu dari mana" Gino sangat terkejut jesslyn tahu hal itu "tadi tante dengar kamu berbicara dengan Anggun yang mengatakan catering ke sini" Justin akhirnya menceritakan semuanya kepada Gino Apa alasan Anggun menjual ginjalnya "maaf Tante kalau hal itu Gino tidak tahu sama sekali karena dia sendiri yang menyodorkan ginjalnya untuk nenek Sarah" Gino juga menjelaskan bagaimana tadi Anggun memintanya untuk membeli ginjalnya "Kita tidak bisa memperalat Anggun, dia masih sangat mudah alasannya untuk menjual ginjal juga membuat hati tante sedih" Jeslin teringat lagi wajah Anggun yang menangis "Ya sudah gino akan mencari pendonor ginjal yang lain saja Tante" gino juga tidak mau ada masalah di kemudian hari "Begini saja Gino,kamu tawarkan saja dia untuk menikah dengan Rangga supaya persyaratan no 2 itu cepat terpenuhi" jeslin akhir yang mengutarakan maksud dan tujuannya kepada Gino "Gina tidak mau ikut campur dengan urusan itu tante, karena itu urusan perasaan, Apa yang akan terjadi nanti jika menikah tanpa cinta" Gino sangat tahu bagaimana sikap Rangga yang tidak bisa menghargai siapapun "Gino,tante mohon" Jeslin sedikit kecewa ketika gino menolaknya "Tapi nanti wanita itu akan tersakiti tante" Gino berharap jangan sampai Anggun yang menikah dengan Rangga "Bagaimana kita tahu, cinta akan tumbuh dengan sendirinya saat mereka bersama-sama nak,tante hanya mau perusahaan itu cepat diberikan kepada Rangga agar perselisihan ini cepat berakhir. Kamu tahu kan bagaimana Rangga sangat membenci om niko dan juga tante?" Jeslin masih berusaha keras membujuk Gino "Gino akan mencobanya tante" sejenak Gino berpikir tidak ada salahnya jika Rangga mencoba menikahi Anggun "Terima kasih banyak nak" Jeslin sangat berharap agar Anggun dan rangga bersatu dalam pernikahan keesokan harinya Gino dan anggun sudah berjanji akan bertemu di sebuah kafe untuk membuat kelanjutan donor ginjal yang akan dilakukan oleh Anggun. Rangga ikut bersama Gino karena dia harus tahu siapa yang akan menyumbangkan ginjal untuk nenek tersayang nya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN